Liburan yang Bikin Sehat: Ngintip Demam Wellness Tourism
Home / News

Liburan yang Bikin Sehat: Ngintip Demam Wellness Tourism

Industri wellness tourism hampir menyentuh US$1 triliun, sebagian warga Indonesia justru terbang ke luar negeri untuk sehat, dan Bali jadi taruhannya. Ini peta lengkapnya, dengan semua angka dan sumbernya.

On this page

    Pada satu pagi yang sama, dua pesawat lepas landas ke arah yang berlawanan. Yang satu membawa seorang pengusaha dari Jakarta ke Penang untuk medical check-up tahunan, sesuatu yang sudah ia lakukan bertahun-tahun karena, katanya, ia lebih percaya pada dokter di sana. Yang lain membawa seorang pekerja lepas dari Eropa ke Bali, tempat ia akan menghabiskan pagi di atas matras yoga dan sore di sebuah klinik kecil di Uluwatu, berbaring sambil cairan infus vitamin menetes pelan ke lengannya. Dua orang, dua arah, satu kata yang sama di kepala mereka: sehat.

    Keduanya adalah wajah dari fenomena yang belakangan disebut wellness tourism, perjalanan yang tujuannya bukan sekadar melihat tempat baru, melainkan pulang dalam keadaan lebih bugar, lebih tenang, atau setidaknya merasa begitu. Dan di persilangan dua pesawat itu tersembunyi sebuah ironi yang sedang berusaha dijawab Indonesia: pada saat dunia berbondong-bondong datang ke Bali untuk sehat, sebagian warga Indonesia sendiri justru terbang ke luar negeri untuk hal yang persis sama.

    Sawah terasering hijau di Jatiluwih, Bali, dengan pohon kelapa dan pegunungan berkabut di kejauhan
    Foto: Jorge Franganillo via Wikimedia Commons (CC BY 2.0).

    Artikel ini mencoba memetakan demam itu dari ujung ke ujung: seberapa besar sebenarnya industrinya, tren apa yang sedang membentuknya pada 2026, mengapa pemerintah Indonesia tiba-tiba menaruh taruhan sebesar ini, apa modal yang kita punya tetapi belum tergarap, siapa pesaing di sekitar kita, dan, yang paling jarang ditanyakan di tengah euforia, apakah “sehat” yang dijual dalam paket liburan ini benar-benar sehat, dan untuk siapa. Kita akan banyak memakai angka, tetapi selalu dengan sumbernya, karena di bidang yang penuh klaim ini, angka tanpa sumber sama berbahayanya dengan tidak ada angka sama sekali.

    Industri Triliunan yang Diam-Diam Meledak

    Mari mulai dari angka, karena angkanya memang sulit dipercaya. Menurut Global Wellness Institute (GWI), lembaga riset nirlaba yang paling sering dijadikan rujukan di bidang ini, ekonomi wellness global mencapai rekor US$6,8 triliun pada 2024, tumbuh 7,9 persen dalam setahun, dan diproyeksikan menembus hampir US$9,8 triliun pada 2029 (GWI). Untuk membayangkan besarnya: angka itu kira-kira 60 persen dari seluruh belanja kesehatan dunia, dan lebih besar daripada yang disebut “ekonomi hijau”. Sejak GWI pertama kali mengukurnya pada 2013 di angka US$3,4 triliun, nilainya sudah berlipat dua.

    Tetapi “ekonomi wellness” adalah payung raksasa yang berisi sebelas sektor, dari makanan sehat, kebugaran fisik, sampai real estat berkonsep sehat. Yang relevan untuk cerita kita adalah salah satu kepingnya: wellness tourism. Nilainya US$893,9 miliar pada 2024, naik 13,8 persen hanya dalam setahun, dan GWI memproyeksikannya menembus US$1 triliun pada 2026 lalu mencapai sekitar US$1,38 triliun pada 2029 (GWI Wellness Tourism). Dari sebelas sektor wellness, pariwisata kebugaran adalah yang keempat terbesar, menyumbang sekitar 13 persen dari total belanja wellness dunia.

    Untuk menempatkan angka itu dalam konteks, dari sebelas sektor wellness, pariwisata kebugaran bukan yang terbesar. Perawatan diri dan kecantikan memimpin dengan sekitar US$1,35 triliun, disusul makanan sehat serta aktivitas fisik yang masing-masing di atas US$1,1 triliun; wellness tourism yang US$894 miliar itu duduk di urutan keempat (GWI). Artinya, “liburan untuk sehat” hanyalah satu pintu dari rumah besar bernama ekonomi wellness. Tetapi ia pintu yang paling kelihatan, paling mudah dijual sebagai destinasi, dan karena itu paling diperebutkan oleh negara-negara yang kebetulan punya pantai, gunung, dan budaya untuk ditawarkan.

    Yang membuat pelaku industri dan pemerintah ngiler bukan cuma ukurannya, tetapi kualitas belanjanya. Data GWI menunjukkan turis wellness internasional menghabiskan rata-rata US$1.637 per perjalanan, sekitar 38 persen lebih banyak daripada turis internasional biasa; sementara turis wellness domestik membelanjakan 137 persen lebih banyak daripada pelancong domestik rata-rata (GWI). Inilah yang dalam bahasa pemasaran disebut turis “berkualitas tinggi”: sedikit orang, tetapi tinggal lebih lama dan membayar jauh lebih banyak. Dalam setahun, dunia mencatat sekitar 1,24 miliar perjalanan wellness, dan menariknya sekitar 87 persen di antaranya adalah perjalanan domestik, orang yang mencari kesehatan di negaranya sendiri.

    Secara kawasan, Asia-Pasifik adalah medan yang panas. Ekonomi wellness-nya mencapai sekitar US$2 triliun pada 2024, kira-kira sepertiga dunia, dan belanja wellness tourism-nya tumbuh paling cepat di antara semua kawasan, melonjak 31,2 persen dalam setahun ke sekitar US$215 miliar (GWI). Pertumbuhan secepat itu persis yang membuat negara-negara di kawasan, Indonesia termasuk, berebut sepotong kuenya.

    Ruang relaksasi spa di sebuah resor Bali dengan kolam rendam, lentera berlilin, dan seorang perempuan membaca di dipan
    Foto: Molly Dasca via Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0).

    Satu catatan kejujuran sejak awal. GWI adalah lembaga nirlaba yang sebagian didanai industri, dan laporan-laporannya disponsori perusahaan seperti Hyatt, Six Senses, dan Therme. Angka-angkanya adalah estimasi berbasis model, bukan sensus, dan direvisi tiap edisi. McKinsey, dengan definisi berbeda dan lebih sempit, yakni belanja konsumen, menaksir pasar wellness global sekitar US$2 triliun pada 2025 (McKinsey). Dua angka itu tidak bisa diperbandingkan langsung karena mengukur hal yang berbeda, dan sepanjang artikel ini kita akan berusaha tidak mencampuradukkannya.

    Tiga istilah yang sering tertukar

    Sebelum lebih jauh, ada tiga istilah yang kerap dipakai bergantian padahal berbeda, dan salah mengartikannya bisa membuat seluruh pembahasan meleset. Wellness economy adalah seluruh industri yang membantu orang menjalani gaya hidup sehat; inilah angka US$6,8 triliun tadi. Wellness tourism, menurut definisi resmi GWI, adalah “perjalanan yang terkait dengan upaya menjaga atau meningkatkan kesejahteraan pribadi”; sifatnya proaktif, dilakukan orang yang relatif sehat, dan inilah angka US$894 miliar. Sedangkan medical tourism adalah perjalanan untuk tindakan medis spesifik, seperti operasi, atau pemeriksaan penyakit; sifatnya kuratif, dan prosedur terseringnya justru bedah kosmetik, ortopedi, jantung, serta perawatan gigi. GWI sendiri mengakui batas antara wellness dan medical makin kabur, misalnya ketika resor spa mulai menawarkan tes darah dan diagnostik (GWI). Dalam kasus Indonesia, seperti akan kita lihat, justru medical tourism-lah yang jadi pemicu politiknya, sementara wellness tourism yang jadi bungkus promosinya.

    Kenapa Semua Orang Tiba-Tiba Ingin Liburan buat Sehat?

    Format liburan kebugaran sebenarnya bisa diciptakan kapan saja. Spa sudah tua, yoga apalagi, dan air panas sudah dipakai manusia sejak zaman batu. Lalu kenapa ledakan komersialnya baru terjadi sekarang? Jawaban yang paling sering muncul adalah pandemi. Setelah bertahun-tahun terkurung dan menyaksikan betapa rapuhnya kesehatan, jutaan orang keluar dengan hasrat baru: untuk merasa kuat, untuk mengendalikan tubuh sendiri di dunia yang terasa di luar kendali, dan untuk berada kembali di antara manusia lain secara fisik.

    Peserta kelas yoga pagi mengangkat tangan di atas matras dalam bale terbuka beratap alang-alang di Amed, Bali
    Foto: Tjioeke via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

    Lapisan kedua adalah ekonomi makna. Di banyak masyarakat, kesehatan bergeser dari sekadar kebutuhan menjadi penanda identitas dan status. Survei McKinsey terhadap ribuan konsumen di beberapa negara menemukan 84 persen responden Amerika menyebut wellness sebagai prioritas penting, dan yang paling menarik, generasi muda yang mendorong belanjanya. Gen Z dan milenial yang hanya sekitar sepertiga populasi dewasa AS ternyata menyumbang lebih dari 41 persen belanja wellness (McKinsey). Mereka juga menuntut lebih: McKinsey mencatat para pelancong kesehatan kini ingin pulang membawa keterampilan yang bisa dipakai sehari-hari, seperti rutinitas meditasi, nutrisi, atau latihan, bukan sekadar kenangan.

    Lapisan ketiga adalah media sosial, yang mengubah setiap pencapaian pribadi, termasuk foto di garis finis lomba lari atau di tepi kolam air panas, menjadi mata uang sosial. Di dunia yang serba tidak pasti, wellness menawarkan sesuatu yang langka: tantangan yang jelas, terukur, dan bisa ditaklukkan, lalu dipamerkan.

    Indonesia bukan penonton tren ini. Sebuah survei Nielsen 2025 yang dikutip Kementerian Pariwisata menyebut 86 persen orang Indonesia kini proaktif menjaga kesehatan (ANTARA). Dari ledakan klub lari di kota-kota besar sampai menjamurnya studio kebugaran fungsional di Kemang, Menteng, dan SCBD, pasar domestiknya sudah lebih dulu panas, jauh sebelum pemerintah repot menamainya. Pertanyaannya bukan lagi apakah orang Indonesia peduli kesehatan, melainkan ke mana uang itu mengalir.

    Peta Tren 2026: dari Umur Panjang sampai Hening Total

    Kalau Anda ingin tahu ke mana industri ini bergerak, perhatikan daftar tren tahunan yang dirilis Global Wellness Summit dan laporan-laporan prediksi perjalanan dari Booking.com, Skyscanner, hingga Hilton. Untuk 2026, ada beberapa tema yang muncul berulang kali, dan hampir semuanya sudah punya jejak di Indonesia.

    Pancuran berbentuk kepala naga mengalirkan air panas ke kolam pemandian Banjar di Bali, dikelilingi taman tropis
    Foto: Eric Bajart via Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0).

    Longevity: liburan demi umur panjang

    Bintang utama 2026 adalah longevity. Alih-alih sekadar dipijat, tamu datang untuk diperiksa: panel hormon, penanda metabolik, bahkan usia biologis, lalu seluruh program menginap disusun berdasarkan hasilnya. Jaringan travel mewah Virtuoso menyebut longevity sebagai segmen yang paling meledak, dengan pemesanan hotel bersegmen wellness naik 28 persen (Virtuoso). Pemainnya nyata dan harganya bikin menelan ludah. Clinique La Prairie di Montreux, Swiss, sudah berdiri sejak 1931 dan kini membuka “longevity hub” di kota-kota seperti Bangkok dan Dubai. SHA Wellness Clinic di dekat Alicante, Spanyol, bahkan sudah menawarkan program berbasis telomer sejak 2013, jadi ini bukan hal baru yang tiba-tiba ditemukan pada 2026. Ada pula RoseBar di Six Senses Ibiza yang menggandeng dokter selebritas, serta program Longevity8 di Canyon Ranch yang dibanderol sekitar US$22.000 per orang (MIT Technology Review). Yang terbaru, resor Mayrlife di Austria bahkan meluncurkan program khusus untuk tamu yang sedang memakai obat pelangsing GLP-1. Satu hal yang perlu dipegang: GWI justru menolak menjadikan longevity sebagai sektor tersendiri karena nilainya belum bisa diukur, jadi anggaplah ini tren yang panas, bukan angka pasti.

    Tidur, hening, dan lari dari gawai

    Tren kedua terdengar paling sederhana sekaligus paling mewah: tidur. Dalam survei Booking.com terhadap sekitar 29.000 pelancong di 33 negara, 75 persen tertarik pada kamar yang dirancang khusus untuk tidur berkualitas, lengkap dengan pencahayaan sirkadian dan lanskap suara (Booking.com). Ini bukan tren yang asing di Indonesia: Conrad Bali di Nusa Dua sudah menawarkan terapi tidur dalam kepompong hammock bernama SWAY sebagai bagian program JIWA Wellness (Honeycombers). Berkelindan dengan tidur adalah tren hening, yang oleh Hilton dijuluki “hushpitality”, sampai retret gelap total di mana tamu menghabiskan berhari-hari dalam kegelapan penuh. Peliputan yang jujur mengakui bukti ilmiah manfaat retret gelap masih tipis (Outside). Lawan dari semua itu adalah digital detox. Sebuah survei yang dikutip Globetrender menemukan 88 persen responden ingin mengurangi pemakaian ponsel saat liburan, tetapi, lucunya, 46 persen menganggap benar-benar lepas dari gawai itu “ekstrem” (Globetrender). Indonesia punya versinya sendiri yang jauh lebih dalam: resor Cap Karoso di Sumba menawarkan “Shamanic Healing Journey” tujuh malam yang berakar pada tradisi Marapu, dengan harga yang juga tidak main-main.

    Dari tidur lahir tren-tren turunan yang lebih spesifik. Booking.com menemukan hampir 80 persen responden terbuka pada “glow-cation”, perjalanan yang dirancang khusus untuk perawatan kulit dan estetika, dengan minat tertinggi justru di Asia-Pasifik. Dalam survei yang sama, sekitar 72 persen terbuka pada “stasiun hidrasi” yang dipersonalisasi dan 64 persen pada cermin pintar di kamar (Booking.com). Benang merahnya satu: hal-hal paling pribadi dalam hidup, tidur, kulit, bahkan air minum, kini dikemas, diberi harga, dan dijual sebagai alasan untuk terbang.

    Alam, air panas, dan tubuh yang digerakkan

    Air dan alam kembali jadi primadona. Skyscanner mencatat pencarian hotel dengan filter “kamar berpemandangan gunung” naik 103 persen dari tahun sebelumnya (Skyscanner), sementara sektor pemandian air panas dan mineral tumbuh double digit secara global. Dan ini bagian yang paling dekat dengan DNA pembaca 20FIT: olahraga menjadi alasan utama bepergian. Global Wellness Summit secara khusus menyebut “festivalisasi wellness, festival kebugaran partisipatif massal seperti HYROX” sebagai salah satu tren 2026 (Global Wellness Summit).

    Angka-angkanya menegaskan ini bukan sekadar perasaan. Sektor pemandian air panas dan mineral global bernilai sekitar US$72 miliar dan tumbuh belasan persen dalam setahun, sementara Skyscanner mencatat pencarian akomodasi dengan filter “perjalanan solo” melonjak 83 persen, pertanda makin banyak orang bepergian sendirian untuk memulihkan diri (Skyscanner). Minat pada pemandian air panas bergaya onsen juga naik tajam, sebuah tren yang, kalau jeli dibaca, justru sangat selaras dengan kekayaan air panas vulkanik yang dimiliki Indonesia dari Jawa Barat sampai Bali utara.

    HYROX adalah contoh paling gamblang. Ajang balap kebugaran hibrida ini menyatakan lebih dari 1,5 juta atlet ikut pada musim 2025/26 dan menargetkan 2 juta pada musim berikutnya, dengan Kejuaraan Dunia 2027 digelar di Hong Kong (Athletech News). Dan Indonesia sudah kejatuhan gelombangnya: HYROX Jakarta perdana digelar pada 27–28 Juni 2026 di NICE, PIK2, menarik sekitar 11.500 peserta, debut terbesar HYROX di Asia-Pasifik, dengan AirAsia sebagai mitra utama dan tiket tunggal dibanderol sekitar Rp2,5 juta (Katadata). Menariknya, di sela ingar-bingar itu, Kementerian Pemuda dan Olahraga mengingatkan bahwa tingkat partisipasi olahraga orang Indonesia baru sekitar 26 persen, jauh di bawah Vietnam yang 63 persen, sebuah pengingat bahwa demam kebugaran kelas menengah-atas belum tentu mencerminkan kebugaran bangsa. Lari menegaskan pola yang sama: undian London Marathon 2026 memecahkan rekor dengan 1,13 juta pendaftar, termasuk ratusan ribu dari luar Inggris (London Marathon Events).

    Tahun perempuan

    Terakhir, 2026 disebut “Year of Women” oleh Global Wellness Summit, dengan lonjakan program kebugaran dan longevity yang dirancang khusus untuk perempuan, dari klinik menopause sampai gym khusus perempuan. Datanya terasa sampai ke sini: Trip.com melaporkan pemesanan penerbangan oleh perempuan Indonesia naik lebih dari dua kali lipat, dan di Asia Tenggara sekitar enam dari sepuluh pelancong solo adalah perempuan (Trip.com Group). Artinya, sebagian besar mesin pertumbuhan wellness tourism di kawasan ini digerakkan oleh perempuan muda urban, persis profil yang juga meramaikan kelas yoga dan garis start HYROX.

    Mesin Besar: Uang dan Siapa yang Diuntungkan

    Kenapa semua pihak, dari jaringan hotel sampai pemerintah, berebut masuk? Jawabannya kembali ke premium belanja tadi. Seorang turis wellness tidak hanya membayar tiket masuk; ia membeli menginap berhari-hari, perawatan, kelas, makanan khusus, transportasi lokal, dan belanja. Di mata industri pariwisata, ia adalah pelanggan impian: sedikit orang, banyak uang, dan dalam banyak kasus jejak yang relatif lebih terkelola dibanding pariwisata massal.

    Kolam renang tanpa tepi di tebing sebuah resor mewah di Bali, lengkap dengan kursi berjemur, payung, dan laut biru di kejauhan
    Foto: Simon_sees via Wikimedia Commons (CC BY 2.0).

    Logika “sedikit tapi mahal” inilah yang menjelaskan kenapa negara-negara mengejarnya sebagai strategi, bukan sekadar bisnis hotel. Untuk sebuah destinasi yang ingin menaikkan pendapatan tanpa harus menambah jumlah kepala yang membebani jalan, air, dan sampah, turis wellness terdengar seperti jawaban sempurna. Mereka datang di luar musim ramai, menginap lebih lama, dan menghabiskan uang untuk jasa bernilai tambah tinggi, bukan sekadar oleh-oleh murah.

    Lalu siapa sebenarnya “turis wellness” yang diperebutkan itu? Mengenalnya penting, karena ia menentukan untuk siapa semua investasi ini sebetulnya dibuat. Hal pertama yang mengejutkan: sebagian besar dari mereka tidak pergi jauh-jauh. Dari sekitar 1,24 miliar perjalanan wellness pada 2024, hampir 87 persen adalah perjalanan domestik, orang yang mengejar kebugaran di negeri sendiri (GWI). GWI juga membedakan dua tipe. Turis wellness “primer” adalah mereka yang perjalanannya memang diputuskan demi kesehatan, misalnya khusus terbang untuk sebuah retret. Turis “sekunder” bepergian untuk alasan lain, urusan kerja atau liburan keluarga, lalu menyempatkan kelas yoga atau pijat di sela-sela. Mayoritas pasar justru tipe kedua, yang berarti wellness lebih sering menjadi “bumbu” perjalanan ketimbang satu-satunya tujuannya, sebuah nuansa yang gampang hilang di balik angka raksasa.

    Hal kedua, profil sosialnya cukup konsisten di berbagai studi: pelancong wellness cenderung orang yang sudah relatif sehat, mapan secara finansial, berpendidikan, sering bepergian, dan condong perempuan (van den Eynde, 2017). McKinsey menambahkan lapisan generasi. Gen Z dan milenial, meski hanya sekitar sepertiga populasi dewasa di pasar seperti Amerika, menggerakkan lebih dari 41 persen belanja wellness, dan mereka menuntut lebih dari sekadar relaksasi; mereka ingin pulang membawa “oleh-oleh” berupa keterampilan yang bisa dipakai, dari pola makan sampai rutinitas latihan (McKinsey). Enam area yang paling mereka buru, menurut McKinsey, adalah nutrisi fungsional, penuaan sehat, penampilan, layanan tatap muka termasuk wellness travel, pengelolaan berat badan, dan kesadaran diri.

    Hal ketiga, di Indonesia wajah turis wellness awal ini cukup gampang ditebak: kelas menengah-atas urban. Mereka adalah peserta HYROX Jakarta yang rela membayar sekitar Rp2,5 juta untuk satu lomba, pelari kota yang mengoleksi medali maraton, dan, semakin banyak, perempuan muda yang pemesanan perjalanannya melonjak lebih dari dua kali lipat (Trip.com Group). Menteri Pariwisata sendiri membingkainya sebagai pergeseran gaya hidup, sebuah “experience economy” di mana orang rela membayar lebih untuk pengalaman yang terasa autentik dan menyembuhkan. Titik berangkat pasar ini, dengan kata lain, memang eksklusif. Itu bukan dosa, tetapi perlu diingat baik-baik ketika nanti kita menakar janji besar “kesejahteraan untuk semua”.

    Namun justru di sinilah benih persoalan yang akan kita bahas di bagian akhir mulai tertanam. Jika produk yang dijual adalah “sehat” dengan harga puluhan juta rupiah per program, maka yang bisa membelinya adalah kelompok yang memang sudah mampu, sudah relatif sehat, dan sudah sering bepergian. Industri yang bendera jualannya “kesejahteraan untuk semua” ternyata, dalam praktiknya, sangat selektif soal siapa “semua” itu. Tahan dulu pikiran ini; kita akan kembali ke sana setelah melihat apa yang sedang dibangun Indonesia.

    Negeri yang Warganya Terbang untuk Sehat

    Sekarang kita masuk ke inti cerita Indonesia, dan ia dimulai dari sebuah luka, bukan dari kemenangan. Selama bertahun-tahun, sejumlah besar warga Indonesia yang mampu memilih berobat ke luar negeri. Angka pastinya berbeda-beda tergantung siapa yang bicara dan kapan, sehingga lebih jujur disajikan sebagai rentang ketimbang satu angka bulat yang terdengar meyakinkan tetapi menyesatkan.

    Penumpang dengan koper dan tas ransel menunggu di ruang tunggu gerbang Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta
    Foto: Gunawan Kartapranata via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

    Presiden Joko Widodo, dalam berbagai kesempatan, menyebut hampir dua juta warga berobat ke luar negeri setiap tahun, dengan taksiran kerugian devisa yang angkanya ikut bergerak seiring waktu, dari sekitar Rp97 triliun (US$6,8 miliar) pada akhir 2021, menjadi Rp165 triliun pada 2023, sampai US$11,5 miliar pada pertengahan 2023 (Bisnis.com). Pada pertengahan 2025, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memakai kisaran “antara satu sampai dua juta” orang dengan pengeluaran sekitar US$10 miliar atau Rp162 triliun setahun (Katadata). Yang paling bisa diverifikasi secara independen adalah sisi Malaysia: menurut Malaysia Healthcare Travel Council, orang Indonesia adalah penyumbang terbesar, dengan sekitar 968 ribu kedatangan pada 2025 yang menghasilkan RM2,2 miliar (New Straits Times). Di Penang, salah satu tujuan favorit, lebih dari 90 persen pasien asing disebut berasal dari Indonesia (The Star/ANN). Perlu dicatat, “kedatangan” tidak sama dengan “orang unik”, karena satu pasien bisa datang berkali-kali, sehingga angka-angka ini perlu dibaca dengan kepala dingin.

    Kenapa mereka pergi? Sebuah studi kualitatif yang terbit di jurnal Patient Preference and Adherence pada akhir 2025 mewawancarai pasien yang berulang kali berobat ke luar negeri dan menemukan polanya: pengalaman buruk di rumah sakit dalam negeri berpadu dengan persepsi bahwa mutu layanan di luar lebih tinggi (Meher & Zaluchu, 2025). Pasien menyebut dokter di Malaysia terasa lebih akurat dan komunikatif, waktu tunggu lebih pendek, alat lebih lengkap, bahkan staf di Penang bisa berbahasa Indonesia sehingga lebih mudah menjelaskan keluhan. Di belakang persepsi itu ada persoalan yang lebih struktural: Indonesia hanya punya sekitar 160 ribu dokter umum untuk 280 juta penduduk, dan butuh sekitar 120 ribu lagi untuk memenuhi rasio ideal WHO (Nikkei Asia via KrASIA). Dengan kata lain, arus ke luar bukan sekadar soal gengsi; sebagian besar adalah soal kepercayaan dan ketersediaan.

    Ke mana saja mereka pergi, dan kenapa justru ke sana? Menurut pemaparan Presiden Jokowi, sekitar satu juta orang ke Malaysia dan 750 ribu ke Singapura, sisanya menyebar ke Jepang, Amerika, Jerman, dan negara lain (Bisnis.com). Singapura, sebelum pandemi, bahkan menyebut separuh dari sekitar 500 ribu pasien asingnya per tahun berasal dari Indonesia (Asia Times). Malaysia menang bukan semata karena murah; studi kualitatif tadi mencatat pasien merasa dokternya lebih komunikatif, waktu tunggu lebih pendek, dan, hal yang sering diremehkan, banyak staf di Penang bisa berbahasa Indonesia sehingga keluhan lebih mudah dijelaskan. Artinya, “kebocoran” ini bukan sekadar soal orang kaya yang gengsi, melainkan cermin dari kepercayaan yang belum sepenuhnya terbangun di dalam negeri. Dan kepercayaan, tidak seperti gedung rumah sakit, tidak bisa diresmikan dalam satu upacara.

    Taruhan Negara: dari KEK Sanur sampai Permenpar

    Luka itulah yang mengubah wellness dan health tourism dari urusan gaya hidup menjadi urusan negara. Dan berbeda dari banyak retorika, kali ini taruhannya punya alamat yang konkret, beton yang sudah dicor, dan dokumen yang sudah diteken.

    Perahu wisata bersandar di perairan dangkal Pantai Sanur saat matahari terbit, dengan langit jingga terpantul di air tenang
    Foto: Wiaskara via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

    Rumah sakit internasional di tepi Sanur

    Pada 25 Juni 2025, Presiden Prabowo Subianto meresmikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur dan Bali International Hospital, KEK pertama di Indonesia yang khusus berfokus pada layanan kesehatan bertaraf internasional (Metro TV). Luasnya 41,26 hektare dengan target investasi sekitar Rp10,2 triliun. Rumah sakitnya, seluas 67 ribu meter persegi, dioperasikan Pertamina Bina Medika IHC dan dilengkapi 255 tempat tidur, delapan ruang operasi, dan 38 ruang ICU; bahkan empat dokter spesialis onkologi dari Singapura diundang berpraktik di sana untuk pertama kalinya (ANTARA). Tujuannya dinyatakan terang-terangan oleh Presiden: menahan arus warga yang berobat ke luar negeri dan devisa yang ikut terbang bersamanya.

    Dua hal perlu diluruskan agar tidak jadi mitos. Pertama, Mayo Clinic dari Amerika hanya berperan sebagai konsultan pengembangan, bukan pengelola rumah sakit (Asia News Network). Kedua, proyek ini bukan pekerjaan semalam; groundbreaking-nya sudah dilakukan sejak akhir 2021 dan sempat molor dari target awal. Proyek serupa menyusul di Batam, digarap Mayapada Group dengan komitmen sekitar Rp6,91 triliun dan menggandeng Apollo Hospitals dari India (KrASIA). Pola strateginya jelas: bangun pulau-pulau layanan kesehatan premium di destinasi wisata, lalu bujuk kelas atas Indonesia untuk berobat sambil berlibur di negeri sendiri.

    Skala proyeknya pun lebih besar daripada sekadar satu rumah sakit. KEK Sanur dibangun sebagai kawasan terintegrasi bernama The Sanur, proyek bernilai sekitar satu miliar dolar AS yang memadukan rumah sakit, hotel, dan fasilitas kebugaran, dengan pengembang utama perusahaan pelat merah InJourney dan pengelolaan rumah sakit oleh Pertamina Bina Medika IHC (KrASIA). Logikanya khas wellness tourism: pasien tidak datang untuk sakit lalu pulang, melainkan diajak tinggal, memulihkan diri, dan membelanjakan uang di satu ekosistem yang sama. Namun pertanyaan terbesarnya belum terjawab beton: apakah pasien yang selama ini terbang ke Penang dan Singapura benar-benar akan berpindah hanya karena kini ada rumah sakit mengkilap di tepi Sanur, atau apakah membangun kepercayaan butuh waktu jauh lebih lama daripada membangun gedungnya.

    Wellness masuk rencana strategis

    Secara kebijakan, wellness tourism masuk ke dokumen resmi lewat Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 7 Tahun 2025 tentang Rencana Strategis Kementerian Pariwisata 2025–2029, yang ditetapkan pada 11 Desember 2025 setelah Kemenparekraf dipecah menjadi Kementerian Pariwisata tersendiri (JDIH Kemenpar). Penting untuk tidak melebih-lebihkan. Dalam dokumen itu, wellness tourism adalah salah satu dari beberapa niche, bersama gastronomi, bahari, kemewahan, dan seni, di bawah program unggulan “Pariwisata Naik Kelas”. Intinya adalah pergeseran menuju turis berkualitas: target 2029 mematok perolehan devisa pariwisata US$32–39,4 miliar dengan pengeluaran per kunjungan US$1.600–1.672, naik signifikan dari baseline 2024 yang sekitar US$16,71 miliar devisa dan belanja per kunjungan sekitar US$1.392. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan, “Wellness tourism kami tetapkan sebagai salah satu fokus dalam pengembangan pariwisata berkualitas” (ANTARA).

    Wujud paling nyata dari niat itu adalah “Wonderful Indonesia Wellness”, yang edisi perdananya digelar sepanjang 1–30 November 2025 di Surakarta dan Yogyakarta, menggabungkan Royal Surakarta Wellness Festival dan Jogja Cultural Wellness Festival, dengan isi acara mulai dari ramuan herbal, penyembuhan energi, sampai kuliner sehat (Warta Ekonomi). Di tingkat antar-kementerian, Kemenpar dan Kemenkes meneken nota kesepahaman pada 21 November 2025 untuk menyusun peta jalan wisata kesehatan dan membentuk kelompok kerja bersama (Warta Ekonomi).

    Isi festivalnya sendiri berusaha menautkan wellness dengan akar budaya, bukan meniru resor asing. Royal Surakarta Wellness Festival, yang digarap bersama Keraton Kasunanan Surakarta, menawarkan “perendaman kearifan Jawa”, terapi lewat gamelan, dan resep rahasia keraton; sementara Jogja Cultural Wellness Festival mengangkat makanan dan herbal sehat, penyembuhan energi, sampai kecantikan alami (ANTARA). Pilihan panggungnya, dua kota keraton alih-alih Bali, terasa seperti pernyataan sikap: bahwa modal wellness Indonesia tidak harus selalu berwujud vila tepi pantai.

    Soal “potensi”, di sinilah banyak pemberitaan tergelincir, dan kita sengaja tidak ikut. Menkes Budi Gunadi Sadikin memang menyebut angka US$84 miliar di sebuah konferensi pada 12 Juni 2025. Tetapi dalam konteksnya, itu adalah tambahan belanja kesehatan nasional seandainya pola belanja orang Indonesia menyerupai Malaysia, yang ia tawarkan sebagai peluang investasi, bukan proyeksi pendapatan wisata kesehatan (ANTARA). Angka besar memang menggoda untuk dikutip bulat-bulat sebagai “pasar US$84 miliar”; justru karena itu ia perlu dibingkai apa adanya.

    Bali Naik Kelas: dari Spa ke Ruang Infus

    Kalau kebijakan adalah teorinya, Bali adalah laboratoriumnya. Pulau ini menerima 6.948.754 wisatawan mancanegara sepanjang 2025, naik 9,72 persen, dengan Australia menyumbang hampir seperempat dari seluruh kedatangan (BPS Bali). Dan wajah wellness-nya sedang bergeser dari citra lama yang serba rileks menjadi sesuatu yang lebih klinis.

    Paviliun beratap alang-alang dan kolam tanpa tepi melengkung yang menghadap lembah hutan tropis di Ubud, Bali
    Foto: Daria via Wikimedia Commons (CC BY 3.0).

    Dulu wellness Bali identik dengan spa dan retret yoga, terutama di Ubud yang sejak lama menjadi pusat yoga dengan studio seperti The Yoga Barn yang menawarkan lebih dari seratus kelas per minggu, resor seperti COMO Shambhala Estate yang berdiri di atas lahan 22 hektare di tepi hutan, serta Fivelements (The Jakarta Post). Lapisan spiritualnya juga kuat, dari ritual penyucian diri melukat di mata air suci seperti Tirta Empul. Belakangan muncul lapisan baru yang oleh sejumlah pelaku disebut medical wellness, berada di antara rumah sakit dan spa. REVĪVŌ Wellness Resort di Nusa Dua, misalnya, membuka Vitality Centre yang menawarkan diagnostik darah dan analisis hormon, lengkap dengan “peptide lounge” untuk terapi infus (Globetrender). Klinik-klinik kecil berbasis dokter yang menawarkan infus dan pemeriksaan darah juga bermunculan untuk melayani komunitas ekspatriat dan digital nomad berdurasi tinggal panjang; Indonesia bahkan punya visa khusus pekerja jarak jauh berjenis E33G dengan masa tinggal satu tahun (Kompas Travel). Perlu jujur: tren medical wellness ini masih ditopang contoh dan promosi, bukan data pasar yang terukur, sehingga lebih tepat dibaca sebagai gejala yang menguat, bukan gelombang besar yang sudah terverifikasi.

    Pergeseran ini punya mesin permintaannya sendiri. Bali kini menampung komunitas pekerja jarak jauh dan ekspatriat yang tinggal berbulan-bulan, kelompok yang rutin mencari pemeriksaan darah, infus pemulihan, dan kelas kebugaran, bukan sekadar pijat sekali jalan. Keluhan khas mereka pun berbeda dari turis biasa: kelelahan kronis, gangguan pencernaan, dan “burnout” kerja. Di titik inilah garis antara liburan, gaya hidup, dan layanan medis benar-benar lebur. Perlu dicatat sekali lagi, sebagian besar bukti soal “ledakan” medical wellness Bali masih berupa testimoni dan materi promosi pelaku usaha, bukan data pasar independen, sehingga lebih bijak dibaca sebagai arah yang menguat ketimbang tren yang sudah terukur.

    Pemerintah daerah dan pusat jelas membacanya sebagai peluang. Bali Wellness & Beauty Expo 2026, yang digelar pada 4–6 Juni di Sanur, menampilkan lebih dari 140 merek dari 90 peserta pameran, naik 35 persen dibanding edisi sebelumnya. Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, dalam pernyataannya, menegaskan ambisi itu tanpa malu-malu: “Kita harus menjadikan Bali destinasi wellness terbaik di dunia” (ANTARA). Pertanyaannya, apakah “terbaik di dunia” itu akan menetes ke bawah, atau hanya mengeras menjadi enclave mewah di tengah pulau yang penduduknya punya persoalan sendiri.

    Modal yang Belum Tergarap: Jamu, Keraton, dan Air Panas

    Di tengah kiblat ke klinik longevity dan diagnostik yang serba impor, ada ironi kedua: modal wellness paling khas Indonesia justru yang paling lama diabaikan. Padahal GWI, dalam profil yang disusun bersama kementerian, menyebut tradisi kebugaran Indonesia berakar lebih dari 2.000 tahun, memadukan pengaruh India, Tiongkok, dan Arab (GWI).

    Seorang perempuan berkebaya menuang jamu dari botol ke gelas, dengan bakul bambu berisi botol jamu di depannya, di tengah hutan
    Foto: Oki sobara via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

    Yang paling kuat secara simbolik adalah jamu. Pada 6 Desember 2023, UNESCO menetapkan “Budaya Sehat Jamu” (Jamu Wellness Culture) sebagai Warisan Budaya Takbenda dalam sidang ke-18 di Kasane, Botswana (UNESCO). Dalam deskripsi UNESCO, jamu telah dipraktikkan di Nusantara sejak sekitar abad ke-8, bertumpu pada konsep keseimbangan, dan sebagian besar peraciknya adalah perempuan dewasa yang mewariskan pengetahuan secara turun-temurun. Satu hal perlu diluruskan supaya tidak over-klaim: yang diakui UNESCO adalah praktik budayanya, bukan khasiat medis produknya. Pengakuan itu adalah panggung dan pelindung warisan, bukan sertifikat farmasi. Pemerintah pun mulai memainkannya; lewat Hari Jamu Nasional, Kemenparekraf kala itu menyatakan ingin memakai jamu sebagai daya tarik wellness tourism dan menjangkau generasi muda.

    Di luar jamu ada lanskap tradisi lain yang sama kayanya. Ada ritual lulur yang diyakini berasal dari tradisi persiapan pengantin di keraton Jawa, boreh herbal di Bali, dan kompleks pemandian kerajaan seperti Taman Sari di Yogyakarta yang dibangun pada masa Sultan Hamengkubuwono I (The Jakarta Post). Lalu ada air panas alami yang sudah lama menjadi produk wisata komersial, dari Sari Ater di Ciater, Subang, yang airnya bersumber dari kawah Tangkuban Parahu di lahan sekitar 30 hektare, sampai pemandian air panas Banjar di Buleleng, Bali utara, dan Toya Devasya di kaldera Batur, Kintamani (Kompas Travel). Perlu dicatat, banyak klaim kesehatan pada tempat-tempat ini datang dari pengelolanya sendiri, bukan dari studi independen.

    Kolam pemandian di kompleks Taman Sari, Yogyakarta, dengan tangga merah menuju menara di bawah langit biru
    Foto: CEphoto, Uwe Aranas via Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0).

    Tradisi spiritual pun punya tempat dalam peta ini. Ritual penyucian diri melukat di mata air suci seperti Tirta Empul, dengan empat belas pancurannya, sudah lama menarik pengunjung yang mencari ketenangan, bukan sekadar swafoto. Kementerian bahkan mengklaim wellness tourism menyumbang sekitar 13 persen dari kedatangan wisatawan mancanegara pada 2024 dan bahwa pelancong jenis ini cenderung tinggal lebih lama, meski angka itu perlu dibaca sebagai klaim kementerian yang belum diverifikasi secara independen (ANTARA).

    Dalam angka GWI, sektor spa Indonesia bernilai sekitar US$2,55 miliar dan sektor pengobatan tradisional serta komplementer sekitar US$5 miliar, besar tetapi sebagian besar belum diubah menjadi magnet wisata selevel resor mewah Bali. GWI sendiri memetakan pembagian peran yang masuk akal: Solo untuk jamu dan aromaterapi, Yogyakarta untuk tradisi keraton dan desa, Bali untuk kemewahan dan eko-retret. Modalnya ada; yang belum ada adalah eksekusi yang mengubahnya dari atraksi budaya menjadi produk kesehatan yang dipercaya pasar global.

    Pesaing di Halaman Sendiri

    Ambisi Indonesia tidak berjalan di ruang kosong. Tetangga-tetangganya sudah lebih dulu lari kencang, dan sebagian justru hidup dari pasien dan turis Indonesia.

    Halaman kompleks kuil Wat Pho di Bangkok dengan atap bertingkat berwarna oranye-hijau dan bendera kuning
    Foto: Diego Delso via Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0).

    Thailand adalah pemimpin wellness tourism di kawasan. GWI mencatat belanja wellness tourism di Thailand mencapai US$14 miliar pada 2024, tumbuh 36,4 persen dalam setahun dan menempatkannya di peringkat ke-15 dunia, sekitar tiga kali laju rata-rata global (GWI). Thailand memadukan spa kelas dunia, retret, dan rumah sakit papan atas; eksekutif Bumrungrad bahkan mengklaim negaranya sebagai nomor satu ASEAN dalam medical tourism, meski klaim itu adalah proyeksi industri, bukan data independen.

    Malaysia memilih jalur medical tourism dan menuainya. Pendapatan industrinya mencapai RM3,35 miliar pada 2025 dengan 1,8 juta pasien asing, dan orang Indonesia adalah mesin utamanya: sekitar 968 ribu kedatangan yang menyumbang RM2,2 miliar, alias kira-kira separuh pasien dan dua pertiga pendapatan, dengan layanan terlaris berupa health screening, gastroenterologi, onkologi, dan kardiologi (Bernama). Malaysia menargetkan pendapatan RM12 miliar pada 2030. Singapura, yang pernah menerima sekitar 500 ribu pasien asing setahun dengan separuhnya dari Indonesia, kini justru menggeser strategi ke perawatan kompleks karena jumlah pasien asingnya menurun, dari sekitar 20 persen menjadi 15 persen di salah satu jaringan rumah sakit besarnya (The Straits Times/ANN).

    Artinya, pertarungan Indonesia bukan merebut pasar baru dari nol, melainkan memulangkan pasiennya sendiri yang selama ini jadi tulang punggung industri tetangga. Keunggulan yang bisa dimainkan adalah harga, kedekatan geografis dan budaya, serta kekayaan tradisi. Tetapi, seperti diakui Menkes sendiri, mutu dan kepercayaan harus dikejar lebih dulu, karena pasien tidak akan pindah hanya karena dibujuk rasa nasionalisme.

    Lalu apa sebenarnya keunggulan yang bisa dimainkan Indonesia? Thailand menang lewat perpaduan spa kelas dunia dan rumah sakit tepercaya, dengan lama tinggal turis kesehatan yang panjang dan belanja besar; Malaysia menang lewat harga dan kedekatan. Indonesia punya tiga kartu yang tak dimiliki keduanya sekaligus: pasar domestik raksasa yang sedang lapar sehat, kekayaan tradisi dari jamu sampai melukat, dan, kalau KEK Sanur berhasil, rumah sakit bertaraf internasional di jantung destinasi wisata paling terkenal di Asia Tenggara. Masalahnya, kartu-kartu itu baru akan berarti kalau mutu dan kepercayaan benar-benar terbukti di lapangan, bukan sekadar dipromosikan di brosur dan pidato.

    Retakan di Balik Label “Sehat”

    Sejauh ini kita banyak menceritakan peluang. Tetapi liburan yang bikin sehat punya beberapa retakan yang jujur harus diperiksa, bukan untuk meremehkan, melainkan supaya pembaca tidak termakan jargon dan belanja sesuatu yang tak sepadan.

    Pantai Legian di Bali dipadati pengunjung saat sore: pedagang asongan berjalan di pasir dan banyak orang bermain di tepi ombak
    Foto: Dennis Sylvester Hurd via Wikimedia Commons (CC0).

    Satu: banyak janji, tipis bukti

    Ambil contoh yang paling laris di Bali: infus vitamin. Lembaga-lembaga medis arus utama bersikap hati-hati. Harvard Health menulis bahwa klaim infus vitamin untuk mengatasi lelah dan meningkatkan imunitas “tidak didukung bukti ilmiah” dan tetap menyimpan risiko (Harvard Health). Cleveland Clinic menyebut manfaatnya untuk kesejahteraan umum masih terbatas dan memerlukan studi bermutu, mengingatkan bahwa klinik dan spa semacam ini sebagian besar tidak diregulasi ketat, bahwa FDA pernah memperingatkan soal keamanan ramuan infus, dan bahwa satu sesi biasa berharga lebih dari US$150 sementara yang khusus bisa menembus US$1.000 (Cleveland Clinic). Sebuah tinjauan ilmiah menegaskan pembedaan yang penting: infus sah dan bermanfaat untuk mengoreksi defisiensi pada pasien dengan kondisi medis tertentu, tetapi klaim energi, kejernihan pikiran, dan peremajaan untuk orang sehat belum didukung uji acak berskala besar (Cureus, 2025). Di Amerika, regulator perdagangan FTC bahkan pernah mengirim peringatan ke ratusan perusahaan wellness bahwa klaim kesehatan harus didukung bukti ilmiah yang andal.

    Hal serupa berlaku untuk klinik longevity. MIT Technology Review, mengutip survei terhadap 82 klinik, melaporkan sebagian besar hanya melayani kalangan sangat kaya, menjual terapi seperti sel punca yang belum terbukti memperpanjang usia dan justru berisiko, dengan biaya tahunan US$10.000 sampai US$150.000, dan uniknya hanya sekitar 39 persen klinik yang melaporkan untung (MIT Technology Review). Di Inggris, regulator iklan ASA bahkan pernah melarang klaim sebuah klinik yang menjanjikan “membalik penuaan” karena hanya didukung studi pada hewan dan sampel kecil (ASA). Pesannya bukan “semua ini palsu”, melainkan “minta bukti sebelum membayar”.

    Konsumen pun mulai diperingatkan secara terbuka. Lembaga konsumen Inggris Which? menyimpulkan tidak ada bukti kuat manfaat infus vitamin untuk orang sehat, dan mengingatkan risikonya, dari infeksi sampai kelebihan vitamin, seiring menyebarnya layanan ini dari klinik mewah ke mal dan bahkan jasa panggil ke rumah (Which?). Ada pula istilah yang makin sering dipakai untuk pola ini: “healthwashing”, yaitu membuat sebuah produk terdengar lebih sehat, dan karena itu pantas dijual lebih mahal, lewat kata-kata kunci dan kemasan, tanpa bukti yang sepadan (NPR). Garis antara perawatan yang sah dan teater kesehatan sering kali setipis selembar brosur.

    Dua: industri untuk yang sudah sehat dan kaya

    Premium belanja yang tadi dipuji industri punya sisi lain: ia menyeleksi. Literatur akademik menggambarkan pelancong wellness sebagai kelompok yang sebagian besar sudah sehat, mapan secara finansial, dan sering bepergian (van den Eynde, 2017). Keanggotaan klinik longevity, menurut editorial di jurnal Aging, kerap berkisar dari sekitar €10.000 sampai di atas €100.000, sehingga memperkuat ketimpangan kesehatan alih-alih menguranginya, dan banyak klinik sengaja memposisikan diri sebagai penyedia “wellness” ketimbang “medis” untuk menghindari pengawasan (Aging, 2025). Di konteks Indonesia, ironinya tajam: sementara klinik mahal dibangun untuk menarik turis asing dan kelas atas, jutaan warga biasa masih kesulitan mengakses layanan kesehatan dasar, persis kondisi yang mendorong sebagian yang mampu untuk pergi ke luar negeri dan sebagian besar lainnya untuk tidak pergi ke mana pun.

    Tiga: ketika tradisi menjadi komoditas

    Ada pula pertanyaan budaya yang tidak nyaman. Ketika yoga, meditasi, atau ritual penyembuhan lokal dikemas menjadi paket premium untuk tamu asing, siapa yang benar-benar diuntungkan? Sebuah etnografi atas Ubud yang terbit di Journal of Development Studies pada akhir 2025 menemukan bahwa pertumbuhan pesat wellness tourism di sana tidak dinikmati secara merata; banyak warga lokal merasa tak mendapat manfaat, menunjuk dominasi pelaku Barat, kebocoran ekonomi ke luar daerah, dan produk yang justru terputus dari praktik spiritual aslinya (Choe, O’Regan & Di Giovine, 2025). Kritik serupa, dalam kadar berbeda, mengiringi komodifikasi yoga yang dipisahkan dari filosofinya (Frontiers in Communication), serta komersialisasi tradisi penyembuhan adat yang dikritik sebagai bentuk apropriasi di berbagai belahan dunia. Di Bali, fenomena “penyembuh” dadakan yang melayani turis bahkan sudah lama jadi bahan diskusi.

    Pola ini bukan khas Bali. Sebuah kajian di The British Journal of Sociology pada 2026 menyoroti bagaimana industri wellness mengomersialkan tradisi penyembuhan non-Barat dan adat untuk melayani konsumen Amerika dan Eropa, dan menyebutnya sebagai bentuk imperialisme budaya (British Journal of Sociology). Contoh paling tajam ada di Peru, tempat wisata ayahuasca membuat biaya ritual yang dulu nyaris gratis melonjak drastis, dengan sebagian besar keuntungan mengalir ke pemilik lodge asing alih-alih komunitas lokal (JSTOR Daily). Kalau Indonesia ingin menjual jamu, melukat, atau tradisi keraton sebagai produk wellness, pelajaran dari tempat lain jelas: tanpa desain yang sengaja memihak pelaku lokal, “warisan budaya” gampang berubah menjadi sekadar bahan baku yang diambil murah lalu dijual mahal kepada orang lain.

    Empat: beban bagi Bali

    Terakhir, ada daya dukung. Bali yang menjadi etalase utama sudah memikul beban berat dari pariwisata massal, dengan hampir tujuh juta wisatawan asing pada 2025 saja. Sebuah estimasi yang kerap dikutip, berasal dari riset tahun 2012, menyebut sekitar 65 persen air di Bali terserap sektor pariwisata, termasuk oleh vila dan spa mewah berkolam renang (Eco-Business). Laporan yang lebih baru menyoroti tumpukan sampah di tempat pembuangan utama dekat Denpasar yang menerima lebih dari seribu ton per hari, penurunan muka air tanah di sejumlah zona pesisir, serta wacana moratorium pembangunan hotel baru di Bali selatan (Asia Media Centre). Bali juga sudah menerapkan pungutan wisatawan sejak 2024 untuk membiayai pelestarian budaya dan lingkungan. Menambahkan lapisan wellness mewah di atas pulau yang sudah “penuh” bukan keputusan yang netral secara lingkungan, dan itu perlu dihitung sebagai bagian dari ongkos, bukan diabaikan demi angka devisa.

    Satu Pelajaran yang Bisa Dibawa Pulang

    Jadi, setelah semua angka dan perdebatan, apa yang bisa dibawa pulang, terutama buat kamu yang membaca ini sambil mungkin tergoda memesan satu retret atau satu sesi infus?

    Jalan setapak tanah merah berkelok di antara pohon pinus menjulang di hutan hijau Mangunan, Yogyakarta
    Foto: Eko Punto Sadewo via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).

    Hal pertama, kembali ke definisi paling mendasar. GWI sendiri mengartikan wellness sebagai “pengejaran aktif atas aktivitas, pilihan, dan gaya hidup yang menuju kesehatan holistik”. Kata kuncinya adalah “aktif” dan “gaya hidup”, bukan “paket” atau “infus”. Inti dari hampir semua tren mahal tadi, bergerak teratur, tidur cukup, makan lebih baik, mengelola stres, dan terhubung dengan orang lain, sebenarnya gratis dan bisa dilakukan tanpa tiket pesawat. Liburan wellness, paling banter, adalah pemantik dan hadiah; ia tidak bisa menggantikan kebiasaan harian yang kamu bangun di rumah. Kalau sebuah retret membuatmu pulang dengan satu kebiasaan baru yang menempel, ia berguna. Kalau ia cuma memberi foto bagus dan tagihan besar, kamu sudah tahu jawabannya.

    Hal kedua, bawalah skeptisisme yang sehat. Perlakukan klaim “detoks”, “anti-penuaan”, atau “infus awet muda” sebagaimana kamu memperlakukan iklan: menarik, tetapi minta bukti. Untuk urusan tubuh, tenaga medis berlisensi tetap rujukan utama, bukan brosur resor atau testimoni selebritas. Kesehatan sejati jarang datang dalam kemasan yang paling fotogenik.

    Dan hal ketiga, yang ini untuk Indonesia secara keseluruhan. Pekerjaan rumah terbesar bukanlah menarik lebih banyak turis asing ke kolam infus di Bali, melainkan membangun kepercayaan dan kapasitas, cukup dokter, cukup rumah sakit yang bagus, dan cukup merata, sehingga seorang pengusaha dari Jakarta tak lagi merasa perlu terbang ke Penang hanya untuk memastikan dirinya sehat. Membalik arus itu, bukan sekadar membangun hotel kesehatan termewah, adalah ukuran keberhasilan yang sebenarnya. Kalau gelombang wellness tourism bisa dipakai untuk mendanai dan mempercepat pembenahan itu, dan kalau jamu di Solo serta air panas di kaki gunung bisa ikut naik kelas bersama resor bintang lima, ia layak disambut. Tetapi kalau ia cuma jadi panggung kelas atas di atas pulau yang kehausan, ia hanya akan menambah satu lagi daftar panjang tren yang ramai sebentar, lalu surut, meninggalkan tagihan untuk orang-orang yang tak pernah diundang ke pestanya.

    Pertanyaan yang Sering Muncul

    Apa itu wellness tourism, dan apa bedanya dengan medical tourism?
    Wellness tourism adalah perjalanan untuk menjaga atau meningkatkan kesejahteraan diri, dilakukan orang yang relatif sehat (spa, yoga, retret, air panas). Medical tourism adalah perjalanan untuk tindakan medis spesifik seperti operasi atau pemeriksaan penyakit. Batas keduanya makin kabur ketika resor mulai menawarkan diagnostik dan terapi infus.

    Seberapa besar pasarnya?
    Menurut Global Wellness Institute, wellness tourism bernilai sekitar US$894 miliar pada 2024 dan diproyeksikan menembus US$1 triliun pada 2026 serta mencapai sekitar US$1,38 triliun pada 2029. Ekonomi wellness yang lebih luas mencapai US$6,8 triliun pada 2024.

    Di mana posisi Indonesia?
    Ekonomi wellness Indonesia bernilai sekitar US$55,77 miliar pada 2024, terbesar di Asia Tenggara dan peringkat ke-20 dunia menurut GWI. Khusus wellness tourism, nilainya sekitar US$7,3 miliar (peringkat ke-19 dunia) dengan sekitar 13,7 juta perjalanan.

    Kenapa pemerintah menjadikannya prioritas?
    Karena sekitar satu hingga dua juta warga Indonesia berobat ke luar negeri setiap tahun, dengan taksiran belanja US$8–11,5 miliar. Pemerintah ingin memulangkan sebagian arus itu lewat proyek seperti KEK Kesehatan Sanur dan Bali International Hospital, sekaligus menggarap wellness tourism sebagai salah satu niche dalam Renstra Kementerian Pariwisata 2025–2029.

    Apakah infus vitamin dan terapi longevity terbukti secara medis?
    Untuk orang sehat, buktinya terbatas. Harvard Health dan Cleveland Clinic menyatakan klaim umum infus vitamin tidak didukung bukti kuat dan menyimpan risiko; infus sah untuk mengoreksi defisiensi pada pasien tertentu. Terapi longevity sebagian besar belum terbukti dan mahal. Konsultasikan dengan tenaga medis berlisensi sebelum mencobanya.

    Apa modal wellness khas Indonesia?
    Jamu (ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2023), tradisi spa dan lulur keraton, pemandian air panas, serta retret yoga dan spiritual di Bali. Potensinya besar, tetapi sebagian besar belum tergarap selevel destinasi mewah.

    Catatan Angka & Metode Riset

    Artikel ini disusun dari riset lintas-sumber yang diverifikasi secara independen. Beberapa catatan untuk pembaca:

    • Vintage data. Angka Global Wellness Institute memakai edisi terbaru (Global Wellness Economy Monitor 2025, data 2024, dan Country Rankings 2026). GWI merevisi serinya tiap edisi; proyeksi lama “wellness tourism tembus US$1 triliun pada 2024” telah dikoreksi menjadi US$894 miliar untuk 2024, dengan ambang US$1 triliun bergeser ke 2026. Premium belanja juga memakai angka 2024 (38 persen internasional, 137 persen domestik), bukan angka edisi lama.
    • Tiga istilah berbeda. Ekonomi wellness (US$6,8 triliun), wellness tourism (US$894 miliar), dan medical tourism (kuratif) tidak sama dan tidak diperbandingkan silang. Angka US$55,77 miliar untuk Indonesia adalah ekonomi wellness, bukan wellness tourism-nya saja (yang US$7,3 miliar).
    • Angka “kebocoran”. Taksiran jumlah warga (1–2 juta) dan belanja ke luar negeri (US$6,8–11,5 miliar) adalah estimasi pejabat yang berbeda-beda menurut penutur dan tahun, dengan metode yang tidak dipublikasikan; karena itu disajikan sebagai rentang, bukan satu angka. Angka Malaysia (±968 ribu) berasal dari Malaysia Healthcare Travel Council dan merujuk kedatangan, bukan orang unik.
    • Potensi US$84 miliar adalah tambahan belanja kesehatan nasional yang ditawarkan Menkes sebagai peluang investasi, bukan proyeksi pendapatan wisata kesehatan.
    • Riset industri. GWI dan Global Wellness Summit adalah lembaga yang sebagian didanai industri; angkanya estimasi berbasis model, bukan sensus.
    • Klaim medis soal infus dan longevity diatribusikan ke sumber medis/otoritatif, dan bukti untuk orang sehat masih terbatas. Angka air “65 persen” untuk Bali adalah estimasi dari riset 2012.
    • Kurs. Konversi dolar ke rupiah mengikuti kisaran yang dipakai masing-masing sumber pada tahunnya.

    Artikel ini dirangkum dari:

    • Global Wellness Institute, “The Global Wellness Economy Hits a Record $6.8 Trillion…” (19 Nov 2025) tautan
    • Global Wellness Institute, “What Is Wellness Tourism” dan definisi tautan
    • Global Wellness Institute, “Country Rankings (2019–2024)” (Jan 2026) tautan
    • Global Wellness Institute, “Wellness in Indonesia” tautan
    • Global Wellness Institute, data pasar wellness Thailand (25 Feb 2026) tautan
    • Global Wellness Summit, “10 Wellness Trends for 2026” (27 Jan 2026) tautan
    • McKinsey & Company, “The future of wellness trends” (29 Mei 2025) tautan
    • Virtuoso, data tren perjalanan mewah (13 Agu 2026) tautan
    • Booking.com, Travel Predictions 2026 (via LODGING, 15 Okt 2025) tautan
    • Skyscanner, “Seven Trends Shaping Travel in 2026” (31 Okt 2025) tautan
    • Trip.com Group, “Women Are Powering the Next Wave of Global Travel” (9 Mar 2026) tautan
    • MIT Technology Review, “Longevity clinics…selling unproven treatments” (18 Apr 2025) tautan
    • Globetrender, “Bali’s Revivo Wellness Resort Vitality Centre” (29 Agu 2024) tautan
    • Honeycombers Bali, “JIWA Wellness at Conrad Bali” (15 Nov 2023) tautan
    • Globetrender, Flash Pack survey digital detox (10 Mar 2026) tautan
    • Outside, “I Went on a Dark-Cave Retreat” (26 Mar 2024) tautan
    • Athletech News, “Hyrox expands global race calendar” (15 Jul 2026) tautan
    • Katadata, “Hyrox Jakarta Terbesar di Asia Pasifik…” (28 Jun 2026) tautan
    • London Marathon Events, rekor undian 2026 tautan
    • Kementerian Pariwisata RI, Permenpar No. 7 Tahun 2025 (Renstra 2025–2029) tautan
    • ANTARA, “Indonesia fokus kembangkan wisata kebugaran yang berkualitas” (16 Jul 2026) tautan
    • Warta Ekonomi, “Wonderful Indonesia Wellness 2025” (19 Sep 2025) tautan
    • Warta Ekonomi, MoU Kemenpar–Kemenkes (24 Nov 2025) tautan
    • Metro TV, peresmian KEK Kesehatan Sanur (25 Jun 2025) tautan
    • ANTARA, “Prabowo pushes Indonesian hospitals to global standards” (26 Jun 2025) tautan
    • ANTARA, potensi PDB pariwisata kesehatan (12 Jun 2025) tautan
    • Katadata, “Cegah Rp162 T Bocor ke Luar Negeri…” (12 Jun 2025) tautan
    • KrASIA (Nikkei Asia), “Indonesia makes billion-dollar health care bet…” (8 Mar 2025) tautan
    • Bisnis.com, “Jokowi Sebut Rp165 Triliun Lenyap…” (6 Mar 2023) tautan
    • Meher & Zaluchu, Patient Preference and Adherence (11 Des 2025) tautan
    • New Straits Times, “Indonesian patients drive Malaysian medical tourism growth” (9 Jun 2026) tautan
    • Bernama, rekor wisata kesehatan Malaysia dari Indonesia (24 Agu 2026) tautan
    • The Star / Asia News Network, medical tourism Penang tautan
    • The Straits Times / Asia News Network, pasien asing Singapura (Mar 2024) tautan
    • ANTARA, “Bali poised to be premier wellness destination” (Jun 2025) tautan
    • BPS Provinsi Bali, kedatangan wisman Jan–Des 2025 (2 Feb 2026) tautan
    • The Jakarta Post, “There’s no place like Ubud for yoga” (11 Mar 2018) tautan
    • The Jakarta Post, “Indonesia, land of indulgent beauty treatments” (2019) tautan
    • Kompas Travel, wisata Ciater Subang (5 Jul 2022) tautan
    • Kompas Travel, aturan visa digital nomad E33G (13 Jun 2026) tautan
    • UNESCO, “Jamu wellness culture” (ditetapkan 2023) tautan
    • Harvard Health Publishing, IV therapy (12 Jun 2026) tautan
    • Which?, “Why IV vitamin drips are a waste of money” (13 Des 2025) tautan
    • NPR Planet Money, “The sneaky economics of healthwashing” (4 Agu 2026) tautan
    • Tan, The British Journal of Sociology, komersialisasi tradisi penyembuhan (2026) tautan
    • JSTOR Daily, “The Colonization of the Ayahuasca Experience” (2020, diperbarui 2025) tautan
    • Asia Times, “Singapore’s vaunted health tourism under pressure” (11 Okt 2021) tautan
    • Cleveland Clinic, IV vitamin therapy (9 Mar 2026) tautan
    • Alangari, Cureus, tinjauan terapi infus vitamin (22 Jun 2025) tautan
    • ASA, putusan iklan klinik biohacking (26 Apr 2023) tautan
    • Demaria, Aging, “Longevity clinics: between promise and peril” (13 Okt 2025) tautan
    • van den Eynde, tesis PhD Victoria University (2017) tautan
    • Choe, O’Regan & Di Giovine, Journal of Development Studies (2 Des 2025) tautan
    • Antony, Frontiers in Communication, komodifikasi yoga (23 Okt 2018) tautan
    • Eco-Business, krisis air Bali (5 Sep 2012) tautan
    • Asia Media Centre, “Beneath the Bloom: Bali’s Hidden Strain” (17 Mar 2026) tautan
    Was this story useful?

    Keep reading

    Explore the Ecosystem

    Satu akun untuk klinik, kelas, membership, dokter, coach, dan tiket event.

    All ›

    Book Your Session by Location

    Pilih kebutuhanmu, kami tunjukkan lokasinya.

    All ›
    Share on XWhatsApp