Otoritas kartel Jerman menilai aturan 50+1 pada dasarnya sah, tetapi meminta perbaikan. Presidium Bundesliga kini mencari solusi yang disepakati 36 klub.

Sebuah spanduk terbentang di tribun suporter Bayern München pada Sabtu sore, 29 November 2025, saat tim tuan rumah menang 3-1 atas FC St. Pauli. Isinya ditujukan langsung kepada Uli Hoeneß: “Uli, kapan kamu akhirnya sadar… Sepak bola di Jerman tak terbayangkan tanpa 50+1!” Menurut ran.de, pesan itu dibalas Hoeneß dengan kritik keras kepada kelompok ultras.
Hampir setahun kemudian, perdebatan itu belum selesai, hanya pindah arena: dari tribun ke ruang rapat dan kantor otoritas persaingan usaha. Pada 12 Agustus 2026 Bundeskartellamt menerbitkan penilaian akhir atas aturan 50+1, dan pada 6 Oktober presidium Bundesliga menjawabnya. Hasilnya: aturan yang menjaga suara mayoritas di tangan klub anggota itu boleh bertahan, tetapi harus dirapikan agar tahan uji secara hukum.
Ringkasnya: Otoritas kartel Jerman menilai 50+1 pada dasarnya sah, namun meminta perbaikan pada pengecualian, keterbukaan klub, dan aturan organisasi liga. Presidium Bundesliga ingin mempertahankan aturan itu dan menargetkan keputusan bersama 36 klub: komitmen prinsip pada Desember 2026, usulan final pada paruh pertama 2027.
Inti aturan 50+1 sederhana: ketika klub memindahkan divisi sepak bola profesionalnya ke dalam perseroan, anggota dan klub induk harus tetap memegang keputusan akhir. Investor boleh membeli saham, tetapi tidak pernah memegang mayoritas suara, demikian dpa dalam laporan yang dimuat Volksstimme.
Menurut pernyataan presidium di bundesliga.com, otoritas itu mengakui aturan tersebut membatasi persaingan, tetapi pembatasan itu dapat dibenarkan oleh tujuan menjaga akses partisipasi bagi lapisan masyarakat luas. Ada tiga bidang yang perlu diperbaiki: pengecualian dukungan (Förderausnahmen), keterbukaan klub, dan aturan organisasi Ligaverband.

Dua klub memegang izin pengecualian: Bayer Leverkusen dan VfL Wolfsburg, yang masing-masing didukung Bayer dan Volkswagen. Menurut dpa, solusi apa pun harus bisa diterima kedua induk perusahaan itu agar mereka tidak menempuh jalur hukum. Presidium sendiri, yang beranggota sembilan orang termasuk Hans-Joachim Watzke (Borussia Dortmund), Jan-Christian Dreesen (Bayern) dan Oke Göttlich (St. Pauli), menyebut solusi yang disepakati luas sebagai cara terbaik menghindari sengketa panjang di pengadilan.
Kritik otoritas tidak berhenti di dua klub itu. Blog hukum Otto Schmidt mencatat bahwa dalam suratnya per 12 Agustus 2026 otoritas juga menyoroti RB Leipzig dan Hannover 96. Menurut ran.de, Leipzig memenuhi syarat secara formal tetapi membatasi partisipasi anggota lewat anggaran dasarnya, sementara pada Hannover 96 belum jelas apakah corak klub berbasis anggota benar-benar dijalankan.
Karena itu, presidium memperingatkan agar liga tidak buru-buru. Lewat Flashscore dan dpa, presidium menyebut keputusan tergesa-gesa di tingkat liga justru dapat melemahkan kepastian hukum, dan meminta “tingkat rasa tanggung jawab yang tinggi dari semua pihak”.
Dalam podcast OMR, kata ran.de, Hoeneß yang kini 73 tahun berkata ia yakin “cepat atau lambat, aturan 50+1 di Jerman harus gugur”. Ia berharap Watzke, yang memimpin dewan pengawas liga, akhirnya mau dibujuk. Hoeneß berargumen bahwa pemasukan internasional akan membantu banyak klub.

Di sisi lain, Presiden Bayern Herbert Hainer menunjuk anggaran dasar klub, yang mewajibkan Bayern mempertahankan 70 persen saham. Hoeneß juga mengatakan di acara “Power Days” bahwa semua klub yang dikuasai ultras “menjadi kelas dua”. Ia menambahkan: “Saya mencintai ultras, saya mencintai suporter. Tapi yang menentukan haruslah orang lain.” Pada pekan yang sama, kedua kubu suporter memprotes rencana pengetatan keamanan para menteri dalam negeri, termasuk tiket personal.
Pada Senin 5 Oktober 2026, presidium bertemu klub-klub Bundesliga dan 2. Bundesliga di Frankfurt. Pada rapat anggota Desember, seluruh klub akan diminta menegaskan 50+1 sebagai prinsip pokok sepak bola profesional Jerman. Usulan final soal penerapan seragam bagi semua anggota ditargetkan pada paruh pertama 2027, menurut Wochenblatt Reporter yang memuat pernyataan SC Freiburg.
Bagi suporter yang membentangkan spanduk itu, pertanyaannya tetap sama dengan kemarin. Bedanya, kali ini yang menentukan jawabannya adalah 36 suara klub, bukan satu podcast.
Untuk konteks Bayern di kompetisi Eropa, baca Bayern vs Arsenal: Tanpa Olise, Bayern Bertumpu pada Luis Díaz, dan soal ekonomi klub di liga lain, Ekonomi Super League.
Aturan yang menjamin klub induk dan anggotanya memegang suara mayoritas saat divisi sepak bola profesional dijadikan perseroan. Investor boleh punya saham, tetapi tidak boleh menguasai mayoritas suara.
Pada 12 Agustus 2026 otoritas itu menyatakan 50+1 pada dasarnya diperbolehkan, tetapi meminta perbaikan pada pengecualian, keterbukaan klub, dan aturan organisasi Ligaverband.
Rapat anggota Desember 2026 diminta menegaskan prinsipnya, dan usulan final penerapan seragam bagi semua klub ditargetkan pada paruh pertama 2027.
Kartu siap posting dibuat otomatis dari artikel ini.
Di HP, tombol Share to Instagram membuka menu share dan Anda tinggal pilih Instagram Stories atau Feed. Di desktop, gambar disimpan dulu lalu diunggah dari Instagram.
20FIT Media
Any amount helps. You choose.
You’ll finish paying right here — this page stays open.
QRIS, bank transfer, e-wallet or card.
Trouble with an e-wallet? Open the payment page in a new tab.
Finished? — thank you for supporting 20FIT.
Opening secure checkout…