Kembali
LONG FORM 10 min read 20 September 2026

Dari Tak Bisa Jalan ke Angkat Trofi: Kisah Rybakina Juara US Open 2026

Sepuluh hari sebelum juara, Elena Rybakina bahkan tak bisa berjalan tanpa nyeri. Ini profilnya, lawan-lawan yang ia lewati, dan alasan dia terus menang.

Potret close-up Elena Rybakina, Rybakina juara US Open 2026
Elena Rybakina saat tampil di US Open 2023. Sumber: Hameltion via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Ada satu hal yang tidak terlihat kamera saat Elena Rybakina mengangkat trofi di Arthur Ashe Stadium, Sabtu 12 September 2026. Sepuluh hari sebelumnya, perempuan itu bahkan tidak bisa berjalan tanpa rasa sakit.

“Saya bahkan tidak bisa berjalan selama beberapa hari tanpa nyeri,” katanya setelah laga (BBC Sport). Dari titik itu, ia menang tujuh pertandingan beruntun, menumbangkan juara bertahan dua kali Aryna Sabalenka 6-4, 5-7, 6-2, dan naik ke peringkat satu dunia untuk pertama kalinya. Inilah cerita bagaimana Rybakina juara US Open 2026 dengan kaki yang seharusnya membuatnya mundur.

Rybakina juara US Open 2026 dan peringkat satu dunia pertama dari Kazakhstan
Elena Rybakina pada musim 2026. Sumber: danielcooper850 via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Seminggu Sebelumnya, Ia Justru Menyerah di Tengah Lapangan

Titik baliknya terjadi di Cincinnati, sekitar sepuluh hari sebelum US Open dimulai. Di perempat final melawan Iga Swiatek, Rybakina berhenti bermain saat tertinggal 1-4. Ia menarik diri dengan cedera kaki kiri (catatan musim 2026). Buat pemain yang sedang mengejar gelar besar, mundur dari lapangan sepuluh hari sebelum Grand Slam terakhir tahun itu biasanya berarti satu hal: musim selesai.

Sesampainya di New York, kabarnya malah lebih buruk. Hasil MRI menunjukkan cederanya lebih serius dari dugaan awal. Belakangan Federasi Tenis Kazakhstan menyebut masalahnya ada di tendon Achilles, dan Rybakina menjalani seluruh turnamen dengan bantuan obat pereda nyeri (Yahoo Sports).

Yang dilakukan timnya kemudian menarik justru karena terdengar tidak heroik sama sekali. Selama satu minggu penuh, Rybakina tidak menyentuh lapangan. Tidak ada latihan pukulan, tidak ada simulasi pertandingan. Yang ada hanya sesi pemulihan harian di gym.

Sisanya urusan kepala. Ia pergi makan malam. Ia nonton bioskop. Tujuannya sederhana, dalam kalimatnya sendiri, untuk “mengalihkan pikiran” (BBC Sport). Seorang dokter di Australia ikut membantu dari jarak jauh, menyusun rencana rehabilitasi bersama timnya.

Jadi ketika turnamen dimulai, Rybakina masuk lapangan dengan persiapan teknis nyaris nol. Modalnya cuma kaki yang baru bisa menahan beban, dan kepala yang sudah diistirahatkan. Ternyata itu cukup. “Saya sangat sial dengan cedera ini, tapi saya sangat bangga. Saya masih tidak percaya,” katanya setelah juara (Olympics.com).

Elena Rybakina bertanding di lapangan keras US Open
Rybakina di US Open. Sumber: Ocoudis via Wikimedia Commons (CC0).

Siapa Sebenarnya Elena Rybakina?

Nama lengkapnya Elena Andreyevna Rybakina, lahir 17 Juni 1999 di Moskow. Usianya 27 tahun. Tingginya 184 cm, bermain dengan tangan kanan dan backhand dua tangan (profil WTA dan biografinya).

Ia lahir dan besar di Rusia, tapi sejak 2018 membela Kazakhstan. Ayahnya berasal dari Almaty, dan Federasi Tenis Kazakhstan menawarkan dukungan finansial serta jalur yang lebih jelas menuju tur profesional. Buat pemain muda yang saat itu belum punya sponsor besar, tawaran semacam itu menentukan apakah karier bisa dilanjutkan atau tidak.

Keputusan itu terbayar pada 2022. Di Wimbledon, Rybakina bangkit dari ketinggalan satu set untuk mengalahkan Ons Jabeur 3-6, 6-2, 6-2, dan menjadi pemain Kazakhstan pertama yang memenangi gelar tunggal Grand Slam (Forbes). Ia juga jadi pemain Asia pertama yang juara tunggal di Wimbledon.

Rybakina saat Wimbledon 2022, gelar Grand Slam pertamanya
Rybakina di Wimbledon 2022. Sumber: Peter Menzel via Wikimedia Commons (CC BY-SA 2.0).

Julukannya di sirkuit adalah “Ice Queen”. Bukan karena dingin ke orang, tapi karena ekspresinya nyaris tidak berubah apa pun skornya. Menang poin penting, wajahnya datar. Kalah break, wajahnya juga datar. Di olahraga yang penuh teriakan dan raket dibanting, ketenangan itu sendiri sudah jadi senjata.

Gaya mainnya bertumpu pada dua hal: servis yang termasuk paling keras di tur putri, dan pukulan datar dari garis belakang yang membuat lawan tidak punya waktu bersiap. Tinggi 184 cm memberinya sudut servis yang sulit dikembalikan, terutama di lapangan keras yang memantulkan bola lebih cepat.

Tujuh Lawan di Flushing Meadows

Rybakina turun sebagai unggulan kedua. Empat pertandingan pertamanya selesai tanpa kehilangan satu set pun, sesuatu yang terdengar mustahil untuk pemain yang seminggu sebelumnya tidak berlatih (data undian resmi).

Babak Lawan Skor
Babak 1 Thea Frodin (WC) 6-3, 6-2
Babak 2 Jessica Bouzas Maneiro 6-2, 6-4
Babak 3 Yuliia Starodubtseva 7-6(6), 6-3
Babak 4 Naomi Osaka (13) 6-1, 6-4
Perempat final Zheng Qinwen 3-6, 6-1, 6-4
Semifinal Coco Gauff (4) 3-6, 6-4, 6-4
Final Aryna Sabalenka (1) 6-4, 5-7, 6-2
Perjalanan Rybakina juara US Open 2026, babak demi babak.

Perhatikan pola di tiga laga terakhir. Di perempat final dan semifinal, ia kalah set pertama. Di final, ia kalah set kedua. Tiga kali tertinggal, tiga kali dia yang menutup pertandingan.

Di babak keempat ia menyingkirkan Naomi Osaka, juara US Open dua kali, hanya dalam dua set. Lalu di perempat final datang Zheng Qinwen, peraih emas Olimpiade Paris 2024. Zheng merebut set pertama 6-3 sebelum Rybakina membalik keadaan (laporan BBC).

Zheng Qinwen, juara Olimpiade yang dikalahkan Rybakina di perempat final US Open 2026
Zheng Qinwen, peraih emas Olimpiade 2024, kalah di perempat final. Sumber: Kuberzog via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Semifinal melawan Coco Gauff jadi ujian paling berisik. Gauff bermain di depan publiknya sendiri dan memimpin set pertama 6-3. Tapi forehand-nya kemudian berantakan: unforced error-nya melonjak dari dua di set pertama menjadi empat belas di set kedua. Rybakina mematahkan servis di angka 5-3 pada set penentu, dan laga berakhir saat pukulan smes Gauff melenceng (Yahoo Sports). Kami sudah mengulas panasnya hari semifinal itu di catatan semifinal US Open 2026.

Coco Gauff, lawan Rybakina di semifinal US Open 2026
Coco Gauff kalah di semifinal. Sumber: Amaury Laporte via Wikimedia Commons (CC BY 2.0).

Final yang Mempertemukan Dua Nama Teratas

Final ini istimewa bahkan sebelum bola pertama dipukul. Ini final tunggal putri US Open pertama sejak 2013 yang mempertemukan unggulan satu dan dua (Wikipedia).

Di seberang net berdiri Aryna Sabalenka, yang sedang mengejar gelar US Open ketiga beruntun. Kalau berhasil, ia akan jadi perempuan pertama yang melakukannya sejak Serena Williams pada 2012-2014. Sabalenka juga datang dengan rekor delapan final Grand Slam lapangan keras beruntun (pratinjau WTA).

Aryna Sabalenka, lawan Rybakina di final US Open 2026
Aryna Sabalenka, juara bertahan dua kali yang gagal melengkapi hattrick. Sumber: Vbrunophotog via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Rybakina merebut set pertama 6-4. Sabalenka membalas dengan merebut set kedua 5-7. Lalu di set ketiga, pertandingan itu selesai lebih cepat dari yang diduga banyak orang: 6-2 untuk Rybakina.

Menariknya, hasil akhir sebenarnya tidak mengubah peringkat. Rybakina sudah dipastikan naik ke nomor satu dunia begitu ia lolos ke semifinal, apa pun yang terjadi di final (Wikipedia). Yang ia mainkan di lapangan itu murni soal trofi.

Dari sisi hadiah, juara tunggal US Open 2026 membawa pulang 5,5 juta dolar AS, sementara runner-up mendapat 2,8 juta dolar (WTA). Hasil lengkap kedua nomor tunggal sudah kami rangkum di laporan juara US Open 2026.

Kenapa Rybakina Bisa Menang Terus?

Pertanyaan ini yang paling sering muncul, dan jawabannya bukan satu hal. Ada empat yang saling menopang.

Pertama, servisnya bikin dia tidak pernah benar-benar terdesak. Dengan tinggi 184 cm dan servis yang termasuk tercepat di tur putri, Rybakina bisa mengamankan game servisnya tanpa reli panjang (profil pemain WTA). Dalam turnamen di mana kakinya bermasalah, ini bukan sekadar keunggulan teknis. Ini penghematan. Poin yang selesai dalam dua pukulan berarti langkah yang tidak perlu diambil.

Servis Rybakina, senjata utama yang membuatnya juara US Open 2026
Servis adalah fondasi permainan Rybakina. Sumber: Hameltion via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Kedua, temperamennya tidak ikut naik-turun. Julukan “Ice Queen” itu bukan hiasan. Di tiga pertandingan terakhirnya di New York, ia selalu tertinggal lebih dulu. Pemain lain bisa panik setelah kehilangan set di panggung sebesar Arthur Ashe. Rybakina justru terlihat sama saja, dan itu membuat lawan kehilangan pegangan: tidak ada tanda-tanda dia sedang goyah.

Ketiga, dia sedang sangat bagus melawan pemain papan atas. Sejak US Open tahun lalu, persentase kemenangannya melawan pemain sepuluh besar dunia mencapai 75 persen (data WTA). Angka ini penting karena menjelaskan kenapa performanya tidak runtuh saat undian mengeras. Osaka, Zheng, Gauff, Sabalenka, semuanya dilewati dalam lima hari.

Keempat, lapangan keras memang rumahnya. Australian Open dan US Open sama-sama lapangan keras, dan ia menyapu keduanya di tahun yang sama. Dengan itu ia menjadi pemain ketiga sejak tahun 2000 yang memenangi dua Grand Slam lapangan keras dalam satu tahun kalender (catatan musim).

Pukulan backhand Rybakina dari garis belakang
Pukulan datar dari garis belakang melengkapi servisnya. Sumber: Kuberzog via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Angka-Angka yang Menjelaskan Musim 2026-nya

Kalau kamu ingin gambaran cepat seberapa dominan musim ini buatnya, sumber catatan musim 2026 memberi angka-angka berikut (rekap musim):

  • 49-13 rekor menang-kalah, atau sekitar 79 persen.
  • 3 gelar sepanjang 2026: Australian Open, Stuttgart, dan US Open.
  • 14 gelar WTA sepanjang karier hingga September 2026.
  • 3 gelar Grand Slam: Wimbledon 2022, Australian Open 2026, US Open 2026.
  • 10,8 juta dolar AS hadiah sepanjang musim.
  • 14 September 2026, tanggal resmi ia jadi nomor satu dunia.

Gelar Australian Open Januari lalu punya cerita yang mirip dengan New York. Ia menang 6-4, 4-6, 6-4 atas Sabalenka setelah sempat tertinggal 0-3 di set ketiga (NPR). Di jalan menuju final itu ia mengalahkan Swiatek di perempat final dan Jessica Pegula di semifinal, menjadikannya perempuan keempat yang menumbangkan peringkat satu sekaligus peringkat dua dalam satu edisi Australian Open (data turnamen).

Sebelum itu, akhir 2025 ia sudah lebih dulu menjuarai WTA Finals dengan mengalahkan Sabalenka juga (Sports Illustrated). Jadi tren melawan Sabalenka ini sudah berjalan hampir setahun. Rekor pertemuan keduanya sekarang 10-8 untuk Sabalenka, dari yang sebelumnya 10-7 (WTA).

Apa Artinya buat Kazakhstan

Rybakina bukan hanya pemain Kazakhstan pertama yang jadi nomor satu dunia tenis. Ia orang Kazakhstan pertama yang mencapai peringkat satu dunia di cabang olahraga apa pun (Wikipedia). Secara keseluruhan, ia pemain ke-30 dalam sejarah yang pernah menduduki puncak peringkat WTA (daftar peringkat WTA).

Buat negara yang dua dekade lalu hampir tidak punya jejak di tenis dunia, investasi federasi mereka pada 2018 itu kini terlihat seperti keputusan bisnis olahraga yang sangat tepat. Mereka tidak membangun pemain dari nol, mereka mengambil bakat yang sudah ada tapi kekurangan dukungan, lalu memberinya jalur.

Model ini bukan tanpa perdebatan. Naturalisasi atlet selalu memancing pertanyaan soal identitas dan keadilan. Tapi dari sisi hasil, Kazakhstan kini punya pemain nomor satu dunia, dan itu mengubah cara sponsor serta federasi lain memandang negara tersebut.

Yang Menanti Setelah New York

Cerita ini punya catatan kaki yang sering hilang di tengah perayaan. Kaki yang membawanya juara ternyata belum selesai bermasalah.

Rybakina dipastikan absen dari laga Billie Jean King Cup Kazakhstan melawan Spanyol pada 23 September 2026. Menurut Federasi Tenis Kazakhstan, ia akan menjalani satu minggu pemeriksaan medis di Kazakhstan, dilanjutkan dua minggu perawatan dan pemulihan (Yahoo Sports).

Pernyataan federasi menyebut prioritasnya sekarang adalah pulih dan kembali ke latihan penuh. Artinya, gelar US Open itu dimenangi bukan setelah cederanya sembuh, melainkan di tengah cedera yang masih berjalan.

Itulah yang membuat kisah ini bertahan lebih lama dari skornya. Bukan karena ia bermain sempurna, tapi karena ia menang justru ketika tubuhnya tidak dalam kondisi terbaik. Musim tenis masih berjalan, dan pekan ini perhatian bergeser ke London untuk Laver Cup 2026.

Satu Pelajaran yang Bisa Dibawa Pulang

Buat kamu yang berlatih rutin, entah lari, angkat beban, atau olahraga raket, ada bagian dari cerita ini yang cukup praktis.

Selama seminggu sebelum turnamen terbesar dalam hidupnya, Rybakina tidak memaksakan latihan teknis. Ia memilih gym untuk pemulihan, dan sisanya istirahat mental. Banyak orang, saat cedera menjelang target, justru melakukan kebalikannya: menambah latihan karena takut kehilangan bentuk.

Yang dia tunjukkan adalah bahwa keterampilan tidak hilang dalam tujuh hari, tapi jaringan yang cedera bisa jauh lebih rusak dalam tujuh hari. Ini tentu bukan resep universal, dan setiap cedera perlu penilaian tenaga medis. Tapi prinsip dasarnya berlaku luas: kalau nyerinya mengubah cara kamu berjalan, itu bukan sinyal untuk ditekan lebih keras.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Siapa yang dikalahkan Rybakina di final US Open 2026?
Aryna Sabalenka, unggulan pertama sekaligus juara bertahan dua kali, dengan skor 6-4, 5-7, 6-2 pada 12 September 2026.

Ini gelar Grand Slam keberapa buat Rybakina?
Ketiga. Sebelumnya Wimbledon 2022 dan Australian Open 2026.

Rybakina dari negara mana?
Ia membela Kazakhstan sejak 2018. Ia lahir di Moskow pada 17 Juni 1999, dan ayahnya berasal dari Almaty.

Cedera apa yang dialaminya?
Cedera kaki kiri yang kambuh di perempat final Cincinnati melawan Iga Swiatek. Federasi Tenis Kazakhstan kemudian menyebut tendon Achilles, dan ia bermain dengan obat pereda nyeri sepanjang US Open.

Kapan Rybakina jadi nomor satu dunia?
14 September 2026, dua hari setelah final. Kepastiannya sendiri sudah didapat begitu ia lolos ke semifinal.

EXPLORE 20FIT

More ways to move.