Veddriq Leonardo: Dari Emas Olimpiade Paris 2024 Menuju LA 2028
Veddriq Leonardo, juara speed Olimpiade Paris 2024, menutup Asian Games 2026 tanpa medali individu tetapi tetap jadi tumpuan Indonesia menuju final musim di Santiago dan Olimpiade Los Angeles 2028.
Veddriq Leonardo, peraih medali emas nomor speed putra Olimpiade Paris 2024, menutup Asian Games 2026 Aichi-Nagoya tanpa medali individu, tetapi tetap menjadi tumpuan utama Indonesia di nomor adu cepat menjelang seri penutup World Climbing Series di Santiago, Chile, pada 23-25 Oktober, sekaligus menata jalan panjang menuju Olimpiade Los Angeles 2028. Di Paris, pemanjat kelahiran Pontianak itu menjadi juara dengan catatan 4,75 detik, unggul 0,02 detik atas Wu Peng dari China, pada final yang juga menyaksikan Sam Watson dari Amerika Serikat memecahkan rekor dunia 4,74 detik untuk perunggu.
Baca Cepat
- Veddriq Leonardo lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 11 Maret 1997, spesialis nomor speed, dan peraih emas Olimpiade Paris 2024 dengan 4,75 detik, emas Olimpiade pertama Indonesia dari cabang panjat tebing.
- Pada musim 2026 ia juara World Climbing Series Chamonix (4,89 detik) mengalahkan rekan senegaranya Antasyafi Robby Al Hilmi (5,11 detik), tetapi terhenti di semifinal speed Asian Games Aichi-Nagoya dengan 4,95 detik, kalah cepat dari Damir Toktarov asal Kazakhstan (4,789 detik).
- Rekor dunia speed putra kini dipegang Sam Watson (AS) dengan 4,64 detik di Piala Dunia Bali 2025; Veddriq pernah memegang rekor dunia, yakni 5,20 detik di Salt Lake City (2021) dan 4,98 detik di Seoul (2023).
- Agenda terdekat adalah final musim World Climbing Series di Santiago, 23-25 Oktober, sebelum Olimpiade Los Angeles 2028 yang untuk pertama kali menggelar boulder, lead, dan speed sebagai tiga nomor medali terpisah dengan total kuota 76 atlet.
Dari Pontianak ke Panggung Dunia
Veddriq Leonardo lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, pada 11 Maret 1997. Ia menekuni nomor speed, disiplin panjat tebing yang mengadu dua pemanjat menuntaskan jalur standar setinggi 15 meter secepat mungkin. Nomor ini menuntut ledakan tenaga, refleksi start yang sempurna, dan konsistensi gerak, karena selisih kemenangan sering kali hanya seperseratus detik.
Sejak menembus sirkuit Piala Dunia, nama Veddriq perlahan menjadi salah satu wajah utama program speed Indonesia. Menurut rekam jejaknya, ia telah mengumpulkan tujuh medali emas nomor speed di level Piala Dunia sepanjang rentang 2018 hingga 2026, termasuk kemenangan di Salt Lake City dan Seoul pada paruh awal kariernya. Konsistensi itu menempatkannya di jajaran elite dunia bersama para pemanjat China dan Amerika Serikat, jauh sebelum namanya melambung lewat panggung Olimpiade.
Perjalanan itu membuat Veddriq tidak hanya dikenal sebagai atlet cepat, tetapi juga sebagai penanda bahwa Indonesia mampu bersaing di cabang yang relatif muda di level Olimpiade. Ketika panjat tebing masuk program Olimpiade, nomor speed menjadi peluang paling nyata bagi Merah Putih untuk menembus podium tertinggi.
Emas Olimpiade Paris 2024, Tonggak Sejarah
Puncak karier Veddriq datang di Olimpiade Paris 2024. Di final nomor speed putra, ia menjadi juara dengan catatan 4,75 detik, hanya 0,02 detik lebih cepat dari Wu Peng asal China yang meraih perak. Perunggu jatuh ke Sam Watson dari Amerika Serikat, yang pada laga perebutan tempat ketiga memecahkan rekor dunia dengan 4,74 detik. Pada nomor yang diputuskan dalam hitungan kurang dari lima detik, margin setipis itu menegaskan betapa dekatnya jarak antara juara dan runner-up.
Medali tersebut bukan sekadar emas personal. Capaian Veddriq tercatat sebagai medali emas Olimpiade pertama Indonesia dari cabang panjat tebing, sekaligus salah satu dari sedikit keping emas Merah Putih di luar bulu tangkis sepanjang sejarah keikutsertaan di Olimpiade. Bagi olahraga panjat tebing Tanah Air, hasil Paris mengukuhkan nomor speed sebagai lahan medali paling realistis di level tertinggi dan menjadi inspirasi bagi gelombang pemanjat muda yang menyusul di belakangnya.
Bertarung dengan Cedera Jari Sepanjang 2026
Jalan Veddriq menuju musim 2026 tidak mulus. Menjelang pergantian tahun, ia mengaku masih menjalani pemulihan akibat peradangan pada jari tengah yang mengganggunya sepanjang 2025. Alih-alih menunggu sembuh total, pemanjat berusia 29 tahun itu memilih tetap berlatih dan bertanding dalam kondisi terbatas demi tidak kehilangan momentum.
Seperti dikutip CNN Indonesia, Veddriq beralasan “enggak ada waktu lagi untuk menunggu sembuh” karena usia dan rentang karier atlet yang terbatas. Ia menegaskan ingin memaksimalkan peluang pada tahun-tahun menjelang Asian Games 2026 dan rangkaian Piala Dunia, ketimbang menunda tampil sampai pulih sepenuhnya.
Keputusan itu mencerminkan dilema khas atlet speed: margin kemenangan tipis, sementara jendela prestasi pendek. Jari, bagian tubuh yang vital untuk mencengkeram pegangan dan menekan tombol finis, membuat setiap start dan kayuhan di dinding menjadi taruhan antara performa maksimal dan risiko cedera yang kambuh.
Musim 2026: Emas Chamonix, Terhenti di Semifinal Asian Games
Di tengah kondisi itu, Veddriq tetap mampu menyentuh podium tertinggi. Pada seri World Climbing Series Chamonix, Prancis, 12 Juli, ia merebut emas speed putra dengan 4,89 detik, mengalahkan sesama wakil Indonesia Antasyafi Robby Al Hilmi yang finis 5,11 detik. Menurut RRI, itu menjadi emas pertama Veddriq sejak Olimpiade, hasil dari final yang seluruhnya diisi dua pemanjat Merah Putih.
Namun Asian Games 2026 Aichi-Nagoya berakhir kurang manis. Di nomor speed putra, Veddriq terhenti di babak semifinal setelah mencatat 4,95 detik, kalah cepat dari Damir Toktarov asal Kazakhstan yang membukukan 4,789 detik. Ia pulang tanpa medali individu, melengkapi catatan Asian Games yang belum pernah memberinya emas perorangan. Pada edisi 2022 di Hangzhou, raihan terbaiknya adalah perunggu nomor speed dan perak di speed relay.
Kontras antara emas Chamonix dan kegagalan Nagoya menggambarkan betapa tipisnya batas di nomor speed. Dalam hitungan seperseratus detik, seorang juara Olimpiade bisa tersingkir sebelum final. Bagi Veddriq, Asian Games menjadi pelajaran berharga yang, menurut pengakuannya, tetap diterima sebagai bagian dari proses panjang menuju target berikutnya.
Rekor Dunia Kian Cepat dan Format Baru LA 2028
Persaingan di nomor speed kian ketat karena rekor dunia terus dipangkas. Rekor dunia speed putra kini dipegang Sam Watson, yang membukukan 4,64 detik di Piala Dunia Bali 2025. Menurut laporan media, Watson memecahkan rekor dunia beberapa kali dalam rentang sekitar setahun, menurunkannya dari kisaran 4,90 detik ke 4,64 detik, dan ia terbuka menatap ambang 4,5 detik pada masa mendatang.
Patokan itu menjadi tantangan langsung bagi para pemanjat Indonesia. Veddriq, yang pernah memegang rekor dunia dengan 5,20 detik di Salt Lake City pada 2021 dan 4,98 detik di Seoul pada 2023, kini harus mengejar standar yang jauh lebih cepat untuk kembali bersaing di posisi teratas dunia. Pekerjaan rumahnya jelas: memperbaiki catatan waktu sambil menjaga kondisi jari agar tetap prima.
Kabar baiknya, panggung besar berikutnya memberi ruang lebih luas. Di Olimpiade Los Angeles 2028, untuk pertama kali dalam sejarah, tiga disiplin panjat tebing, yakni boulder, lead, dan speed, akan memperebutkan medali secara terpisah untuk putra dan putri, dengan total enam nomor dan kuota 76 atlet. Ini melanjutkan tren pemisahan: di Tokyo 2020 ketiganya digabung dalam satu format kombinasi, lalu di Paris 2024 boulder dan lead digabung sementara speed berdiri sendiri. Speed yang menjadi tumpuan Indonesia tetap berstatus nomor medali tersendiri di Los Angeles. Di dalam negeri, PP FPTI pun telah menggulirkan seleksi nasional sebagai bagian dari persiapan jangka panjang menuju Los Angeles 2028.
Yang Ditunggu dari Veddriq Setelah Nagoya
Fokus terdekat Veddriq dan tim speed Indonesia adalah seri penutup World Climbing Series di Santiago, Chile, pada 23-25 Oktober. Seri itu menutup musim 2026 sekaligus menjadi penentu akhir peringkat musim di nomor speed dan lead, panggung terakhir tahun ini untuk menegaskan posisi sebelum kalender berganti.
Setelahnya, agenda membentang panjang menuju Los Angeles 2028. Di sana, Veddriq tidak lagi sendirian memikul beban. Regenerasi speed Indonesia berjalan cepat: Antasyafi Robby Al Hilmi yang baru berusia 19 tahun sempat memuncaki ranking dunia musim ini, sementara Aditya Tri Syahria mencatat waktu-waktu tajam meski gagal di momen krusial Asian Games. Kehadiran seorang juara Olimpiade sebagai penanda standar sekaligus mentor bisa menjadi modal penting bagi skuad.
Bagi pemanjat asal Pontianak itu sendiri, cerita 2026 adalah perpaduan puncak dan ujian: emas Chamonix di tengah cedera, lalu kegagalan Nagoya yang menyisakan pekerjaan rumah. Dengan rekor dunia yang kian cepat dan format Olimpiade yang lebih ramah bagi spesialis, jalan Veddriq Leonardo menuju Santiago dan Los Angeles 2028 menjadi salah satu kisah paling dinanti dari panjat tebing Indonesia.
Artikel ini dirangkum dari:
- Wikipedia: Veddriq Leonardo tautan (biografi, rekor, dan rekam jejak Piala Dunia)
- Wikipedia: Sport climbing at the 2024 Summer Olympics, Men’s speed tautan
- PlanetMountain: Veddriq Leonardo wins Speed Climbing at Paris 2024 tautan
- Wikipedia: Sam Watson (climber) tautan (rekor dunia 4,64 detik di Bali 2025)
- CNN Indonesia: Tak Bisa Menunggu Pulih, Veddriq Yakin Raih yang Terbaik di 2026 tautan
- ANTARA Jogja: Veddriq Leonardo optimistis hadapi babak perempat final speed putra tautan
- RCTI+ / Okezone: Gagal Sumbang Medali di Asian Games 2026, Aditya Tri dan Veddriq Leonardo Petik Pelajaran Berharga tautan
- Climber UK: Sport climbing gets separate medals for LA 2028 Olympics tautan
- IFSC: Climbing competition schedule announced for the Olympic Games LA28 tautan
- RRI: Indonesia Claims Two Golds at World Climbing Series Chamonix tautan
- Metro TV News: FPTI Adakan Seleknas untuk Olimpiade 2028 Los Angeles tautan