Darren Cahill membawa Jannik Sinner ke lima gelar Grand Slam, tetapi komitmennya hanya sampai akhir 2026. Cedera lutut Sinner membuat keputusan itu kian dekat.

Pada musim panas 2025, menjelang final Wimbledon, Darren Cahill membuat taruhan kecil dengan muridnya. Kalau Jannik Sinner juara, kata Cahill, Sinner boleh memutuskan apakah sang pelatih asal Australia itu pensiun di akhir tahun atau tetap bertahan. Sinner menang, dan Cahill—yang sudah mengumumkan bahwa 2025 akan menjadi musim terakhirnya di tur—menunda rencana pensiunnya.
Setahun kemudian, taruhan itu tak diulang. “Tidak ada taruhan tahun ini,” kata Cahill seusai Sinner mempertahankan gelar Wimbledon pada Juli 2026, seperti dikutip Last Word on Sports. Ia berada di tim “sampai akhir 2026, lalu kita lihat.” Kini, dengan musim Sinner berakhir lebih cepat akibat cedera lutut dan tenggat itu tinggal dua bulan lagi, pertanyaan tentang masa depan pelatih berusia 61 tahun itu menjadi salah satu cerita paling sunyi—tetapi paling menentukan—di tenis putra.
Ringkasnya: Darren Cahill, pelatih Jannik Sinner sejak Juli 2022, berkomitmen mendampingi petenis nomor satu dunia itu hanya sampai akhir 2026. Sinner mengakhiri musim 2026 lebih awal karena cedera lutut kanan, dan menurut Brad Gilbert, Cahill sempat dibiarkan menunggu kabar sejak mundurnya Sinner dari Cincinnati. Keputusan soal kelanjutan kerja sama mereka akan dibahas di akhir tahun.
Lahir di Adelaide pada 2 Oktober 1965, Cahill adalah pemain yang kariernya digerogoti lutut. Menurut catatan Wikipedia, ia mencapai semifinal US Open 1988, naik ke peringkat 22 dunia di nomor tunggal dan 10 dunia di ganda, lalu pensiun pada 1995 setelah cedera lutut kronis dan sepuluh kali operasi. Ironi itu sulit diabaikan: pelatih yang kariernya diakhiri lutut kini menunggu kabar tentang lutut muridnya.
Sebagai pelatih, rekam jejaknya nyaris tanpa tanding. Ia membawa Lleyton Hewitt ke peringkat satu dunia di usia belia, mendampingi Andre Agassi hingga pensiun pada 2006—termasuk saat Agassi menjadi petenis nomor satu tertua pada Mei 2003—dan menuntun Simona Halep ke puncak WTA serta gelar Roland Garros 2018. Di sela itu ia bekerja untuk program pengembangan pemain Adidas, menjadi kapten Davis Cup Australia, dan sejak 2007 dikenal publik Amerika sebagai analis ESPN.

Cahill bergabung dengan tim Sinner pada Juli 2022, bekerja berdampingan dengan Simone Vagnozzi yang menangani latihan harian dan detail teknis. Pembagian peran itu menjadi ciri khas tim Sinner: Vagnozzi di lapangan setiap hari, Cahill sebagai suara pengalaman. Duet itu dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik ATP 2023.
Sebelum Cahill datang, Sinner belum pernah memenangi Grand Slam. Sejak itu ia mengoleksi Australian Open 2024 dan 2025, US Open 2024, serta Wimbledon 2025 dan 2026. Menurut ATP Tour, Sinner juga menyapu lima gelar Masters 1000 berturut-turut pada 2026—Indian Wells, Miami, Monte-Carlo, Madrid, dan Roma—untuk melengkapi Career Golden Masters, dan mencatat 30 kemenangan beruntun sebelum dihentikan Juan Manuel Cerúndolo di babak kedua Roland Garros.
Salah satu sentuhan Cahill yang paling sering dikutip adalah servis. “Servisnya harus membaik. Tinggimu 193 sentimeter dan kau anak yang kuat,” kata Cahill kepada Sinner pada awal kerja sama mereka, seperti dirangkum Last Word on Sports. Di luar lapangan, ia menjadi pembela paling vokal Sinner ketika kasus doping menyeret nama muridnya pada 2025. “Ia mungkin pemuda paling profesional yang pernah saya ajak bekerja sama,” ujarnya ketika itu.
Rencana pensiun Cahill bukan rahasia. Pada Juli 2025, Tennis365, mengutip Corriere della Sera, melaporkan bahwa Cahill menunda pensiun dan akan tetap di tim untuk 2026 dengan porsi perjalanan yang dikurangi. Ia tetap dijadwalkan hadir di kotak pemain pada turnamen-turnamen besar.
Sinner sendiri terbuka soal keinginannya mempertahankan Cahill. “Kalau saya memilih dia tetap tinggal, mungkin ia tidak akan terlalu sering bepergian lagi,” kata Sinner saat itu, menambahkan bahwa ia “selalu mencari orang yang jujur.” Dalam kesempatan lain, Sinner menyebut dirinya “sangat beruntung dan senang menjadi pemain terakhirnya di tur.”
Musim 2026 yang semula tampak seperti tahun dominasi berubah setelah Wimbledon. Pada 6 Oktober, Sinner mengumumkan bahwa ia mengakhiri musim. “Saya, bersama para dokter, memutuskan bahwa saya membutuhkan rangkaian perawatan untuk lutut saya,” tulisnya, seperti dilaporkan ATP Tour dan Olympics.com. Ia tidak bertanding sejak final Wimbledon, absen dari rangkaian lapangan keras Amerika Utara—termasuk US Open—dan tur Asia. ESPN menyebut penyebabnya peradangan lutut.
Di tengah absennya Sinner, muncul cerita tentang posisi Cahill. Brad Gilbert, mantan pelatih Agassi dan Coco Gauff, mengatakan di podcast Big T bahwa Cahill sedang dalam perjalanan ke bandara Los Angeles untuk terbang ke Cincinnati ketika menerima telepon mendadak: Sinner batal bertanding. Sejak itu, menurut Gilbert, Cahill terus menunggu kabar terbaru, situasi yang ia gambarkan “sangat membuat frustrasi.” Cerita itu dilaporkan Punto de Break pada 15 Oktober.

Gilbert juga menyinggung jalur perawatan. Menurutnya, Sinner mengikuti saran dokter untuk menghindari operasi: beristirahat beberapa hari, kembali berlatih, lalu nyeri datang lagi. Bila rasa sakit masih ada pada Desember, saat Sinner harus menaikkan intensitas latihan menuju Australian Open, “skenario itu membuat operasi harus menjadi pilihan,” kata Gilbert. Perlu dicatat, ini adalah keterangan tangan kedua; baik Sinner, Cahill, maupun tim mereka belum mengomentari klaim tersebut secara terbuka.
Sinner tidak akan tampil di Nitto ATP Finals 2026 di Turin, turnamen yang ia menangi dua kali beruntun tanpa kehilangan satu set pun pada 2024 dan 2025. Absennya juga membuka jalan bagi Alexander Zverev, juara Roland Garros dan US Open tahun ini, dalam perburuan peringkat akhir tahun—konteks yang sudah kami bahas di Turin Tanpa Sinner: Lima Kursi ATP Finals 2026 Masih Terbuka dan Vienna 2026 Tanpa Sinner.
Bagi Cahill, waktu jeda ini justru bisa mempercepat keputusan. Ia punya pekerjaan siaran di ESPN yang menunggu, dan murid yang sedang menjalani rehabilitasi paling serius dalam kariernya. Last Word on Sports mencatat Cahill pernah berkata di akhir 2025 bahwa ia sudah selesai, lalu berubah pikiran. Pola itu membuat setiap prediksi terasa prematur.
Yang pasti, Sinner kini menghadapi pramusim tanpa kepastian ganda: tentang lututnya dan tentang siapa yang duduk di kotak pemainnya di Melbourne. Cahill sudah menyerahkan jawabannya pada percakapan akhir tahun. “Di akhir tahun kami akan duduk dan membicarakan apa yang terbaik untuk Jannik,” katanya di Wimbledon. Untuk pelatih yang terbiasa membaca permainan dari tribun, kali ini ia harus menunggu permainannya sendiri ditentukan.
Cahill bergabung dengan tim Sinner pada Juli 2022, bekerja bersama Simone Vagnozzi. Sejak itu Sinner meraih lima gelar Grand Slam.
Belum pasti. Cahill mengatakan ia berada di tim hingga akhir 2026 dan keputusan berikutnya akan dibahas di akhir tahun.
Sinner mengumumkan pada 6 Oktober 2026 bahwa ia membutuhkan rangkaian perawatan untuk lutut kanannya. Ia tidak bertanding sejak menjuarai Wimbledon pada Juli.
Kartu siap posting dibuat otomatis dari artikel ini.
Di HP, tombol Share to Instagram membuka menu share dan Anda tinggal pilih Instagram Stories atau Feed. Di desktop, gambar disimpan dulu lalu diunggah dari Instagram.
20FIT Media
Choose what this story was worth to you.
You’ll finish paying right here — this page stays open.
QRIS, bank transfer, e-wallet or card.
Trouble with an e-wallet? Open the payment page in a new tab.
Finished? — thank you for supporting 20FIT.
Opening secure checkout…