Kembali
LONG FORM 33 min read 8 October 2026

Garuda Naik Kelas: Ngintip Proyek Naturalisasi Timnas

Dari peringkat 151 ke juara FIFA ASEAN Cup, dibangun 26 pemain diaspora. Ini cerita untung, rugi, dan arah ke depan proyek naturalisasi Timnas Indonesia, lengkap dengan sumbernya.

Garuda Naik Kelas: Ngintip Proyek Naturalisasi Timnas
Foto: Rujak Politik

Senin malam, 5 Oktober 2026, Gelora Bung Karno bergetar. Timnas Indonesia baru saja menang adu penalti 4–2 atas Thailand setelah bermain imbang 2–2 lewat perpanjangan waktu, dan menjadi juara perdana FIFA ASEAN Cup (Antara). Puluhan ribu orang menyanyikan Indonesia Raya sampai serak. Tapi kalau kamu perhatikan baik-baik sebelas pemain yang berdiri di tengah lapangan malam itu, ada satu detail yang mudah terlewat: hampir semuanya lahir dan besar di Eropa.

Beberapa tahun sebelumnya, pemandangan seperti itu nyaris mustahil dibayangkan. Timnas Indonesia adalah langganan patah hati: tersingkir dini, kalah dari tetangga, dan bermain di stadion yang kursinya lebih banyak kosong daripada terisi. Malam itu, GBK justru sesak, tiket ludes jauh hari, dan jutaan orang menonton dari rumah. Sesuatu yang besar jelas sudah terjadi di antara dua titik waktu itu, dan sebagian besar jawabannya berujung pada satu kata yang memecah ruang obrolan warung kopi sampai gedung DPR: naturalisasi.

Itulah wajah proyek yang mengubah sepak bola Indonesia dalam waktu sangat singkat. Dalam beberapa tahun, lewat gelombang naturalisasi Timnas, Indonesia menyulap tim yang dulu terpuruk di peringkat 150-an dunia menjadi juara Asia Tenggara yang nyaris menembus Piala Dunia. Artikel ini mengajak kamu ngintip ke dalam proyek itu: bagaimana aturannya bekerja, siapa saja “Garuda baru” ini, berapa besar ongkos dan hasilnya, apa yang diributkan, dan ke mana arahnya. Semua dengan angka dan sumbernya, karena di topik yang penuh emosi ini, data yang jelas lebih berguna daripada sorak-sorai.

Suasana Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pada malam hari dilihat dari tribun: lampu sorot menerangi lapangan tempat para pemain pemanasan, sementara tribun dipenuhi suporter berkostum merah.
Foto: Daddynnoob via Wikimedia Commons (CC0).

Dari 151 ke Juara: Apa yang Sebenarnya Terjadi

Mari mulai dari ukuran paling sederhana: peringkat FIFA. Pada akhir 2022, Indonesia bercokol di posisi 151 dunia. Per pemutakhiran resmi 20 Juli 2026, Indonesia naik ke 118, lompatan sekitar 33 tingkat dalam kurang dari empat tahun (FIFA; Katadata). Angka itu memang bukan yang tertinggi dalam sejarah, tetapi kurva naiknya jarang terjadi secepat ini di Asia. Sebagai konteks, tetangga terdekat pun masih di atas: Thailand dan Vietnam bertengger di kisaran 90-an hingga 100-an, sehingga meski Indonesia melesat, pekerjaan untuk menyusul belum selesai.

Suporter Timnas Indonesia berkostum merah bersorak dan bertepuk tangan di tribun, dengan bendera Merah Putih raksasa terbentang di antara kerumunan.
Foto: Pangalau via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Yang lebih terasa adalah panggungnya. Dalam kualifikasi Piala Dunia, Indonesia menembus babak yang belum pernah dicapai sebelumnya, mengalahkan Arab Saudi 2–0 di kandang (The Jakarta Post), menundukkan Bahrain dan China di Gelora Bung Karno, dan menarik puluhan ribu penonton hampir tiap laga kandang, dari 55 ribu sampai lebih dari 70 ribu (data kehadiran AFC). Puncaknya, gelar FIFA ASEAN Cup 2026 di kandang sendiri. Perlu diluruskan satu hal yang sering tertukar: turnamen ini berbeda dari ASEAN Championship (Piala AFF) edisi Juli–Agustus 2026, di mana Indonesia justru tersingkir di fase grup dan Vietnam yang juara. Dua turnamen, dua hasil berbeda, di tahun yang sama.

Perjalanannya pun bukan kebetulan satu-dua laga. Di babak kedua kualifikasi Piala Dunia, Indonesia lolos dari grup, lalu untuk pertama kalinya menembus babak ketiga zona Asia. Di grup yang berisi raksasa seperti Jepang dan Australia, Indonesia menahan imbang Australia 0–0 di hadapan sekitar 70 ribu penonton, menahan Arab Saudi 1–1 di Jeddah, lalu mengejutkan banyak orang dengan menang 2–0 atas Arab Saudi di Gelora Bung Karno lewat dua gol Marselino Ferdinan, serta memetik kemenangan tipis atas Bahrain dan China di kandang. Sebelumnya, pada Piala Asia 2023 (digelar awal 2024), Indonesia bahkan menembus babak 16 besar untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebelum takluk 0–4 dari Australia (The Jakarta Post). Rentetan pencapaian “pertama kali” itulah yang membuat publik mulai percaya bahwa sesuatu sedang berubah.

Atmosfernya pun berubah total. Gelora Bung Karno, yang dulu sering lengang, kini menjelma jadi benteng merah yang nyaris selalu penuh; tiket laga-laga besar ludes dalam hitungan hari, dan lautan suporter berbaju merah menyanyi tanpa henti dari menit pertama. Bagi para pemain lawan, bermain di sana jadi pengalaman yang mengintimidasi, dan bagi Timnas, dukungan itu berubah menjadi keunggulan nyata, hampir semua hasil terbaik lahir di hadapan publik sendiri. Sepak bola, yang di Indonesia tak pernah benar-benar kehilangan penggemar, akhirnya kembali punya tim yang sepadan dengan gairah pendukungnya.

Dan publik, secara mengejutkan, sebagian besar suka. Survei Indikator Politik Indonesia (1.200 responden, Oktober 2024) menemukan 71,5 persen setuju dengan naturalisasi pemain keturunan; hanya 13,5 persen tidak setuju. Meski begitu, sekitar 31,5 persen menilai jumlahnya sudah “terlalu banyak” dan ingin pemain lokal diutamakan (Databoks). Jadi ini bukan sekadar perdebatan para pakar; mayoritas orang mendukung, tetapi dengan rem tangan yang tetap ditarik.

Gelar FIFA ASEAN Cup itu sendiri diraih dengan meyakinkan. Di fase grup, Indonesia menang 2–0 atas Singapura, bermain imbang 0–0 melawan Malaysia, lalu melumat Bangladesh 9–2, laga di mana striker muda Mitchell Baker memborong lima gol. Indonesia melaju ke final sebagai juara grup, dan menuntaskannya lewat drama adu penalti. Buat negara yang bertahun-tahun gagal menembus final turnamen regional, malam itu terasa seperti pelepasan dahaga yang panjang, sekaligus pembenaran atas proyek yang selama ini diperdebatkan.

Bagaimana Aturannya Bekerja

Sebelum menilai, ada baiknya paham mekaniknya, karena di sinilah banyak salah kaprah bermula. Ada dua pintu yang harus dilewati: pintu FIFA dan pintu negara.

Bendera Merah Putih berkibar di ujung tiang di bawah langit kelabu.
Foto: Candramawa99 via Wikimedia Commons (CC0).

Pintu FIFA: soal “garis keturunan”

Statuta FIFA edisi Mei 2024 mengatur kelayakan bermain untuk tim nasional pada Pasal 6–10. Intinya, seorang pemain tidak bisa sembarang pindah membela negara lain; ia butuh “ikatan nyata” (genuine link), setidaknya salah satu dari: lahir di negara itu, orang tua lahir di sana, kakek atau nenek lahir di sana, atau pernah berdomisili dalam jangka waktu tertentu (FIFA Statutes 2024). Hampir seluruh kasus Indonesia bersandar pada jalur kakek-nenek. Pada 10 September 2026, FIFA bahkan menerbitkan pedoman baru yang mempertegas prinsip ini: memegang paspor saja tidak cukup, harus ada hubungan yang bisa dibuktikan secara objektif (FIFA).

Aturan ini juga mengatur soal “pindah federasi”. Banyak pemain diaspora Indonesia pernah membela tim junior Belanda, dan FIFA mengizinkan perpindahan semacam itu sekali seumur hidup, dengan syarat ketat: hanya pernah tampil di laga non-senior untuk federasi lama, belum memegang kewarganegaraan baru saat laga resmi pertamanya, masih di bawah usia tertentu, dan memenuhi ikatan keturunan tadi. Itulah sebabnya proses seorang pemain tidak selesai begitu ia disumpah menjadi WNI; masih ada tahap konfirmasi perpindahan federasi dari KNVB (federasi Belanda) ke PSSI sebelum ia benar-benar boleh turun membela Garuda. Maarten Paes, misalnya, baru mendapat kepastian kelayakannya dari FIFA pada pertengahan 2024, beberapa pekan sebelum debutnya.

Pintu negara: Pasal 20

Di sisi Indonesia, jalur yang dipakai adalah Pasal 20 UU 12/2006: warga negara asing yang “berjasa kepada negara” atau “dengan alasan kepentingan negara” dapat diberi kewarganegaraan oleh Presiden setelah memperoleh pertimbangan DPR, kecuali bila itu menyebabkan kewarganegaraan ganda (UU 12/2006). Prosesnya, menurut PP 2/2007, berjenjang: pengusul (dalam praktik Kementerian Pemuda dan Olahraga) menyampaikan ke Menteri Hukum, lalu ke Presiden, lalu DPR (Komisi X dan XIII) memberi pertimbangan, terbit Keputusan Presiden, dan pemain diambil sumpahnya dalam tiga bulan (PP 2/2007). Sumpahnya bahkan boleh digelar di luar negeri; ada yang disumpah di Brussels, London, Roma, Den Haag, sampai Sydney.

Di lapangan birokrasi, tiap berkas diperiksa sebuah tim lintas-lembaga yang melibatkan Kementerian Hukum, Sekretariat Negara, Kemenpora, dan PSSI, sebelum diajukan ke DPR. Komposisi komisi yang menanganinya pun bergeser seiring waktu, dari Komisi III ke Komisi XIII, dengan Komisi X yang mengurus sisi keolahragaannya. Pemerintah menegaskan jalur ini hanya untuk atlet berdarah Indonesia; mantan Menpora Dito Ariotedjo, saat membahas Hilgers dan Reijnders, menyebut keduanya punya darah Indonesia dari pihak ibu. Kecepatannya memang mencolok, pemain bisa rampung dalam hitungan pekan sampai bulan, dan itu pula yang kelak dipersoalkan kritikus sebagai perlakuan istimewa dibanding warga asing biasa.

Satu paspor saja

Inilah detail yang kelak menimbulkan masalah: Indonesia menganut kewarganegaraan tunggal. Untuk jadi WNI lewat jalur ini, pemain harus melepaskan paspor asalnya. Dwi-kewarganegaraan hanya diakui terbatas untuk anak hasil perkawinan campur, yang memilih saat berusia 18–21 tahun. Elkan Baggott, misalnya, masuk lewat jalur itu dan karena itu biasanya tidak dihitung sebagai pemain “naturalisasi”. Satu catatan kecil tapi penting untuk kejujuran: pemerintah kerap mengaitkan kebijakan ini dengan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2019 tentang percepatan sepak bola nasional, padahal bila teks Inpres itu dibaca, ia sama sekali tidak menyebut naturalisasi maupun diaspora (Inpres 3/2019). Kaitan itu adalah tafsir pemerintah, bukan bunyi aturannya.

Siapa 26 Garuda Baru Ini

Sejak 17 November 2022 sampai pertengahan 2026, tercatat sekitar 26 pesepak bola putra disumpah menjadi WNI lewat program ini, 23 di antaranya pada era kepengurusan Erick Thohir. Angka pastinya kerap berbeda antar-media tergantung periode yang dipakai, jadi lebih jujur disajikan sebagai kisaran. Di skuad FIFA ASEAN Cup 2026, proporsinya mencolok: 17 dari 23 pemain adalah hasil naturalisasi, terbanyak di antara peserta turnamen.

Pemain Timnas Indonesia berkostum merah menggiring bola di dekat bendera sudut, dibayangi dua pemain Brunei berkostum kuning, dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2026.
Foto: Pangalau via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Yang paling menarik dari daftar itu adalah pola asal-usulnya. Dari sekian banyak nama, hanya Emil Audero, kiper kelahiran Mataram, Lombok, yang lahir di Indonesia. Sisanya lahir di luar negeri: mayoritas di Belanda, sebagian di Finlandia (Eliano Reijnders), Belgia (Sandy Walsh), Spanyol (Jordi Amat), Australia (Mitchell Baker), bahkan Hawaii (Luke Vickery). Garis Indonesianya datang dari orang tua atau kakek-nenek, dan dalam beberapa kasus menariknya dari keturunan “Indo” Belanda era kolonial. Nenek kiper Maarten Paes, misalnya, lahir di Kediri, Jawa Timur (CNBC Indonesia); nenek penyerang Ole Romeny lahir di Medan.

Nama-nama yang menonjol (jumlah penampilan per 5 Oktober 2026): Jay Idzes, bek tengah di Sassuolo dan kapten permanen; Kevin Diks (Borussia Mönchengladbach); Maarten Paes, kiper yang kini di Ajax; Thom Haye dan Ragnar Oratmangoen (keduanya Persib Bandung); Ole Romeny, penyerang tersubur; Ivar Jenner dengan caps terbanyak; serta Mitchell Baker, striker muda yang mencetak lima gol ke gawang Bangladesh dalam satu laga grup. Sebagai gambaran nilai, data Transfermarkt yang dikutip Jawapos menaksir harga pasar Idzes sekitar Rp173,8 miliar, Diks Rp86,9 miliar, dan Audero Rp55,6 miliar (Jawapos). Catatan: Idzes absen di FIFA ASEAN Cup karena cedera paha sejak September 2026, dan ban kapten di turnamen itu dipakai Diks.

Masing-masing membawa ceritanya sendiri. Maarten Paes mengawali debutnya dengan menepis penalti Arab Saudi dan menyandang gelar pemain terbaik, sebuah perkenalan yang sulit dilupakan. Ole Romeny dengan cepat menjelma jadi penyerang tersubur, Ivar Jenner mengumpulkan caps terbanyak di antara rombongan baru, dan Jay Idzes menjadi kapten sekaligus satu-satunya yang rutin bermain di Serie A Italia. Mitchell Baker, yang baru 19 tahun, menandai debutnya dengan hat-trick sebelum memborong lima gol ke gawang Bangladesh. Di luar lapangan, efek bolanya terasa: jumlah pengikut media sosial Justin Hubner, misalnya, melonjak dari sekitar lima ribu menjadi jutaan setelah bergabung, menandakan Timnas telah menjelma jadi fenomena budaya pop, bukan sekadar tim olahraga (Foreign Policy).

Gelombangnya datang bertahap, nyaris seperti musim transfer yang tak pernah berhenti. Sandy Walsh dan Jordi Amat disumpah lebih dulu pada November 2022, disusul Shayne Pattynama, Ivar Jenner, dan Rafael Struick pada 2023, lalu Justin Hubner dan Jay Idzes di penghujung tahun itu. Sepanjang 2024 datang rombongan besar: Nathan Tjoe-A-On, Thom Haye, Ragnar Oratmangoen, Maarten Paes, Calvin Verdonk, Jens Raven, lalu Mees Hilgers dan Eliano Reijnders yang disumpah di Brussels, serta Kevin Diks di Kopenhagen. Tahun 2025 menambah Ole Romeny, Tim Geypens, Dion Markx, Emil Audero, Joey Pelupessy, Dean James, Mauro Zijlstra, dan Miliano Jonathans, sebelum Mitchell Baker dan Luke Vickery melengkapi barisan pada pertengahan 2026.

Dari peta keturunannya, ada dua corak besar. Mayoritas memang punya kakek atau nenek asli Indonesia dari berbagai daerah: Hilgers lewat kakek yang lahir di Ambon, Reijnders lewat ibu dan kakek yang lahir di Jakarta, Oratmangoen dan Pelupessy dari garis Maluku, Hubner dan Amat dari Makassar. Corak kedua lebih jarang dibicarakan tetapi menarik: beberapa pemain adalah keturunan “Indo”, yaitu orang Belanda yang lahir di Hindia Belanda pada masa kolonial. Nenek Maarten Paes, misalnya, perempuan Belanda yang lahir dan sempat hidup susah di Kediri pada masa pendudukan Jepang (CNBC Indonesia). Nuansa ini membuat gagasan “darah Indonesia” terasa lebih berlapis daripada sekadar hitam-putih.

Program ini juga tidak berhenti di tim putra. Sejumlah pemain diaspora perempuan ikut dinaturalisasi untuk memperkuat Timnas Putri. Dan ada pula generasi lama yang masih relevan: Marc Klok, yang menempuh jalur domisili setelah bertahun-tahun bermain di Indonesia dan disumpah pada 2020, serta Stefano Lilipaly yang sudah lebih dulu menjadi WNI sejak 2011. Catatan kecil untuk kejernihan: Elkan Baggott, meski sering tampil, bukan produk jalur naturalisasi ini melainkan anak perkawinan campur yang memilih kewarganegaraan Indonesia, dan karena itu biasanya dihitung terpisah.

Emil Audero layak disebut tersendiri, karena ia justru kebalikan dari stereotipe “pemain impor”. Lahir di Mataram dari ayah Indonesia, ia besar dan meniti karier di Italia, bahkan sempat masuk timnas junior Negeri Pizza, sebelum akhirnya memilih membela tanah kelahirannya. Kisahnya mengingatkan bahwa garis antara “lokal” dan “diaspora” tidak selalu bisa ditarik dengan penggaris. Di balik daftar nama ini pun ada filosofi; Erick Thohir beberapa kali menyebut PSSI butuh kolam sekitar 150 pemain terbaik, baik yang lahir di Indonesia maupun diaspora, untuk menopang timnas senior dan kelompok umur sekaligus. Naturalisasi, dalam kerangka itu, bukan tujuan, melainkan salah satu cara mengisi kolam tersebut secepat mungkin.

Satu hal yang membedakan gelombang ini dari naturalisasi era lampau adalah kualitas klubnya. Banyak dari mereka bermain, atau pernah bermain, di kompetisi papan atas Eropa: Jay Idzes di Serie A, Maarten Paes dan Calvin Verdonk di klub-klub top Belanda dan Prancis, Kevin Diks di Bundesliga Jerman. Ini bukan pemain yang sekadar mengisi kuota asing di liga antah-berantah seperti sebagian kasus pada masa lalu, melainkan pesepak bola yang ditempa di ekosistem kompetitif. Bagi pendukung program, inilah justifikasi utamanya, bahwa kelasnya memang nyata dan langsung menaikkan level Timnas. Bagi pengkritik, justru di situ letak persoalannya, karena level itu didapat dari sistem negara lain, bukan dari pembinaan dalam negeri.

Dari Mierlo ke Bandung: Arus Balik ke Liga 1

Ada dampak yang jarang disorot tetapi nyata: sebagian “Garuda baru” ini justru pulang bermain di Indonesia. Fenomena ini layak disebut arus balik.

Pemain Persija Jakarta (merah) dan pemain Borneo FC (putih) berebut bola dalam laga Liga 1 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, dengan suporter berkostum oranye di tribun belakang.
Foto: Adityadandito via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Persib Bandung, misalnya, kini diperkuat Thom Haye, Eliano Reijnders, Ragnar Oratmangoen, dan Sandy Walsh. Persija menggaet Jordi Amat dan Shayne Pattynama. Dewa United menampung Ivar Jenner dan Rafael Struick, sedangkan Bali United merekrut Jens Raven dan Tim Geypens. Bagi liga domestik, kedatangan bintang-bintang bergaji Eropa ini menaikkan gengsi, menjual tiket, dan, setidaknya di atas kertas, menaikkan level latihan sehari-hari. Ini sisi positif yang sering tenggelam di tengah perdebatan identitas: proyek ini tidak hanya mengisi Timnas, tetapi juga menyedot sebagian talenta itu kembali ke kompetisi lokal. Generasi naturalisasi sebelumnya pun masih ada di pool, seperti Marc Klok yang disumpah lewat jalur domisili pada 2020 dan Stefano Lilipaly sejak 2011.

Secara komersial, dampaknya kasat mata. Harga pasar para pemain ini, menurut data Transfermarkt yang dikutip media, jauh melampaui rata-rata pemain Liga 1, dan kehadiran mereka menarik lebih banyak penonton serta sorotan ke stadion-stadion domestik. Penjualan jersey Timnas tembus lebih dari seratus ribu potong, dan merek-merek besar berebut menempelkan logonya. Liga lokal, yang bertahun-tahun berjuang dengan citra dan keuangan yang rapuh, mendadak mendapat suntikan gengsi yang sulit dibeli dengan cara lain. Bagi Thohir, ini bagian dari satu lingkaran yang ia bayangkan: timnas kuat menarik sponsor dan penonton, uang itu memperkuat liga dan pembinaan, dan liga yang lebih baik pada akhirnya memasok timnas, meski lingkaran itu baru akan terbukti utuh bila sisi pembinaannya benar-benar jalan.

Efek sampingnya terasa di ruang ganti klub-klub itu. Pelatih dan pemain muda lokal kini berlatih setiap hari berdampingan dengan rekan yang terbiasa dengan ritme kompetisi Eropa, sebuah transfer pengetahuan yang sulit didapat lewat kursus mana pun. Bagi sponsor dan penyiar, kehadiran nama-nama ini menaikkan nilai jual liga. Tentu ada sisi sebaliknya yang akan kita bahas nanti, yakni berkurangnya jatah menit bermain untuk pemain muda lokal. Tetapi sebagai gambaran, arus balik ini menunjukkan proyek naturalisasi bukan sekadar soal timnas di hari pertandingan, melainkan juga menata ulang ekosistem sepak bola domestik, untung sekaligus rugi, dalam waktu bersamaan.

Arsitek: Erick Thohir dan Kursi Pelatih yang Panas

Proyek sebesar ini tidak jatuh dari langit. Ia punya arsitek, dan juga punya korban.

Ketua Umum PSSI Erick Thohir (tengah, berjaket PSSI) berfoto bersama Presiden Prabowo Subianto, jajaran pelatih, dan para pemain Timnas Indonesia di lapangan Stadion Utama Gelora Bung Karno seusai kemenangan atas China pada kualifikasi Piala Dunia 2026.
Foto: BPMI Sekretariat Presiden/Muchlis Jr via Wikimedia Commons (Public domain).

Erick Thohir terpilih sebagai Ketua Umum PSSI pada 16 Februari 2023, dan mempercepat gelombang naturalisasi yang sebenarnya sudah dimulai di era pelatih Shin Tae-yong. Pada 17 September 2025, Thohir dilantik menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga sambil tetap memimpin PSSI, sebuah rangkap jabatan yang bahkan sempat memicu catatan soal potensi konflik kepentingan, karena pengusul naturalisasi (kementerian) dan federasi penerima manfaat kini dipimpin orang yang sama (CNN Indonesia).

Kursi pelatihnya sendiri panas. Shin Tae-yong, yang membawa Indonesia ke babak 16 besar Piala Asia untuk pertama kalinya, diberhentikan pada awal Januari 2025 (Republika). Patrick Kluivert menggantikannya, lalu berpisah dengan PSSI pada 16 Oktober 2025 setelah gagal meloloskan tim ke Piala Dunia (Al Jazeera). John Herdman kemudian ditunjuk pada 3 Januari 2026 dan justru menjadi pelatih yang mengangkat trofi FIFA ASEAN Cup. Soal label, Herdman memilih kalimat yang menyatukan: tak ada lokal atau diaspora, “kita semua Indonesia” (iNews).

Pergantian pelatih itu sendiri mencerminkan tingginya tekanan. Shin Tae-yong, yang mengambil alih Timnas pada akhir 2019 ketika Indonesia terpuruk di peringkat 170-an, dialah yang pertama kali meminta percepatan naturalisasi pada awal 2022 dan membawa tim ke babak 16 besar Piala Asia. Tetapi evaluasi PSSI tetap menilai perlu wajah baru, dan Patrick Kluivert, legenda Belanda, ditunjuk pada awal Januari 2025 dengan alasan kebutuhan kepemimpinan dan komunikasi yang berbeda. Ketika Kluivert gagal, giliran John Herdman yang datang. Herdman, yang pernah menangani Kanada, menyamakan situasi Indonesia dengan negara asuhannya dulu: negara besar dengan talenta lokal plus pemain berkewarganegaraan ganda, dan pendekatannya menekankan kesetaraan status antara pemain lokal dan diaspora.

Di balik lapangan, mesin uangnya ikut membesar. Laporan keuangan PSSI yang diumumkan Agustus 2026 menyebut pendapatan sekitar Rp722 miliar, dan hanya sekitar 9 persennya berasal dari APBN; sisanya dari sponsor, tiket, hak siar, dan merchandise (CNN Indonesia). Bank Mandiri menjadi presenting partner Timnas senilai sekitar Rp80 miliar per tahun, dan penjualan jersey tembus lebih dari 100 ribu potong. Sepak bola, dengan kata lain, kembali jadi bisnis.

Naturalisasi sebenarnya hanya satu bab dari transformasi yang lebih besar. Di bawah Thohir, PSSI juga membangun pusat latihan nasional di Ibu Kota Nusantara dengan dukungan dana FIFA Forward dan APBN, yang fase pertamanya rampung pada awal 2025. Jalan itu tidak selalu mulus: pada 2023, Indonesia kehilangan status tuan rumah Piala Dunia U-20 setelah polemik penolakan kehadiran salah satu peserta, sebuah pukulan di awal kepengurusan. Tetapi arah besarnya jelas, membenahi tata kelola sekaligus menaikkan level tim senior secepat mungkin.

Daftar sponsornya pun memanjang, dari Freeport, BRI, Indosat, sampai sederet merek besar lain, dan menurut Thohir setiap laga kandang yang penuh bisa menghasilkan pemasukan tiket sekitar Rp20 miliar. Dengan kata lain, Timnas yang menang membuat dirinya sendiri makin mandiri secara finansial, dan kemandirian itu, pada gilirannya, membiayai ambisi berikutnya. Tetapi uang yang melimpah juga menaikkan taruhan: makin besar investasinya, makin keras pula tuntutan atas hasil, dan makin mahal pula ongkos kegagalan.

Sejauh Mana Berhasil? Nyaris Piala Dunia, tapi Plafon Terlihat

Di sinilah kejujuran diperlukan, karena cerita ini bukan dongeng kemenangan tanpa cela. Naturalisasi memang mengangkat Indonesia jauh lebih tinggi, tetapi juga memperlihatkan batasnya.

Fasad Lobi Timur Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, dengan lambang Garuda Pancasila keemasan; seorang pria berkaus merah berjalan melintas dan bayangannya terpantul di genangan air.
Foto: Herusutimbul via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Sisi gemilangnya nyata: kemenangan bersejarah 2–0 atas Arab Saudi, sapu bersih kemenangan kandang atas Bahrain dan China, serta tembus ke putaran keempat kualifikasi Piala Dunia zona Asia, sesuatu yang belum pernah diraih sebelumnya. Tetapi di saat yang sama, tim ini dihajar Jepang 0–4 dan 0–6, dan Australia 1–5, memperlihatkan jurang kualitas yang masih menganga melawan raksasa benua. Dan di ujung jalan, mimpi itu kandas: Indonesia gagal lolos ke Piala Dunia 2026, tersingkir di putaran keempat di Jeddah setelah kalah dari Arab Saudi 2–3 dan dari Irak 1–0 (waktu setempat 8 dan 11 Oktober 2025), dan menutup grup tanpa satu poin pun (Tempo). Erick Thohir meminta maaf, dan menyebut mencapai putaran keempat sebagai pencapaian pertama bagi Indonesia.

Hampir setahun kemudian, trofi itu akhirnya datang, lewat FIFA ASEAN Cup. Di final, Dean James mencetak gol lewat tendangan bebas yang membelok (sebagian laporan mencatatnya terdefleksi pemain Thailand) pada menit 84, Elkan Baggott menyamakan kedudukan di menit 116, lalu Emil Audero menjadi pahlawan dengan satu penyelamatan di adu penalti (The Jakarta Post). Gelar regional yang manis, tetapi perlu ditempatkan jujur: ini bukan “gelar pertama sepanjang masa” (Indonesia pernah merebut emas sepak bola SEA Games 2023), dan ia bukan tiket ke panggung dunia yang jadi tujuan awal seluruh proyek ini.

Pola hasilnya sendiri bercerita banyak. Di babak ketiga kualifikasi, semua kemenangan Indonesia lahir di Gelora Bung Karno, sementara di laga tandang tim lebih sering menahan imbang atau kalah. Melawan tim medioker Asia, Indonesia kompetitif; melawan papan atas, jaraknya masih jauh. Kekalahan 0–4 dan 0–6 dari Jepang, serta 1–5 dari Australia, adalah pengingat bahwa suntikan pemain Eropa menaikkan level, tetapi belum menutup jurang menghadapi elite benua. Beberapa analis menyebut kohesi tim justru sempat terganggu oleh derasnya pemain baru yang harus cepat dipadukan.

Jejak angkanya layak dicatat agar gambarannya utuh. Di paruh pertama babak ketiga, Indonesia menahan Arab Saudi 1–1 di Jeddah dan Australia 0–0 di Gelora Bung Karno, tetapi kalah 1–2 dari China di Qingdao, ditahan Bahrain 2–2, lalu dibungkam Jepang 0–4. Di paruh kedua, tim justru bangkit di kandang: menang 2–0 atas Arab Saudi, lalu 1–0 atas Bahrain dan 1–0 atas China, sebelum kembali kalah telak 0–6 dari Jepang di Suita. Indonesia finis keempat di grup, cukup untuk melaju, tetapi pola “perkasa di GBK, rapuh saat bertandang” sudah terbaca sejak awal. Hampir semua titik terang lahir di hadapan puluhan ribu pendukung sendiri.

Lalu datang putaran keempat di Jeddah pada Oktober 2025, format mini-grup yang hanya meloloskan juara grup langsung ke Piala Dunia dan mengirim runner-up ke babak play-off. Di sinilah mimpi itu kandas. Setelah kalah dari tuan rumah grup Arab Saudi dan kemudian dari Irak, Indonesia finis juru kunci tanpa poin, dan Patrick Kluivert berpisah dengan PSSI hanya beberapa hari kemudian. Pencapaian menembus putaran keempat memang yang pertama bagi Indonesia, tetapi ia juga menandai titik di mana euforia bertemu kenyataan.

Retakan di Balik Garuda Baru

Justru karena banyak yang berhasil, retakan-retakannya layak diperiksa dengan tenang, bukan untuk meremehkan, melainkan supaya euforia tak menutupi pertanyaan yang sah.

Dua anak sekolah dasar berseragam merah-putih menendang bola di halaman perkampungan yang diterangi cahaya matahari yang menembus pohon kelapa.
Foto: Arnawakomang via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Sebelum masuk ke keberatan satu per satu, ada baiknya menjawab tuduhan yang paling sering dilempar: apakah ini soal uang? Erick Thohir berkali-kali membantahnya, menegaskan para pemain “membela dari hati, bukan uang” (Jawapos). Exco PSSI Arya Sinulingga bahkan mengakui ada bujukan, tetapi bukan bujukan finansial, melainkan daya tarik ketenaran dan panggung yang lebih besar. Itu sebabnya, meski gagasan “mercenary” atau tentara bayaran terus dilempar di media sosial, tidak ada bukti kredibel yang menyodorkannya; yang ada adalah pemain-pemain yang, menurut pengakuan sendiri, tergerak oleh garis keturunan dan kesempatan membela negara leluhurnya. Dengan tuduhan itu disingkirkan, perdebatan yang tersisa justru lebih menarik, karena ia menyentuh hal-hal yang lebih dalam daripada uang.

Satu: pertanyaan identitas

Ketika susunan pemain inti kadang tak memuat satu pun pemain kelahiran Indonesia, pertanyaan “ini timnas siapa?” muncul secara alami. Pengusaha dan mantan diplomat Peter Gontha sempat menyuarakan rasa tidak nyaman soal banyaknya pemain naturalisasi pada 2024 (akun medianya kemudian dikunci). Media internasional seperti Foreign Policy mencatat betapa skuad ini memuat lebih banyak pemain kelahiran Belanda ketimbang kelahiran Nusantara (Foreign Policy). Di sisi lain, para pembela menilai perdebatan label itu tak produktif. Tujuh belas pemain, lokal dan naturalisasi, bahkan pernah merilis pernyataan bersama meminta publik berhenti membanding-bandingkan, dan mantan direktur teknik Indra Sjafri menegaskan begitu seseorang memegang paspor Indonesia, label “keturunan” semestinya berhenti (CNN Indonesia).

Kekhawatiran ini bukan prasangka kosong. AFP mencatat skuad Indonesia bisa memuat hingga sepuluh pemain kelahiran Belanda, dan sembilan di antaranya menjadi starter saat kalah dari China (AFP). Bagi sebagian orang, pemandangan sebelas pemain yang lebih fasih berbahasa Inggris dan Belanda ketimbang Indonesia terasa janggal untuk sebuah tim nasional. Tetapi ada gestur sebaliknya yang menyentuh: banyak pemain terlihat berusaha keras menghafal lagu-lagu kebangsaan, dan ada momen viral ketika sebagian dari mereka menyanyikan lagu “Tanah Airku” dengan sepenuh hati. Pada awal 2024, tujuh belas pemain, lokal maupun naturalisasi, bahkan merilis pernyataan bersama memohon publik berhenti membanding-bandingkan keduanya, sebuah sinyal bahwa di dalam ruang ganti, garis itu mungkin tak setebal yang diperdebatkan di luar.

Perdebatan ini bahkan merembet ke lembaga dan tokoh di luar lapangan. Seorang pengurus Komite Olimpiade Indonesia sempat mengaku pernah mengingatkan Shin Tae-yong agar tidak membawa terlalu banyak pemain naturalisasi, pernyataan yang kemudian diklarifikasi dan diminta maaf oleh lembaganya sendiri karena dianggap pandangan pribadi. Komentator Rocky Gerung juga melontarkan kritik, meski tanpa rincian yang bisa diverifikasi. Namun yang menarik, di antara suara-suara nyaring itu, tidak ada pihak kredibel yang menyebut para pemain sebagai “tentara bayaran”; tuduhan soal pembayaran hanya beredar sebagai rumor di media sosial dan media negara tetangga, dan dibantah resmi oleh PSSI. Bahkan pembela dan pengkritik sepakat pada satu hal: ini bukan soal legal atau tidak, melainkan soal sampai di mana porsinya pantas.

Dua: nasib pemain lokal dan pembinaan

Ini kritik yang paling punya angka. Kompilasi Databoks menunjukkan pergeseran drastis komposisi skuad: pada 2011 sekitar 92 persen pemain lokal, pada 2021 bahkan 100 persen, lalu pada daftar sementara Maret 2025 hanya sekitar 37 persen lokal berbanding 63 persen naturalisasi (Databoks). Editorial The Jakarta Post menyebut kampanye ini sebagai “political gimmick” dan menilai PSSI tak bisa dimaafkan bila menelantarkan pembinaan talenta dalam negeri (The Jakarta Post). Mantan penyerang timnas Sergio van Dijk, sendiri berdarah Indonesia, mengingatkan bahwa anak-anak di kampung dari Jawa Barat sampai Ambon bisa kehilangan mimpi jika jalan ke timnas terasa tertutup (The Asian Game). Sebuah kajian di jurnal Frontiers in Sports and Active Living (2025) yang menganalisis 52 artikel media bahkan memetakan tiga bingkai berulang: pemain sebagai aset nasional, keraguan atas keaslian ikatan, dan dampak yang diperdebatkan terhadap talenta lokal (Frontiers).

PSSI punya bantahannya. Erick menunjuk prestasi kelompok usia sebagai bukti pembinaan tetap jalan: timnas U-17 tampil di dua Piala Dunia beruntun dan meraih kemenangan perdana atas Honduras, serta emas SEA Games 2023 yang diraih pemain lokal. Ia juga meminta operator liga memangkas kuota pemain asing dari delapan menjadi tujuh dan menjamin menit bermain untuk pemain U-23 (RM.id). DPR sendiri, meski menyetujui tiap gelombang, menempelkan syarat: harus selektif, disertai pembinaan jangka panjang, regenerasi, dan laporan berkala (JPNN).

Angka itu diterjemahkan ke dalam susunan pemain. Di laga melawan Vietnam pada pertengahan 2024, lima dari sebelas pemain inti sudah hasil naturalisasi; beberapa bulan kemudian jumlahnya naik menjadi sembilan dari sebelas. Anggota DPR Putra Nababan bahkan pernah mengusulkan patokan konkret, agar setidaknya 60 persen pemain di lapangan adalah pemain nasional. Mantan penyerang Radja Nainggolan menyebut menurunkan pemain muda keturunan yang minim pengalaman sebagai kesalahan, sebuah kritik kualitas, bukan identitas. Sejumlah tokoh dan legenda, dari Peri Sandria sampai Rully Nere, menyuarakan nada serupa: satu-dua pemain naturalisasi untuk gengsi bisa diterima, tetapi gelombang besar berisiko mematikan motivasi anak-anak yang berlatih keras di akademi lokal.

Terhadap kritik pembinaan, PSSI tidak diam. Exco PSSI menunjuk kelompok usia muda, dari U-17 sampai U-23, yang berprestasi di level Asia Tenggara dan Asia sebagai bukti pipa regenerasi tetap jalan. Pemerintah pun membingkai kebutuhan ini sebagai jangka pendek sekaligus jangka panjang. Namun sejumlah pengamat, seperti Akmal Marhali dari Save Our Soccer, mengingatkan bahwa naturalisasi sebaiknya diposisikan sebagai akselerasi, bukan kebijakan utama; jika hasil menurun, ia bisa berubah menjadi bom waktu. DPR pun menegaskan lewat Komisi X, dengan kata kunci “selektif”, bahwa persetujuan tiap pemain datang dengan syarat pembinaan jangka panjang dan laporan berkala, kata “selektif” itu berasal dari DPR, bukan dari PSSI.

Tiga: kerapuhan hukum yang tiba-tiba terbuka

Aturan kewarganegaraan tunggal tadi punya harga nyata, dan tagihannya datang pada 2026 dalam peristiwa yang dijuluki “Paspoortgate”. Karena hukum Belanda otomatis mencabut kewarganegaraan siapa pun yang secara sukarela mengambil paspor negara lain, sejumlah pemain yang menjadi WNI, seperti Dean James, Nathan Tjoe-A-On, Justin Hubner, dan Tim Geypens, mendadak kehilangan status Belanda mereka dan hak kerja di Uni Eropa. Klub NAC Breda bahkan sempat menggugat agar sebuah laga diulang, sebelum pengadilan Belanda menolak gugatan itu pada 4 Mei 2026 (SCMP/Reuters). Kejadian ini memicu dorongan agar Indonesia menyiapkan undang-undang kewarganegaraan ganda terbatas untuk talenta diaspora, usulan yang dibawa Presiden Prabowo ke DPR pada Agustus 2026 namun statusnya belum rampung (Kompas).

Dampaknya di Belanda sempat kacau. Karena kehilangan status Uni Eropa, beberapa pemain mendadak dihitung sebagai tenaga kerja asing yang butuh izin kerja dengan ambang gaji minimum tinggi, dan sejumlah klub terpaksa menepikan mereka sementara sambil mengurus perizinan. Para pemain akhirnya dibebaskan kembali untuk bermain sekitar April 2026, dan gugatan laga ulang ditolak pengadilan. Tetapi peristiwa ini menelanjangi satu kelemahan struktural: model naturalisasi Indonesia yang mengandalkan pelepasan paspor asal membuat karier klub para pemainnya di Eropa menjadi rentan, padahal justru di klub-klub Eropa itulah kualitas mereka ditempa. Dorongan untuk undang-undang dwi-kewarganegaraan terbatas pun menguat, meski sampai artikel ini disusun belum menjadi undang-undang.

Empat: soal tata kelola

Terakhir, ada pertanyaan kelembagaan yang jujur harus disebut. Thohir memegang dua topi sekaligus, Menpora dan Ketua PSSI, sehingga pengusul dan penerima manfaat berada di tangan yang sama. Sejumlah analis menilai proyek ini juga rapuh secara politik: bila kelak presiden atau kepengurusan berganti dan tak lagi mengirim usulan ke DPR, keran naturalisasi bisa mengering seketika. Dengan kata lain, sebagian besar momentum ini bertumpu pada segelintir orang dan satu periode kepemimpinan.

Kerapuhan tata kelola ini bukan isu teknis belaka. Karena keran naturalisasi dibuka dan ditutup lewat usulan pemerintah ke DPR, nasib program ini terikat erat pada siklus politik dan orang-orang yang kebetulan memegang kuasa. Bila kelak kepengurusan PSSI atau pemerintahan berganti dan prioritasnya bergeser, momentum yang dibangun bertahun-tahun bisa terhenti nyaris seketika. Perjalanan evaluasi di DPR sendiri memperlihatkan ketegangan ini: dari penolakan terhadap naturalisasi massal pada awal dekade, sampai persetujuan bersyarat yang kini menuntut laporan dampak dan pembinaan jangka panjang. Dengan kata lain, lembaga legislatif pun tampak ingin menikmati hasilnya sambil memasang rem, sadar bahwa euforia dan keberlanjutan tidak selalu sejalan.

Pelajaran dari Tetangga

Indonesia bukan yang pertama menempuh jalan ini. Membandingkannya dengan negara lain membantu menakar, mana yang berkelanjutan dan mana yang jebakan.

Laga Piala Dunia 2022 antara Korea Selatan dan Uruguay di Education City Stadium, Doha, dilihat dari tribun, dengan seorang suporter berwig merah mengibarkan bendera Korea Selatan di barisan depan.
Foto: Heo Manjin / Republic of Korea via Wikimedia Commons (CC BY-SA 2.0).

Maroko adalah contoh “dilakukan dengan benar”. Di Piala Dunia 2022, 14 dari 26 pemainnya lahir di luar negeri, proporsi tertinggi di turnamen itu, dan mereka melaju sampai semifinal, tim Afrika dan Arab pertama yang mencapainya (Reuters via Gulf News). Kuncinya: jaringan pemandu bakat diaspora yang rapi, ditopang sekitar lima juta warga Maroko di Eropa. Qatar menempuh jalur berbeda, mencampur akademi domestik Aspire dengan naturalisasi, dan sempat juara Piala Asia 2019; tetapi di Piala Dunia kandang 2022 mereka justru finis tanpa satu poin, memperlihatkan bahwa membeli pemain tak menjamin daya tahan (Foreign Policy). Filipina sempat jadi pionir model keturunan di Asia Tenggara, tetapi keunggulannya memudar begitu negara lain menirunya.

Qatar menarik untuk dibandingkan karena jalurnya pernah dipersoalkan. Di Piala Asia 2019, Uni Emirat Arab sempat memprotes kelayakan dua pemain Qatar, meski protes itu akhirnya ditolak otoritas Asia dan Qatar tetap juara. Pelajarannya, naturalisasi yang bahkan lolos secara hukum pun tetap bisa mengundang pertanyaan legitimasi, dan daya tahannya tak terjamin, terbukti dari penampilan Qatar yang nirpoin di Piala Dunia kandang. Filipina menyodorkan pelajaran lain lagi: timnas “Azkals” yang bertumpu pada pemain keturunan sempat bersinar di sekitar 2010, tetapi keunggulannya memudar begitu negara-negara tetangga meniru resepnya, sementara Singapura malah menghentikan jalur naturalisasi untuk sepak bola sejak 2008 dan memilih berfokus pada pembinaan lokal.

Dan ada pelajaran paling pahit dari seberang perbatasan. Pada 2025, FIFA menghukum federasi Malaysia karena memalsukan dokumen kelahiran kakek tujuh pemain untuk mengklaim garis keturunan; FIFA menyebutnya terus terang sebagai bentuk kecurangan, dan menjatuhkan denda serta larangan bermain 12 bulan bagi para pemain (Al Jazeera). Kontrasnya dengan Indonesia penting dicatat: sejauh yang terdokumentasi, kasus-kasus Indonesia menempuh jalur resmi melalui DPR dan Keppres, bukan pemalsuan. Itu pembeda yang nyata, meski bukan berarti bebas dari pertanyaan soal kecepatan dan kebijakan.

Kasus Malaysia bahkan sempat menyeret-nyeret Indonesia. Putra Mahkota Johor sempat melontarkan dugaan adanya kaitan, namun Erick Thohir membantahnya dan menegaskan Indonesia tidak ikut campur dalam urusan federasi lain. Terlepas dari bumbu politik itu, pelajaran teknisnya tetap berdiri sendiri: yang menjatuhkan Malaysia bukan gagasan merekrut pemain keturunan, melainkan integritas prosesnya, dokumen yang dipalsukan dan persetujuan yang terburu-buru. Bagi Indonesia, yang prosesnya berjalan terbuka lewat sidang DPR, pesannya jelas, kecepatan boleh, tetapi keabsahan dokumen dan transparansi tak bisa ditawar, karena satu kesalahan administratif bisa menghapus kemenangan bertahun-tahun.

Benang merah dari semua pembanding ini sederhana. Naturalisasi dan model diaspora bisa sangat berhasil bila ditopang sistem yang benar, seperti Maroko, dan bisa jadi jalan buntu bila cuma menjadi tambalan instan tanpa fondasi, seperti yang dikhawatirkan terjadi pada beberapa negara lain. Posisi Indonesia ada di antara keduanya, dan ke mana ia condong akan ditentukan oleh apa yang dilakukan setelah euforia mereda.

Kalau ada satu model yang pantas ditiru, Maroko adalah kandidat terkuat. Kuncinya bukan sekadar merekrut pemain diaspora, melainkan membangun jaringan pemandu bakat yang rapi di Eropa, lalu memadukannya dengan pembinaan dalam negeri sehingga keduanya saling mengisi, bukan saling meniadakan. Indonesia, dengan jutaan keturunan tersebar di Belanda dan negara lain serta pasar domestik yang lapar prestasi, punya bahan untuk itu. Tantangannya adalah kesabaran kelembagaan: membangun sistem butuh waktu lebih panjang daripada satu periode kepengurusan, dan godaan untuk terus mengambil jalan cepat akan selalu ada selama hasil instan masih bisa dibeli.

Apa Selanjutnya? Piala Asia 2027 dan Mimpi 2030

Jadi, ke mana arahnya? Jendela berikutnya sudah di depan mata.

Seorang pelatih berkaus abu-abu klub PSIS Semarang menunjuk dan memberi arahan dalam sesi latihan di lapangan terbuka, dengan pemain berompi kuning dan sebuah gawang di belakangnya.
Foto: Explore psis via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

Indonesia lolos ke Piala Asia 2027 di Arab Saudi dan tergabung di Grup F bersama Jepang, Qatar, dan Thailand (Antara), undian yang berat. Setelah gagal ke Piala Dunia 2026, PSSI menetapkan target baru: menembus 100 besar FIFA, tampil kuat di Piala Asia 2027, dan membidik Piala Dunia 2030. Pelatih John Herdman sempat dikabarkan menyusun sejumlah pemain keturunan baru untuk siklus berikutnya, meski nama-namanya belum dikonfirmasi resmi, sehingga spekulasi yang beredar sebaiknya diperlakukan sebagai rumor, bukan fakta. Pertanyaan besarnya tetap sama: apakah gelombang kedua akan memperdalam fondasi, atau justru menunda lagi pekerjaan rumah yang sesungguhnya.

Target yang dipasang pun eksplisit. Setelah gagal ke Piala Dunia, PSSI menyebut sasaran menembus 100 besar peringkat FIFA, tampil kompetitif di Piala Asia 2027, lalu membidik Piala Dunia 2030 sebagai puncak. Untuk itu, pencarian pemain keturunan tampaknya akan berlanjut; sejumlah nama diaspora muda sempat dikabarkan masuk radar pelatih, meski perlu ditegaskan bahwa nama-nama yang beredar di media masih sebatas spekulasi dan belum dikonfirmasi secara resmi oleh PSSI maupun Kementerian Hukum. Memperlakukan rumor sebagai fakta justru akan mengulang kesalahan yang sama yang sering menjangkiti pemberitaan sepak bola.

Profil usia skuad justru memberi secercah optimisme bagi pendukung program ini. Sebagian besar pemain inti masih berada di rentang usia pertengahan 20-an, dan dua rekrutan terbaru, Mitchell Baker dan Luke Vickery, masih 19 dan 20 tahun, pertanda PSSI mulai memburu pemain keturunan yang lebih muda agar generasi ini bisa bertahan lebih lama. Tetapi usia muda saja tak cukup. Kalau undang-undang dwi-kewarganegaraan terbatas benar-benar disahkan, jalur ini bisa menjadi lebih aman secara hukum dan lebih berkelanjutan. Kalau tidak, Indonesia akan terus bergantung pada celah administratif dan niat baik segelintir pengurus, sebuah pondasi yang, sebagaimana Paspoortgate tunjukkan, bisa retak sewaktu-waktu.

Ujian terdekatnya ada di Piala Asia 2027. Tergabung bersama Jepang, Qatar, dan Thailand, Indonesia akan diukur bukan lagi melawan tim medioker, melainkan melawan sebagian tim terbaik benua sekaligus rival bebuyutan kawasan. Di sinilah akan ketahuan apakah lompatan dari peringkat 151 ke 118 betul-betul mencerminkan kenaikan kelas yang berkelanjutan, atau sekadar efek kejut sesaat. Target jangka panjangnya, Piala Dunia 2030, terdengar ambisius; tetapi setelah menjuarai turnamen regional dan menembus babak yang belum pernah dicapai, mimpi itu tak lagi terdengar mustahil, hanya belum pasti.

Satu Pelajaran yang Bisa Dibawa Pulang

Setelah semua angka dan perdebatan, apa yang sebetulnya dibeli Indonesia dengan proyek ini?

Bola sepak di atas rumput hijau lapangan, difoto dari ketinggian permukaan rumput dengan latar belakang yang kabur.
Foto: Peter Glaser (baraida) via Wikimedia Commons (CC0).

Pertanyaan ini penting diajukan tanpa emosi, karena mudah sekali terjebak di dua kutub: memuja proyek ini sebagai mukjizat, atau mencibirnya sebagai pengkhianatan. Keduanya keliru. Naturalisasi bukan sihir dan bukan dosa; ia keputusan strategis yang, seperti semua keputusan, punya biaya dan manfaat yang harus ditimbang dengan kepala dingin, bukan dengan euforia atau kebencian.

Jawaban jujurnya: naturalisasi membeli harapan, relevansi, dan stadion yang kembali penuh. Ia memberi sebuah generasi penggemar alasan untuk percaya lagi, dan itu bukan hal sepele di negara yang lama patah hati oleh timnasnya sendiri. Tetapi ada hal-hal yang tak bisa dibeli dalam hitungan bulan: sistem pembinaan yang sehat, lapangan yang layak di tiap kota, dan identitas yang betul-betul selesai dengan dirinya sendiri. Trofi FIFA ASEAN Cup membuktikan uang dan strategi bisa mempercepat banyak hal; kegagalan ke Piala Dunia mengingatkan bahwa ada plafon yang tak bisa ditembus hanya dengan paspor baru.

Ada cara yang lebih adil untuk menilai proyek ini daripada sekadar pro atau kontra. Naturalisasi, pada dasarnya, adalah alat, dan alat dinilai dari apa yang dibangun dengannya. Maroko memakainya untuk melengkapi sistem yang sudah sehat, dan hasilnya semifinal Piala Dunia. Beberapa negara lain memakainya sebagai penambal lubang, dan gelombangnya surut begitu lawan menyesuaikan diri. Indonesia, dengan pasar 280 juta orang dan kecintaan pada sepak bola yang nyaris tak ada tandingannya di Asia Tenggara, punya bahan mentah untuk menjadi seperti Maroko. Yang belum terbukti adalah apakah ia punya kesabaran dan sistem untuk mengubah momentum pinjaman ini menjadi fondasi milik sendiri.

Ujian sebenarnya bukan pada bintang naturalisasi berikutnya, melainkan pada apakah seorang anak yang menggiring bola di gang sempit Jakarta dan seorang remaja Indo-Belanda di pinggiran Rotterdam sama-sama bisa melihat jalan yang jelas menuju lambang Garuda di dada. Kalau gelombang ini dipakai untuk membiayai dan mempercepat pembenahan itu, ia layak dirayakan. Kalau ia berhenti sebagai jalan pintas yang nyaman, Indonesia hanya akan menukar satu patah hati dengan patah hati yang lebih mahal di kemudian hari. Untuk sekarang, nikmati dulu gelarnya, lalu tagih pekerjaan rumahnya.

Maka malam di Gelora Bung Karno itu sebaiknya dinikmati apa adanya: sebuah perayaan yang sah, hasil kerja keras dan strategi, bukan sulap. Tetapi perayaan yang matang selalu datang dengan tagihan keesokan paginya. Garuda memang sudah naik kelas; pertanyaannya tinggal apakah ia akan tinggal di sana dengan kaki sendiri, atau turun lagi begitu tangga pinjamannya ditarik. Jawabannya tidak ada di Belanda, melainkan di lapangan-lapangan kampung, akademi, dan ruang rapat federasi di dalam negeri, tempat masa depan sepak bola Indonesia sesungguhnya ditentukan.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apa sebenarnya naturalisasi di sepak bola itu?
Proses seorang pemain kelahiran/warga negara lain menjadi warga negara Indonesia agar bisa membela Timnas. Di Indonesia dipakai Pasal 20 UU 12/2006 (“berjasa/kepentingan negara”) dengan persetujuan DPR, sementara kelayakan bermainnya diatur Statuta FIFA yang mensyaratkan ikatan nyata seperti kakek-nenek lahir di Indonesia.

Apakah Indonesia lolos Piala Dunia 2026?
Tidak. Indonesia tersingkir di putaran keempat kualifikasi zona Asia pada Oktober 2025 setelah kalah dari Arab Saudi dan Irak. Namun Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 pada 5 Oktober 2026, mengalahkan Thailand lewat adu penalti.

Berapa banyak pemain yang dinaturalisasi?
Sekitar 26 pesepak bola putra disumpah menjadi WNI antara November 2022 dan pertengahan 2026, 23 di antaranya pada era Erick Thohir. Angka ini berbeda-beda tergantung periode penghitungan. Di skuad FIFA ASEAN Cup 2026, 17 dari 23 pemain adalah hasil naturalisasi.

Apakah mereka benar-benar punya darah Indonesia?
Sebagian besar punya orang tua atau kakek-nenek Indonesia, dan beberapa berasal dari keturunan Indo-Belanda era kolonial. Aturan FIFA mensyaratkan ikatan nyata, dan proses Indonesia berjalan melalui DPR. Hanya Emil Audero yang lahir di Indonesia.

Apakah pemain dibayar untuk mau dinaturalisasi?
Erick Thohir membantahnya dan menyebut mereka “membela dari hati, bukan uang”. Tidak ada sumber kredibel yang membuktikan pembayaran; tuduhan semacam itu beredar sebagai rumor yang dibantah resmi.

Kenapa naturalisasi diperdebatkan kalau hasilnya bagus?
Karena ada kekhawatiran soal nasib pemain lokal, pembinaan usia muda, identitas tim, dan kerapuhan hukum (seperti kasus “Paspoortgate” di Belanda). Meski begitu, survei 2024 menunjukkan sekitar 71,5 persen publik tetap mendukungnya.

Siapa pelatih Timnas Indonesia saat ini?
John Herdman, yang ditunjuk pada 3 Januari 2026 menggantikan Patrick Kluivert. Ia membawa Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Sebelumnya, tim ditangani Shin Tae-yong (2019–awal 2025) lalu Kluivert (2025).

Apakah negara lain juga menaturalisasi pemain?
Ya, dan banyak. Maroko melaju ke semifinal Piala Dunia 2022 dengan 14 dari 26 pemain lahir di luar negeri; Qatar dan Prancis juga memakai pemain keturunan. Tetapi ada pula pelajaran pahit: pada 2025, FIFA menghukum federasi Malaysia karena memalsukan dokumen keturunan tujuh pemainnya. Proses Indonesia, yang berjalan lewat DPR dan Keppres, berbeda dari pemalsuan itu.

Apa itu “Paspoortgate”?
Peristiwa pada 2026 saat sejumlah pemain naturalisasi kehilangan kewarganegaraan Belanda secara otomatis (karena Belanda melarang dwi-kewarganegaraan) sehingga sempat terkendala izin kerja di klub-klub Eropa. Gugatan laga ulang oleh sebuah klub Belanda ditolak pengadilan pada Mei 2026, dan kejadian ini mendorong wacana undang-undang dwi-kewarganegaraan terbatas di Indonesia.

Catatan Angka & Metode Riset

Artikel ini disusun dari riset lintas-sumber yang diverifikasi secara independen. Beberapa catatan:

  • Dua turnamen berbeda. FIFA ASEAN Cup 2026 (juara) berbeda dari ASEAN Championship/Piala AFF 2026 (tersingkir fase grup). Keduanya tidak dicampur.
  • Piala Dunia. Indonesia TIDAK lolos Piala Dunia 2026; tersingkir di putaran keempat. Tanggal laga Jeddah ditulis dalam waktu setempat (8 dan 11 Oktober 2025); dalam WIB jatuh pada 9 dan 12 Oktober.
  • Jumlah pemain berbeda-beda menurut periode (14/17/19/25/26). Angka ~26 mencakup Nov 2022–Jul 2026; 23 di era Thohir. Disajikan sebagai kisaran.
  • Penonton. Kehadiran GBK berkisar 55–70 ribu; final ~67 ribu tiket terjual. Tidak diklaim sebagai “rekor”.
  • Nilai pasar pemain mengacu Transfermarkt sebagaimana dikutip Jawapos (Maret 2026), dan dapat berubah.
  • Keuangan & klaim. Angka keuangan PSSI serta pernyataan pejabat adalah klaim masing-masing sumber pada tahunnya; dukungan pemerintah dan kebutuhan dana memakai definisi/periode berbeda sehingga tidak digabungkan.
  • Yang tidak dipakai. Nama “pemain baru” yang beredar hanya rumor; tuduhan pembayaran, insiden lirik lagu, dan kaitan ke kasus hukum yang tak berhubungan tidak dimasukkan karena tak terverifikasi.

Artikel ini dirangkum dari:

  • FIFA, Statuta 2024 (RGAS, kelayakan pemain) tautan
  • FIFA, pembaruan pedoman kelayakan pemain (10 Sep 2026) tautan
  • UU No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan tautan
  • PP No. 2 Tahun 2007 tautan
  • Inpres No. 3 Tahun 2019 (percepatan sepak bola nasional) tautan
  • Antara, Indonesia juara FIFA ASEAN Cup 2026 (6 Okt 2026) tautan
  • The Jakarta Post, Indonesia juara FIFA ASEAN Cup (6 Okt 2026) tautan
  • Tempo, Indonesia gagal lolos Piala Dunia 2026 (12 Okt 2025) tautan
  • Al Jazeera, Indonesia & Kluivert berpisah (16 Okt 2025) tautan
  • Republika, PSSI memberhentikan Shin Tae-yong (6 Jan 2025) tautan
  • CNN Indonesia, Erick Thohir jadi Menpora & PSSI (17 Sep 2025) tautan
  • CNN Indonesia, laporan keuangan PSSI Rp722 miliar (3 Agu 2026) tautan
  • iNews/RCTI+, Herdman “kita semua Indonesia” (26 Sep 2026) tautan
  • Databoks, survei dukungan naturalisasi 71,5% (6 Nov 2024) tautan
  • Databoks, tren komposisi skuad naturalisasi vs lokal tautan
  • The Jakarta Post, editorial “Erick’s naturalization gamble” (5 Apr 2025) tautan
  • Foreign Policy, “Indonesia go Dutch” (14 Okt 2024) tautan
  • AFP via Gulf News, “Indonesia go Dutch in pursuit of World Cup dreams” (13 Nov 2024) tautan
  • Frontiers in Sports and Active Living, analisis framing media (15 Jul 2025) tautan
  • The Asian Game, kekhawatiran Sergio van Dijk (18 Mar 2025) tautan
  • CNN Indonesia, pesan Indra Sjafri soal label “keturunan” (27 Mar 2024) tautan
  • Jawapos, Erick Thohir “membela dari hati, bukan uang” (20 Apr 2024) tautan
  • RM.id, usulan pangkas kuota asing & jatah menit U-23 (16 Jul 2025) tautan
  • JPNN, syarat Komisi X DPR atas naturalisasi (16 Jun 2026) tautan
  • SCMP/Reuters, pengadilan Belanda tolak gugatan “Passportgate” (4 Mei 2026) tautan
  • Kompas, usulan dwi-kewarganegaraan terbatas (23 Jul 2026) tautan
  • Reuters via Gulf News, kontingen kelahiran asing Maroko (11 Des 2022) tautan
  • Foreign Policy, naturalisasi Qatar (16 Des 2022) tautan
  • Al Jazeera, sanksi FIFA atas Malaysia (7 Okt 2025) tautan
  • CNBC Indonesia, kisah nenek Maarten Paes di Kediri (12 Sep 2024) tautan
  • Jawapos, nilai pasar pemain Timnas (10 Mar 2026) tautan
  • The Jakarta Post, Indonesia kalahkan Arab Saudi 2–0 (21 Nov 2024) tautan
  • Antara, undian Piala Asia 2027 (Grup F) tautan
EXPLORE 20FIT

More ways to move.