Desak Made Rita Kusuma Dewi, Ratu Speed Panjat Tebing dari Bali
Profil lengkap Desak Made Rita Kusuma Dewi, pemanjat speed asal Singaraja yang jadi juara dunia 2023, naik ke peringkat satu dunia, dan menyumbang satu-satunya emas panjat tebing Indonesia di Asian Games 2026 Nagoya.
Desak Made Rita Kusuma Dewi, pemanjat nomor speed asal Singaraja, Bali, melangkah sebagai salah satu wajah utama panjat tebing Indonesia menjelang seri penutup World Climbing Series di Santiago, Chile, pada 23-25 Oktober 2026. Perempuan kelahiran 24 Januari 2001 itu adalah juara dunia speed 2023 di Bern, Swiss, dan menjadi penyumbang satu-satunya emas panjat tebing Indonesia di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya lewat catatan 6,062 detik, rekor Asian Games sekaligus rekor Asia, dengan menumbangkan Deng Lijuan dari China yang finis 6,064 detik.
Baca Cepat
- Desak Made Rita Kusuma Dewi lahir di Kabupaten Buleleng, Bali, pada 24 Januari 2001, spesialis nomor speed, dan berstatus mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) di Singaraja.
- Ia juara dunia nomor speed di Kejuaraan Dunia IFSC 2023 Bern, Swiss, dengan 6,49 detik mengalahkan Emma Hunt (Amerika Serikat) 6,67 detik, dan masuk daftar BBC 100 Women 2023.
- Sepanjang 2026 ia memperbaiki rekor Asia dua kali: 6,07 detik di Kejuaraan Asia Meishan (9 April), lalu 6,062 detik saat merebut emas Asian Games Nagoya, unggul 0,002 detik atas Deng Lijuan.
- Setelah juara seri World Climbing Series Krakow, Desak naik ke puncak ranking dunia speed putri pada Juli 2026 dengan 3.670 poin, dan kini menatap final musim di Santiago serta Olimpiade Los Angeles 2028.
Siapa Desak Made Rita Kusuma Dewi?
Desak Made Rita Kusuma Dewi lahir di Kabupaten Buleleng, Bali, pada 24 Januari 2001, dan besar di Singaraja. Pemanjat bertinggi 165 sentimeter itu menekuni nomor speed, disiplin panjat tebing yang mengadu dua atlet menuntaskan jalur standar setinggi 15 meter secepat mungkin. Di nomor ini, start yang presisi dan ledakan tenaga menjadi penentu, karena selisih kemenangan sering kali hanya seperseratus bahkan seperseribu detik.
Panjat tebing bukan dunia asing bagi keluarganya. Menurut Good News From Indonesia, bibinya, Desak Komang Mulia Astiti, juga seorang pemanjat, dan Rita langsung jatuh cinta pada olahraga ini sejak mencobanya saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia kemudian menempa diri di bawah binaan FPTI Buleleng sebelum menembus tim nasional dan dikenal dengan panggilan akrab Rita.
Di luar dinding, ia tercatat sebagai mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Statusnya sebagai atlet sekaligus mahasiswa menjadikannya panutan bagi anak muda Bali yang ingin menapaki jalur prestasi lewat panjat tebing, cabang yang kini menjadi lumbung medali Indonesia di pentas internasional. Jalur yang ia tempuh memperlihatkan bahwa prestasi dunia bisa lahir dari pembinaan daerah.
Juara Dunia 2023 dan Tiket ke Olimpiade Paris
Lompatan besar Desak terjadi pada 2023. Di Kejuaraan Dunia IFSC yang digelar di Bern, Swiss, pada September tahun itu, ia merebut emas nomor speed putri dengan catatan 6,49 detik, mengungguli Emma Hunt dari Amerika Serikat yang finis 6,67 detik. Gelar juara dunia tersebut sekaligus mengamankan tiket Desak ke Olimpiade Paris 2024, panggung Olimpiade pertama dalam kariernya.
Capaian itu mengangkat namanya jauh melampaui arena olahraga. Pada November 2023, Desak masuk dalam daftar BBC 100 Women, deretan 100 perempuan berpengaruh dan inspiratif versi media Inggris tersebut. Bagi panjat tebing Indonesia, pengakuan itu menegaskan bahwa nomor speed putri Merah Putih sudah berdiri sejajar dengan kekuatan tradisional dunia.
Fondasinya sudah terbangun sejak 2022. Pada musim itu ia mengoleksi dua perunggu Piala Dunia dari Villars dan Chamonix serta perak Kejuaraan Asia di Seoul, menurut catatan yang dirangkum Good News From Indonesia. Rangkaian hasil tersebut menjadi bekal sebelum memasuki tahun-tahun paling gemilang dalam kariernya.
Luka Paris dan Duel Tipis Lawan Deng Lijuan
Tidak semua kisah berakhir manis. Di Olimpiade Paris 2024, Desak justru menyimpan kekecewaan. Ia finis di peringkat keenam secara keseluruhan setelah langkahnya terhenti di babak perempat final. Yang membuatnya terasa pahit, ia kalah sangat tipis dari Deng Lijuan asal China, hanya terpaut 0,006 detik, selisih yang nyaris tak kasat mata di nomor adu cepat.
Nama Deng Lijuan justru menjadi rival yang terus berulang dalam perjalanan Desak. Di Asian Games 2022 Hangzhou yang digelar pada Oktober 2023, Desak menang atas Deng dengan 6,364 detik berbanding 6,435 detik untuk merebut emas, ditambah perak nomor speed relay. Di Paris, posisi berbalik dan Deng yang unggul. Dua tahun kemudian, di Nagoya, giliran Desak kembali menang, lagi-lagi dengan margin setipis rambut.
Rentetan duel itu menggambarkan karakter nomor speed: tidak ada juara abadi, dan setiap seperseribu detik menentukan. Bagi Desak, kegagalan Paris tidak mematahkan semangat, melainkan menjadi bahan bakar untuk musim-musim berikutnya yang justru menjadi periode paling produktif sepanjang kariernya.
Rentetan Gelar 2025-2026 dan Puncak Ranking Dunia
Setelah Paris, Desak bangkit dengan deretan gelar. Di ajang World Games 2025 Chengdu, China, pada 15 Agustus, ia menjuarai nomor Speed Single 4 dengan catatan 6,35 detik di final. Perak direbut Qin Yumei dari China, sedangkan perunggu jatuh ke rekan senegaranya, Rajiah Sallsabillah, sehingga dua wakil Indonesia naik podium dalam satu nomor.
Momentum berlanjut pada 2026. Di Kejuaraan Asia Meishan, China, 9 April, Desak memecahkan rekor Asia dengan 6,07 detik, menjadikannya perempuan kedua dalam sejarah yang menembus batas 6,10 detik dan mencatat waktu tercepat ketiga sepanjang masa, menurut World Climbing. Ia mengalahkan Zhou Yafei (6,47 detik) dan Qin Yumei (6,77 detik) di final.
Puncaknya datang pada Juli. Usai menjuarai seri World Climbing Series Krakow, Polandia, pada 3-5 Juli, dan menambah perunggu nomor speed relay, Desak naik ke peringkat satu dunia speed putri dengan 3.670 poin, unggul tipis atas legenda Polandia Aleksandra Miroslaw yang mengumpulkan 3.610 poin. Pelatih speed timnas Galar Pandu Asmoro, seperti dikutip Metro TV, menyebut peringkat dunia itu penting agar atlet “semakin percaya diri” menjelang Asian Games. Sepekan kemudian di Chamonix, Prancis, Desak kembali juara dengan 6,22 detik, emas kedua beruntunnya.
Satu-Satunya Emas Panjat Tebing Indonesia di Nagoya
Tahun 2026 ditutup Desak dengan prestasi puncak di Asian Games Aichi-Nagoya. Pada final speed putri, Rabu (30/9/2026), ia menjadi juara dengan 6,062 detik, memperbaiki rekor Asian Games sekaligus rekor Asia yang sebelumnya ia pegang. Ia unggul hanya 0,002 detik atas Deng Lijuan yang mencatat 6,064 detik, sementara Zhou Yafei melakukan start keliru sehingga hanya tiga pemanjat yang menuntaskan final, menurut World Climbing dan FPTI.
Emas itu memiliki arti besar. Dari sembilan pemanjat yang diturunkan Indonesia di Nagoya, hanya Desak yang mempersembahkan medali emas. Nomor-nomor lain, termasuk lead yang meloloskan empat finalis serta speed putra, pulang tanpa keping emas. Dengan kata lain, Desak menjadi penyelamat target panjat tebing Indonesia di multiajang terbesar Asia tahun ini.
Kemenangan atas Deng Lijuan juga menutup lingkaran rivalitas yang sempat menyakitkan di Paris. Jika di Olimpiade ia kalah 0,006 detik, di Nagoya Desak membalas dengan keunggulan 0,002 detik. Pola margin setipis itu memperlihatkan betapa nomor speed telah berubah menjadi adu presisi tingkat tertinggi, tempat Indonesia kini punya posisi di papan atas lewat sosok asal Bali tersebut.
Menatap Santiago dan Olimpiade Los Angeles 2028
Agenda terdekat Desak adalah seri penutup World Climbing Series 2026 di Santiago, Chile, pada 23-25 Oktober. Seri itu mempertandingkan nomor speed dan lead sekaligus menentukan peringkat akhir musim. Sebagai salah satu pemanjat tercepat dunia musim ini, Desak melangkah ke Santiago sebagai kandidat kuat untuk menutup tahun di posisi teratas klasemen speed putri.
Lebih jauh, jalan membentang menuju Olimpiade Los Angeles 2028. Di sana, untuk pertama kali dalam sejarah Olimpiade, nomor boulder, lead, dan speed akan memperebutkan medali secara terpisah untuk putra dan putri, total enam nomor dengan kuota 76 atlet. Format itu menguntungkan spesialis seperti Desak, karena speed berdiri sendiri sebagai nomor medali, bukan lagi digabung seperti pada Tokyo 2020 atau separuh digabung seperti Paris 2024.
Pada usia 25 tahun, Desak Made Rita Kusuma Dewi berada di fase matang sebagai juara dunia, juara Asia, juara Asian Games, dan mantan nomor satu dunia. Dari dinding latihan di Singaraja hingga podium tertinggi di Nagoya, perjalanannya menjadi bukti bahwa nomor speed putri Indonesia tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan kekuatan nyata yang diperhitungkan dunia menuju Los Angeles 2028.
Artikel ini dirangkum dari:
- Wikipedia: Desak Made Rita Kusuma Dewi tautan (biografi, rekor, dan rekam jejak kompetisi)
- World Climbing: Kusuma Dewi shatters Asian record to claim Speed gold (Meishan 2026) tautan
- RRI: Desak Made Rises to World No. 1, Boosting Indonesia’s Asian Games Hopes tautan
- Metro TV News: Desak Made Jadi Atlet Panjat Tebing Speed Nomor 1 Dunia tautan
- ANTARA (Riau): Asian Games – Indonesia wins gold in women’s speed climbing (2022, 6,364 detik) tautan
- Wikipedia: Sport climbing at the 2024 Summer Olympics, Women’s speed tautan
- Wikipedia: Sport climbing at the 2025 World Games, Women’s Speed Single 4 tautan
- Good News From Indonesia: Desak Made Rita Kusuma Dewi, srikandi panjat tebing yang menatap Olimpiade Paris 2024 tautan
- FPTI: Desak Made Persembahkan Emas Speed 4 Jalur Asian Games 2026 tautan
- Kontan/Moms Money: Desak Made Rita sabet medali emas ke-4 untuk Indonesia, pecahkan rekor Asia (Nagoya 6,062 detik) tautan
- inside-climbing: Bern 2023 IFSC Climbing World Championship Highlights (juara dunia speed) tautan