Fenomena “Mlaku-Mlaku nang Tunjungan”, Ritual Baru Runner Surabaya Setelah Lari
Bagi banyak pelari, aktivitas olahraga tidak selalu berakhir di garis finis. Di Surabaya, muncul kebiasaan baru di kalangan komunitas lari, yakni melanjutkan aktivitas dengan "mlaku-mlaku nang Tunjungan" setelah menyelesaikan sesi olahraga.
Bagi banyak pelari, aktivitas olahraga tidak selalu berakhir di garis finis. Di Surabaya, muncul kebiasaan baru di kalangan komunitas lari, yakni melanjutkan aktivitas dengan “mlaku-mlaku nang Tunjungan” setelah menyelesaikan sesi olahraga.
Jalan Tunjungan Surabaya kini tidak hanya dikenal sebagai kawasan bersejarah, tetapi juga menjadi ruang publik yang memadukan olahraga, wisata kota, dan kuliner dalam satu lokasi. Kondisi trotoar yang nyaman serta suasana kota yang hidup membuat kawasan ini menjadi destinasi favorit bagi runner Surabaya untuk melakukan pendinginan setelah berlari.
Tempat Nongkrong dan Sarapan Favorit Runner Surabaya
Salah satu runner Surabaya, Aila Natania, mengaku hampir selalu menyempatkan diri menghabiskan waktu di kawasan Tunjungan setelah berlari.
“Kalau habis lari biasanya saya tidak langsung pulang. Lebih sering jalan-jalan dulu di Tunjungan, foto-foto, lalu cari tempat untuk ngopi atau sarapan bersama teman-teman. Suasananya nyaman dan selalu ramai karena banyak pilihan café atau tempat hangout di sini,” ujarnya.
Menurut Aila, berjalan santai setelah berlari menjadi cara yang menyenangkan untuk melakukan pendinginan sekaligus menikmati suasana Kota Surabaya.
Wisata Kuliner Surabaya Jadi Daya Tarik Tambahan
Selain menjadi tempat berkumpul komunitas lari Surabaya, kawasan Jalan Tunjungan juga menawarkan akses mudah menuju berbagai kuliner legendaris.
Setelah berolahraga, banyak runner memilih mengisi energi dengan menikmati makanan khas Surabaya seperti rawon, lontong balap, rujak cingur, sate klopo, tahu tek, hingga nasi campur yang dapat ditemukan di sekitar kawasan tersebut.
Tidak sedikit pula pelari yang memilih menghabiskan waktu di berbagai kafe dan kedai kopi untuk berbincang mengenai pengalaman latihan, berbagi informasi lomba lari, hingga merencanakan agenda komunitas berikutnya.
Car Free Day Tunjungan Semakin Ramai Dikunjungi
Daya tarik kawasan ini semakin terasa saat pelaksanaan Car Free Day (CFD) Surabaya. Jalan Tunjungan berubah menjadi ruang publik yang dipenuhi masyarakat untuk berolahraga, berjalan kaki, bersepeda, hingga berekreasi bersama keluarga.
Riska Pramawesti, warga Surabaya yang rutin mengunjungi CFD di kawasan tersebut, menilai suasana yang tercipta setiap akhir pekan menjadi alasan utama banyak warga datang.
“CFD di Tunjungan itu ramai dan hidup. Banyak komunitas olahraga, keluarga, sampai anak-anak yang datang. Setelah olahraga biasanya lanjut jalan-jalan atau cari sarapan di sekitar sini. Jadi bukan hanya untuk olahraga, tapi juga menikmati suasana kota,” katanya.
Lebih dari Sekadar Tempat Lari di Surabaya
Kehadiran Car Free Day semakin memperkuat fungsi Jalan Tunjungan sebagai ruang interaksi sosial masyarakat. Banyak warga datang bukan hanya untuk berolahraga, tetapi juga untuk bertemu teman, menikmati hiburan jalanan, hingga mengabadikan momen di salah satu kawasan paling ikonik di Kota Pahlawan.
Kini, bagi banyak runner Surabaya, aktivitas berlari tidak lagi berhenti di garis finis. Mereka memperpanjang pengalaman olahraga dengan berjalan santai, berburu kuliner khas Surabaya, atau menikmati secangkir kopi di kawasan Jalan Tunjungan.
Perpaduan antara atmosfer kota tua, ruang publik yang nyaman, aktivitas olahraga, serta kekayaan kuliner menjadikan Jalan Tunjungan Surabaya sebagai salah satu destinasi favorit warga untuk menjalani gaya hidup sehat sekaligus menikmati denyut kehidupan kota. (*)
Laporan kontributor Surabaya, Sekar Arum