World Climbing Series 2026 Ditutup di Santiago: Putra Tri Runner-Up Lead, Speed Indonesia Papan Atas
World Climbing Series 2026 ditutup di Santiago, Chile, 23-25 Oktober. Putra Tri Ramadani melaju sebagai runner-up klasemen lead putra, sementara Antasyafi Robby Al Hilmi, Raharjati Nursamsa, dan Desak Made Rita menjaga posisi papan atas di nomor speed.
Musim panjat tebing dunia 2026 akan ditutup di Santiago, Chile, pada 23-25 Oktober, lewat seri pamungkas World Climbing Series yang mempertandingkan nomor speed dan lead. Bagi Indonesia, seri ini bukan sekadar penutup administratif: Putra Tri Ramadani melaju sebagai runner-up klasemen sementara lead putra musim 2026, sementara Antasyafi Robby Al Hilmi dan Raharjati Nursamsa menghuni papan atas speed putra, dan Desak Made Rita Kusuma Dewi bertahan di tiga besar speed putri. Santiago sekaligus mencatat sejarah sebagai seri Piala Dunia pertama di Chile, dengan total hadiah rekor sepanjang musim.
Baca Cepat
- Seri pamungkas World Climbing Series 2026 digelar di Santiago, Chile, 23-25 Oktober, mempertandingkan nomor speed dan lead. Ini seri Piala Dunia pertama sepanjang sejarah di Chile dan baru yang kedua di Amerika Selatan, setelah Curitiba, Brasil, pada 2025.
- Putra Tri Ramadani, yang akrab disapa Srondeng, menempati peringkat kedua klasemen sementara lead putra musim 2026 di belakang Neo Suzuki dari Jepang. Emas yang ia raih di Praha tercatat sebagai emas lead World Climbing Series pertama Indonesia di luar nomor speed.
- Di nomor speed, rangkuman klasemen musim menempatkan Antasyafi Robby Al Hilmi di peringkat ketiga dan Raharjati Nursamsa keempat pada sektor putra, sedangkan Desak Made Rita berada di tiga besar putri. Posisi itu masih bisa berubah di Santiago.
- World Climbing menyiapkan total hadiah rekor 850.000 euro sepanjang musim 2026, lebih dari dua kali lipat angka 2024, termasuk untuk pertama kalinya bonus bagi juara umum seri. Satu seri boulder tersisa di Salt Lake City, 16-18 Oktober.
Santiago, Seri Penutup Musim yang Bersejarah
Santiago menjadi perhentian terakhir untuk nomor speed dan lead pada kalender World Climbing Series 2026 yang membentang di banyak kota sejak Mei. Setelah Santiago, hanya tersisa satu seri boulder di Salt Lake City, Amerika Serikat, pada 16-18 Oktober. Artinya, peringkat akhir musim di nomor speed dan lead baru benar-benar terkunci setelah tirai Santiago turun pada Minggu, 25 Oktober.
Nilai sejarahnya besar. Menurut World Climbing, ini seri Piala Dunia pertama yang digelar di Chile dan baru yang kedua sepanjang sejarah di kawasan Amerika Selatan, menyusul Curitiba di Brasil yang menjadi tuan rumah seri boulder pada Mei 2025. Seri Santiago resmi diluncurkan pada 4 Maret 2026, dihadiri Menteri Olahraga Chile, Direktur Institut Olahraga Nasional, dan Presiden Komite Olimpiade Chile, dengan Presiden World Climbing Marco Scolaris mengirim pesan video.
Ibu kota Chile itu bukan tempat asing bagi panjat tebing. Santiago menjadi tuan rumah Pan American Games pada Oktober 2023, saat para pemanjat memperebutkan tiket kuota menuju Olimpiade Paris 2024. Kini, dinding Santiago kembali menjadi panggung, kali ini untuk menutup satu musim penuh persaingan dunia.
Dua Gelar Juara Umum yang Diperebutkan
Yang membuat Santiago panas adalah statusnya sebagai seri penentu. Poin terakhir untuk klasemen keseluruhan nomor speed dan lead diperebutkan di sini, dan World Climbing menegaskan bahwa poin terbesar justru berada di babak final, tempat gelar seri benar-benar dimenangkan atau hilang. Satu akhir pekan di Chile bisa mengubah peta yang terbangun sepanjang enam bulan.
Di nomor lead putra, rangkuman klasemen musim menempatkan Neo Suzuki dari Jepang di puncak, diikuti Putra Tri Ramadani di peringkat kedua. Pada lead putri, Annie Sanders dari Amerika Serikat memimpin di depan Seo Chae-hyun, juara lead Asian Games asal Korea Selatan. Nama-nama itu memastikan perebutan gelar lead melibatkan kekuatan tradisional sekaligus wajah baru.
Di nomor speed, persaingan lebih rapat. Pada sektor putra, rangkuman musim menempatkan pemanjat Jepang dan China di dua posisi teratas, dengan Antasyafi Robby Al Hilmi dan Raharjati Nursamsa menguntit di papan atas. Di speed putri, Emma Hunt dari Amerika Serikat memimpin klasemen, sementara Desak Made Rita menjaga posisi di tiga besar. Untuk pertama kalinya pula, juara umum seri akan mendapat bonus khusus, sehingga hasil Santiago menyangkut gengsi sekaligus angka.
Putra Tri Ramadani dan Kebangkitan Nomor Lead
Cerita paling segar dari Indonesia musim ini justru datang dari nomor lead, disiplin yang selama ini didominasi Jepang dan Korea Selatan. Putra Tri Ramadani, yang akrab disapa Srondeng, menjuarai seri lead di Praha, Republik Ceko. Menurut World Climbing, kemenangan itu menjadi emas lead World Climbing Series pertama bagi Indonesia di luar nomor speed, sebuah terobosan yang jarang terjadi di negeri yang identik dengan nomor adu cepat.
Hasil tersebut mengangkat Putra Tri ke peringkat kedua klasemen sementara lead putra 2026. Manajer tim Wahyu Pristiawan Buntoro, seperti dikutip ANTARA, menyebut Indonesia tidak hanya kuat di speed dan menegaskan federasi “memiliki atlet lead yang siap mewarnai podium World Climbing Series”. Pelatih lead Amri menilai capaian itu lahir dari “kerja keras seluruh tim”, dengan sorotan khusus untuk para pembuat jalur.
Momentum itu berlanjut di Asian Games Aichi-Nagoya, tempat empat pemanjat lead Indonesia menembus babak final, sesuatu yang beberapa tahun lalu belum terbayangkan, meski belum berbuah medali. Di Santiago, Putra Tri berpeluang menutup musim di posisi runner-up klasemen lead, bahkan membuka celah menantang gelar bila tampil maksimal di seri pamungkas. Bagi panjat tebing Indonesia, menanjaknya nomor lead memperlebar tumpuan yang selama ini bersandar pada speed.
Speed Tetap Lumbung, dari Antasyafi sampai Desak
Kendati lead menanjak, speed tetap menjadi lumbung utama Indonesia. Antasyafi Robby Al Hilmi, pemanjat berusia 19 tahun, menjadi kejutan musim ini. Ia merebut emas seri Guiyang dengan catatan 4,65 detik pada September dan, menurut gebrak.id, sempat naik ke puncak ranking dunia speed putra. Dalam rangkuman klasemen musim World Climbing Series, ia bertengger di peringkat ketiga speed putra, dengan Raharjati Nursamsa, peraih perunggu seri Krakow, menempel di peringkat keempat.
Catatan Desak Made Rita sedikit berbeda. Peraih emas speed Asian Games itu sempat menembus peringkat satu dunia pada Juli, tetapi di klasemen seri 2026 ia berada di tiga besar speed putri karena melewatkan dua seri China pada September, yakni Guiyang dan Chongqing, demi fokus ke Asian Games. Di Santiago, ia masih berpeluang mengerek posisi akhir musimnya di nomor adu cepat.
Nama lain tetap menjadi penentu. Veddriq Leonardo, juara Olimpiade Paris 2024 yang menjuarai seri Chamonix musim ini, selalu menjadi magnet setiap kali turun di nomor speed. Dengan kedalaman skuad yang terus bertambah, Indonesia melangkah ke Chile sebagai salah satu kekuatan paling diperhitungkan di disiplin yang sering ditentukan selisih seperseratus detik.
Hadiah Rekor dan Arti Santiago bagi Panjat Tebing
Musim 2026 juga menandai lompatan dari sisi hadiah. Menurut laporan francsjeux, World Climbing menyiapkan total hadiah rekor 850.000 euro sepanjang musim, lebih dari dua kali lipat angka 2024 yang sebesar 374.400 euro. Setiap seri mengalokasikan 20.000 euro, dengan 6.000 euro untuk juara, 4.000 euro bagi runner-up, dan 2.800 euro untuk peringkat ketiga, hingga 1.000 euro bagi finis kedelapan.
Yang baru, untuk pertama kalinya disiapkan bonus 9.000 euro bagi para juara umum seri di akhir musim. Seluruh finalis nomor boulder dan lead serta perempat finalis speed juga turut menerima hadiah. World Climbing menyebut struktur hadiah 2026 sebagai kemajuan berarti bagi olahraga ini, sinyal bahwa panjat tebing kompetisi makin serius menata ekosistem profesionalnya.
Bagi Santiago, perpaduan status seri penentu, hadiah besar, dan nilai sejarah sebagai tuan rumah Chile menjadikannya lebih dari sekadar penutup musim. Seri ini sekaligus memperlihatkan bagaimana panjat tebing merambah kawasan baru di Amerika Selatan, dua tahun setelah benua itu menggelar seri pertamanya di Curitiba.
Setelah Santiago: Menatap 2027 dan Los Angeles 2028
Begitu Santiago usai, cerita musim 2026 resmi terkunci. Rangkaian hasil sepanjang tahun akan menentukan siapa yang berdiri sebagai juara umum seri di tiap nomor, sekaligus menjadi tolok ukur sebelum kalender 2027 bergulir.
Lebih jauh, semua bermuara pada satu target besar: Olimpiade Los Angeles 2028. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Olimpiade, nomor boulder, lead, dan speed akan memperebutkan medali secara terpisah untuk putra dan putri. Format itu menguntungkan para spesialis dan memberi Indonesia lebih dari satu pintu, baik lewat speed yang sudah mapan maupun lead yang mulai menggigit.
Untuk sekarang, fokus terdekat tetap satu, yakni menutup World Climbing Series 2026 dengan hasil terbaik di dinding Santiago. Di sana, Putra Tri Ramadani, Antasyafi Robby Al Hilmi, Raharjati Nursamsa, Desak Made Rita, dan rekan-rekan Merah Putih punya peluang mengunci musim di posisi papan atas, sebelum perjalanan panjang menuju Los Angeles benar-benar dimulai.
Artikel ini dirangkum dari:
- World Climbing: World Climbing Series Santiago 2026 takes off tautan (tanggal, disiplin, dan peluncuran seri)
- World Climbing: Santiago to host historic Lead and Speed World Cup in 2026 tautan
- World Climbing: The Story So Far, World Climbing Series Rankings tautan (klasemen musim)
- Wikipedia: 2026 World Climbing Series tautan (kalender dan klasemen akhir sebelum Santiago)
- ANTARA (Jogja): Srondeng tempati peringkat kedua dunia sementara lead series 2026 tautan
- francsjeux: Climbing: prize money record for World Climbing tautan
- gebrak.id: Antasyafi Robby Raih Emas World Climbing Series Guiyang 2026 tautan
- RRI: Indonesia Claims Two Golds at World Climbing Series Chamonix tautan