Jepang memenangi lima dari 15 major terakhir dan enam gelar LPGA musim ini. Bagaimana reformasi JLPGA dan generasi 'anak-anak Ai-chan' menyalip dominasi Korea?

Hujan turun sepanjang ronde terakhir di Pine Beach Golf Links, Haenam, ujung barat daya Korea Selatan, Minggu, 25 Oktober 2026. Di hole 17, sebuah par-5, Yuri Yoshida berdiri di bunker kiri, 48 yard dari bendera yang terpasang di green yang ditinggikan. Ia memukul wedge, bola mendarat dan berhenti sekitar empat kaki dari lubang. “Pukulan seperti itu mungkin tak akan bisa saya ulangi seumur hidup,” katanya kemudian kepada Daily Sports. Beberapa menit setelahnya, desah kecewa penonton tuan rumah, saat dua pemain Korea di grup terakhir gagal memasukkan putt, memberi tahu Yoshida yang sudah selesai bermain bahwa ia juara.
Gelar perdana Yoshida di LPGA Tour, di tanah Korea, mengalahkan dua pemain Korea, Haeran Ryu dan Hye-Jin Choi, terasa seperti simbol pergeseran besar di golf putri dunia. Sepekan kemudian, Miyu Yamashita mempertahankan gelar Maybank Championship di Kuala Lumpur dan membawa Jepang ke kemenangan keenam musim ini. Menurut hitungan Associated Press, pemain Jepang telah memenangi lima dari 15 major terakhir, dua lebih banyak daripada Korea Selatan, negara yang selama satu dekade identik dengan dominasi di tur putri. Pertanyaannya bukan lagi apakah Jepang sedang naik, melainkan bagaimana sebuah negara yang lama hidup di bayang-bayang tetangganya bisa membangun mesin pencetak juara, dan apakah mesin itu akan bertahan.
Ringkasnya: Kebangkitan golf putri Jepang di LPGA lahir dari tiga hal yang bertemu pada waktu yang sama: reformasi tur domestik JLPGA sejak 2013 yang meniru format dan tingkat kesulitan LPGA, satu generasi pemain yang tumbuh dengan idola Ai Miyazato, dan jaringan pemain Jepang di Amerika yang saling menopang. Korea Selatan belum runtuh, mereka masih punya lebih banyak pemain di 50 besar dunia, tetapi untuk pertama kalinya dalam tiga dekade, Korea punya pesaing Asia yang setara.
Untuk memahami seberapa jauh pergeseran ini, kita perlu melihat angka yang pernah dimiliki Korea. Menurut catatan kantor berita Newsis, pemain Korea memenangi 15 turnamen LPGA pada 2015, 15 lagi pada 2017, dan 15 pada 2019. Korea menjadi negara dengan kemenangan terbanyak di LPGA selama enam musim berturut-turut hingga 2020. Pada masa itu, pemain Jepang hanya sesekali muncul di podium.
Lalu datang 2025. Ketika Nasa Hataoka menjuarai Toto Japan Classic pada 9 November 2025, Jepang mengumpulkan tujuh kemenangan LPGA dalam satu musim, rekor terbanyak sepanjang sejarah negara itu, dan melampaui Korea yang berhenti di enam. Harian olahraga Korea Sports Kyunghyang mencatat bahwa terakhir kali Korea kalah jumlah kemenangan dari Jepang di LPGA adalah pada 1996, 29 tahun sebelumnya. Dua dari tujuh kemenangan itu berupa major: Mao Saigo di Chevron Championship dan Miyu Yamashita di AIG Women’s Open.
Pola itu bukan kebetulan satu musim. Pada 2024, Yuka Saso menjuarai U.S. Women’s Open dan Ayaka Furue memenangi Evian Championship. Pada Agustus 2026, Shiho Kuwaki menjuarai AIG Women’s Open edisi ke-50 di Royal Lytham & St Annes setelah mengalahkan Esther Henseleit dari Jerman di hole kedua playoff, sebagaimana dilaporkan LPGA. Dari 15 major dalam tiga musim terakhir, Jepang mengambil lima: Saso, Furue, Saigo, Yamashita, dan Kuwaki.

Musim 2026 sempat tampak seperti koreksi. Pada pertengahan Juli, setelah 18 turnamen, Jepang baru punya satu kemenangan, milik Yamashita di Meijer LPGA Classic, sementara Korea sudah lima. Sports Kyunghyang, dalam artikel 19 Juli 2026, bahkan menyebut Korea memegang “keunggulan telak” dalam persaingan Korea-Jepang musim ini. Kim Hyo-joo menang dua pekan beruntun di Founders Cup dan Ford Championship, sementara Haeran Ryu menyapu KPMG Women’s PGA Championship dan Evian Championship.
Paruh kedua musim membalik narasi itu. Kuwaki menang di Lytham pada 2 Agustus, Yamashita menambah gelar di CPKC Women’s Open, Yuna Nishimura menjuarai Arkansas Championship pada 27 September dengan memimpin sejak hari pertama, Yoshida menang di Haenam, dan Yamashita menutup Oktober dengan mempertahankan gelar Maybank Championship pada 1 November, 22 di bawah par, dua pukulan di depan Yan Liu dari China, menurut Malay Mail. Dari satu kemenangan di pertengahan Juli, Jepang kini punya enam.
Berikut perbandingan kemenangan LPGA Jepang dan Korea dalam beberapa musim kunci, dihimpun dari Newsis, Sports Kyunghyang, Nippon.com, dan laporan AP:
| Musim | Kemenangan LPGA Jepang | Kemenangan LPGA Korea | Catatan |
|---|---|---|---|
| 2015 | — | 15 | Puncak era Korea |
| 2017 | — | 15 | Korea juara jumlah kemenangan |
| 2019 | 3 | 15 | Hinako Shibuno juara AIG Women’s Open |
| 2024 | 3 | — | Saso (U.S. Women’s Open) dan Furue (Evian) |
| 2025 | 7 | 6 | Rekor Jepang; pertama kali di atas Korea sejak 1996 |
| 2026 (hingga 1 Nov) | 6 | 6 (hingga akhir Juli) | Yamashita 3 gelar, Kuwaki juara major |
Namun angka kemenangan hanya separuh cerita. AP mencatat bahwa Korea Selatan masih memiliki 14 pemain di 50 besar peringkat dunia, sementara Jepang menyusul dengan 10. Yang lebih mencolok dari sisi Jepang adalah keragaman juaranya: sembilan pemain Jepang berbeda memenangi turnamen resmi LPGA dalam dua tahun terakhir. Ini bukan cerita satu bintang seperti Ai Miyazato dua dekade lalu, melainkan cerita sebuah sistem.
Kalau ada satu nama yang paling sering disebut sebagai arsitek kebangkitan ini, nama itu adalah Hiromi Kobayashi. Ia debut di tur Jepang pada 1985, meraih 11 gelar di sana, lalu menyeberang ke Amerika, menjadi Rookie of the Year LPGA pada 1990 dan memenangi empat turnamen LPGA hingga 2003. Pada 2011, ia terpilih menjadi ketua Asosiasi Pegolf Profesional Wanita Jepang (JLPGA).
Menurut Sports Kyunghyang, begitu menjabat, Kobayashi mengatakan kepada stafnya bahwa pemain Jepang akan segera menjuarai major. Untuk itu, tur domestik harus diubah agar menyerupai LPGA. Sebagian besar turnamen yang sebelumnya tiga ronde diperpanjang menjadi empat ronde; kini lebih dari 20 turnamen JLPGA dimainkan empat hari. Penataan lapangan diserahkan kepada mantan pemain senior, termasuk memasang par-4 pendek yang bisa dijangkau dari tee, meniru setelan major LPGA. Tur kasta kedua juga diperkuat, dengan turnamen dua hari diperpanjang menjadi tiga hari.
Kobayashi sendiri menjelaskan logikanya dalam konferensi pers di Ibaraki Golf Club pada 7 Mei 2025, sebagaimana dikutip Tokyo Sports. “Ada banyak faktor, tetapi yang pertama, target para pemain itu sendiri memang tinggi,” katanya. Asosiasi, menurutnya, telah menjalankan “lebih dari selusin langkah penguatan tur sejak 2013.” Turnamen empat hari melatih daya tahan bertanding, sekaligus membiasakan pemain dengan ritme tee time pagi dan siang yang berganti. “Kalau sudah terbiasa dengan rutinitas itu, mereka bisa langsung nyaman di tur Amerika,” ujarnya.
Langkah lain lebih teknis, tetapi sama pentingnya. Sejak 2018, JLPGA memberlakukan sistem re-ranking yang mengocok ulang daftar prioritas pemain dua kali setahun. “Kamu tak bisa bertahan tanpa kekuatan yang konsisten sepanjang tahun,” kata Kobayashi. Asosiasi juga menetapkan rentang skor juara untuk tiap turnamen dalam tiga tingkatan, dari di bawah 5 di bawah par hingga di atas 20 di bawah par, agar pemain terbiasa dengan setelan lapangan yang berbeda-beda, dan membuat standar fasilitas latihan di lapangan penyelenggara. Ini bukan hal glamor, tetapi hasilnya adalah tur domestik yang, menurut Nippon.com, lebih sulit dan lebih mirip medan yang akan dihadapi pemain di Amerika.
Kobayashi juga membawa sesuatu yang tak tertulis di regulasi: pengalaman pahit sebagai pemain Jepang di Amerika. Wartawan golf Sonoko Funakoshi, dalam Number Web, mengisahkan bagaimana Kobayashi pada awal 1990-an memulangkan penerjemah sekaligus pendampingnya ke Jepang dan memilih mengurus semuanya sendiri. Filosofinya ia rumuskan dengan lugas: “Golf tak perlu indah. Merangkak atau berguling di tanah pun boleh, tujuannya adalah menyelesaikan dengan skor lebih baik daripada siapa pun.”

Reformasi struktural butuh bahan baku, dan bahan baku itu disiapkan satu dekade sebelumnya oleh seorang remaja dari Okinawa. Pada 2003, Ai Miyazato, masih siswi SMA dan berstatus amatir, memenangi turnamen JLPGA. Ia kemudian meraih sembilan gelar LPGA, terbanyak kedua untuk pemain Jepang setelah Ayako Okamoto dengan 17, dan menjadi peringkat 1 dunia pada 2010. Tatsuo Takeuchi, penulis di Nippon.com, menyebut kemenangan amatir Miyazato itu sebagai pemicu ledakan golf putri di Jepang.
Pers Korea punya istilah untuk generasi yang lahir dari ledakan itu: “Aichan kids”, anak-anak Ai-chan, panggilan akrab Miyazato. Menurut Sports Kyunghyang, ketika Kobayashi mulai menjabat, wajah Miyazato ada di mana-mana dalam iklan televisi. Anak-anak yang menontonnya kemudian membentuk tiga angkatan yang kini disebut media Jepang dengan julukan logam mulia: “Generasi Emas” kelahiran 1998–1999, “Generasi Platinum” kelahiran awal 2000-an, dan “Generasi Berlian” kelahiran 2003–2004. Merekalah yang kini berada di puncak karier.
Efek panutan ini berlapis. Hinako Shibuno, anggota Generasi Emas, menjuarai AIG Women’s Open 2019, major pertama pemain Jepang sejak Hisako Higuchi pada 1977, jeda 42 tahun. Takeuchi mencatat dua tonggak lain yang memperkuat keyakinan generasi berikutnya: Saso memenangi U.S. Women’s Open 2021, saat itu masih membela Filipina sebelum memilih kewarganegaraan Jepang, dan Saki Baba menjuarai U.S. Women’s Amateur 2022. Setiap kemenangan menurunkan “tembok psikologis” bagi pemain yang datang sesudahnya.
Ada pula faktor yang lebih teknis di level amatir. Banyak bintang Jepang saat ini pernah menjadi anggota tim nasional Asosiasi Golf Jepang (JGA) di bawah pelatih kepala Gareth Jones, menurut Nippon.com. Komentator Korea Kim Ha-neul, yang punya delapan gelar di Korea dan enam di Jepang, melihat hasilnya langsung. “Para pemainnya memukul jauh dan lurus. Ayunan mereka juga makin bagus,” katanya kepada The Asia Business Daily. “Rasanya seperti melihat Korea di masa puncaknya.”
Faktor berikutnya adalah jumlah. Pada 2025, ada 13 pemain Jepang yang berlaga penuh di LPGA Tour, terbanyak sepanjang sejarah, menurut Tokyo Sports dan Nippon.com. Kelas rookie 2025 itu luar biasa: Rio Takeda, Miyu Yamashita, serta si kembar Akie dan Chisato Iwai semuanya menang di musim debut. Yamashita bahkan menjadi Rookie of the Year sekaligus juara major. Tahun ini, Erika Hara, yang mendominasi tur pengembangan Epson Tour pada 2025, memimpin klasemen Rookie of the Year, menurut The Asia Business Daily.
Jumlah yang besar menciptakan sesuatu yang dulu tak dimiliki Miyazato: komunitas. Takeuchi menulis bahwa pemain Jepang kini bisa berbagi informasi dalam bahasa sendiri, tentang lapangan, perjalanan, hingga urusan sehari-hari di negeri asing, dan setiap kemenangan membuat yang lain percaya bahwa mereka juga bisa. Pers Korea menyebut Nasa Hataoka, yang sudah bermain di LPGA sejak usia remaja, sebagai penopang bagi para pendatang baru. Dalam adegan penutup di Haenam, Daily Sports melaporkan rekan-rekan senegara menyiram Yoshida dengan sampanye, sebuah ritual yang hanya mungkin bila ada cukup banyak rekan di lokasi.
Keluarga juga menjadi bagian ekosistem itu. Saat Yamashita menjuarai AIG Women’s Open 2025, kedua orang tuanya terbang ke Inggris untuk mendampinginya. “Keluarga saya, orang-orang terdekat saya, adalah penopang terbesar saya,” katanya setelah kemenangan itu, sebagaimana dikutip Nippon.com.
Yoshida memberi gambaran lain tentang apa yang diberikan Amerika. Ia baru menang di start ke-74 dalam musim ketiganya. “Saya menyadari masih ada ruang untuk berbuat lebih, karena saya punya lebih banyak waktu untuk fokus pada golf,” katanya kepada Daily Sports tentang tahun-tahun pertamanya di Amerika. Hadiah kemenangannya di Haenam: US$352.500.

Bukti paling gamblang dari kekuatan sistem Jepang justru ada di kandang sendiri. Satu dekade lalu, JLPGA adalah ladang emas bagi pemain Korea. Pada 2016, tujuh pemain Korea mengumpulkan 17 gelar di tur Jepang, sampai-sampai tur itu dijuluki “KLPGA Tour”, menurut The Asia Business Daily. Nama-nama seperti Lee Bo-mee, Jeon Mi-jeong, dan Shin Ji-ae menjadi langganan juara.
Kini situasinya terbalik. Hingga 2 Oktober 2026, pemain Jepang memenangi 25 dari 28 turnamen JLPGA musim ini; pemain Korea hanya dua, lewat Lee Min-young di Nichirei Ladies dan Park Hyun-kyung, pemain undangan dari KLPGA, di Earth Mondahmin Cup. Pada 2025, pemain Jepang menang di 34 dari 37 turnamen, dan Shin Ji-ae menjadi satu-satunya juara asal Korea. Kedalaman itu yang membuat Kuwaki, yang menurut AP memenangi empat turnamen JLPGA tahun ini, bisa datang sebagai pemain undangan ke Lytham dan pulang membawa major.
Shin Ji-ae, yang mengoleksi 29 gelar JLPGA dan tinggal satu kemenangan lagi untuk menjadi pemain Korea pertama dengan kartu tur permanen di Jepang, menaruh hormat pada mentalitas lawan-lawan mudanya. “Pemain Jepang punya semangat tantangan yang kuat,” katanya kepada The Asia Business Daily. “Saya ingin memberi tepuk tangan kepada mereka yang meninggalkan lingkungan nyaman di Jepang.”
Kalimat “lingkungan nyaman” itu penting. Tur Jepang menawarkan 37 turnamen setahun, hampir semuanya di rumah. Pemain bisa hidup mapan tanpa pernah naik pesawat lintas Pasifik. Yang berubah adalah budaya: pergi ke Amerika kini dianggap langkah alami bagi pemain terbaik, bukan pertaruhan nekat.
Membaca kebangkitan Jepang sebagai keruntuhan Korea adalah kesimpulan yang terlalu cepat. Korea masih menempatkan 14 pemain di 50 besar dunia. Haeran Ryu memenangi dua major pada 2026. Kim Hyo-joo dua pekan beruntun menang di musim semi, dan dua kali pula menyingkirkan Nelly Korda ke posisi kedua. Hingga akhir Juli, Korea sudah mengumpulkan enam kemenangan, sama dengan Amerika Serikat, menurut Newsis.
Namun ada pergeseran struktural yang sulit diabaikan. Takeuchi di Nippon.com menulis bahwa jumlah kemenangan Korea pada 2025 hanya separuh dari puncaknya pada 2017, dan banyak pemain Korea kini memilih bertahan di tur domestik KLPGA yang hadiahnya besar dan sorotan medianya hangat. Di sinilah dua negara bergerak ke arah berlawanan: Korea membangun tur domestik yang begitu nyaman sehingga pemainnya enggan pergi, sementara Jepang membangun tur domestik yang dirancang sebagai batu loncatan untuk pergi.
Kim Ha-neul, yang pernah merasakan dua tur itu, memberi peringatan halus kepada rekan senegaranya. “Sekarang pemain Korea pun harus waspada,” katanya. Peringatan serupa sebenarnya juga berlaku untuk Jepang. Takeuchi mengingatkan bahwa momentum ini hanya bisa dijaga bila lingkungan pembinaan di dalam negeri terus diperkuat. Ia membandingkannya dengan sepak bola Jepang, yang pengurusnya selalu menegaskan bahwa tim nasional ada karena J.League ada. Ia juga menunjuk sisi putra yang kontras: Hideki Matsuyama masih menjadi satu-satunya pegolf pria Jepang di panggung dunia, tanpa penerus yang jelas.

Bagi negara seperti Indonesia, yang golf putri profesionalnya masih kecil, model Jepang menawarkan pelajaran yang lebih relevan daripada model Korea. Korea membangun kejayaannya lewat budaya latihan yang sangat intens dan tur domestik yang kaya. Jepang, setidaknya dalam dekade terakhir, membangunnya lewat keputusan kelembagaan yang terukur: menyamakan format tur domestik dengan standar internasional, menyerahkan setelan lapangan kepada mantan pemain, dan menata ulang sistem kualifikasi agar hanya pemain yang konsisten yang bertahan.
Satu benang merah lain adalah peran idola. Malaysia, misalnya, sudah merasakan efek turnamen LPGA di kandang. Maybank Championship tahun ini menempatkan Mirabel Ting sebagai pemain Malaysia terbaik untuk tahun ketiga berturut-turut, dan pemain muda itu sudah memegang tiket ke LPGA. Jepang membuktikan bahwa satu nama, Miyazato, bisa melahirkan tiga generasi juara, asalkan ada struktur yang siap menampung gelombang anak-anak yang terinspirasi.
Tantangan Indonesia jelas lebih mendasar, dari jumlah turnamen profesional putri hingga akses lapangan bagi junior. Tetapi cetak biru Jepang menunjukkan bahwa kebangkitan bisa direncanakan. Kobayashi menyatakan target major sejak 2011; delapan tahun kemudian, Shibuno mengangkat trofi di Woburn.
Swing Asia LPGA masih menyisakan perhentian di Jepang, kandang yang tahun lalu memberi Hataoka gelar ketujuh bagi negaranya. Untuk 2027, gelombang berikutnya sudah antre: Kuwaki dengan status juara major, Hara yang memimpin perlombaan rookie, dan nama-nama dari JLPGA seperti Shuri Sakuma yang disebut-sebut AP sebagai bintang yang sedang naik. Di sisi lain, Korea punya Ryu yang baru saja menyapu dua major dan masih unggul dalam jumlah pemain di jajaran elite.
Mungkin itulah wajah persaingan baru golf putri: bukan lagi satu negara Asia yang mendominasi, melainkan dua sistem yang saling mendorong, seperti rivalitas Korea-Jepang di sepak bola atau bisbol. Yoshida sendiri tidak terlalu memikirkan peta geopolitik itu. Di Haenam, dengan rambut masih basah oleh hujan dan sampanye, ia hanya mengulang kalimat sederhana yang barangkali merangkum perasaan satu generasi: “Mimpi saya jadi kenyataan. Saya benar-benar bahagia.”
Baca juga: Swing Asia LPGA 2026: Jadwal Shanghai, Korea, Malaysia, dan Jepang · Sejarah Baru, Solheim Cup 2026 Digelar Perdana di Belanda · Rollback Bola Golf: Kenapa Jarak Drive Tak Bisa Dijinakkan
Hingga 1 November 2026, pemain Jepang mengoleksi enam kemenangan LPGA: tiga milik Miyu Yamashita (Meijer LPGA Classic, CPKC Women’s Open, Maybank Championship), serta masing-masing satu dari Shiho Kuwaki (AIG Women’s Open), Yuna Nishimura (Arkansas Championship), dan Yuri Yoshida (BMW Ladies Championship).
Faktor utamanya adalah reformasi tur JLPGA sejak 2013 di bawah ketua Hiromi Kobayashi (lebih banyak turnamen empat ronde, setelan lapangan lebih sulit, sistem re-ranking), generasi pemain yang terinspirasi Ai Miyazato, pembinaan tim nasional amatir, dan komunitas besar pemain Jepang di LPGA yang saling mendukung.
Ya. Korea masih punya 14 pemain di 50 besar dunia, lebih banyak dari Jepang yang punya 10, dan Haeran Ryu memenangi dua major pada 2026. Namun kemenangan Korea di LPGA jauh di bawah puncaknya (15 kemenangan pada 2015, 2017, dan 2019).
Lima dari 15 major sejak 2024: Yuka Saso (U.S. Women’s Open 2024), Ayaka Furue (Evian 2024), Mao Saigo (Chevron 2025), Miyu Yamashita (AIG Women’s Open 2025), dan Shiho Kuwaki (AIG Women’s Open 2026).
Kartu siap posting dibuat otomatis dari artikel ini.
Di HP, tombol Share to Instagram membuka menu share dan Anda tinggal pilih Instagram Stories atau Feed. Di desktop, gambar disimpan dulu lalu diunggah dari Instagram.
20FIT Media
Any amount helps. You choose.
You’ll finish paying right here — this page stays open.
QRIS, bank transfer, e-wallet or card.
Trouble with an e-wallet? Open the payment page in a new tab.
Finished? — thank you for supporting 20FIT.
Opening secure checkout…