Dan Makassar Turut Bermain Padel
Padel tengah menjadi sebuah fenomena di Makassar, padahal beberapa tahun lalu nyaris tidak ada yang kenal. Olahraga ini dimainkan bukan sekadar untuk menjadi lebih bugar, tetapi sebagai sarana bersosialisasi sekaligus simbol gaya hidup urban. Di sana, mereka berkumpul, membangun …
Padel tengah menjadi sebuah fenomena di Makassar, padahal beberapa tahun lalu nyaris tidak ada yang kenal. Olahraga ini dimainkan bukan sekadar untuk menjadi lebih bugar, tetapi sebagai sarana bersosialisasi sekaligus simbol gaya hidup urban. Di sana, mereka berkumpul, membangun relasi, hingga menunjukkan eksistensi sosial.
Salah satu indikatornya adalah jumlah lapangan padel di Makassar melonjak drastis. Saat ini setidaknya sudah ada 50 lebih lapangan padel yang tersebar di berbagai kawasan di Kota Makassar, sejak lapangan perdana yang disebut berdiri pada tahun 2024. Bagi warga Makassar, padel menawarkan sesuatu yang istimewa: mudah dimainkan, tidak terlalu teknis, dan sangat sosial, setidaknya empat orang bisa bermain sambil berbincang dan tertawa.
Alpha Padel yang berlokasi di Mal Phinisi Point (Pipo) menjadi salah satu pionir lapangan padel yang menancapkan tonggak dimulainya demam padel di kota Anging Mammiri maupun Provinsi Sulawesi Selatan. Tansil, salah satu pemilik dari Alpha Padel, menyebut lokasi pusat kota yang mereka pilih bukan tanpa alasan. Hal ini mengingat latar belakang pribadinya yang pernah berbisnis lapangan mini soccer.
“Dari pengalaman mengelola mini soccer di tengah kota, saya melihat peluang besar untuk membawa padel ke Makassar. Lokasi Mal Pipo dipilih karena fasilitas yang lengkap sekaligus mudah dijangkau warga,” ujar Tansil.
Terus bermunculan
Seiring minat masyarakat yang meningkat, lapangan-lapangan baru pun bermunculan. Misalnya Terra Court yang berada di Jalan Yusuf Daeng Ngawing menawarkan konsep lapangan yang ramah bagi pemula. Pemiliknya, Dwiyanto Ari Wibowo, menginginkan agar siapa pun yang pertama kali mencoba padel bisa nyaman bermain. Mereka juga menyiapkan coaching class bagi pemain pemula yang ingin belajar.
Terra Court menawarkan sewa lapangan untuk padel yang dipatok Rp300.000 per jam sementara untuk penggunaan seperti pickleball ditawarkan di angka Rp150.000 per jam termasuk perlengkapan. Sebanyak tiga lapangan padel serta kapasitas 70 orang, Terra Court juga membangun fasilitas kafe untuk membangun ruang bertemu komunitas yang hangat.
Lapangan padel lainnya juga hadir dengan identitas yang mencolok, untuk menjawab keinginan dari pemain yang beraneka rupa. Padel Qu yang berada di kawasan Tanjung Bunga, misalnya, menawarkan pengalaman bermain padel dalam balutan fasilitas premium.
Celebes Padel Hub juga diresmikan Senin (27/4/2026) di kawasan Summarecon Mutiara Makassar. Executive Director Summarecon Mutiara Makassar, Indra W. Antono, menjelaskan bahwa kehadiran fasilitas padel ini menjadi bagian dari komitmen membangun Summarecon Mutiara Makassar sebagai kawasan terpadu yang mendukung kualitas hidup penghuninya. Lapangan padel ini dilengkapi dua double court dan satu single court, pertama di Makassar, dilengkapi fasilitas ruang ganti, musala, hingga area kafe.
Fenomena ini menunjukkan bahwa padel telah menjadi olahraga yang mainstream dan menjadi bagian dari gaya hidup warga. Dengan harga yang bervariasi dari Rp200.000 hingga Rp300.000 per jam, padel menjadi olahraga yang terjangkau bagi kalangan menengah ke atas serta makin dinikmati karena bisa menikmati pengalaman sosial dan rekreasi sekaligus dalam satu paket.
Event sebagai penggerak
Ekosistem padel di Makassar juga makin bergeliat berkat intensitas event yang terus digelar oleh komunitas yang terus menggeliat. Salah satu momennya adalah Wali Kota Padel Cup 2025 yang digelar oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Makassar, yang berlangsung pada tanggal 27-28 September 2025 di Bosowa Sport Center.
Menurut Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, ajang tersebut menjadi ruang kompetisi sekaligus membangun kebersamaan melibatkan banyak pihak seperti perangkat daerah. “Kegiatan ini bukan hanya soal olahraga, tapi juga nilai prestasi bagi para pecinta padel di Makassar,” ujarnya.
Begitu pula turnamen berskala nasional, BRI South Sulawesi Padel Open 2025, yang digelar pada tanggal 28-30 November 2025 di Top Spin Arena Makassar. Turnamen tersebut menawarkan total hadiah hingga Rp100 juta, menjadikannya turnamen paling bergengsi di kawasan Indonesia Timur. Sekitar 200 pemain dari berbagai daerah di Indonesia turut serta dalam kategori Men’s Open dan Women’s Open.
Geliat padel yang berbasis kolaborasi gaya hidup seperti MCN Fun Padel 2026 digelar pada bulan April 2026 di Rebound Padel Makassar. Turnamen ini diikuti oleh 46 pasangan tim dalam kategori Mix Double dan Woman Double.
Di luar event besar tersebut, komunitas padel juga tumbuh secara organik. Banyak kelompok bermain terbentuk dari kalangan pekerja, pelaku usaha, hingga komunitas olahraga lain yang rutin menggelar fun match dan latihan bersama.
Komunitas ini menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan tren padel. Dari aktivitas sederhana tersebut, lahir pemain-pemain baru yang kemudian berkembang ke level kompetisi yang lebih serius.
Wali Kota Ikut Main
Antusiasme padel di Kota Makassar tidak lepas dari kiprah Munafri selaku Wali Kota Makassar yang turut membantu mempercepat popularitas bermain padel. Munafri memilih untuk terjun ke lapangan dan bermain bersama komunitas, pejabat hingga warga umum.
Munafri mengaku mulai tertarik dengan padel karena karakter olahraganya yang ringan namun tetap kompetitif. Ia melihat padel sebagai olahraga yang “cepat membuat orang ketagihan”.
“Padel ini unik. Hampir tidak ada orang yang sudah mencoba lalu berhenti. Selain olahraga, ini sudah menjadi gaya hidup dan ruang silaturahmi,” katanya.
Dari pengalamannya bermain, ia menilai padel memiliki keunggulan dibanding olahraga lain: mudah dimainkan oleh berbagai kalangan, tidak terlalu teknis bagi pemula, dan memiliki unsur sosial yang kuat. Dengan demikian, padel bisa dimainkan oleh siapa saja, dari orang tua, anak muda.
Sebagai kepala daerah, Munafri melihat fenomena ini dari dua sisi: gaya hidup dan ekonomi. Ia menilai pertumbuhan padel membawa dampak langsung terhadap perputaran ekonomi kota. Mulai dari investasi pembangunan lapangan, penyediaan fasilitas pendukung seperti kafe dan lounge, hingga munculnya profesi baru seperti pelatih (coach).
“Lapangan padel ini masuk kategori pajak ketangkasan. Artinya ada kontribusi langsung ke pendapatan daerah. Belum lagi lapangan kerja yang tercipta,” jelasnya.
Munafri bahkan mengungkapkan rencana pembangunan sekitar 20 lapangan padel baru di Makassar untuk memperluas akses masyarakat terhadap olahraga ini untuk berlatih dan berkompetisi. Dia juga turut mendorong event padel agar ditingkatkan agar menjadi pemicu lahirnya atlet-atlet baru dari Makassar yang bisa bersaing di level nasional maupun internasional.
Masalah Regulasi
Namun di balik euforia tersebut, muncul tantangan yang tidak bisa diabaikan, yakni perkara regulasi. Hal ini berdasarkan indikasi sejumlah lapangan padel yang telah dibangun tapi belum semua mengantongi kelengkapan izin. Ini menjadi salah satu temuan dari DPRD Makassar.
Sekretaris Komisi A DPRD Makassar, Irwan Djafar, menegaskan bahwa kepatuhan terhadap aturan adalah hal mutlak. Ia menambahkan, alasan biaya operasional atau kebutuhan bisnis tidak dapat dijadikan pembenaran untuk melanggar aturan.
“Kami jelas dan tegas, sebelum membangun dan beroperasi, semua izin harus tuntas. Tidak ada toleransi bagi yang membandel,” ujarnya.
Selain itu, keluhan warga mulai bermunculan, mulai dari kebisingan, sorotan lampu lapangan pada malam hari, hingga persoalan parkir yang memicu kemacetan di kawasan permukiman.
Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Penataan Ruang (Distaru) juga telah melayangkan teguran kepada sejumlah pengelola. Beberapa di antaranya bahkan kedapatan menjalankan usaha tambahan seperti kafe tanpa izin yang sesuai.
“Izin olahraga dan izin kafe tidak bisa disatukan. Jika ada aktivitas tambahan, wajib mengurus izin sesuai KBLI,” tegas Kepala Distaru, M. Fuad Azis. (*)
Laporan dari Kontributor Makassar, Ina Maharani