Kembali
LIFESTYLE 4 min read 8 July 2026

Lontong Balap Jadi Sarapan Favorit Usai Olahraga di Surabaya, Ini Alasannya

Lari pagi, jalan santai, hingga bersepeda telah menjadi bagian dari gaya hidup banyak warga Surabaya. Usai berolahraga, tak sedikit yang melanjutkan aktivitas dengan mencari sarapan untuk mengembalikan energi. Di tengah beragam pilihan kuliner, lontong balap tetap menjadi salah s…

Lontong Balap Jadi Sarapan Favorit Usai Olahraga di Surabaya, Ini Alasannya

Lari pagi, jalan santai, hingga bersepeda telah menjadi bagian dari gaya hidup banyak warga Surabaya. Usai berolahraga, tak sedikit yang melanjutkan aktivitas dengan mencari sarapan untuk mengembalikan energi. Di tengah beragam pilihan kuliner, lontong balap tetap menjadi salah satu menu favorit karena memadukan cita rasa khas Surabaya dengan kandungan gizi yang relatif seimbang untuk dikonsumsi setelah aktivitas fisik.

Meningkatnya jumlah warga yang berlari di kawasan car free day, taman kota, maupun berbagai ajang lari di Surabaya turut menghidupkan ekonomi pagi hari. Warung sarapan tradisional menjadi salah satu yang ikut merasakan dampaknya, dengan lontong balap sebagai salah satu menu yang paling banyak dicari setelah olahraga.

Sebagai salah satu kuliner tradisional khas Kota Pahlawan, lontong balap terdiri atas lontong, taoge, tahu goreng, lentho, kuah gurih, serta pelengkap berupa sambal, kecap, dan bawang goreng. Kombinasi bahan tersebut membuat hidangan ini mengandung karbohidrat sebagai sumber energi, protein nabati, serta serat yang dibutuhkan tubuh setelah berolahraga.

Setelah melakukan aktivitas fisik, tubuh membutuhkan asupan karbohidrat untuk mengisi kembali cadangan energi (glikogen), sementara protein membantu proses pemulihan jaringan otot. Kandungan serat, vitamin, dan mineral dari taoge serta kacang tolo pada lentho juga melengkapi kebutuhan nutrisi sehingga lontong balap menjadi salah satu pilihan sarapan yang cukup lengkap jika dikonsumsi dalam porsi yang sesuai.

Fenomena tersebut terlihat setiap akhir pekan ketika kawasan car free day, taman kota, maupun jalur pedestrian di Surabaya dipenuhi masyarakat yang berolahraga. Setelahnya, banyak warga memilih menikmati kuliner tradisional sebagai penutup aktivitas pagi mereka.

Salah seorang penikmat lontong balap, Ahmad Tauriq, mengaku hampir selalu menyempatkan diri menikmati hidangan tersebut seusai berolahraga pada akhir pekan.

“Kalau habis lari pagi atau jalan santai, saya biasanya mencari sarapan yang mengenyangkan tetapi tidak terasa terlalu berat. Lontong balap menjadi pilihan karena ada lontong sebagai sumber energi, taoge yang segar, tahu, dan lentho yang membuat isiannya lebih lengkap. Rasanya juga khas Surabaya dan tidak pernah membosankan,” ujarnya.

Menurut Ahmad, di tengah banyaknya pilihan makanan cepat saji, kuliner tradisional tetap layak menjadi menu sarapan setelah olahraga.

“Lontong balap bukan hanya soal rasa, tetapi juga warisan kuliner. Menikmati makanan ini setelah olahraga rasanya seperti melengkapi akhir pekan. Kita bisa tetap menjaga tradisi sambil menikmati makanan yang bahan-bahannya cukup beragam,” katanya.

Kuliner Legendaris yang Bertahan Lebih dari Tujuh Dekade

Salah satu tempat yang hingga kini konsisten mempertahankan cita rasa autentik adalah Lontong Balap Garuda Pak Budi di Jalan Kranggan Nomor 73, Surabaya. Warung legendaris tersebut kini dikelola Rio sebagai generasi ketiga penerus usaha keluarga.

Rio menuturkan, usaha tersebut telah berdiri sejak 1950 dan dirintis oleh buyutnya yang berjualan lontong balap dengan cara dipanggul sambil berkeliling Surabaya. Cara berdagang tersebut menjadi pemandangan yang lazim pada masanya sekaligus menjadi awal perjalanan salah satu kuliner legendaris Kota Pahlawan.

“Awalnya buyut saya berjualan lontong balap dengan cara dipanggul keliling Surabaya. Dari situlah usaha ini berkembang dan diteruskan secara turun-temurun. Setelah buyut, usaha dilanjutkan keluarga hingga ayah saya, almarhum Supadi yang lebih dikenal masyarakat sebagai Pak Budi. Saya sekarang meneruskan sebagai generasi ketiga,” ujar Rio.

Menurutnya, keluarga mulai menempati lokasi tetap di Jalan Kranggan pada 1986. Sejak saat itu, Lontong Balap Garuda Pak Budi menjadi salah satu tujuan sarapan yang ramai dikunjungi warga maupun wisatawan.

Menjaga cita rasa warisan keluarga, kata Rio, menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab. Seluruh racikan bumbu, proses memasak, hingga pemilihan bahan baku masih mempertahankan resep turun-temurun agar pelanggan tetap memperoleh rasa yang sama seperti puluhan tahun lalu.

“Kami berusaha mempertahankan kualitas karena banyak pelanggan yang sudah datang sejak zaman orang tua mereka. Bahkan sekarang banyak yang datang bersama anak dan cucunya. Itu menjadi kebanggaan bagi kami karena artinya lontong balap ini tetap diterima lintas generasi,” katanya.

Lebih dari tujuh dekade bertahan, Lontong Balap Garuda Pak Budi bukan hanya menjadi tempat menikmati sarapan, tetapi juga bagian dari sejarah kuliner Surabaya.

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat menjalani gaya hidup sehat melalui olahraga, keberadaan lontong balap menunjukkan bahwa kuliner tradisional tetap relevan sebagai pilihan menu setelah beraktivitas fisik. Dengan perpaduan karbohidrat, protein nabati, dan serat dari berbagai bahan penyusunnya, lontong balap tidak hanya mempertahankan identitas kuliner Kota Pahlawan, tetapi juga menjadi bagian dari ritual akhir pekan banyak warga Surabaya usai berolahraga. (*)

Laporan kontributor Surabaya, Sekar Arum

EXPLORE 20FIT

More ways to move.