HYROX Roma 2026: Weersma dan Millard Juara, Eisenlauer Sapu Gelar Dua Benua
Hidde Weersma dan Saskia Millard juara Pro di HYROX Roma 2026 di Fiera di Roma, sementara Fabian Eisenlauer mencatat gelar kedua dalam sepekan usai menang individu di Mumbai lalu menang Ganda Pria di Roma bersama Paul Weindl.
HYROX Roma 2026 merampungkan seluruh nomor Pro-nya akhir pekan lalu, 23-27 September, di Fiera di Roma—dan menghasilkan salah satu hasil paling telak musim ini. Hidde Weersma asal Belanda menjuarai Pro Pria dengan catatan waktu 54:58, satu-satunya atlet yang finis di bawah 55 menit, sementara Saskia Millard dari Inggris mendominasi Pro Wanita dengan keunggulan lebih dari 90 detik atas runner-up. Namun sorotan tak kalah menarik datang dari nomor Ganda Pria: gelar juara direbut Paul Weindl berpasangan dengan Fabian Eisenlauer—atlet yang baru sepekan sebelumnya menjadi juara Pro Pria perorangan di HYROX Mumbai, ribuan kilometer jauhnya.
Baca Cepat
- HYROX Roma 2026 (23-27 September, Fiera di Roma) menjadi tahun kedua beruntun kota ini menggelar HYROX; Hidde Weersma (Belanda) juara Pro Pria dengan catatan 54:58, unggul 27 detik atas Roberto Viciedo Gimeno (Spanyol, 55:25) dan Sean Noble (Irlandia, 56:12).
- Saskia Millard (Inggris) juara Pro Wanita dengan waktu 59:18—satu-satunya finisher di bawah 60 menit—unggul lebih dari 90 detik atas runner-up Camilla Massa (Italia, 1:00:51) dan podium ketiga Linda Meier (Jerman, 1:01:19).
- Ganda Pria direbut Paul Weindl/Fabian Eisenlauer dengan catatan 49:31, sementara Ganda Wanita dimenangi Linda Meier/Svenja Sommer dengan waktu 55:21—membuat Meier naik podium dua kali di dua nomor berbeda pada akhir pekan yang sama.
- Fabian Eisenlauer mencatat sepekan luar biasa: menjuarai Pro Pria perorangan di HYROX Mumbai (17-20 September) lalu terbang ke Roma dan menjuarai Ganda Pria hanya beberapa hari kemudian; di klasemen Elite 15, kemenangan Weersma di Roma melambungkannya dari peringkat ke-15 ke posisi ke-5.
Weersma Juara Pro Pria, Satu-satunya Finis di Bawah 55 Menit
HYROX Roma 2026 berlangsung 23-27 September di Fiera di Roma, menjadi tahun kedua beruntun kota ini masuk kalender HYROX setelah edisi pertamanya tahun lalu. Salah satu ciri khas venue ini adalah trek lari outdoor yang membawa pelari keluar ruang pameran di antara stasiun-stasiun functional training—variasi yang cukup jarang ditemui di seri HYROX lain yang umumnya sepenuhnya indoor. Format lomba sendiri tetap mengikuti standar global: delapan repetisi lari 1 kilometer yang diselingi delapan stasiun functional training, mulai dari ski erg, sled push and pull, burpee broad jump, hingga wall ball.
Di nomor Pro Pria, Hidde Weersma asal Belanda tampil dominan dan menjadi satu-satunya atlet yang menuntaskan lomba di bawah 55 menit, mencatatkan waktu 54:58. Ia unggul 27 detik atas runner-up Roberto Viciedo Gimeno asal Spanyol (55:25), sementara podium ketiga direbut Sean Noble dari Irlandia dengan catatan 56:12. Posisi keempat dan kelima diisi Eugenio Bianchi asal Italia (56:40) dan Harry Thompson dari Inggris (56:43), menurut data Hyresult.
Weersma mengaku sengaja tampil agresif sejak menit-menit awal, mengambil alih posisi terdepan agar bisa mendikte ritme lomba sepanjang delapan repetisi lari sekaligus menjaga jarak dari para pengejar di stasiun-stasiun akhir. Catatan waktunya di Roma sebenarnya masih jauh dari rekor dunia miliknya sendiri, 52:42, yang ia cetak di London pada Maret lalu—apalagi dari rekor dunia terkini 51:59 atas nama Alexander Rončević yang tercipta sebulan setelahnya. Meski begitu, performa di Roma tetap cukup untuk membuatnya jadi satu-satunya finisher sub-55 menit akhir pekan itu, sekaligus modal penting menjelang sisa musim Elite Series.
Millard Juara Pro Wanita, Unggul Lebih dari 90 Detik
Nomor Pro Wanita dimenangi Saskia Millard asal Inggris dengan catatan waktu 59:18, menjadikannya satu-satunya atlet yang menuntaskan lomba di bawah 60 menit. Keunggulannya sangat telak—lebih dari 90 detik—atas runner-up Camilla Massa asal Italia yang finis dengan waktu 1:00:51. Podium ketiga direbut Linda Meier dari Jerman dengan catatan 1:01:19.
Millard mengakui butuh beberapa kali lomba lagi baginya untuk kembali terbiasa dengan intensitas dan durasi HYROX Pro. Ia sempat kerepotan di stasiun sled, namun berhasil memperbaiki catatan wall ball sekitar 30 detik dibanding penampilannya sebelumnya musim ini—detail teknis yang menegaskan bagaimana pengelolaan energi di tiap stasiun, bukan sekadar kecepatan lari, yang kerap menentukan hasil akhir di level Pro.
Ganda: Weindl/Eisenlauer dan Meier/Sommer Naik Podium Teratas
Di nomor Ganda Pria, gelar juara direbut duo Jerman Paul Weindl dan Fabian Eisenlauer dengan catatan waktu 49:31—unggul tipis atas Louis Osselaer dan Emile Mattheeuws yang membukukan catatan waktu identik, 49:31, namun harus puas di posisi kedua usai hasil resmi diumumkan. Podium ketiga diisi duo Prancis Jouve Olivier dan Dimitry Martins dengan waktu 50:08.
Nomor Ganda Wanita dimenangi Linda Meier berpasangan dengan Svenja Sommer dengan catatan waktu 55:21. Kemenangan ini membuat Meier naik podium dua kali dalam akhir pekan yang sama—perunggu di nomor perorangan, emas di nomor ganda. Pencapaian serupa juga ditorehkan Camilla Massa, yang finis kedua di nomor perorangan lalu kembali naik podium kedua di Ganda Wanita bersama Gloria Corbetta dengan catatan 56:31. Podium ketiga Ganda Wanita direbut duo asal Inggris, Fern Gardiner dan Kate Hutchinson, dengan waktu 56:39.
Eisenlauer Sapu Gelar di Dua Benua dalam Satu Pekan
Nama Fabian Eisenlauer sebenarnya sudah lebih dulu mencuri perhatian beberapa hari sebelum Roma. Pada 17-20 September, atlet asal Jerman ini menjuarai Pro Pria perorangan di HYROX Mumbai dengan catatan waktu 59:28, tampil sebagai satu-satunya finisher di bawah 60 menit di kota itu. Hanya beberapa hari setelah podium Mumbai, ia sudah tercatat start kembali di Roma—kali ini di nomor Ganda Pria bersama Paul Weindl, berbeda dari nomor perorangan yang ia jalani di Mumbai.
Rentetan dua gelar juara di dua benua berbeda dalam kurun waktu kurang dari sepekan ini menggambarkan betapa padat dan mengglobalnya kalender HYROX musim ini. Bagi atlet Elite 15 papan atas seperti Eisenlauer, kemampuan berpindah zona waktu dan pulih dengan cepat antar lomba kini menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi mengumpulkan gelar dan poin ranking, sama pentingnya dengan catatan waktu di lintasan itu sendiri.
Krisis Poin Elite 15: Weersma Melesat dari Peringkat 15 ke 5
Di balik hasil individu yang gemilang, Roma juga menegaskan betapa ketatnya sistem poin Elite 15 yang berlaku musim ini. Weersma baru memulai musimnya sepekan sebelumnya di HYROX Maastricht dengan catatan waktu 57:18, hasil yang membuatnya sempat tertahan di peringkat 15 klasemen Elite 15. Satu kemenangan di Roma langsung melambungkan posisinya ke peringkat lima—lonjakan sepuluh tingkat hanya dari satu hasil lomba, menegaskan betapa fluktuatifnya klasemen di bawah sistem poin bergulir yang berlaku saat ini.
Menurut catatan BOXROX, sistem ini begitu ketat sehingga empat kemenangan lomba plus satu posisi kedua sekalipun belum tentu cukup untuk mengamankan status Elite 15 seorang atlet—situasi yang diperkirakan baru mulai melonggar pada musim semi 2027, saat sebagian besar poin lama mulai kedaluwarsa dan membuka ruang di papan klasemen. Dinamika inilah yang akan terus menghiasi sisa kalender Elite Series musim ini, termasuk dua perhentian besar berikutnya di HYROX Hamburg pada 30-31 Oktober dan HYROX London pada 3-4 Desember.
Bagi komunitas hybrid race di Indonesia yang belum lama merasakan sensasi serupa lewat debut HYROX Jakarta pertengahan tahun ini, hasil Roma jadi pengingat lain bahwa jalur menuju panggung elite HYROX bukan cuma soal catatan waktu tercepat di satu akhir pekan, melainkan konsistensi menjaga performa dan poin dari lomba ke lomba—persis seperti yang harus terus dijaga Weersma, Millard, Eisenlauer, dan puluhan atlet Pro lain dalam mengarungi sisa musim 2026.