Sejarah Baru Padel: Debut Sebagai Cabang Medali di Mediterranean Games Taranto 2026
Padel resmi menjadi cabang olahraga bermedali untuk pertama kalinya di ajang multievent Mediterranean Games Taranto 2026, momen bersejarah yang disambut federasi internasional sebagai bukti pertumbuhan pesat olahraga ini di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, padel resmi dipertandingkan sebagai cabang olahraga bermedali di ajang multievent bergengsi Mediterranean Games — dan momen itu terjadi pekan ini di Taranto, Italia, disaksikan oleh 244 negara dan teritori di seluruh dunia lewat siaran Eurovision Sport. Ini bukan sekadar turnamen biasa. Ini adalah pengakuan resmi bahwa padel, olahraga raket yang lahir di Meksiko dan dibesarkan di Spanyol, kini punya tempat di panggung olahraga multicabang kelas dunia — sejajar dengan atletik, renang, dan cabang-cabang klasik lain yang sudah puluhan tahun jadi andalan Mediterranean Games.
Gelaran ke-20 Mediterranean Games ini berlangsung 22-28 Agustus 2026 di Parco Mediterraneo Salinella, Taranto, dengan format kompetisi ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran. Sebanyak 88 atlet dari 18 negara turun bertanding, memperebutkan tiga medali emas pertama dalam sejarah padel di ajang ini. Buat komunitas padel dunia yang sudah lama menanti pengakuan lebih besar dari dunia olahraga arus utama, ini adalah salah satu pekan paling bersejarah dalam beberapa tahun terakhir.
Momen Bersejarah yang Sudah Lama Ditunggu
Federasi Padel Internasional (FIP) sudah mempersiapkan momen ini sejak lama. Kesepakatan resmi antara FIP dan International Committee of Mediterranean Games (ICMG) soal masuknya padel ke Taranto 2026 sudah diumumkan sejak awal 2025, dan sepanjang 2026 federasi terus menggaungkan pentingnya momen ini lewat berbagai kanal, termasuk lobi di Parlemen Eropa di Brussels beberapa bulan sebelum ajang dimulai.
Presiden FIP, Luigi Carraro, tidak menyembunyikan rasa bangganya. Dalam pernyataan yang disampaikan menjelang Taranto 2026, ia menegaskan skala pertumbuhan padel secara global sebagai alasan kenapa cabang ini pantas dapat panggung sebesar ini.
“No sport in history has grown and spread as quickly as padel. It is a collective passion that today involves 35 million players worldwide.”
— Luigi Carraro, Presiden FIP (International Padel Federation), seperti dilaporkan oleh ANSA.it
Angka 35 juta pemain di seluruh dunia itu bukan klaim sembarangan — itu jadi argumen utama kenapa Mediterranean Games, ajang yang sudah diakui Komite Olimpiade Internasional (IOC) selama lebih dari tujuh dekade, akhirnya membuka pintu untuk padel. Carraro bahkan menyebut debut ini sebagai momen yang “akan menyentuh secara mendalam” federasi dan komunitas padel global.
Yang menarik, FIP kini menaungi 100 federasi anggota yang tersebar di lima benua, dengan 45 di antaranya berada di Eropa saja. Artinya, pertumbuhan padel bukan cuma soal Spanyol dan Argentina yang selama ini identik dengan olahraga ini — tapi sudah menyebar jauh melampaui akar historisnya.
Bintang-Bintang yang Turun di Taranto
Meski status “cabang debut,” level kompetisi di Taranto jauh dari kata coba-coba. Federasi mendatangkan sejumlah nama besar dari sirkuit profesional dunia untuk memastikan turnamen ini berbobot.
Spanyol datang sebagai unggulan utama, dengan skuad yang diisi nama-nama seperti David Gala (peringkat dunia 34), José Diestro (peringkat 45), Pol Hernandez (peringkat 35), dan Guille Collado (peringkat 36) di sektor putra. Di sektor putri, Spanyol menurunkan dua mantan peringkat satu dunia sekaligus: Lucía Sainz dan Patty Llaguno, didampingi Jimena Velasco (peringkat 29) dan Nuria Rodriguez (peringkat 25).
Italia, sebagai tuan rumah, tidak mau kalah gengsi. Carolina Orsi (peringkat 31), Marco Cassetta, Giorgia Marchetti, dan bintang muda Giulia Dal Pozzo (peringkat 30, usia 21 tahun) jadi andalan Azzurri di depan publik sendiri. Sementara itu, Portugal dan Prancis diproyeksikan sebagai kuda hitam kuat: kakak-beradik Sofia dan Pedro Araujo serta duo bersaudara Miguel dan Nuno Deus (peraih perak Euro Padel Cup 2025) mewakili Portugal, sedangkan Louise Bahurel — peraih perak Eropa — dan Bastien Blanqué turun untuk Prancis.
Tapi cerita paling menarik justru datang dari negara-negara yang selama ini jarang terdengar di kancah padel dunia. Dora Chamli asal Tunisia — pemain Afrika pertama yang pernah menang di sirkuit Premier Padel — dan Reda El Amrani dari Maroko, mantan petenis dengan peringkat ATP tertinggi 160, ikut ambil bagian. Kehadiran mereka jadi bukti bahwa padel kini benar-benar menjangkau kawasan Mediterania secara luas, tidak cuma berpusat di Semenanjung Iberia.
Cerita di Balik Lapangan: Kebanggaan Negara-Negara Kecil
Salah satu sisi paling menyentuh dari Taranto 2026 justru datang bukan dari para juara bertahan, melainkan dari negara-negara yang baru pertama kali merasakan panggung sebesar ini. FIP secara khusus mengangkat kisah delegasi Tunisia, Kosovo, dan Slovenia yang tampil di hari-hari awal turnamen.
Pelatih tim Tunisia, Elian Ruquet, menggambarkan pengalaman timnya bertanding di Taranto sebagai sesuatu yang di luar ekspektasi.
“It’s an incredible feeling. The setting and the atmosphere have been truly fantastic.”
— Elian Ruquet, pelatih tim Tunisia, seperti dilaporkan oleh Padel FIP
Sementara itu, atlet asal Kosovo, Lavdrim Krasniqi, menekankan betapa besar arti tampil di ajang seprestisius ini untuk negara kecil seperti Kosovo.
“Being here at such a prestigious event is an honour for our relatively small country.”
— Lavdrim Krasniqi, atlet Kosovo, seperti dilaporkan oleh Padel FIP
Atlet Slovenia, Bostjan Repansek, yang juga tampil di kompetisi awal melawan pasangan Serbia, menambahkan perspektif yang lebih luas soal makna status “cabang olahraga Olimpiade-adjacent” ini bagi padel.
“When you see other Olympic athletes, you realise the importance of this event for Padel.”
— Bostjan Repansek, atlet Slovenia, seperti dilaporkan oleh Padel FIP
Kutipan-kutipan ini menegaskan satu hal: buat negara-negara yang skena padelnya masih berkembang, kesempatan bertanding berdampingan dengan atlet-atlet cabang olahraga Olimpiade lain di satu venue yang sama adalah validasi besar bahwa padel sudah naik kelas.
Jejak Padel di Ajang Multievent: Bukan yang Pertama, tapi Paling Besar
Menariknya, Taranto 2026 bukan debut pertama padel di ajang multievent internasional. FIP mencatat bahwa padel sebelumnya sudah tampil di ajang-ajang seperti World University Games di Krakow, World Beach Games, hingga event multicabang di Santa Fe, Nagoya, dan Riyadh. Tapi skala dan sorotan media di Mediterranean Games Taranto disebut-sebut sebagai yang terbesar sejauh ini — mengingat status Mediterranean Games yang sudah diakui IOC selama lebih dari 70 tahun dan menjadi salah satu ajang multicabang regional tertua di dunia.
Berikut ringkasan singkat jalannya kompetisi padel di Taranto 2026:
| Tanggal | Fase Kompetisi |
|---|---|
| 22 Agustus | Babak awal putra & putri |
| 23 Agustus | Debut kompetisi ganda campuran |
| 25-26 Agustus | Perempat final |
| 27 Agustus | Semifinal |
| 28 Agustus | “Super Friday” — perebutan medali perunggu & tiga final juara |
Format singkat namun padat ini membuat turnamen berjalan intens dari hari pertama, dengan puncaknya di “Super Friday” yang menghadirkan tiga partai final sekaligus — ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran — dalam satu hari yang sama.
Gelombang Pertumbuhan Padel yang Sampai ke Indonesia
Momentum global padel ini ternyata juga terasa gaungnya sampai ke Indonesia. Di pekan yang sama dengan berlangsungnya final Taranto, skena padel Tanah Air juga sedang menggeliat lewat rangkaian PLN Mobile NAVEN Padel Series 2026 — turnamen nasional berhadiah total Rp1 miliar yang digelar di empat kota besar. Setelah etape pembuka di Jakarta pertengahan Agustus, rangkaian ini berlanjut ke Yogyakarta pada 28-30 Agustus di Wii Social Hub, sebelum lanjut ke Bandung pertengahan September dan ditutup di Bali akhir bulan yang sama.
Skala partisipasi NAVEN Padel Series terbilang besar untuk ukuran turnamen komunitas: sekitar 1.024 pasangan atau kurang lebih 2.048 peserta ambil bagian, terbagi dalam empat kategori mulai dari Lower Bronze hingga Gold. Ini menunjukkan bahwa antusiasme padel di Indonesia bukan cuma tren sesaat di kalangan urban lifestyle, tapi mulai membentuk ekosistem kompetisi yang lebih terstruktur — mirip dengan apa yang terjadi di banyak negara Eropa dan Amerika Latin satu dekade lalu sebelum padel meledak jadi olahraga arus utama di sana.
Kalau melihat pola pertumbuhan global yang digambarkan Carraro — dari 35 juta pemain dunia hingga ekspansi ke 100 federasi di lima benua — kemunculan turnamen berjenjang seperti NAVEN Padel Series di kota-kota besar Indonesia sebenarnya sejalan dengan tren global itu. Padel sedang dalam fase ekspansi yang sama di mana-mana: dari lapangan komunitas ke turnamen nasional, dan pada akhirnya — seperti yang baru saja dibuktikan di Taranto — ke panggung multievent internasional.

Apa Selanjutnya untuk Padel di Panggung Dunia?
Debut di Mediterranean Games ini kemungkinan besar bukan titik akhir, melainkan langkah pembuka untuk ambisi yang lebih besar. Federasi padel internasional selama beberapa tahun terakhir memang gencar melobi agar olahraga ini suatu saat bisa masuk program Olimpiade — dan keberhasilan meyakinkan ICMG untuk memasukkan padel ke Taranto 2026 jadi bukti nyata bahwa lobi tersebut membuahkan hasil bertahap.
Kalender padel dunia sendiri tidak berhenti sejenak untuk merayakan momen ini. Begitu Taranto usai, sirkuit Premier Padel langsung bergulir ke Comunidad de Madrid P1 yang akan berlangsung akhir Agustus hingga awal September di Movistar Arena — salah satu etape paling dinanti musim ini bagi penggemar Spanyol, dengan total hadiah mendekati 480 ribu Euro. Setelahnya, sorotan dunia padel akan beralih ke FIP World Cup atau Kejuaraan Dunia Padel yang dijadwalkan awal November.
Penutup
Apa yang terjadi di Taranto pekan ini adalah pengingat bahwa padel bukan lagi sekadar tren gaya hidup di kalangan urban atau olahraga pelengkap di klub-klub sosial. Ini adalah olahraga kompetitif yang kini punya jalur medali resmi di ajang multievent internasional, dengan atlet-atlet top dunia yang bersaing serius demi gelar juara pertama dalam sejarah cabang ini. Kutipan-kutipan dari pelatih Tunisia, atlet Kosovo, hingga presiden federasi sendiri menunjukkan bahwa momen ini punya makna emosional yang nyata, bukan sekadar seremoni belaka.
Dan menariknya, gelombang pertumbuhan yang sama juga sedang dirasakan di Indonesia, meski dalam skala dan tahap yang jauh berbeda. Kalau tren global ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin suatu hari nanti kita akan melihat atlet padel Indonesia ikut ambil bagian dalam cerita besar yang sama seperti yang baru saja ditulis di Taranto.
Artikel ini dirangkum dari:
- Padel FIP: Taranto at the centre of the world: Padel at the Mediterranean Games live in 244 countries and territories https://www.padelfip.com/2026/08/taranto-at-the-centre-of-the-world-padel-at-the-mediterranean-games-live-in-244-countries-and-territories/
- Padel FIP: Padel makes its debut at the Mediterranean Games in Taranto: world stars, surprises and a wealth of talent https://www.padelfip.com/2026/08/padel-makes-its-debut-at-the-mediterranean-games-in-taranto-world-stars-surprises-and-a-wealth-of-talent/
- Padel FIP: From Tunisia to Kosovo, Padel’s Mediterranean celebration in Taranto: “Being here is something special” https://www.padelfip.com/2026/08/from-tunisia-to-kosovo-padels-mediterranean-celebration-in-taranto-being-here-is-something-special/
- ANSA.it: Padel makes its debut at the Mediterranean Games; Carraro (FIP): ‘A historic debut’ https://www.ansa.it/english/news/taranto-2026-20th-mediterranean-games/2026/04/23/padel-makes-its-debut-at-the-mediterranean-games-carraro-fip-a-historic_9d975bb3-453b-4e02-8178-f9ee1424ebed.html
- Detik Sport: Padel Series 2026 Digelar di 4 Kota, 2.048 Peserta Siap Tanding https://sport.detik.com/sportstyle/d-8618245/padel-series-2026-digelar-di-4-kota-2-048-peserta-siap-tanding