Asian Para Games 2026: 103 Atlet Indonesia Berangkat ke Nagoya Hari Ini
Sebanyak 103 atlet dari 12 cabang olahraga berangkat ke Aichi-Nagoya, Jepang, pada Selasa 13 Oktober 2026. Indonesia membidik 10 besar Asian Para Games 2026 dengan target delapan hingga sembilan emas.
Kontingen Indonesia resmi bertolak menuju Aichi-Nagoya, Jepang, pada Selasa, 13 Oktober 2026, untuk berlaga di Asian Para Games 2026. Sebanyak 103 atlet dari 12 cabang olahraga dijadwalkan mengibarkan Merah Putih di pesta olahraga multicabang terbesar bagi olahragawan disabilitas se-Asia itu, yang berlangsung pada 18 sampai 24 Oktober 2026. Indonesia mengusung misi menembus 10 besar klasemen akhir dengan bidikan delapan hingga sembilan medali emas, sekaligus menjaga tradisi prestasi setelah finis lima besar pada edisi Hangzhou 2022.
Baca Cepat
- Sebanyak 103 atlet dari 12 cabang olahraga berangkat ke Aichi-Nagoya, Jepang, hari ini, Selasa 13 Oktober 2026.
- Asian Para Games 2026 merupakan edisi kelima dan berlangsung 18 sampai 24 Oktober, dengan upacara pembukaan dijadwalkan sekitar 18 Oktober.
- NPC Indonesia membidik posisi 10 besar klasemen dengan raihan delapan hingga sembilan medali emas.
- Boccia, para panahan, para balap sepeda, para bulu tangkis, dan para atletik menjadi tumpuan, sementara para catur absen dari program 2026.
Kontingen 103 Atlet Lepas Landas Hari Ini
Rombongan atlet nasional dijadwalkan terbang ke Jepang pada Selasa, 13 Oktober 2026. Mengacu pada keterangan National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, sebanyak 103 atlet dari 12 cabang olahraga akan tampil membawa nama Merah Putih di Asian Para Games 2026 yang digelar di kawasan Aichi-Nagoya. Jumlah itu bertambah dari catatan pertengahan September yang masih berkisar 101 atlet, menandakan komposisi akhir kontingen baru benar-benar dikunci menjelang keberangkatan.
Wakil Sekretaris Jenderal NPC Indonesia, Rima Ferdianto, menyebut persiapan tim sudah memasuki fase akhir. Para atlet kini lebih banyak menjaga kondisi dan menuntaskan urusan perlengkapan ketimbang menambah beban latihan berat. “Hari-hari ini kita hanya melakukan latihan ringan,” ujar Rima. Pendekatan itu lazim dilakukan di penghujung persiapan agar atlet tiba di lokasi lomba dalam kondisi segar, bukan kelelahan akibat porsi latihan yang berlebihan.
Dengan jadwal pertandingan yang dibuka pada 18 Oktober, kontingen hanya memiliki waktu sekitar lima hari untuk beradaptasi dengan cuaca, zona waktu, dan arena di Jepang sebelum upacara pembukaan. Rangkaian lomba dijadwalkan berlangsung hingga 24 Oktober 2026, menjadikan Aichi-Nagoya sebagai tuan rumah edisi kelima Asian Para Games sepanjang sejarah penyelenggaraan ajang tersebut.
Keberangkatan hari ini sekaligus menandai puncak dari rangkaian panjang pemusatan latihan. Sebagian besar persiapan para atlet nasional dipusatkan di National Paralympic Training Center di Karanganyar, Jawa Tengah, yang menjadi basis utama pembinaan olahraga disabilitas Tanah Air. Dari sana, para atlet menjalani program latihan terukur hingga masuk fase penyesuaian akhir sebelum terbang ke Jepang.
Bidikan 10 Besar dan Delapan hingga Sembilan Emas
NPC Indonesia memasang target yang terukur untuk edisi 2026. Rima Ferdianto menyatakan sasaran medali tim berada pada kisaran delapan hingga sembilan emas, dengan keyakinan posisi 10 besar klasemen akhir masih dapat diraih. Target itu disampaikan pada pertengahan September 2026, saat skuad masih berada dalam tahap pemantapan menjelang pemberangkatan ke Jepang.
Angka tersebut memang lebih moderat dibanding capaian emas pada edisi sebelumnya. Namun, pengurus menilai persaingan di Asia kian ketat, sehingga menembus sepuluh negara teratas sudah menjadi pencapaian yang layak diperjuangkan. Perubahan sejumlah nomor serta cabang yang dipertandingkan turut membuat NPC Indonesia memilih bersikap realistis dalam menetapkan patokan medali di Aichi-Nagoya.
Di tingkat Asia, perebutan posisi puncak dibayangi dominasi negara-negara dengan program paralimpik yang sudah mapan. Karena itu, menembus sepuluh besar menuntut konsistensi di banyak nomor sekaligus, bukan sekadar mengandalkan satu atau dua cabang unggulan. NPC Indonesia menilai target tersebut tetap dalam jangkauan selama para atlet mampu tampil sesuai kapasitas terbaiknya di hampir seluruh nomor yang diikuti.
Boccia hingga Para Atletik Jadi Tumpuan
Sejumlah cabang menjadi andalan Indonesia untuk mengumpulkan medali di Nagoya. Boccia, para balap sepeda, para bulu tangkis, dan para panahan disebut tampil kuat di berbagai kejuaraan internasional sepanjang siklus persiapan. Para atletik juga dinilai menunjukkan kemajuan signifikan dan berpeluang menyumbang poin penting bagi perburuan target 10 besar.
Dari daftar tersebut, boccia dan para panahan bahkan dipandang bisa menghadirkan kejutan positif. Kombinasi cabang presisi seperti panahan dan boccia dengan nomor-nomor eksplosif di para atletik dan para balap sepeda diharapkan mampu menambal kekosongan di sektor lain. Komposisi 12 cabang inilah yang menjadi tulang punggung strategi kontingen Merah Putih sepanjang sepekan penuh pertandingan.
Para bulu tangkis menjadi salah satu cabang yang secara historis kerap menyumbang medali bagi Indonesia di pentas internasional, sementara para balap sepeda diandalkan pada nomor-nomor ketahanan dan kecepatan. Di sisi lain, boccia yang menuntut akurasi tinggi membuka peluang medali dari kategori yang tidak selalu menjadi sorotan utama. Keberagaman karakter cabang ini memberi Indonesia beberapa jalur berbeda untuk mendekati target medalinya di Nagoya.
Absennya Para Catur Mengubah Peta Medali
Salah satu tantangan terbesar Indonesia pada 2026 adalah hilangnya para catur dari program pertandingan. Pada Asian Para Games Hangzhou 2022, para catur menjadi lumbung medali, menyumbang 10 dari total 29 emas yang diraih kontingen Merah Putih. Kehilangan satu sektor sebesar itu jelas berdampak langsung pada peta kekuatan tim.
Dengan absennya cabang tersebut, NPC Indonesia harus menata ulang strategi dan memindahkan beban target ke cabang lain yang masih dipertandingkan. Faktor inilah yang membuat sasaran emas dipatok lebih moderat pada angka delapan hingga sembilan. Penyesuaian itu dinilai realistis, mengingat besarnya kontribusi para catur terhadap raihan medali Indonesia pada edisi sebelumnya.
Belajar dari Capaian Hangzhou 2022
Edisi sebelumnya menjadi tolok ukur penting bagi ekspektasi kali ini. Pada Asian Para Games Hangzhou 2022 yang digelar pada Oktober 2023, Indonesia mengemas 29 emas, 30 perak, dan 37 perunggu, atau total 96 medali, lalu finis di lima besar klasemen akhir. Saat itu Indonesia menurunkan 130 atlet yang tersebar di 12 cabang olahraga.
Dibandingkan Hangzhou, komposisi kontingen 2026 terlihat lebih ramping dengan 103 atlet meski tetap berada di 12 cabang. Penyusutan jumlah atlet yang dibarengi hilangnya lumbung medali membuat setiap keping medali di Nagoya akan terasa jauh lebih berharga. Dalam konteks itu, target menembus 10 besar menjadi ukuran keberhasilan yang masuk akal bagi tim asuhan NPC Indonesia.
Perbandingan tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia tidak lagi bisa bersandar pada jumlah atlet yang besar seperti di Hangzhou. Efisiensi dan ketajaman di cabang-cabang unggulan menjadi kunci bila ingin mempertahankan posisi di papan atas Asia. Pengalaman bertanding pada edisi 2022 diharapkan menjadi modal mental berharga bagi para atlet yang kembali turun membela Merah Putih di Nagoya.
Menjaga Asa Merah Putih di Nagoya
Dengan keberangkatan hari ini, fokus kontingen beralih sepenuhnya ke adaptasi akhir dan kesiapan bertanding. Asian Para Games 2026 Aichi-Nagoya yang mengusung semangat “Imagine One Heart” akan menjadi panggung bagi para atlet disabilitas Indonesia untuk membuktikan daya juang mereka di level Asia, sekaligus mengangkat nama bangsa di hadapan publik internasional.
Jalannya pertandingan baru dimulai pada 18 Oktober, sehingga seluruh hasil dan perolehan medali akan diperbarui seiring bergulirnya lomba. Dukungan publik di tanah air diharapkan menjadi energi tambahan bagi kontingen Merah Putih untuk mewujudkan target 10 besar dan menjaga tradisi prestasi para atlet Indonesia di ajang Asian Para Games.
Perjalanan panjang dari ruang latihan di Karanganyar hingga arena di Aichi-Nagoya kini memasuki babak penentuan. Dengan 103 atlet yang membawa harapan jutaan masyarakat, setiap penampilan di 12 cabang olahraga akan menjadi cerminan perjuangan dan ketangguhan olahragawan disabilitas Indonesia di panggung Asia.
Artikel ini dirangkum dari:
- tautan Sindonews/RCTI Plus: 103 atlet Indonesia berangkat ke Nagoya
- tautan RRI: target 10 besar dengan delapan hingga sembilan emas
- tautan RRI: tantangan Indonesia tanpa para catur
- tautan Asian Paralympic Committee: identitas Asian Para Games 2026
- tautan Rekam medali Indonesia di Asian Para Games Hangzhou 2022