Dari parkiran pasar sapi Gunungkidul ke podium Grand Prix: Veda Ega Pratama, 17 tahun, peringkat 7 Moto3 2026 menjelang GP Australia.

Bertahun-tahun sebelum disorot kamera Grand Prix, motor mini Veda Ega Pratama berputar di pelataran parkir Pasar Sapi Siyono Harjo, Gunungkidul. Di aspal yang pada hari pasaran dipakai pedagang ternak itu, sang ayah, Sudarmono — mantan pembalap Supersport 600 nasional — mengajarinya membuka gas dan menikung, menurut JawaPos dan ANTARA. Pada 22 Maret 2026, anak yang sama melintasi garis finis ketiga di Goiânia, Brasil, dan menjadi orang Indonesia pertama yang naik podium Grand Prix balap motor dunia.
Tujuh bulan kemudian, Veda tak lagi sekadar cerita “pertama”. Setelah 17 seri, pembalap Honda Team Asia berusia 17 tahun itu duduk di peringkat ketujuh klasemen Moto3 dengan 115 poin, dan baru saja mencatat hasil terbaik pembalap Indonesia di Moto3 kandang: finis keenam di Mandalika (Crash.net, Metro TV News). Akhir pekan ini ia menghadapi sirkuit yang belum pernah ia jajal di level Grand Prix, Phillip Island, Australia — awal dari lima seri terakhir yang akan menentukan seberapa tinggi musim debutnya berakhir.
Ringkasnya: Veda Ega Pratama (lahir 23 November 2008, Wonosari) adalah pembalap Moto3 Honda Team Asia bernomor 9 dan orang Indonesia pertama yang naik podium Grand Prix, lewat finis ketiga di Brasil 2026. Ia juara Asia Talent Cup 2023 dan runner-up Red Bull Rookies Cup 2025. Kini ia peringkat 7 klasemen Moto3 dengan 115 poin menjelang GP Australia, 25 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB.
Profil resmi di MotoGP.com mencatat Veda lahir pada 23 November 2008 di Wonosari, ibu kota Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia mulai mengendarai motor mini pada usia lima tahun dan sudah berlomba secara kompetitif pada usia enam. Pada 2019, saat baru berusia 10 tahun, ia menjuarai kejuaraan nasional balap motor bebek (underbone) kelas klub.
Menurut detikOto, jalurnya kemudian mengikuti tangga pembinaan Honda: Astra Honda Racing School, Honda Dream Cup, lalu Asia Talent Cup. Ayahnya, yang belakangan menjadi pengusaha, menjadi penyokong pertama. Idolanya Casey Stoner, juara dunia MotoGP asal Australia — detail yang terasa pas menjelang balapan di kampung halaman Stoner pekan ini.
Ketika pulang sebentar ke Gunungkidul pada Juni 2026, Veda kembali mengunjungi pasar sapi itu. Kepada ANTARA ia mengaku telah tiga kali melewatkan Lebaran bersama keluarga karena membalap di luar negeri. “Senang bisa kembali, bisa merasakan masakan Indonesia lagi,” katanya, seperti dikutip ANTARA dan JawaPos. Kunjungan itu hanya sekitar sepekan; ia juga harus mengurus visa sebelum kembali ke Eropa.

Debut internasional Veda datang pada 2021, sebagai pembalap wildcard Asia Talent Cup di Mandalika, saat ia berusia 12 tahun. Setahun kemudian, di musim penuh pertamanya, ia finis ketiga di klasemen. Pada 2023 ia mendominasi: sembilan kemenangan dari 12 balapan dan gelar juara — orang Indonesia pertama yang menjuarai seri tersebut, menurut MotoGP.com. “Prestasi terbesar saya sejauh ini adalah gelar Asia Talent Cup karena saya orang Indonesia pertama yang juara di kompetisi itu,” katanya dalam profil tersebut, sebelum podium Brasil mengubah jawabannya.
Langkah berikutnya adalah Red Bull MotoGP Rookies Cup, ajang seleksi yang melahirkan banyak juara dunia. Musim pertamanya, 2024, berakhir di peringkat delapan. Musim keduanya jauh lebih tajam. Pada 21 Juni 2025 di Mugello, Italia, Veda menang dengan selisih 0,071 detik dari David Gonzalez; sehari kemudian ia memanfaatkan slipstream untuk melewati pembalap Malaysia Hakim Danish dan menang lagi dengan selisih 0,011 detik, lapor detikOto. Itu kemenangan pertama pembalap Indonesia di Rookies Cup.
Ia menambah kemenangan di Sachsenring dan menutup musim sebagai runner-up dengan 181 poin, enam podium, dan tujuh finis empat besar (MotoGP.com). Pada akhir 2025 ia menjadi orang Indonesia pertama yang hadir dan menerima penghargaan di FIM MotoGP Awards di Valencia. Pada awal 2026, Red Bull menjadikannya atlet resmi — satu-satunya pembalap Grand Prix Asia dengan kontrak penuh Red Bull musim ini, menurut profil yang sama.
Debut Moto3 Veda di Buriram, Thailand, pada 1 Maret sudah memberi sinyal: start kelima, finis kelima, 11 poin. Tiga pekan kemudian di Goiânia ia start dari posisi keempat. Balapan sempat dihentikan dengan bendera merah setelah kecelakaan, dan sebelum itu ia sempat terlempar ke sekitar posisi 10. Dalam balapan ulang yang pendek, ia naik dari posisi ketujuh ke ketiga di lap-lap terakhir, menurut MotoGP.com.
Hasil resmi yang dicatat Crash.net: Maximo Quiles (CFMOTO Gaviota Aspar) menang, Marco Morelli tertinggal 0,143 detik, dan Veda finis ketiga, 1,650 detik di belakang pemenang — hanya 0,091 detik di depan Alvaro Carpe dari Red Bull KTM Ajo. Dengan 27 poin, ia sempat menempati peringkat tiga klasemen, satu poin di belakang Morelli (RRI).
“Akhirnya saya finis di tiga besar pada akhir pekan Grand Prix kedua saya,” kata Veda, dikutip MotoGP.com. “Saya sangat bangga dengan hasil di Brasil, pencapaian terbesar saya sejauh ini.” Sebelum dia, pembalap Indonesia di Grand Prix — termasuk Doni Tata Pradita dan Mario Suryo Aji — belum pernah menyentuh podium; hasil terbaik Aji di Moto3 adalah posisi ke-12.

Musim pertama di Moto3 jarang berjalan lurus, dan musim Veda pun begitu. Setelah Brasil, ia gagal finis di Amerika Serikat, lalu mengumpulkan poin rutin di Eropa: keenam di Jerez, keempat di Le Mans, ketujuh di Catalunya, kedelapan di Mugello. Paruh kedua musim lebih berat — posisi ke-16 di Hungaria, ke-20 di Aragon, ke-18 di San Marino — sebelum ia kembali ke 10 besar di kandang.
Sumber data: MotoGP.com, RRI/ANTARA, Harian Jogja, Metro TV News. Lebar batang proporsional terhadap 115 poin.
Di Mandalika pada 11 Oktober, Veda start ketujuh dan sudah berada di posisi kedua pada lap kedua, lapor iNews. Ia sempat turun ke posisi ketujuh, lalu melebar di lap ke-18 dan jatuh ke posisi delapan sebelum bangkit lagi. Ia finis keenam, 12,017 detik di belakang Quiles, yang sekaligus mengunci gelar juara dunia (Crash.net). Hasil itu melampaui catatan Mario Aji, posisi ke-14 di Mandalika 2022. Bacaan lebih lengkap soal akhir pekan itu ada di ulasan dua pembalap Indonesia di GP Mandalika dan hasil MotoGP Mandalika 2026.
“Balapan di sini di depan para penggemar Indonesia merupakan pengalaman luar biasa,” kata Veda kepada iNews. “Ini salah satu balapan paling spesial dalam karier saya.” Sepuluh poin dari Mandalika mendorongnya naik dari peringkat delapan ke tujuh, unggul enam poin dari Matteo Bertelle dan tertinggal delapan poin dari Valentin Perrone di posisi enam (Metro TV News).

Pola yang berulang dalam balapan Veda adalah kemampuan bangkit. Di Brasil ia naik dari posisi ketujuh ke ketiga di lap terakhir; di Jerez, menurut laporan RRI yang mengutip ANTARA, ia finis keenam setelah start dari posisi ke-17; di Mandalika ia pulih dari kesalahan melebar. Di Jerez pula ia mencatat kecepatan tertinggi Moto3 222,2 km/jam, menurut RRI. Sirkuit favoritnya, katanya kepada MotoGP.com, adalah Motegi — yang ia sebut “menantang dan teknis”.
Sebanyak 115 poin dari 17 seri berarti rata-rata sekitar 6,8 poin per balapan — setara finis di kisaran posisi ke-9 atau ke-10 tiap akhir pekan. Ia sudah enam kali finis di enam besar (Thailand, Brasil, Jerez, Le Mans, Republik Ceko, Mandalika) dan sekali mencatat lap tercepat, di Republik Ceko. Masih ada lima seri dan maksimal 125 poin; selisihnya dengan Perrone hanya delapan poin (Metro TV News, Harian Jogja).
Carlo Merlini, direktur pemasaran Gresini Racing, menyebut Veda “talenta Asia terkuat saat ini”, dan Alex Márquez juga memuji bakatnya secara terbuka, menurut MotoGP.com. Veda sendiri tidak menyembunyikan target besarnya: “Saya ingin menjadi pebalap MotoGP Indonesia pertama dan menjadi juara dunia,” katanya kepada detikOto.
Jangka pendek: memperbaiki posisi klasemen di lima seri terakhir — Australia, Malaysia, Qatar, Portugal, dan Valencia. Jangka menengah: membuktikan bahwa podium Brasil bukan kebetulan, karena musim kedua biasanya menjadi ukuran sebenarnya bagi pembalap Moto3. Di luar lintasan, ia mengaku gemar memancing dan bersepeda, dan olahraga adalah pelajaran sekolah favoritnya (MotoGP.com).
Perbandingan paling sering muncul adalah Pedro Acosta, yang juga berusia 17 tahun pada musim debut Moto3-nya. Acosta datang sebagai juara Rookies Cup 2020 dan langsung menjuarai Moto3 2021 dengan enam kemenangan dan delapan podium dari 17 balapan, menurut KTM. Standar itu nyaris mustahil; tetapi dibandingkan pendahulunya dari Indonesia, lompatan Veda sangat jelas.
| Pembalap | Musim debut Moto3 | Rookies Cup sebelumnya | Menang | Podium | Hasil terbaik |
|---|---|---|---|---|---|
| Veda Ega Pratama (17) | 2026 (17 seri) | Runner-up 2025 | 0 | 1 | P3, Brasil |
| Pedro Acosta (17) | 2021 (17 seri) | Juara 2020 | 6 | 8 | Juara dunia |
| Mario Suryo Aji | — | — | 0 | 0 | P12 |
Sumber: MotoGP.com, KTM, Crash.net. Data Veda per 11 Oktober 2026.
Yang membedakan Veda dari generasi sebelumnya adalah jalurnya. Ia melewati tiga tangga pembinaan — Asia Talent Cup, Asia Road Racing Championship, dan Rookies Cup — lalu masuk Moto3 bersama Honda Team Asia, berdampingan dengan rekan setim asal Jepang Zen Mitani. Ia tiba di Grand Prix dengan bekal juara dan runner-up di dua seri pembinaan, bukan sebagai wildcard yang coba-coba.
Phillip Island adalah lintasan baru bagi Veda di level Grand Prix. Sirkuit di pesisir selatan Victoria itu punya 12 tikungan, lintasan lurus utama sekitar 900 meter, dan turunan curam dari Lukey Heights menuju Tikungan 10 yang sempit, tulis CNN Indonesia. Angin laut kerap menjadi faktor. CNN Indonesia menilai karakter tikungan cepat dan lintasan lurus panjang bisa menguntungkan Veda; pada Juni, ia sendiri menyebut paket aerodinamika membuat Honda-nya kencang di trek lurus.
Usai Mandalika, Veda mengaku antusias. “Lintasannya terlihat sangat cepat dengan tikungan-tikungan yang mengalir,” katanya kepada iNews. “Saya antusias untuk menjajalnya dan melihat apa yang bisa kami lakukan di sana.” Untuk konteks akhir pekan kelas utama, baca juga pratinjau MotoGP Phillip Island 2026.
Berikut jadwal Moto3 GP Australia 2026 dalam Waktu Indonesia Barat, menurut Harian Jogja:
Target realistis bagi Veda adalah memangkas jarak delapan poin dengan Perrone. Namun yang lebih penting dari angka klasemen adalah pertanyaan yang akan mengikutinya sampai Valencia: apakah anak dari parkiran pasar sapi Gunungkidul itu bisa kembali ke podium sebelum musim debutnya selesai.
Veda Ega Pratama adalah pembalap Moto3 asal Wonosari, Gunungkidul, kelahiran 23 November 2008. Ia membalap untuk Honda Team Asia dengan nomor 9 dan merupakan juara Asia Talent Cup 2023 serta runner-up Red Bull Rookies Cup 2025.
Finis ketiga di GP Brasil pada 22 Maret 2026, podium Grand Prix pertama bagi pembalap Indonesia. Ia juga finis keenam di Mandalika 2026, hasil terbaik pembalap Indonesia di Moto3 kandang.
Balapan Moto3 GP Australia di Phillip Island berlangsung Minggu, 25 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB. Kualifikasi digelar Sabtu, 24 Oktober mulai 08.45 WIB.
Kartu siap posting dibuat otomatis dari artikel ini.
Di HP, tombol Share to Instagram membuka menu share dan Anda tinggal pilih Instagram Stories atau Feed. Di desktop, gambar disimpan dulu lalu diunggah dari Instagram.
20FIT Media
Any amount helps. You choose.
You’ll finish paying right here — this page stays open.
QRIS, bank transfer, e-wallet or card.
Trouble with an e-wallet? Open the payment page in a new tab.
Finished? — thank you for supporting 20FIT.
Opening secure checkout…