Kembali
LIFESTYLE 6 min read 13 July 2026

Padel Anak di Surabaya Kian Populer, Orang Tua Mulai Ajak Anak Berlatih Bersama

Padel merupakan olahraga raket yang dimainkan secara berpasangan di lapangan berdinding kaca. Sekilas olahraga ini menyerupai tenis, namun menggunakan lapangan yang lebih kecil serta memungkinkan bola memantul ke dinding selama permainan berlangsung. Karakter tersebut membuat pad…

Padel Anak di Surabaya Kian Populer, Orang Tua Mulai Ajak Anak Berlatih Bersama

Padel merupakan olahraga raket yang dimainkan secara berpasangan di lapangan berdinding kaca. Sekilas olahraga ini menyerupai tenis, namun menggunakan lapangan yang lebih kecil serta memungkinkan bola memantul ke dinding selama permainan berlangsung. Karakter tersebut membuat padel relatif mudah dipelajari oleh pemula, termasuk anak-anak, sehingga dalam beberapa tahun terakhir popularitasnya meningkat di berbagai kota di Indonesia, termasuk Surabaya.

Olahraga padel yang beberapa tahun terakhir identik dengan kalangan dewasa kini mulai menarik perhatian anak-anak di Surabaya. Seiring bertambahnya jumlah lapangan, komunitas, hingga turnamen, semakin banyak keluarga yang menjadikan padel sebagai aktivitas bersama. Fenomena tersebut tidak hanya memperlihatkan perubahan tren olahraga, tetapi juga mulai membuka peluang lahirnya pembinaan atlet usia dini di Kota Pahlawan.

Meningkatnya minat keluarga terhadap padel terlihat dari semakin banyaknya anak yang mulai ikut turun ke lapangan. Jika sebelumnya padel lebih banyak dimainkan orang dewasa sebagai olahraga rekreasi maupun kompetitif, kini aktivitas tersebut mulai berkembang menjadi olahraga keluarga yang dapat dinikmati lintas usia.

Padel Mulai Menjadi Olahraga Keluarga di Surabaya

Head Coach Berani Padel Academy, Irsada Arroissi, menilai perkembangan padel di Surabaya dalam satu hingga dua tahun terakhir berlangsung cukup pesat. Menurutnya, meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap olahraga ini mulai diikuti oleh ketertarikan anak-anak yang sebelumnya hanya datang menemani orang tua bermain.

“Kalau dulu anak-anak biasanya hanya menunggu di pinggir lapangan saat orang tuanya berlatih, sekarang mereka mulai ingin ikut memegang raket dan mencoba bermain. Ini menunjukkan padel mulai diterima sebagai olahraga keluarga,” ujar Irsada.

Ia mengungkapkan, sekitar 70 persen peserta coaching yang ditanganinya merupakan orang tua yang kerap membawa anak ke lapangan. Dari pengamatannya, sebagian besar anak awalnya menghabiskan waktu dengan bermain gadget selama menunggu sesi latihan selesai. Kondisi tersebut kemudian memunculkan kesadaran bahwa lapangan olahraga dapat dimanfaatkan sebagai ruang aktivitas yang lebih positif bagi anak.

“Kami melihat banyak anak duduk sambil bermain gadget ketika orang tuanya latihan. Padahal mereka sebenarnya bisa dikenalkan dengan aktivitas fisik yang menyenangkan. Dari situ terlihat bahwa anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap olahraga ini,” katanya.

Fenomena tersebut sejalan dengan meningkatnya perhatian orang tua terhadap pentingnya aktivitas fisik sebagai penyeimbang penggunaan gawai pada anak. Dengan melibatkan anak dalam olahraga sejak dini, waktu yang sebelumnya dihabiskan untuk bermain gadget dapat dialihkan menjadi aktivitas yang lebih aktif sekaligus mempererat interaksi antara orang tua dan anak.

Manfaat Padel bagi Anak: Melatih Motorik, Kebugaran, dan Kerja Sama

Menurut Irsada, salah satu alasan padel cepat diterima anak-anak adalah karena karakter permainannya yang relatif mudah dipelajari. Berbeda dengan beberapa olahraga raket lain yang membutuhkan teknik dasar cukup kompleks, padel memungkinkan pemain pemula menikmati permainan sejak awal tanpa harus menguasai teknik secara sempurna.

“Ukuran lapangan yang lebih kecil membuat anak tidak cepat lelah. Dinding kaca yang menjadi bagian dari permainan juga memberikan pengalaman yang unik sehingga terasa menyenangkan bagi mereka. Anak-anak biasanya menganggap pantulan bola dari kaca seperti sebuah tantangan atau permainan,” jelasnya.

Dari sisi perkembangan fisik, padel membantu anak melatih koordinasi mata dan tangan, keseimbangan tubuh, kelincahan, kecepatan reaksi, hingga kemampuan mengontrol gerakan. Aktivitas yang melibatkan banyak perubahan arah juga membuat anak terbiasa bergerak aktif tanpa merasa sedang menjalani latihan yang berat. Karena dikemas dalam bentuk permainan, anak cenderung menikmati proses belajar sambil tetap memperoleh manfaat kebugaran.

Selain mudah dimainkan, padel juga dimainkan secara berpasangan sehingga secara tidak langsung melatih kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, dan membangun interaksi sosial. Nilai-nilai tersebut dinilai menjadi salah satu alasan olahraga ini semakin diminati keluarga yang ingin mengenalkan aktivitas fisik sekaligus pembentukan karakter kepada anak.

Tidak hanya itu, permainan secara berpasangan juga mengajarkan anak untuk bekerja sama, saling memberi dukungan, serta berkomunikasi selama pertandingan berlangsung. Pengalaman tersebut membantu mengembangkan kemampuan sosial sekaligus melatih anak menghadapi situasi menang maupun kalah dengan sikap sportif.

Pembinaan Padel Usia Dini Berfokus pada Fondasi, Bukan Prestasi

Fenomena meningkatnya minat anak terhadap padel juga diikuti dengan mulai hadirnya pembinaan usia dini. Meski demikian, Irsada menegaskan pembinaan pada anak sebaiknya tidak berorientasi pada prestasi dalam waktu singkat, melainkan membangun fondasi gerak dan kecintaan terhadap olahraga.

Dalam pembinaan olahraga usia dini, tujuan utama bukan menghasilkan juara dalam waktu singkat, melainkan membangun fondasi kemampuan gerak yang akan menjadi bekal ketika anak memasuki tahap latihan yang lebih serius. Pendekatan tersebut juga membantu mengurangi risiko cedera maupun kejenuhan karena latihan disesuaikan dengan perkembangan usia.

Menurutnya, metode latihan untuk anak harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan fisik maupun psikologis. Anak usia 4 hingga 6 tahun lebih tepat dikenalkan melalui permainan motorik, koordinasi mata dan tangan, serta aktivitas yang membuat mereka senang bergerak. Setelah memasuki usia sekolah dasar, barulah teknik dasar, posisi bermain, hingga pemahaman permainan dikenalkan secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing.

“Anak-anak tidak boleh diperlakukan seperti atlet dewasa. Yang terpenting pada usia dini adalah mereka menikmati prosesnya terlebih dahulu. Kalau sejak awal sudah senang, mereka akan lebih mudah berkembang ketika teknik mulai diajarkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, latihan anak juga tidak hanya berisi teknik memukul bola. Berbagai aktivitas seperti latihan keseimbangan, koordinasi, reaksi, hingga permainan sederhana menjadi bagian penting untuk mendukung perkembangan kemampuan motorik. Pendekatan tersebut sekaligus membantu anak tetap antusias mengikuti latihan tanpa merasa terbebani.

Selain aspek fisik, pembinaan olahraga juga dinilai berperan dalam membentuk karakter. Melalui aktivitas latihan, anak-anak mulai belajar disiplin datang tepat waktu, menghormati pelatih dan teman bermain, bertanggung jawab terhadap perlengkapan yang digunakan, serta memahami arti sportivitas saat bertanding.

“Olahraga sebenarnya bukan hanya soal menang atau kalah. Yang lebih penting adalah membangun karakter, rasa percaya diri, dan kebiasaan hidup aktif sejak kecil,” kata Irsada.

Ia mengakui tantangan terbesar dalam pembinaan anak bukan terletak pada kemampuan teknik, melainkan menjaga motivasi mereka agar tetap konsisten berlatih. Setiap anak memiliki kecepatan belajar yang berbeda sehingga pelatih dan orang tua perlu memiliki ekspektasi yang sama bahwa perkembangan olahraga merupakan proses jangka panjang.

“Fokus kami pada usia dini bukan mengejar kemenangan dalam waktu singkat, tetapi membangun fondasi teknik, karakter, disiplin, dan kecintaan terhadap olahraga. Ketika coach, anak, dan orang tua memiliki tujuan yang sama, perkembangan anak akan jauh lebih optimal,” tuturnya.

Peran Orang Tua Menjadi Kunci Perkembangan Anak

Peran orang tua, lanjut Irsada, menjadi faktor yang tidak kalah penting dalam berkembangnya tren padel anak di Surabaya. Semakin banyak keluarga yang kini memanfaatkan waktu berolahraga sebagai aktivitas bersama, sehingga anak tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut merasakan pengalaman bermain sejak dini.

Di sisi lain, perkembangan padel di Surabaya juga terlihat dari meningkatnya jumlah komunitas dan pemain aktif. Berdasarkan data yang dimiliki Berani Padel Academy, komunitas mereka telah memiliki 1.018 anggota di Reclub dan 457 pemain aktif dalam grup WhatsApp. Angka tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga yang berasal dari Meksiko tersebut.

Surabaya Berpeluang Menjadi Pusat Pembinaan Padel Indonesia

Irsada optimistis tren tersebut akan terus berkembang seiring bertambahnya fasilitas olahraga dan semakin luasnya masyarakat yang mengenal padel. Menurutnya, kondisi ini menjadi momentum penting bagi Surabaya untuk mulai membangun jalur pembinaan usia dini yang lebih terstruktur sebagai upaya menyiapkan regenerasi atlet di masa depan.

Perkembangan padel di Surabaya juga menjadi bagian dari pertumbuhan olahraga ini secara nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah lapangan, komunitas, akademi, hingga turnamen padel terus bertambah di berbagai kota besar di Indonesia. Kondisi tersebut membuka peluang lahirnya lebih banyak atlet muda apabila pembinaan dilakukan secara konsisten sejak usia dini.

“Saya sangat optimistis terhadap masa depan padel di Surabaya. Pertumbuhan komunitas, jumlah lapangan, turnamen, dan minat masyarakat meningkat sangat pesat. Jika pembinaan dilakukan secara konsisten sejak usia muda, saya yakin Surabaya memiliki potensi besar menjadi salah satu pusat pengembangan atlet padel di Indonesia. Namun yang lebih penting, olahraga ini dapat melahirkan generasi muda yang sehat, disiplin, berkarakter, dan memiliki semangat sportivitas yang kuat,” pungkasnya.

Meningkatnya minat anak terhadap padel menunjukkan bahwa olahraga ini mulai berkembang tidak hanya sebagai tren gaya hidup, tetapi juga sebagai sarana membangun kebiasaan hidup aktif sejak usia dini. Dengan dukungan keluarga, pelatih, serta bertambahnya fasilitas olahraga di Surabaya, padel berpotensi menjadi salah satu pilihan olahraga anak yang semakin diminati sekaligus melahirkan bibit atlet masa depan. (*)

Laporan kontributor Surabaya, Sekar Arum

EXPLORE 20FIT

More ways to move.