Perkembangan Yoga di Surabaya: Dari Aktivitas Pascapandemi hingga Gaya Hidup
Yoga di Surabaya berkembang dari aktivitas kebugaran menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan. Perkembangannya terlihat dari munculnya komunitas, studio, kelas yoga di berbagai ruang, hingga aktivitas yoga outdoor yang memanfaatkan taman dan ruang terbuka. Setelah pand…
Yoga di Surabaya berkembang dari aktivitas kebugaran menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan. Perkembangannya terlihat dari munculnya komunitas, studio, kelas yoga di berbagai ruang, hingga aktivitas yoga outdoor yang memanfaatkan taman dan ruang terbuka. Setelah pandemi Covid-19, yoga juga semakin dekat dengan aktivitas relaksasi, mindfulness, dan kegiatan komunitas.
Perubahan tersebut membuat yoga tidak lagi identik dengan latihan untuk orang yang memiliki tubuh lentur. Di Surabaya, semakin banyak pendekatan yang memungkinkan masyarakat memilih latihan sesuai kemampuan, kebutuhan, dan tujuan masing-masing.
Yoga di Surabaya Berkembang Setelah Pandemi
Pandemi Covid-19 menjadi salah satu momentum yang membuat masyarakat kembali memikirkan pentingnya aktivitas fisik sekaligus keseimbangan dalam menjalani rutinitas sehari-hari. Setelah berbagai pembatasan mulai berakhir, aktivitas olahraga dan komunitas kembali menemukan ruangnya.
Yoga menjadi salah satu pilihan karena dapat dilakukan secara individu maupun berkelompok. Selain melibatkan gerakan tubuh, yoga juga menggabungkan latihan pernapasan dan kesadaran terhadap kondisi tubuh.
Di tengah kehidupan perkotaan yang berlangsung cepat, pendekatan tersebut membuat yoga memiliki fungsi yang lebih luas. Aktivitas ini tidak hanya dipandang sebagai latihan fisik, tetapi juga sebagai kesempatan untuk berhenti sejenak, mengatur napas, dan mengenali kondisi diri.
Perkembangan yoga di Surabaya juga terlihat dari semakin beragamnya ruang untuk berlatih. Masyarakat dapat menemukan kelas di studio, komunitas, maupun ruang terbuka dengan pendekatan yang berbeda-beda.
Konco Yoga dan Tumbuhnya Komunitas Yoga di Surabaya
Salah satu komunitas yang berkembang dari semangat tersebut adalah Konco Yoga. Komunitas ini didirikan oleh dua sahabat, Lela Latifa dan Widuri, yang memiliki keresahan sekaligus kerinduan terhadap ruang bergerak yang lebih luas selama masa pandemi.
Menurut Lela, pengalaman tersebut mendorong keduanya untuk memikirkan cara memperkenalkan yoga dengan pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat.
“Berawal dari keresahan di masa pandemi dan kerinduan akan ruang gerak yang lebih luas, kami ingin yoga terasa lebih membumi, lebih inklusif, dan dekat dengan alam,” ujar Lela, pendiri Konco Yoga.
Konco Yoga menggelar sesi pertamanya pada Juli 2022. Saat itu, kelas masih diikuti oleh segelintir teman dekat. Dari pertemuan sederhana tersebut, komunitas kemudian berkembang dan menjangkau peserta yang lebih beragam.
Sejak awal, Konco Yoga tidak hanya menempatkan yoga sebagai latihan fisik. Kegiatan komunitas dikembangkan dengan membawa peserta ke ruang terbuka dan menghadirkan pengalaman yang lebih menyeluruh.
Yoga Outdoor Membawa Pengalaman Berbeda
Yoga di ruang terbuka menjadi salah satu karakter yang dibangun Konco Yoga. Kelas dapat dilakukan di taman, tepi danau, maupun ruang hijau yang memungkinkan peserta berlatih di luar ruangan.
Dalam sesi seperti ini, peserta tidak hanya mengikuti rangkaian gerakan dan mengatur pernapasan. Lingkungan sekitar juga menjadi bagian dari pengalaman. Hembusan angin, suara alam, serta suasana ruang terbuka memberikan konteks berbeda dibandingkan latihan di dalam ruangan.
Bagi Lela, pemilihan tempat bukan sekadar persoalan estetika. Ruang terbuka dapat membantu peserta lebih menyadari lingkungan dan dirinya sendiri.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan gagasan mindfulness, yaitu perhatian yang lebih sadar terhadap pengalaman yang sedang dijalani. Dalam konteks yoga, kesadaran tersebut dapat diterapkan melalui perhatian terhadap gerakan, pernapasan, dan kondisi tubuh.
Namun, menghadirkan kelas yoga outdoor di Surabaya juga memiliki tantangan. Ketersediaan ruang hijau yang dapat digunakan untuk kegiatan komunitas menjadi salah satu persoalan. Karena itu, komunitas perlu lebih kreatif dalam menentukan lokasi kegiatan.
Yoga Semakin Inklusif untuk Berbagai Kalangan
Salah satu anggapan yang masih melekat pada yoga adalah bahwa aktivitas ini hanya cocok untuk perempuan atau orang yang sudah memiliki tubuh lentur.
Konco Yoga berusaha mengubah pandangan tersebut dengan membangun ruang latihan yang lebih terbuka bagi berbagai kalangan.
“Yoga bukan hanya tentang fleksibilitas tubuh. Kami ingin membangun koneksi yang tulus dengan diri sendiri,” kata Lela.
Dalam pendekatan tersebut, kemampuan melakukan pose tertentu bukan menjadi ukuran utama. Peserta diajak mengikuti latihan sesuai kondisi tubuh masing-masing.
Pemula pun tidak perlu merasa minder ketika berada dalam satu kelas dengan peserta yang sudah lebih berpengalaman. Tidak ada tuntutan untuk menjadi peserta yang paling lentur atau mampu melakukan gerakan paling sulit.
Yoga justru dapat menjadi latihan untuk memahami batas tubuh dan belajar meresponsnya dengan lebih sadar.
“Kami ingin membuktikan bahwa yoga bukan sekadar tren, bukan pula eksklusif untuk perempuan. Yoga itu netral, penuh makna, dan bisa dipraktikkan oleh siapa saja,” tutur Lela.
Dari Olahraga Menjadi Bagian dari Gaya Hidup
Perkembangan komunitas yoga di Surabaya juga menunjukkan bahwa aktivitas ini mulai beririsan dengan gaya hidup sehat yang lebih luas.
Konco Yoga, misalnya, tidak berhenti pada kelas yoga. Komunitas tersebut juga mengembangkan kegiatan seperti meditasi, workshop kreatif, serta aktivitas relaksasi dan refleksi bersama.
Ragam kegiatan itu memperlihatkan bagaimana komunitas olahraga dapat menjadi ruang untuk membangun hubungan sosial sekaligus menjaga keseimbangan antara aktivitas fisik dan kebutuhan untuk beristirahat.
Bagi sebagian peserta, datang ke kelas yoga bukan hanya tentang berolahraga selama satu jam. Ada pengalaman bertemu dengan orang lain, menikmati ruang terbuka, melakukan latihan pernapasan, hingga memberikan waktu untuk melepaskan diri dari rutinitas.
Dalam konteks masyarakat urban, pengalaman seperti ini menjadi salah satu alasan yoga dapat berkembang melampaui fungsi olahraga.
Tantangan Yoga di Tengah Kota Surabaya
Meski semakin dikenal, perkembangan yoga di Surabaya tetap menghadapi tantangan. Salah satunya adalah ketersediaan ruang terbuka yang dapat digunakan secara nyaman dan konsisten untuk kegiatan komunitas.
Surabaya sebagai kota besar memiliki aktivitas masyarakat yang padat. Ruang publik dan ruang hijau memiliki fungsi yang beragam sehingga komunitas perlu menyesuaikan kegiatan dengan kondisi lokasi.
Bagi komunitas seperti Konco Yoga, tantangan tersebut justru menjadi kesempatan untuk mencari ruang-ruang alternatif. Pemilihan lokasi kemudian menjadi bagian dari konsep kegiatan, bukan sekadar tempat untuk menggelar kelas.
Ketika yoga dilakukan di ruang terbuka, peserta memiliki kesempatan untuk berlatih sambil tetap terhubung dengan lingkungan sekitar. Konsep tersebut menjadi relevan dengan kebutuhan masyarakat urban yang sehari-hari lebih banyak beraktivitas di tengah lingkungan perkotaan.
Yoga di Surabaya dan Perubahan Cara Masyarakat Melihat Olahraga
Perjalanan yoga di Surabaya sejak pandemi hingga sekarang menunjukkan adanya perubahan dalam cara masyarakat memaknai aktivitas fisik.
Yoga memang tetap dapat digunakan sebagai bentuk latihan tubuh. Namun, perkembangannya di tingkat komunitas memperlihatkan bahwa aktivitas ini juga dapat menjadi ruang untuk relaksasi, mindfulness, interaksi sosial, dan pengenalan diri.
Konco Yoga menjadi salah satu contoh dari perubahan tersebut. Bermula dari keresahan dua sahabat pada masa pandemi dan sebuah sesi kecil pada Juli 2022, komunitas ini kemudian berkembang dengan membawa gagasan bahwa yoga dapat dipraktikkan oleh siapa saja.
Di tengah kehidupan Surabaya yang dinamis, yoga perlahan menemukan ruangnya sendiri. Bukan sekadar tentang seberapa lentur tubuh seseorang atau seberapa sulit gerakan yang dapat dilakukan, melainkan tentang bagaimana seseorang dapat berhenti sejenak, menarik napas, mengenali kondisi tubuh, dan kembali bergerak dengan lebih sadar.
Perkembangan komunitas, studio, dan berbagai kelas yoga menunjukkan bahwa yoga semakin memiliki tempat dalam ekosistem gaya hidup sehat masyarakat perkotaan. Dari aktivitas yang dilakukan setelah masa pandemi, yoga kini berkembang menjadi bagian dari cara sebagian masyarakat Surabaya menjaga kebugaran sekaligus mencari keseimbangan dalam rutinitas sehari-hari.
FAQ: Yoga di Surabaya
Apa yang membuat yoga semakin berkembang di Surabaya?
Yoga di Surabaya berkembang dengan semakin beragamnya komunitas, studio, kelas, dan aktivitas yoga di ruang terbuka. Setelah pandemi, yoga juga semakin dikaitkan dengan aktivitas relaksasi, mindfulness, dan gaya hidup sehat.
Apakah yoga cocok untuk pemula?
Ya. Pemula dapat mengikuti kelas yang menekankan gerakan dasar dan tempo lebih terkontrol, seperti Hatha Yoga. Latihan sebaiknya dilakukan sesuai kemampuan tubuh dan tidak memaksakan gerakan.
Apa saja jenis yoga yang populer?
Beberapa jenis yoga yang umum dikenal adalah Hatha Yoga, Vinyasa Yoga, Yin Yoga, Power Yoga, dan Restorative Yoga. Masing-masing memiliki karakteristik serta tingkat intensitas yang berbeda.
Apakah yoga hanya untuk perempuan?
Tidak. Yoga dapat dipraktikkan oleh siapa saja. Kemampuan melakukan gerakan tertentu atau tingkat fleksibilitas bukan syarat untuk mulai berlatih yoga.
Apakah yoga bisa dilakukan di luar ruangan?
Bisa. Yoga outdoor dapat dilakukan di taman, ruang hijau, atau lokasi terbuka lain yang sesuai. Beberapa komunitas yoga di Surabaya menggunakan ruang terbuka sebagai bagian dari pengalaman latihan.
Apa hubungan yoga dengan mindfulness?
Yoga melibatkan perhatian terhadap gerakan, pernapasan, dan kondisi tubuh. Karena itu, latihan yoga dapat dikombinasikan dengan pendekatan mindfulness yang menekankan kesadaran terhadap pengalaman yang sedang dijalani. (*)
Laporan kontributor Surabaya, Sekar Arum