Kembali
STORY 3 min read 25 April 2026

Kartini Hybrid Training, Merayakan Emansipasi di Lintasan HYROX

Ada yang berbeda di 20FIT Arena, Sabtu (25/4) sore. Area simulasi HYROX indoor ini setiap akhir pekan memang senantiasa padat dengan sesi latihan hybrid race yang menggabungkan latihan strength dan endurance. Sore itu ada sesi khusus yang diikuti oleh peserta yang seluruhnya pere…

Kartini Hybrid Training, Merayakan Emansipasi di Lintasan HYROX

Ada yang berbeda di 20FIT Arena, Sabtu (25/4) sore. Area simulasi HYROX indoor ini setiap akhir pekan memang senantiasa padat dengan sesi latihan hybrid race yang menggabungkan latihan strength dan endurance. Sore itu ada sesi khusus yang diikuti oleh peserta yang seluruhnya perempuan, dan mereka menjalani latihan sambil mengenakan atasan kebaya, atau batik. 

Dress code tersebut disepakati untuk sesi khusus yang digelar untuk merayakan semangat yang dibawa oleh Hari Kartini. Para peserta sesi “Kartini Hybrid Training” juga membuktikan bahwa kebaya yang mereka kenakan bukan alasan untuk mengekang performa di lintasan. Lebih dari sekadar sesi latihan, kegiatan ini menjadi ruang bagi perempuan untuk merayakan kebebasan memilih, sesuatu yang diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini.

Dipandu oleh Coach Calysta, para peserta melahap porsi latihan yang disusun secara khusus sambil tetap bergembira bersama. Formatnya mengikuti pola HYROX pada umumnya yakni delapan kali lari dan delapan latihan di station meliputi SkiErg, Sled Push, Sled Pull, Burpee Broad Jumps, Rowing, Farmers Carry, Sandbag Lunges, dan Wall Balls.

Format HYROX yang menuntut kekuatan sekaligus ketahanan menjadi refleksi perjalanan perempuan masa kini yang tidak lagi dibatasi pada satu peran, tetapi mampu beradaptasi dan unggul di berbagai “lintasan”.

Emansipasi dengan caranya sendiri

Para peserta datang dari berbagai latar belakang profesi maupun riwayat berolahraga. Itulah mengapa, ada peserta yang kesulitan saat menjalani latihan fungsional di satu station tertentu tapi bisa lebih mengungguli yang lain saat melaju di station lainnya.

Salah satunya Lian Pertiwi, seorang karyawati swasta yang berusia 44 tahun. Dia tertarik untuk mencoba hybrid race di sela hobi berlari. Lian saat ini tengah menjalani program latihan untuk membangun strength sebelum dia bisa membangun endurance. 

Dia sudah berolahraga sejak belasan tahun lalu, mencoba banyak hal seperti panjat tebing, dan mengalami cedera di berbagai titik di badannya. Ia telah beberapa kali mengikuti half marathon, namun belum berani melangkah ke full marathon.

“Bagi saya, hidup ini seperti marathon, bukan harus serba kencang tapi mengorbankan hal lain seperti kesehatan. Yang penting, kita bisa finish strong,” ujarnya.

Kisah Lian menunjukkan bahwa perjuangan perempuan hari ini tidak lagi soal akses semata, tetapi juga tentang bagaimana menjaga keberlanjutan hidup yang menjadikannya sebagai bentuk emansipasi yang lebih personal.

Begitu pula dengan Celine Halim, pemilik brand apparel olahraga OYP Activewear, yang melahap tantangan fisik yang disodorkan oleh Coach Calysta. Dia sudah berolahraga sejak 2019 dan mencoba banyak hal seperti lari, CrossFit dan strength training di gym. 

Hobi olahraganya mendorongnya untuk membangun brand On Your Pace yang dimulai sejak tahun lalu. Ia membutuhkan waktu untuk meriset material agar tetap nyaman dan mencegah lecet saat digunakan berolahraga. Dengan pilihan warna material yang bold, produknya telah menemukan pasar di Bali melalui konsumen mancanegara, serta di Jakarta seiring meningkatnya minat perempuan terhadap olahraga.

Dia juga bergembira karena makin banyak perempuan yang memutuskan berolahraga dengan makin banyaknya tempat yang memberikan rasa aman dan nyaman. “Dan yang penting, carilah komunitas yang bisa saling mendukung,” ujarnya.

Senada dengan hal itu, Ayu Wira Utami yang berpengalaman mengikuti sejumlah marathon dunia, menyebut bahwa ruang bagi perempuan untuk berolahraga makin terbuka yang sebelumnya masih didominasi oleh laki-laki. Oleh karena itu, dia mengajak perempuan untuk terus aktif berolahraga.

Sesi tersebut berlangsung singkat, tetapi telah mempertemukan berbagai perempuan dari berbagai lintasan hidup, yang datang dan bersama-sama membuktikan bahwa ide tentang emansipasi perempuan yang digagas oleh Kartini hingga akhir hayatnya pada 1904.

Di lintasan HYROX sore itu, emansipasi tidak hadir sebagai wacana, tetapi sebagai aksi dalam langkah lari, dorongan sled, dan keberanian setiap perempuan untuk hadir, mencoba, dan melampaui batasnya sendiri.

Jika dahulu perempuan memperjuangkan hak untuk belajar dan bersuara, hari ini perjuangan itu meluas hingga ke ruang-ruang seperti arena olahraga, sebuah tempat di mana mereka bisa menjadi kuat, terlihat, dan saling menguatkan.

EXPLORE 20FIT

More ways to move.