Kembali
BUSINESS 3 min read 8 April 2026

Panggung untuk Perangkat Tanpa Layar

Jangan heran bila di tengah kebiasaan untuk mengenakan jam tangan pintar atau jam tangan analog, mulai marak kebiasaan mengenakan sebuah gelang yang tidak memiliki muka seperti jam tangan. Inilah tren perangkat wearables terbaru berupa band tipis yang tidak memiliki layar untuk m…

Panggung untuk Perangkat Tanpa Layar

Jangan heran bila di tengah kebiasaan untuk mengenakan jam tangan pintar atau jam tangan analog, mulai marak kebiasaan mengenakan sebuah gelang yang tidak memiliki muka seperti jam tangan. Inilah tren perangkat wearables terbaru berupa band tipis yang tidak memiliki layar untuk menunjukkan angka maupun informasi mana pun. Tugasnya hanya menempel diam dan bekerja senyap mengumpulkan data dari aktivitas fisik penggunanya.

Selamat datang ke tren faceless wearable, dan 2026 menjadi tahun kategori produk elektronik ini mentas dari ceruk yang khusus dan terbatas untuk menjadi standar baru industri.

Dua pemain besar dari faceless wearable ini adalah WHOOP dan Oura Ring, yang membangun komunitas setia di kalangan atlet profesional, pemerhati kesehatan, hingga kalangan eksekutif yang terobsesi untuk mendapatkan tidur yang lebih baik serta pemulihan tubuh. WHOOP merupakan pionir band tanpa layar sementara Oura Ring memilih form factor berupa cincin pintar.

Titik ini dicapai berkat proses selama bertahun-tahun untuk membuktikan bahwa pengguna bersedia membayar mahal untuk mendapatkan dan mengenakan perangkat tanpa layar, ditambah layanan yang didapatkan secara berlangganan.

Faceless wearable didesain bukan untuk menampilkan informasi, tetapi mengumpulkan secara terus menerus, termasuk saat aktif berolahraga maupun tidur. Karena layarnya absen, penggunaan baterai jadi jauh lebih hemat sehingga bisa dipakai hingga 24 jam. Data tersebut diolah untuk menjadi insight yang disajikan di aplikasi smartphone dalam bentuk skor pemulihan, analisis detak jantung, pola tidur, dan rekomendasi latihan yang dipersonalisasi.

Turun gelanggang

Optimisme industri terhadap kategori faceless wearable terlihat saat WHOOP menutup putaran pendanaan Seri G senilai USD575 juta pada bulan April 2026, dan kini valuasi perusahaannya menembus angka USD10,1 miliar. Sama halnya dengan Oura Ring dengan produknya berupa cincin pintar, juga mendapatkan pendanaan sebesar USD900 juta lebih sehingga valuasinya mencapai USD11 miliar.

Pendanaan ini menunjukkan minat, sekaligus rasa penasaran terhadap masa depan dari kategori baru perangkat wearable ini. Tentu saja, kabar ini tidak membuat pemain ‘lama’ seperti Garmin dan Google tinggal diam setelah selama ini sudah merajai kategori wearable melalui produk smartwatch.

Awal April 2026, sebuah video Instagram menunjukkan bintang basket NBA Steph Curry mengenakan sebuah gelang tipis berwarna abu-abu dengan aksen oranye di pergelangan tangannya. Tidak ada layar, tidak ada tombol, hanya ada kancing logam. Klip tersebut ditutup dengan huruf ‘G’ yang dikenal sebagai logo perusahaan Google. Curry memberikan narasi singkat “I’m excited about what this is going to mean for the world, for health and wellness.”

Siapa pun yang menonton tahu jelas, Google melalui brand Fitbit yang diakuisisi senilai USD2,1 miliar pada tahun 2021 lalu sedang memproklamasikan rencananya untuk masuk ke kategori faceless wearable. Langkah ini terbilang strategis untuk memisahkan identitas Fitbit dengan rangkaian smartwatch Pixel Watch.

Garmin yang dikenal sebagai raja GPS dan jam tangan pintar untuk lari juga mempersiapkan entri pertama dalam kategori ini. Berdasarkan bocoran yang sempat muncul di situs resmi Garmin di beberapa negara, brand tersebut akan merilis kehadiran Garmin Cirqa, sebuah smart band pintar untuk menantang WHOOP dan Oura.

Membentuk standar

Masuknya Google dan Garmin untuk ikut berlaga ke arena faceless wearable menunjukkan bahwa pasar ini sudah tidak bisa diabaikan begitu saja. Pasar fitness tracker global diproyeksikan tumbuh dari USD52,3 miliar pada tahun 2024 untuk menjadi USD190 miliar pada tahun 2032, dan porsi terbesar dari pertumbuhan itu diprediksikan datang dari segmen tanpa layar berbasis langganan.

Bagi konsumen Indonesia, tren ini menarik untuk disambut seiring pemahaman tentang kesehatan dan wellness yang telah terbangun. Selain itu, kategori produk yang makin banyak berarti makin banyak pilihan yang bisa diambil oleh konsumen untuk mendapatkan produk sesuai dengan preferensi maupun harganya.

Pertanyaan yang tersisa adalah, akankah perangkat faceless wearable menghiasi lengan para pelari di Indonesia dalam waktu dekat.

EXPLORE 20FIT

More ways to move.