Kembali
MOTOGP 6 min read 20 August 2026

Pembalap MotoGP Itu Atlet Sungguhan: Jantung 200 BPM, Leher Baja, dan Latihan yang Bisa Kamu Tiru

Jantung 200 bpm, leher baja, turun 2 kg per balapan. Bukti pembalap MotoGP atlet sungguhan plus latihan fungsional yang bisa kamu tiru sendiri.

Pembalap MotoGP Itu Atlet Sungguhan: Jantung 200 BPM, Leher Baja, dan Latihan yang Bisa Kamu Tiru
Foto: Box Repsol.

Dari luar mereka cuma “duduk” di atas motor. Padahal selama 45 menit, jantung mereka menembus 200 denyut per menit, tubuh kehilangan sampai 2 kilogram, dan leher menahan gaya yang bikin kepala serasa dua kali lipat lebih berat. Yuk kita bongkar sains kebugaran di balik helm — plus latihan fungsional yang bisa kamu curi buat dirimu sendiri.

Poin-Poin Penting

Jantung kerja rodi. Detak jantung pembalap MotoGP bisa menembus 200 denyut per menit saat balapan — setara pelari yang sedang sprint habis-habisan, dan bertahan selama hampir 45 menit.

Turun berat drastis. Dalam satu balapan panas, pembalap bisa kehilangan 1,5–2 kilogram, setara 2–3 persen berat tubuh, plus lebih dari satu liter keringat.

Leher & lengan seperti baja. Mereka melatih kekuatan leher untuk melawan gaya G, plus genggaman dan lengan bawah agar tidak “arm pump” saat mengerem motor 160 kg berkekuatan hampir 280 tenaga kuda.

Kardio + fungsional, bukan otot besar. Latihan mereka fokus ke daya tahan kardio, core stabil, dan refleks — bukan mengejar badan gede. Ini persis prinsip kebugaran fungsional.

Empat poin di atas sekilas terdengar seperti profil atlet endurance kelas dunia. Dan memang begitu adanya. Anggapan bahwa pembalap “cuma duduk dan buka gas” adalah salah satu miskonsepsi paling besar dalam dunia olahraga. Mari kita urai satu per satu.

Jantung yang Berdegup Seperti Pelari Maraton

Bayangkan detak jantungmu saat lari sprint mengejar bus — napas tersengal, dada berdebar kencang. Sekarang bayangkan mempertahankan intensitas itu selama 45 menit sambil melajukan motor di kecepatan hampir 300 km/jam.

Itulah realita pembalap MotoGP. Menurut data yang dirilis Box Repsol, detak jantung pembalap bisa mencapai 160 hingga 170 denyut per menit di momen-momen penentu sepanjang akhir pekan balapan. Bahkan Jorge Martín pernah tercatat menembus level 200 denyut per menit. Menariknya, angka ini sangat individual: Maverick Viñales justru tercatat “hanya” sekitar 130 denyut per menit — bukti bahwa ketenangan mental ikut menekan beban fisik.

Kenapa jantung bekerja sekeras itu padahal mereka “hanya” duduk? Karena tubuh terus-menerus menahan gaya, mengontrol motor seberat hampir 160 kilogram dengan tenaga mendekati 280 horsepower, dan otak memproses keputusan dalam hitungan milidetik. Semua itu memicu lonjakan adrenalin dan permintaan oksigen yang luar biasa.

“Kunci dari segalanya adalah melatih jantung agar mampu memompa pada ritme sangat tinggi saat dibutuhkan.”

— Tim kebugaran Box Repsol

Itu sebabnya latihan mereka menekankan kerja kardiopulmonar: bersepeda, berlari — termasuk sesi lari 10 kilometer berkecepatan tinggi — hingga sistem kardiovaskular mereka sanggup menahan tekanan sepanjang lomba.

Leher, Lengan, dan Genggaman Baja

Saat menikung dan mengerem keras, tubuh pembalap dihantam gaya G yang membuat kepala serasa jauh lebih berat. Kalau otot lehermu lemah, kepala akan tersentak liar dan kamu kehilangan kendali visual. Karena itu, kekuatan leher menjadi salah satu fokus latihan utama pembalap MotoGP untuk melawan gaya G tersebut.

Lalu ada masalah legendaris bernama arm pump — lengan bawah membengkak dan mengeras karena aliran darah tak seimbang saat mencengkeram setang dan mengerem berulang-ulang. Untuk melawannya, pembalap menempa daya tahan genggaman dan lengan bawah lewat pull-up, push-up, dumbbell row, dan latihan resistance band.

Menurut MotoGP.com, core juga jadi prioritas. Latihan seperti plank, mountain climber, leg raise, balance board, dan rotasi medicine ball atau cable dipakai untuk menstabilkan tubuh saat mengerem dan menikung. Intinya: bukan otot besar yang dikejar, melainkan otot yang kuat, stabil, dan tahan lama.

Turun 2 Kilo dalam 45 Menit

Ini bagian yang bikin geleng-geleng kepala. Dalam satu balapan di iklim panas seperti Sepang, Malaysia, pembalap bisa kehilangan 1,5 hingga 2 kilogram berat badan — setara 2 sampai 3 persen berat tubuh — dan berkeringat lebih dari satu liter hanya dalam 45 menit, menurut data Box Repsol.

Dehidrasi sekecil itu saja sudah cukup menurunkan konsentrasi dan ketajaman kognitif — dua hal yang fatal ketika waktu reaksi diukur dalam milidetik. Karena itu, strategi hidrasi mereka detail: sekitar 3 liter air per hari, setengah liter dua jam sebelum start, 120–140 ml dari “camel back” (kantong minum di punggung) selama balapan, dan mengganti seluruh cairan yang hilang setelah finis.

Ini adalah profil endurance sejati — mirip pemain sepak bola atau pelari jarak jauh yang harus mengelola cairan dan suhu inti tubuh secara ketat.

Refleks Secepat Kedipan Mata

Kemampuan mengerem di titik yang tepat, membaca gerakan lawan, dan bereaksi terhadap ban depan yang mulai kehilangan cengkeraman — semua terjadi lebih cepat dari kamu sempat berpikir. MotoGP.com menyebut pembalap melatih refleks lewat sesi light board, latihan koordinasi mata-tangan, object tracking, hingga dual-task drill dan reaction time game.

Sepanjang satu musim, pembalap mengumpulkan 75–85 jam waktu di lintasan, belum termasuk sesi tes. Otak dan tubuh mereka benar-benar dikondisikan seperti perangkat presisi tinggi.

Tabel: Tuntutan Fisik vs Latihan Peniru

Tuntutan Fisik di LintasanAngka/FaktaLatihan yang Bisa Kamu Tiru
Detak jantung saat balapanSampai ~200 bpm, ditahan ~45 menitInterval HIIT, lari/bersepeda tempo tinggi
Kekuatan leher lawan gaya GFokus latihan utamaNeck bridge ringan, isometrik leher terkontrol
Genggaman & lengan bawah (anti arm pump)Cengkeram + rem berulangPull-up, dead hang, farmer’s carry, resistance band
Stabilitas coreUntuk mengerem & menikungPlank, leg raise, rotasi medicine ball
Kehilangan cairan1,5–2 kg, >1 liter keringat / balapanLatihan sadar hidrasi, sesi kardio berkeringat
RefleksReaksi milidetikReaction ball, light drill, latihan koordinasi

Yang Bisa Kamu Tiru dari Mereka

Buat kamu penggemar MotoGP di Indonesia — apalagi yang tiap tahun heboh menyambut balapan di Mandalika — kabar baiknya: kamu tidak perlu jadi pembalap untuk mencuri prinsip latihan mereka. Justru filosofi kebugaran pembalap sangat sejalan dengan latihan fungsional: melatih tubuh agar kuat, stabil, tahan lama, dan siap bergerak di kehidupan nyata, bukan sekadar mengejar otot besar untuk pamer.

Perhatikan pola latihan mereka: kardio untuk jantung, core untuk stabilitas, genggaman dan leher untuk kekuatan spesifik, plus refleks. Semuanya “compound” dan fungsional. Kamu bisa meniru versi sederhananya — pull-up dan dead hang untuk genggaman, plank untuk core, interval lari atau sepeda untuk jantung, dan latihan isometrik ringan untuk leher.

Di sinilah pendekatan seperti EMS training di 20FIT menjadi relevan. Latihan EMS mengaktifkan banyak grup otot sekaligus — termasuk otot-otot stabilisator core yang jadi andalan pembalap — dalam sesi singkat sekitar 20 menit. Buat kamu yang sibuk tapi ingin tubuh fungsional ala atlet, ini cara efisien membangun kekuatan dan daya tahan tanpa harus menghabiskan berjam-jam di gym. Ingat prinsip pembalap: kuat dan stabil mengalahkan sekadar besar.

Dan jangan lupakan hidrasi. Kalau pembalap saja bisa kehilangan 2 kilo cairan per balapan, kamu yang berlatih di iklim tropis Indonesia yang panas dan lembap juga wajib serius soal minum. Hidrasi yang cukup menjaga konsentrasi, tenaga, dan pemulihanmu.

Kesimpulan

Lain kali ada yang bilang pembalap MotoGP “cuma duduk buka gas”, kamu sudah punya jawabannya: jantung 200 bpm, leher baja, turun 2 kilo per balapan, dan refleks secepat kedipan. Mereka atlet sungguhan dalam setiap arti. Dan bagian terbaiknya — prinsip latihan mereka bisa kamu adaptasi mulai hari ini, dari genggaman yang kuat sampai core yang stabil. Kamu tidak butuh MotoGP untuk bergerak seperti atlet. Kamu cuma butuh mulai.

Artikel ini dirangkum dari:

EXPLORE 20FIT

More ways to move.