Kembali
LONG FORM 35 min read 27 August 2026

Ekonomi di Balik Dinding Kaca: Bagaimana Ledakan Padel Mengubah Uang, Kerja, dan Kelas di Indonesia

Menyelami ekonomi di balik ledakan lapangan padel Indonesia: modal miliaran, lapangan kerja baru, kelas sosial, sampai risiko gelembung. Riset mendalam.

Lapangan padel di Jakarta yang menjamur di tengah boom olahraga padel Indonesia
Lapangan padel yang menjamur di Jakarta di tengah boom olahraga ini. Foto: The Jakarta Post.

Dalam empat tahun, jumlah lapangan padel di Indonesia meledak dari 15 menjadi hampir seribu — rata-rata hampir empat lapangan baru dibangun setiap hari. Di balik dinding kaca setinggi tiga meter itu bergerak modal miliaran rupiah, gelombang pekerjaan baru, ambisi kota, dan sebuah pertanyaan lama tentang siapa yang sebenarnya boleh ikut bermain. Ini kisah ekonomi sebuah olahraga yang tumbuh nyaris terlalu cepat untuk dipahami.

Prolog: Pukul Delapan Malam, Dinding Kaca, dan Antrean yang Tak Selesai

Di sebuah kompleks olahraga di selatan Jakarta, pukul delapan malam adalah jam paling mahal dalam sehari. Lampu sorot menyala terang di atas rumput sintetis biru. Bola kuning memantul dari kaca tempered setinggi tiga meter dengan bunyi khas — tok yang lebih tumpul dari tenis, lebih renyah dari squash. Di dalam kotak seluas dua puluh kali sepuluh meter itu, empat orang bergerak: seorang direktur pemasaran yang baru selesai rapat, dua kawannya dari industri yang sama, dan seorang klien yang sedang mereka dekati. Mereka tidak sedang menutup kontrak. Tapi mereka juga tidak sedang tidak menutup kontrak.

Di luar pagar, bangku-bangku penuh. Ada yang menunggu giliran, ada yang sekadar menonton sambil menyeruput kopi seharga tiga puluh ribu dari kafe di sudut venue. Seorang pelatih muda — dulu pemain tenis, kini bersertifikat padel dari sebuah akademi di Bali — mengecek jadwalnya di ponsel: penuh sampai tengah malam. Di meja resepsionis, seorang admin perempuan lulusan SMA mencatat pembayaran. Ia bekerja sampai pukul dua dini hari, dan gaji yang ia bawa pulang lebih kecil daripada upah minimum kota tempat ia bekerja. Tepat di atas kepalanya, papan tarif menuliskan angka yang, dalam satu jam, hampir menyamai penghasilannya sepekan.

Adegan ini berulang, dengan variasi kecil, di hampir seribu lapangan di seluruh Indonesia malam itu. Dari Kelapa Gading sampai Canggu, dari Bintaro sampai Gianyar, dinding-dinding kaca yang sama menyala, memantulkan bola yang sama, dan menampung uang yang jumlahnya — kalau kamu menjumlahkannya — mengejutkan.

Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya membentang jauh: dari sebuah vila di Meksiko pada 1969, ke lantai bursa tempat investor Qatar membeli tur profesional, ke gudang-gudang kosong di pinggiran Jakarta yang tiba-tiba menemukan hidup kedua, sampai ke slip gaji di bawah UMK yang tak pernah difoto untuk Instagram. Bagaimana sebuah kotak berdinding kaca bisa menjadi mesin ekonomi — dan, yang lebih penting, mesin ekonomi untuk siapa?

Tulisan ini mencoba menjawabnya. Bukan dengan satu angka, melainkan dengan seluruh rantai: dari modal yang ditanam, kerja yang lahir, kelas yang dibedakan, sampai retakan yang mulai terlihat di balik kilaunya.

Padel bukan sekadar olahraga yang sedang naik daun. Ia adalah kelas ekonomi yang dibangun di atas lahan seluas dua ratus meter persegi — dan seperti semua kelas, ia menentukan siapa yang masuk dan siapa yang melayani dari balik meja.

Angka yang Sulit Dipercaya

Mari mulai dari yang paling telanjang: skalanya.

Pada 2021, seluruh Indonesia hanya punya sekitar 15 lapangan padel yang tersebar di 3 klub. Empat tahun kemudian, menurut Indonesia Padel Report 2025 yang disusun firma data Core & Court dan dikutip Databoks Katadata (Februari 2026), angkanya melonjak menjadi 947 lapangan di 293 klub — pertumbuhan lebih dari enam ribu persen. Laporan yang sama mencatat lebih dari 20.000 pemain terdaftar dan ratusan pemain berlabel profesional.

Kalau angka empat tahun terasa abstrak, ambil potret yang lebih dekat. Data platform analitik Growell yang dirangkum GoodStats (Maret 2026) memperlihatkan lonjakan dari 240 lapangan pada 2024 menjadi 947 pada 2025 — kenaikan sekitar 435 persen dalam satu tahun. Terjemahannya ke dalam ritme harian nyaris tak masuk akal: rata-rata hampir empat lapangan padel baru dibuka setiap hari sepanjang tahun itu.

Ibu kota adalah pusat gempanya. Menurut Kumparan yang mengutip data pemerintah provinsi (Februari 2026), jumlah lokasi padel di Jakarta melonjak dari 102 titik pada akhir Juli 2025 menjadi 384 lokasi hanya tujuh bulan kemudian — hampir empat kali lipat. Kompas.id (April 2026) mencatat Jakarta menampung sekitar 397 lapangan, atau lebih dari separuh total nasional, dengan Jakarta Selatan sebagai episentrum: lebih dari dua ratus lapangan berdesak di satu wilayah administratif saja.

TahunLapangan (Indonesia)Catatan
2021±153 klub (Core & Court)
2024±240basis data Growell
2025±947293 klub; >20.000 pemain (Core & Court)
2026 (proyeksi)±2.527model Growell
2028 (proyeksi)±5.573model Growell

Catatan: angka jumlah lapangan berbeda antar-penyedia data karena definisi (lapangan vs klub vs lokasi terdaftar) dan tanggal potret berlainan. Federasi Padel Internasional (FIP), misalnya, hanya menghitung lapangan permanen terdaftar dan mencatat angka jauh lebih kecil (134 lapangan pada Mei 2024). Proyeksi 2026–2028 adalah model, bukan realisasi.

Yang membuat cerita Indonesia istimewa bukan sekadar jumlah, tapi intensitas ekonominya. Playtomic Global Padel Report 2025, yang dirujuk media bisnis Campaign Indonesia (Desember 2025), mencatat nilai transaksi rata-rata per lapangan per bulan di Indonesia melonjak dari sekitar €2.300 pada 2023 menjadi €6.300 pada 2024 — kenaikan 173 persen, dan disebut sebagai yang tertinggi di dunia. Artinya: lapangan padel Indonesia bukan cuma banyak, tapi juga sibuk dan menghasilkan. Pada jam sibuk, tingkat okupansi menyentuh angka 98,3 persen — praktis tak ada slot yang kosong. Lebih dari 70 persen pemesanan datang secara berkelompok, bukan perorangan; usia rata-rata pemain 28 tahun; dan pencarian kata “padel” di mesin telusur melonjak lebih dari 1.283 persen dalam setahun.

Semua ini terjadi di negara yang, hanya beberapa tahun sebelumnya, sebagian besar warganya belum pernah mendengar kata itu diucapkan dengan benar — pá-del, bukan pedal.

Dalam empat tahun, Indonesia berpindah dari nyaris nol menjadi salah satu pasar padel paling padat modal di planet ini. Kurva pertumbuhannya bukan garis yang menanjak; ia adalah dinding yang berdiri tegak.

Dari Vila di Acapulco ke Sawah di Pererenan

Untuk memahami kenapa sebuah kotak berdinding kaca bisa begitu memikat, ada baiknya mundur jauh — ke sebuah vila mewah di Acapulco, Meksiko, tahun 1969.

Adalah Enrique Corcuera, seorang pengusaha kaya, yang punya masalah kecil: lahannya tak cukup luas untuk lapangan tenis penuh. Alih-alih menyerah, ia membangun lapangan yang lebih kecil, mengelilinginya dengan dinding, dan membiarkan bola boleh memantul dari tembok seperti dalam permainan frontón. Menurut catatan sejarah Federasi Padel Internasional, aturan pertama permainan itu disusun oleh istrinya, Viviana, mantan ratu kecantikan asal Argentina. Sebuah olahraga lahir dari keterbatasan lahan — ironi yang akan terus mengikutinya sampai ke Jakarta setengah abad kemudian.

Dari Acapulco, padel menyeberang dua arah. Ke Spanyol, dibawa seorang bangsawan yang membangun lapangan Eropa pertama di Marbella pada awal 1970-an; dan ke Argentina, tempat ia menjadi olahraga rakyat sesungguhnya. Di kedua negara itu padel mengakar begitu dalam hingga hari ini Spanyol memiliki lebih dari tujuh belas ribu lapangan. Federasi internasionalnya berdiri di Madrid pada 1991. Selama tiga dekade, padel tetap menjadi rahasia dunia berbahasa Spanyol — besar di sana, nyaris tak terlihat di tempat lain.

Lalu datang dekade 2020-an, dan padel meledak ke seluruh dunia sekaligus. Dan di Indonesia, titik nolnya bukan Jakarta, melainkan Bali.

Kisahnya, sebagaimana dituturkan media Coconuts (Oktober 2023), dimulai dari seorang Italia bernama Toni Montesanti dan istrinya, Elisa, yang pindah ke Bali pada Maret 2021 di tengah pandemi. Mereka merindukan olahraga yang mereka cintai di Eropa, tapi tak menemukan satu lapangan pun. Maka mereka membangunnya sendiri. Lapangan pertama muncul di sebuah resor di Nusa Dua; lalu, bersama dua rekan, mereka mendirikan Jungle Padel di Pererenan — sebuah klub yang secara resmi buka pada 14 Februari 2022, dikelilingi sawah, dengan satu lapangan yang mula-mula digratiskan agar orang mau mencoba.

“Keindahan padel adalah ia untuk semua orang. Permainannya sangat menyenangkan dan bikin ketagihan.” — Toni Montesanti, pendiri Jungle Padel

Strategi “coba dulu, gratis” itu bekerja. Ekspatriat mencoba, lalu turis, lalu orang Indonesia. Pada akhir 2023, Bali sudah punya sekitar 15 klub dan lebih dari 60 lapangan. Pusat gravitasi olahraga ini, untuk sesaat, adalah pulau wisata — dengan penggemar yang mayoritas berpaspor asing.

Tapi uang, seperti biasa, mengejar populasi. Dan populasi kelas menengah-atas Indonesia terkonsentrasi di Jabodetabek. Maka dalam dua tahun berikutnya, pusat gravitasi bergeser drastis. Kalau pada Mei 2024 data FIP masih menempatkan Bali sebagai pemegang sekitar dua pertiga lapangan nasional, pada awal 2026 Jakarta sudah merebut lebih dari separuh — sebuah perpindahan pusat dari pasar ekspatriat pulau ke pasar korporat ibu kota. Padel berhenti menjadi cerita liburan, dan mulai menjadi cerita bisnis.

Anatomi Sebuah Lapangan: Apa yang Kamu Bayar di Balik Kaca

Sebelum bicara keuntungan, mari bongkar biayanya. Apa, sebenarnya, yang membuat satu lapangan padel begitu mahal untuk dibangun?

Sebuah lapangan padel standar berukuran dua puluh kali sepuluh meter, dikelilingi rangka baja, panel kaca tempered setebal sepuluh hingga dua belas milimeter, jaring pengaman logam, rumput sintetis khusus, dan sistem pencahayaan yang cukup terang untuk permainan malam. Menurut Detik Properti (Februari 2026), yang mewawancarai arsitek dan kontraktor lapangan, biaya konstruksi satu lapangan — komponen struktur dan permukaan saja, belum termasuk atap — berkisar Rp400 juta hingga Rp500 juta. Tambahkan atap, fasilitas pendukung, dan perizinan, dan angkanya membengkak.

Hitungan yang lebih menyeluruh datang dari platform bisnis Majoo (Agustus 2025). Untuk satu lapangan komersial, rinciannya kira-kira: sewa lahan Rp200–400 juta per tahun, konstruksi lapangan Rp800 juta–1,2 miliar, perizinan Rp20–50 juta, fasilitas pendukung Rp150–300 juta, dan pemasaran awal Rp30–70 juta. Total modal awal: Rp1,2 hingga 2 miliar untuk satu lapangan. Untuk kompleks lima lapangan berkelas tinggi, seorang arsitek yang dikutip Kumparan (Agustus 2025) menyebut angka sekitar Rp9 miliar — atau hampir Rp1,8 miliar per lapangan.

KomponenKisaran BiayaKeterangan
Sewa lahan (per tahun)Rp200–400 jutaSangat bergantung lokasi
Konstruksi lapanganRp800 juta–1,2 miliarBaja, kaca tempered, rumput, lampu
PerizinanRp20–50 juta
Fasilitas pendukungRp150–300 jutaRuang ganti, kafe, area tunggu
Pemasaran awalRp30–70 juta
Total per lapangan (all-in)±Rp1,2–2 miliarKelas standar–high-end

Catatan: angka bervariasi menurut kelas venue dan cakupan (struktur saja vs termasuk atap dan fasilitas). Sebagian estimasi berasal dari konsultan dan kontraktor, bukan audit resmi.

Di sinilah tersembunyi salah satu urat ekonomi paling menarik dari cerita ini: rantai pasok komponennya sebagian besar impor. Kaca tempered berkualitas lapangan, rangka baja presisi, dan rumput sintetis kelas kompetisi banyak didatangkan dari luar — terutama dari produsen di Spanyol dan Tiongkok. Perbedaan asal komponen menjelaskan lebar rentang biaya: sumber yang dirangkum dari berbagai kontraktor menyebut lapangan dengan komponen lokal bisa ditekan ke kisaran Rp300–400 juta, komponen Tiongkok sekitar Rp600 juta, dan komponen “kualitas internasional” ala Spanyol menembus Rp1 miliar ke atas. (Rincian asal impor ini belum banyak dikonfirmasi media arus utama dan sebaiknya diperlakukan sebagai indikatif.)

Artinya, setiap lapangan yang berdiri di Jakarta bukan cuma menghidupkan ekonomi lokal — ia juga, diam-diam, adalah transaksi impor. Boom padel Indonesia sebagian adalah boom bagi pabrik kaca dan baja di Guangdong dan Valencia.

Setelah lapangan berdiri, mesin uangnya menyala lewat tarif sewa per jam. Dan di sinilah kelas ekonomi pemainnya mulai terbaca. Berdasarkan kompilasi tarif sepuluh venue Jakarta oleh Fortune Indonesia (Agustus 2025), harga bergerak dari Rp75.000 per jam di kelas paling terjangkau hingga Rp450.000 per jam di venue premium seperti Pondok Indah Padel Club — dengan sebagian tempat menembus Rp550.000–600.000 pada jam sibuk. Sebagai perbandingan, di Yogyakarta tarifnya jauh lebih ringan, Rp100.000–125.000 per jam; sementara di Bali rentangnya paling ekstrem, dari Rp50.000 di Jungle Padel sampai Rp520.000 di akademi kelas atas.

Angka-angka itu terdengar biasa sampai kamu mengalikannya. Satu lapangan yang disewa Rp400.000 per jam, dua belas jam sehari, tiga puluh hari sebulan, pada okupansi penuh, menghasilkan lebih dari Rp140 juta sebulan — dari satu kotak berdinding kaca. Kalikan lima, dan kamu paham kenapa investor berdatangan.

Sebuah lapangan padel adalah aset yang menjual waktu. Ia tak memproduksi apa pun kecuali jam — dan pada jam delapan malam di Jakarta Selatan, satu jam bisa berharga lebih dari sehari kerja orang yang menjaganya.

Matematika Cuan dan Ilusi Balik Modal

Kalau biayanya miliaran, kenapa orang berbondong-bondong masuk? Jawabannya ada pada satu angka yang beredar dari mulut ke mulut di kalangan calon investor: balik modal satu tahun.

Angka itu bukan isapan jempol — setidaknya untuk kasus terbaik. Kumparan Bisnis (Agustus 2025) membedah satu studi kasus yang kerap dikutip: The Padel Room di Cipete, Jakarta Selatan, milik operator bernama Jodi Akbar. Venue itu punya lima lapangan, beroperasi delapan belas jam sehari (pukul 06.00 sampai 24.00), dengan tarif Rp550.000–600.000 per jam. Pada tingkat okupansi 65 persen, hitungannya: omzet sekitar Rp1,009 miliar per bulan, biaya operasional Rp330 juta, dan laba bersih sekitar Rp679 juta per bulan. Dengan modal sekitar Rp9 miliar, titik impasnya tercapai dalam waktu sekitar 1,1 tahun.

Membaca angka itu, siapa yang tak tergoda? Laba Rp679 juta sebulan dari lima kotak kaca terdengar seperti mesin cetak uang. Tapi di sinilah letak jebakan yang jarang dibicarakan brosur investasi: seluruh hitungan itu berdiri di atas satu asumsi — okupansi 65 persen.

Skenario yang lebih membumi datang dari Majoo. Untuk satu lapangan dengan tarif rata-rata Rp400.000 per jam dan dua belas jam operasi, pada okupansi 50 persen omzetnya sekitar Rp72 juta per bulan; pada 70–80 persen naik ke Rp100–120 juta. Setelah dikurangi biaya operasional Rp30–50 juta, laba bersihnya sekitar Rp32 juta per bulan, atau Rp384 juta setahun. Dengan modal Rp1,2–2 miliar, titik impasnya melar menjadi tiga sampai lima tahun — bukan satu.

“Kalau saya bisnis, harus suka dulu. Harus passion.” — Jodi Akbar, operator The Padel Room

Kalimat Jodi itu terdengar seperti klise motivasi. Tapi di balik bisnis yang balik modalnya sangat sensitif terhadap satu variabel — apakah lapanganmu terisi atau tidak — “passion” sebenarnya adalah bahasa halus untuk daya tahan: kemampuan bertahan ketika okupansi tak setinggi janji spreadsheet.

Yang mendorong optimisme adalah para pemain besar yang bergerak dengan skala. La Padel, dipimpin CEO Kevin Audy Lesmana, mengumumkan rencana membangun lima kompleks olahraga di Jabodetabek dengan total 45 lapangan hingga akhir 2026, dimulai dari lokasi sembilan lapangan di Puri Indah, Jakarta Barat, dengan target beroperasi Desember 2025 (The Jakarta Post, Agustus 2025). Klaim mereka: menjadi operator padel terbesar di Indonesia. Ketika sebuah pemain tunggal berani menanam modal untuk 45 lapangan sekaligus, itu adalah taruhan bahwa permintaan akan terus mengejar pasokan.

Pertanyaannya — dan kita akan kembali ke sini di bagian yang lebih gelap — adalah apa yang terjadi ketika pasokan justru mendahului permintaan. Ketika bukan satu, tapi ratusan orang membaca hitungan “balik modal satu tahun” yang sama, dan semuanya membangun di kota yang sama, pada tahun yang sama.

Padel dan Properti: Menyewakan Waktu di Atas Lahan yang Menganggur

Ada satu pemain diam dalam cerita ini yang jarang masuk foto: pemilik lahan.

Boom padel tidak terjadi di ruang hampa. Ia meledak tepat ketika pasar properti komersial Jakarta sedang lesu — mal dengan lantai kosong, ruko yang sulit disewakan, gudang menganggur, dan petak-petak tanah di kawasan premium yang menunggu proyek yang tak kunjung datang. Bagi pemilik aset semacam itu, padel menawarkan sesuatu yang menggoda: cara mengubah lahan mati menjadi arus kas, cepat, tanpa komitmen permanen.

Media properti Babelinsight (Mei 2026) mengutip analisis konsultan properti global JLL yang menyebut fenomena ini sebagai “asset optimization” — atau, lebih tepatnya, transition investment: mengaktifkan ruang menganggur dengan padel sambil menunggu pasar properti pulih dan penggunaan yang lebih permanen datang. Di kawasan seperti Kuningan, Sudirman, Menteng, dan Kebayoran, lahan yang tadinya membebani neraca berubah menjadi lapangan yang menghasilkan sewa per jam.

Logikanya elegan. Sebuah lapangan padel butuh lahan relatif kecil, tidak memerlukan renovasi bangunan berat, dan bisa dibongkar bila diperlukan. Ia mengisi ruang, menciptakan keramaian yang menghidupkan kafe dan tenant di sekitarnya, dan — selama tren masih panas — menghasilkan uang. Beberapa venue bahkan naik ke atap mal atau menempati bekas gudang, mengubah ruang yang secara tradisional sulit dimonetisasi menjadi arena prime time.

Tapi elegansi itu punya batas, dan batasnya adalah aritmetika yang sama dengan bisnisnya. Ketika terlalu banyak pemilik lahan menemukan ide yang sama, pasokan lapangan membanjir, dan sewa per jam — sumber tunggal pendapatan — mulai tertekan. Babelinsight mencatat bahwa di sebagian lokasi, tarif sudah turun dari kisaran Rp500.000 ke sekitar Rp250.000 per jam akibat kelebihan pasokan, memperpanjang waktu balik modal yang tadinya dijanjikan satu-dua tahun. Sementara itu, okupansi mal ritel Jakarta justru membaik ke kisaran 86–90 persen menjelang akhir 2025 — sebuah pengingat bahwa, bagi sebagian pemilik properti, padel mungkin memang hanya penyewa sementara sampai penyewa yang lebih menguntungkan datang.

Dengan kata lain, sebagian dari boom ini bukan tentang cinta pada olahraga. Ia tentang neraca. Padel adalah cara elegan menunda pertanyaan “mau diapakan lahan ini?” — dan pertanyaan itu, cepat atau lambat, akan kembali.

Di banyak sudut Jakarta, lapangan padel bukan tujuan akhir sebuah lahan, melainkan ruang tunggu yang menghasilkan uang. Ia mengisi jeda antara satu rencana properti dan rencana berikutnya.

Rantai Nilai: Pelatih, Raket, dan Ekonomi yang Ikut Lahir

Sejauh ini kita bicara tentang lapangan sebagai aset. Tapi ekonomi sesungguhnya dari padel tidak berhenti di dinding kaca. Ia menjalar ke luar, menciptakan lapisan-lapisan pekerjaan dan bisnis yang, tiga tahun lalu, belum ada.

Mulai dari yang paling langsung: pelatih. Ketika sebuah olahraga tumbuh dari nol dengan kecepatan empat lapangan sehari, kebutuhan akan orang yang bisa mengajar melonjak jauh lebih cepat daripada pasokannya. Hasilnya adalah kelangkaan — dan kelangkaan, dalam ekonomi, berarti harga. Menurut kompilasi Bank Sinarmas (Januari 2026), tarif melatih di Indonesia berkisar Rp150.000–300.000 per orang untuk kelas grup satu jam, Rp300.000–800.000 untuk sesi privat, dan Rp1–4 juta untuk paket bulanan. Untuk pelatih yang jamnya penuh dari sore sampai tengah malam, ini bisa menjadi penghidupan yang layak — meski data penghasilan bulanan pelatih padel spesifik di Indonesia belum terdokumentasi resmi, dan klaim “penghasilan tinggi” masih bersifat kualitatif.

Dari mana para pelatih ini datang? Sebagian besar adalah migran dari olahraga raket lain, terutama tenis. Sinyalnya terlihat dari lembaga seperti Jakarta Tennis Academy yang membuka divisi padel — jalur alami bagi pelatih dan mantan atlet tenis untuk berpindah ke cabang yang sedang panas. Persoalannya, hampir tak ada dari mereka yang bersertifikat secara formal di awal boom. Untuk menambal itu, PBPI — organisasi induk yang berdiri pada 2023 — meluncurkan Program Sertifikasi Pelatih Nasional, mewajibkan pelatih menempuh setidaknya Level 0 lewat platform FIP Academy mulai Juli 2026.

“Awal tahun depan, instruktur pelatih dari federasi internasional padel akan datang ke sini untuk mensertifikasi pelatih-pelatih kita.” — Galih Kartasasmita, Ketua Umum PBPI

Betapa mudanya profesi ini terlihat dari siapa yang menekuninya. Presenter dan komedian Desta — Deddy Mahendra Desta — misalnya, terang-terangan bercerita ke Detik (Maret 2026) bahwa ia mengambil sertifikat pelatih Level 1 dari akademi berlisensi Spanyol yang beroperasi di Bali, prosesnya tiga hari. Ketika seorang selebritas populer merasa bangga menyebut dirinya “pelatih bersertifikat”, kamu tahu profesi itu sedang dalam fase paling awal dan paling terbuka — sebuah lapangan kerja baru yang batas masuknya masih longgar.

Lapisan kedua: retail dan perlengkapan. Padel menuntut peralatan, dan peralatan itu punya rentang harga yang, sekali lagi, memetakan kelas. Menurut Bank Sinarmas dan kompilasi Liputan6, raket pemula dijual Rp500.000–1,5 juta, kelas menengah Rp1,5–3 juta, dan raket profesional dari merek seperti Nox, Adidas, atau Bullpadel menembus Rp5–8 juta per bilah. Sepatu khusus padel berkisar Rp500.000 hingga di atas Rp3 juta; bola dijual per tabung. Pasar peralatan padel global sendiri, menurut lembaga riset Global Growth Insights, bernilai sekitar US$275 juta pada 2025 dan diproyeksikan hampir dua kali lipat menjadi US$527 juta pada 2034 — dengan raket menyumbang sekitar 62 persen volume penjualan. Indonesia belum punya angka pasar peralatan tersendiri, tapi setiap raket Bullpadel yang dijual di marketplace lokal adalah bagian dari aliran itu.

Lapisan ketiga: makanan, minuman, dan gaya hidup. Venue padel modern jarang hanya berupa lapangan. Ia dilengkapi kafe, restoran, area nongkrong, bahkan musala — mengubah olahraga menjadi tempat menghabiskan sore. King Padel by Homeground di Jakarta Selatan, Star Padel di Pulomas dengan kafenya, atau venue-venue di Canggu yang memadukan delapan lapangan dengan restoran sehat berlatar sawah: semuanya menjual lebih dari sekadar jam bermain. Mereka menjual pengalaman, dan pengalaman itu menggerakkan ekonomi kuliner di sekitarnya.

Lapisan keempat: sponsor. Ketika sebuah olahraga menarik penonton dari kelas menengah-atas urban, merek mengikuti. Dalam dua tahun terakhir, hampir semua bank besar Indonesia menempelkan nama mereka ke turnamen padel. BCA menjadi sponsor sirkuit Indonesia Open Padel; BRI menjadi sponsor utama beberapa liga; Bank Neo Commerce menggelar turnamennya sendiri untuk membidik kaum muda urban; dan kompetisi seperti Cakap Padel 2025 menggandeng merek FMCG seperti Pocari Sweat dan Glico. Padel, bagi para pemasar, adalah kanal langsung menuju dompet kelas menengah yang sulit dijangkau iklan konvensional.

Semua lapisan ini — pelatih, retail, kuliner, sponsor — adalah ekonomi yang lahir dari, dan bergantung pada, dinding kaca yang menyala setiap malam. Ketika lampu-lampu itu terisi, seluruh rantai ikut hidup. Pertanyaannya, seperti selalu, adalah apa yang terjadi di dasar rantai — di tempat yang jarang difoto.

Sisi yang Jarang Difoto: Upah di Balik Meja Resepsionis

Setiap boom punya dua wajah. Yang satu ada di Instagram: raket mahal, kaus keringat estetik, tos setelah rally panjang. Yang lain berdiri di balik meja resepsionis, mencatat pembayaran sampai dini hari, dengan gaji yang tak pernah masuk bingkai.

Media perburuhan Konde.co (April 2026), lewat laporan mendalam penulis Luthfi Maulana Adhari, mengangkat wajah kedua itu. Salah satu narasumbernya — disebut dengan nama samaran “Amerta” — bekerja sebagai staf admin di sebuah venue padel di Bekasi. Ia dijanjikan gaji Rp5 juta per bulan; yang ia terima Rp4 juta; yang benar-benar ia bawa pulang, setelah berbagai potongan, rata-rata sekitar Rp3,5 juta. Angka itu di bawah upah minimum kota tempat ia bekerja — UMK Bekasi tercatat Rp5,16 juta pada 2023 dan naik menjadi Rp5,69 juta pada 2025.

Di venue yang sama, laporan itu mencatat, seorang office boy digaji Rp1–1,5 juta per bulan, dan admin perempuan lulusan SMA sekitar Rp2,3–2,5 juta. Tanpa kontrak tertulis. Tanpa BPJS yang ditanggung perusahaan — pekerja mengurusnya sendiri. Jam kerja memanjang sampai pukul dua dini hari mengikuti jam sibuk lapangan. Potongan gaji dilakukan sepihak.

Kontras itu tajam sampai terasa tidak nyaman. Di lapangan yang sama, dalam satu jam, seorang pemain membayar Rp400.000–600.000 untuk menyewa waktu. Orang yang mencatat pembayaran itu perlu bekerja hampir sepekan untuk mendapatkan jumlah setara. Bola yang sama, dinding kaca yang sama, malam yang sama — dua ekonomi yang sepenuhnya berbeda, dipisahkan hanya oleh pagar lapangan.

Padel elite dibangun di atas jam kerja panjang orang-orang yang tak akan pernah mampu menyewa lapangan yang mereka bersihkan. Setiap boom gaya hidup memproduksi keriangan di satu sisi pagar dan keheningan di sisi lain.

Ini bukan untuk mengatakan bahwa padel menciptakan eksploitasi yang tak ada sebelumnya — upah rendah di sektor jasa informal adalah persoalan struktural Indonesia yang jauh lebih tua daripada olahraga ini. Tapi boom padel memperbesar dan mempercepatnya: ketika ratusan venue dibangun dalam hitungan bulan, ratusan meja resepsionis, pos kebersihan, dan shift malam ikut lahir — sebagian besar sebagai kerja informal tanpa jaring pengaman. Lapangan kerja memang tercipta. Pertanyaan yang lebih jujur adalah: lapangan kerja seperti apa?

Ekonomi padel, kalau dilihat utuh, adalah ekonomi yang sangat produktif di puncaknya dan sangat rapuh di dasarnya. Miliaran mengalir di tarif sewa dan raket impor; ribuan lapangan kerja lahir; tapi sebagian besar penciptaan nilai itu berhenti sebelum sampai ke tangan yang paling bawah. Memahami padel sebagai fenomena ekonomi berarti memegang dua fakta ini sekaligus — bukan memilih salah satunya.

Siapa Sebenarnya yang Berdiri di Garis Servis

Kalau kamu ingin tahu untuk siapa sebuah ekonomi bekerja, lihat siapa yang mampu ikut bermain di dalamnya.

Secara kasat mata, padel Indonesia adalah olahraga kelas menengah-atas urban. Data awal dari Proxima Research (2024) mencatat sebagian besar lapangan terkonsentrasi di Jabodetabek dan Bali — kawasan dengan daya beli tertinggi. Profil pemainnya, sebagaimana tergambar di lini masa media sosial dan liputan media hiburan, adalah eksekutif, pengusaha, ekspatriat, dan — yang paling terlihat — selebritas.

Daftarnya panjang. Kompas Hype (Mei 2025) menyebut deretan artis yang terpantau bermain padel: Aurel Hermansyah, Nagita Slavina, Ashanty, Dian Sastrowardoyo, Verrell Bramasta, sampai Anya Geraldine yang menjuluki dirinya “padel princess”. Lebih jauh dari sekadar bermain, sebagian selebritas menjadikannya bisnis: menurut IDN Times (Juli 2025), Baim Wong membangun lapangan di kawasan kantornya, Anang dan Ashanty mendirikan “Padel Club Indonesia” di Jimbaran Bali, dan YouTuber Jerome Polin meluncurkan venue bernama “Beyond Padel”. Ketika selebritas tak cuma bermain tapi berinvestasi, sebuah olahraga sudah resmi menjadi kelas aset gaya hidup.

Yang membuat padel berbeda dari, katakanlah, lari pagi, adalah fungsi sosialnya. Padel dimainkan berempat, di ruang tertutup, dengan rally yang lebih panjang dan lebih ramah pemula dibanding tenis. Ia dirancang, nyaris secara sempurna, untuk percakapan. Maka tak mengherankan bila ia dengan cepat menggeser lapangan golf sebagai arena networking korporat favorit. Golf butuh setengah hari dan padang seluas puluhan hektare; padel butuh sembilan puluh menit dan sebuah kotak kaca di tengah kota. Untuk eksekutif yang waktunya mahal, efisiensinya tak tertandingi.

Tapi efisiensi sosial itu punya harga masuk. Mari hitung dengan jujur. Sebuah raket pemula yang layak: Rp2 juta. Sepatu: Rp1 juta. Lalu biaya rutin: kalau kamu bermain empat kali sebulan dengan patungan berempat di lapangan kelas menengah, ongkosnya sekitar Rp200.000 per sesi, atau Rp800.000 sebulan — sebelum menghitung pelatih privat yang tarifnya Rp800.000 hingga Rp1,5 juta per jam. Bandingkan dengan upah minimum provinsi DKI Jakarta yang berada di kisaran Rp5,3 juta pada 2025, dan gambarannya jelas: bermain padel secara rutin dan serius adalah pengeluaran yang, bagi sebagian besar penduduk, berada di luar jangkauan.

Inilah kenapa media seperti Grid.id (Agustus 2025) terang-terangan menyebutnya “olahraga orang kaya”. Biaya termahal bukanlah sewa lapangan yang bisa dipatungan, melainkan perlengkapan, pelatih, dan keanggotaan — komponen yang mengubah padel dari sekadar olahraga menjadi penanda kelas.

Namun potret itu tidak sepenuhnya seragam, dan di sinilah nuansanya menarik. Sosiolog Nia Elvina dari Universitas Nasional, dikutip Kompas Lifestyle (Agustus 2025), menyoroti sisi lain: sebagian pemain justru datang dari kelas menengah-bawah yang ikut arus tren — sebagian bahkan rela berutang demi gaya hidup yang terlihat di layar. Dua kenyataan ini hidup berdampingan: padel adalah panggung kelas atas sekaligus magnet aspirasi kelas yang ingin terlihat naik. Yang satu bermain karena mampu; yang lain bermain karena ingin dianggap mampu. Keduanya, secara ekonomi, sama-sama menghidupkan dinding kaca — tapi menceritakan hal yang sangat berbeda tentang masyarakat kita.

FOMO, Gengsi, dan Hantu Sepeda Lipat

Ada satu kata yang muncul berulang di hampir setiap analisis serius tentang padel Indonesia, dan kata itu bukan “olahraga” melainkan FOMOfear of missing out, takut ketinggalan.

Antropolog Rizky Sugianto Putri dari Universitas Airlangga, dikutip Mojok (Mei 2026), menawarkan pengamatan yang tajam: FOMO biasanya identik dengan rasa takut tertinggal tren hiburan, tapi kali ini ketakutan itu bergeser ke arah gaya hidup sehat. Orang tak sekadar ingin berolahraga; mereka ingin terlihat berolahraga, di tempat yang tepat, dengan orang-orang yang tepat, dan dengan perlengkapan yang tepat. Padel, dengan estetika dinding kacanya dan sifatnya yang sangat “instagramable”, adalah kendaraan sempurna untuk itu.

Di titik ini, seorang pembaca yang cukup berumur mungkin merasakan firasat yang tak enak. Kita pernah menonton film ini sebelumnya.

Ingat sepeda lipat? Pada puncak pandemi 2020–2021, Brompton dan sejenisnya menjadi penanda status paling panas di Jakarta. Harga sebuah unit yang aslinya sekitar Rp40 juta digoreng sampai Rp70–80 juta di pasar sekunder, menurut CNBC Indonesia (Juli 2022). Kawasan seperti STC Senayan menjadi “surga” penjual sepeda lipat premium. Lalu tren mereda, dan harga terjun bebas. Ketika Kompas menengok kembali kawasan itu pada Agustus 2025, ceritanya menyayat: dari enam-tujuh gerai sepeda yang dulu ramai, hanya satu yang bertahan.

“Kalau dulu sehari bisa laku puluhan unit. Sekarang paling sepuluh unit per minggu.” — Olivia, pegawai toko sepeda di STC Senayan

Yang lebih menarik, sebagian penggemar sepeda mahal itu, menurut liputan Kompas yang sama, kini justru berpaling ke padel — karena FOMO. Tren gaya hidup kelas menengah Indonesia, tampaknya, bergerak dalam gelombang: naik cepat, memuncak, lalu surut, meninggalkan aset mahal yang nilainya menguap dan segelintir pemain sejati yang bertahan karena benar-benar cinta, bukan karena takut ketinggalan.

Ada juga kritik yang lebih struktural, dan ini penting untuk tidak dilewatkan. Mojok menyoroti bahwa ledakan olahraga berbayar seperti padel sebagian adalah gejala dari kegagalan yang lebih dalam: minimnya ruang publik gratis. Undang-undang mewajibkan kota menyediakan setidaknya 30 persen ruang terbuka hijau, tapi kenyataannya jauh di bawah target. Ketika negara gagal menyediakan tempat berolahraga yang terbuka untuk semua, pasar mengambil alih — dan pasar menjual akses. Olahraga pun berubah dari hak menjadi komoditas, dan lapangan seharga ratusan ribu per jam menjadi penanda siapa yang mampu membelinya.

Dilihat dari sudut ini, dinding kaca padel bukan cuma batas lapangan. Ia adalah garis kelas — memisahkan mereka yang bisa membayar untuk bergerak dari mereka yang tidak.

Perempuan, Lapangan, dan Ruang yang (Akhirnya) Terasa Aman

Di tengah semua kritik soal eksklusivitas, ada satu dimensi di mana padel melakukan sesuatu yang layak diakui: ia membuka ruang olahraga yang terasa ramah bagi perempuan.

Berbeda dari banyak olahraga yang lama didominasi laki-laki, padel dari desainnya lebih inklusif. Ia dimainkan berpasangan, sering campuran, di ruang tertutup yang terang dan terpantau — faktor yang, bagi banyak perempuan, mengubah kalkulus keamanan berolahraga di ruang publik. Rally-nya panjang dan tidak menuntut kekuatan ekstrem, sehingga pemula dari segala usia dan gender bisa langsung menikmatinya.

Hasilnya adalah tumbuhnya komunitas-komunitas perempuan di sekitar olahraga ini. Di Malang, Luz Femme Padel Club berdiri khusus untuk perempuan, dengan hari bermain khusus dan turnamen sendiri. Di Jakarta, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) menggelar padel gathering yang memadukan olahraga dengan jejaring bisnis perempuan.

“Padel menjadi simbol bahwa perempuan Indonesia tidak hanya harus kuat dalam bisnis, tetapi juga sehat, tangguh, dan adaptif.” — Nita Yudi, Ketua Umum IWAPI

Secara ekonomi, ini bukan detail kecil. Ketika sebuah olahraga berhasil menarik separuh populasi yang sering terpinggirkan di arena olahraga lain, ia menggandakan pasarnya — dan menciptakan ceruk baru: kelas khusus perempuan, apparel, komunitas berbayar, sampai acara networking. Meski data persentase gender pemain padel Indonesia belum terdokumentasi resmi, keberadaan komunitas-komunitas ini menunjukkan bahwa daya tarik padel melampaui satu demografi. Sebagian dari daya tahannya sebagai bisnis mungkin justru bergantung pada seberapa berhasil ia mempertahankan keterbukaan ini — bukan sekadar menjadi klub eksklusif lelaki eksekutif dengan raket mahal.

Bola Kecil, Uang Besar: Pelajaran dari Panggung Global

Untuk menakar ke mana ekonomi padel Indonesia mungkin bergerak, ada gunanya menengok panggung dunia — karena Indonesia sedang mengulang, dengan kecepatan lebih tinggi, sebuah film yang sudah tayang di banyak negara.

Secara global, padel adalah salah satu olahraga dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Angka pemainnya bervariasi tergantung sumber dan definisi: platform pemesanan Playtomic dalam laporan globalnya menghitung sekitar 19,4 juta pemain, sementara Federasi Padel Internasional dalam World Padel Report 2025 menyebut angka lebih dari 35 juta pemain di 150 negara, dengan lebih dari 77.000 lapangan di seluruh dunia. Jumlah lapangan dunia tumbuh belasan persen setiap tahun. Popularitas pencarian kata “padel” di mesin telusur telah naik sekitar 18 persen per tahun sejak 2016.

Uang mengalir mengikuti gairah itu. Menurut laporan Playtomic bersama Strategy& (bagian dari PwC), industri padel global diproyeksikan mencapai €6 miliar pada 2026; lembaga lain seperti Deloitte, dikutip Sportico, memberi angka lebih konservatif — dari lebih US$2 miliar menuju US$4 miliar pada tahun yang sama. (Angka-angka ini memakai metodologi dan mata uang berbeda dan sebaiknya tidak dicampur.) Platform Playtomic sendiri, yang melayani ribuan klub, meraih pendanaan sekitar US$70 juta dengan valuasi ditaksir €250 juta.

Yang paling menunjukkan besarnya taruhan adalah masuknya modal negara. Pada Februari 2022, Qatar Sports Investments — pemilik klub sepak bola Paris Saint-Germain — meluncurkan tur profesional Premier Padel, lalu mengakuisisi tur saingannya untuk menyatukan panggung elite dunia. Merek global berlomba masuk: Qatar Airways, Cupra, sampai Red Bull yang menyiarkan pertandingan ke lebih dari 130 negara. Di Amerika Serikat, sebuah liga profesional menghimpun US$15 juta pada 2026 dengan valuasi franchise menembus US$10 juta. Selebritas dunia ikut bertaruh — dari petenis Andy Murray yang berinvestasi di operator lapangan Inggris, sampai Zlatan Ibrahimović yang mendanai jaringan lapangan di Swedia.

NegaraSkala PadelCatatan
Spanyol>17.000 lapanganPusat dunia
Italia>10.000 lapangan#2 dunia; Roma >1.500 lapangan
Swedia>4.200 lapangan (puncak)Contoh gelembung yang pecah
Inggris~710 lapangan (2024)Dari 50 pada 2019
Amerika Serikat>650 lapangan (2025)Dari <20 pada 2019
Indonesia~947 lapangan (2025)#1 Asia Tenggara

Sumber: kompilasi FIP, Playtomic, Sportcal, Padel Business Magazine, dan Core & Court. Angka adalah potret pada tahun yang tertera.

Tapi di antara semua cerita sukses itu, ada satu yang harus dibaca setiap investor Indonesia sebelum menandatangani cek: Swedia.

Retakan di Balik Kilau

Swedia adalah surga padel — sampai ia berubah menjadi peringatan.

Menurut European Business Magazine (Mei 2026), negara Skandinavia itu membangun lebih dari 4.200 lapangan dalam 36 bulan antara 2019 dan 2022, dari yang tadinya hanya beberapa ratus. Kota Uppsala saja meloncat dari 14 ke sekitar 100 lapangan dalam setahun. Uangnya mengalir, selebritas berinvestasi, dan semua orang yakin kurva itu akan naik selamanya.

Ia tidak naik selamanya. Menjelang akhir 2024, lebih dari 100 fasilitas telah tutup, sekitar 90 perusahaan padel bangkrut, dan modal yang menguap ditaksir mencapai €500 juta. Operator terbesar, yang didukung dana ekuitas swasta, menutup 50 dari 63 klubnya. Tingkat pemakaian lapangan anjlok di bawah 25 persen di banyak lokasi — jauh di bawah sekitar 45 persen yang dibutuhkan untuk sekadar impas di lingkungan dengan biaya sewa dan energi tinggi. Bekas hall padel disulap menjadi supermarket diskon dan gudang.

“Kehancuran itu bukan runtuhnya permintaan. Ia adalah runtuhnya pasokan — dipicu model pembiayaan yang salah mengira ledakan partisipasi sebagai tesis infrastruktur.” — European Business Magazine, tentang krisis padel Swedia

Kalimat itu layak dibaca dua kali oleh siapa pun yang sedang membangun lapangan di Jakarta. Karena ia menyebut persis penyakit yang sama: keyakinan bahwa karena banyak orang ingin bermain hari ini, permintaan itu akan cukup untuk mengisi semua lapangan yang dibangun besok.

Apakah Indonesia sedang menuju ke sana? Tanda-tandanya mulai terlihat — meski gambarannya lebih rumit daripada sekadar “gelembung akan pecah”.

Bukti koreksi pasar sudah muncul. Menurut kompilasi media bisnis (Associe, 2026), tingkat okupansi yang dulu bisa menembus 90 persen mulai merosot terhitung sejak November–Desember 2025. Perang harga dimulai: tarif yang dulu Rp500.000 per jam di sebagian tempat tergerus menjadi Rp250.000, menekan margin dan memperpanjang waktu balik modal. Penutupan pertama tercatat — El’s Padel di Kelapa Gading tutup permanen pada Januari 2026. Bahkan muncul pemandangan yang sangat mirip Swedia dalam skala mini: pada Mei 2026, satu set lapangan padel indoor lengkap dijual rugi seharga Rp199 juta di media sosial, ditafsirkan banyak orang sebagai sinyal bahwa sebagian pelaku mulai menyerah.

Ada juga gema sejarah domestik. Indonesia punya rak penuh tren olahraga yang naik lalu reda. Futsal meledak pada 2000-an, mengisi hampir setiap kota dengan lapangan sewaan, sebelum bergeser ke tren mini soccer — bahkan ada ikon futsal berusia 18 tahun di Palembang yang tutup pada 2025 dan, secara simbolis, dikonversi menjadi lapangan padel. Sepeda lipat naik dan jatuh dalam tiga tahun. Gym butik mulai menunjukkan tanda kejenuhan saat pemain baru terus berdatangan. Pola siklikalnya begitu konsisten hingga sosiolog menyebutnya bukan anomali, melainkan cara kerja normal tren gaya hidup kelas menengah Indonesia.

Namun — dan ini nuansa yang krusial — ada argumen kuat bahwa Indonesia belum benar-benar kelebihan pasokan secara nasional. Dosen UPN Veteran Jakarta, Dienni Ruhjatini Sholihah, menulis di The Conversation (Maret 2026) bahwa kepadatan lapangan padel Indonesia sebenarnya masih rendah — hanya sekitar 0,9 hingga 9 lapangan per satu juta penduduk, jauh di bawah negara-negara jenuh. Artinya, masalahnya bukan kelebihan pasokan nasional, melainkan hiperkonsentrasi lokal: terlalu banyak lapangan berdesak di segelintir titik — Jakarta Selatan, Tangerang — sementara sebagian besar Indonesia hampir tak tersentuh.

Padel Indonesia bukan sedang menghadapi kehancuran nasional, melainkan seleksi alam lokal. Yang mati bukan olahraganya, melainkan lapangan-lapangan yang dibangun di tempat yang salah, pada harga yang salah, dengan asumsi okupansi yang tak pernah nyata.

Kesimpulan Dienni menusuk tepat ke jantung persoalan: padel hari ini masih ditopang oleh konsumsi yang didorong stimulus — hype, FOMO, gengsi. Agar bertahan, ia harus bertransisi menjadi pembangunan komunitas yang organik — pemain yang datang karena mencintai permainannya, bukan karena takut ketinggalan. Tanpa loyalitas itu, padel berisiko mengulang persis kurva sepeda lipat: naik curam, lalu jatuh sama curamnya.

Ketika Negara Ikut Turun ke Lapangan

Ada aktor terakhir yang tak bisa diabaikan dalam ekonomi padel Indonesia: pemerintah. Dan negara masuk ke lapangan ini dari dua pintu sekaligus — sebagai pemungut pajak, dan sebagai promotor.

Dari pintu pertama, begitu padel terbukti menghasilkan uang, negara datang menagih bagiannya. DKI Jakarta menetapkan padel sebagai objek Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) untuk jasa kesenian dan hiburan, dengan tarif 10 persen, lewat surat keputusan Badan Pendapatan Daerah pada 2025. Padel bukan satu-satunya — ada 21 jenis olahraga permainan yang kena, dari gym, yoga, pilates, sampai futsal dan biliar. Pajak dikenakan atas sewa lapangan, biaya masuk, dan pemesanan lewat platform digital. Kebijakan serupa menyusul di Bandung, Surabaya, Denpasar, dan Pekanbaru.

Menariknya, Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo membingkai pajak ini bukan sebagai beban, melainkan tanda kedewasaan industri.

“Justru ini seharusnya jadi insentif karena masuknya di angka 10 persen, bukan yang besar. Ini justru mengamankan para penggiat usaha yang ingin membangun lapangan padel di Jakarta.” — Dito Ariotedjo, Menteri Pemuda dan Olahraga

Bagaimana pun cara membingkainya, aritmetikanya sederhana: pajak 10 persen memangkas margin di bisnis yang margin-nya sudah tertekan perang harga. Bagi venue di puncak okupansi, itu gangguan kecil. Bagi venue di ambang impas, itu bisa menjadi dorongan terakhir menuju penutupan.

Dari pintu kedua, negara juga menjadi pendorong. Pemerintah dan federasi melihat padel bukan cuma sumber pajak, tapi peluang sport tourism dan panggung diplomasi. Kepercayaan Federasi Padel Internasional pada Indonesia meningkat — dari dua turnamen berlabel Bronze pada 2025 menjadi enam event pada 2026, tersebar di Yogyakarta, Jakarta, Banten, dan Bali. Bali menjadi tuan rumah turnamen level Silver dan kategori junior yang diikuti puluhan negara. Ketua Umum KONI, Marciano Norman, menyebut turnamen internasional semacam ini sebagai bukti nyata pariwisata olahraga bekerja — mendatangkan atlet, ofisial, dan penonton asing yang menginap, makan, dan berbelanja di destinasi lokal. Bali bahkan membidik padel sebagai bagian dari agenda menuju PON 2028.

Di sinilah ekonomi padel menemukan potensi jangka panjangnya yang lebih sehat: bukan sekadar menjual jam sewa ke kelas menengah kota, tapi menghubungkan olahraga ini ke pariwisata, pembinaan atlet, dan ekonomi kreatif. Timnas padel Indonesia sudah menembus delapan besar Piala Asia FIP 2025 — bukti bahwa dari ledakan lapangan yang serampangan, mulai lahir prestasi. Jika boom infrastruktur yang liar ini bisa disalurkan menjadi ekosistem yang tertata — dengan atlet, turnamen, dan turis — maka dinding-dinding kaca itu punya alasan untuk tetap menyala jauh setelah hype-nya reda.

Itu, tentu saja, adalah “jika” yang sangat besar.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Muncul soal Ekonomi Padel

Berapa modal untuk membangun satu lapangan padel di Indonesia?

Kisaran realistis semua-termasuk adalah Rp1,2–2 miliar per lapangan untuk kelas standar hingga menengah-atas, mencakup konstruksi, sewa lahan tahun pertama, perizinan, dan fasilitas pendukung. Biaya konstruksi murni (struktur baja, kaca, rumput, lampu) sekitar Rp400 juta–1,2 miliar tergantung asal komponen — lokal, Tiongkok, atau Spanyol.

Benarkah bisnis padel balik modal dalam satu tahun?

Hanya dalam skenario terbaik: okupansi tinggi (sekitar 65 persen ke atas), tarif premium, dan lokasi strategis. Studi kasus venue lima lapangan yang sukses memang mencatat balik modal ~1 tahun. Tapi hitungan yang lebih konservatif — okupansi 50 persen, tarif menengah — menghasilkan balik modal 3–5 tahun. Karena pendapatan bergantung hampir sepenuhnya pada okupansi, hasilnya sangat bervariasi.

Apakah padel benar-benar menciptakan lapangan kerja?

Ya, di banyak lapisan: konstruksi, pelatih, wasit, staf operasional, kebersihan, kafe, sampai retail perlengkapan. Tapi kualitasnya beragam. Sebagian pekerjaan di garis depan venue bersifat informal, tanpa kontrak, dengan upah yang di beberapa kasus berada di bawah upah minimum kota — persoalan yang perlu jujur diakui di tengah cerita sukses.

Mengapa padel disebut “olahraga orang kaya”?

Bukan karena sewa lapangannya (yang bisa dipatungan berempat), melainkan karena biaya total: raket Rp2–8 juta, sepatu, pelatih privat Rp800 ribu–1,5 juta per jam, dan keanggotaan. Bermain rutin dan serius bisa menelan biaya bulanan yang, bagi sebagian besar penduduk, di luar jangkauan.

Apakah gelembung padel akan pecah seperti di Swedia?

Risikonya nyata tapi tak sama persis. Swedia mengalami keruntuhan pasokan setelah membangun >4.200 lapangan terlalu cepat. Indonesia menunjukkan tanda koreksi lokal — okupansi turun sejak akhir 2025, perang harga, penutupan pertama — tapi secara nasional kepadatannya masih rendah. Yang paling mungkin bukan crash nasional, melainkan seleksi lokal: lapangan di lokasi jenuh dan berharga salah akan gugur, sisanya bertahan.

Apa bedanya padel dengan tren futsal atau sepeda lipat dulu?

Polanya mirip — tren gaya hidup kelas menengah yang naik cepat. Bedanya, padel punya infrastruktur federasi, jalur turnamen internasional, dan potensi sport tourism yang lebih kuat. Nasibnya akan ditentukan oleh apakah ia berhasil berubah dari sekadar hype menjadi komunitas pemain yang loyal.

Apakah masih menguntungkan membuka lapangan padel sekarang?

Tergantung lokasi. Di titik-titik yang sudah jenuh (Jakarta Selatan, sebagian Tangerang), risikonya tinggi karena persaingan dan perang harga. Di kota-kota yang belum tersentuh, ruang tumbuh masih besar — kepadatan nasional Indonesia masih rendah. Kuncinya berpindah dari “membangun di mana saja” ke “membangun di tempat yang tepat”.

Apakah padel kena pajak?

Ya. Di DKI Jakarta dan sejumlah kota lain, padel dikenakan PBJT jasa hiburan sebesar 10 persen atas sewa lapangan, biaya masuk, dan pemesanan digital, efektif sejak 2025.

Epilog: Cahaya yang Masih Menyala Selepas Tengah Malam

Kembali ke kompleks olahraga di selatan Jakarta itu. Sekarang sudah lewat tengah malam. Direktur pemasaran dan kliennya sudah pulang, entah dengan kontrak yang lebih dekat atau tidak. Pelatih muda mengunci tasnya, jamnya penuh lagi besok. Admin perempuan di meja resepsionis merapikan catatan terakhir, menghitung pemasukan malam itu — angka yang, dalam satu malam, melampaui gajinya sebulan — sebelum pulang naik ojek daring ke rumah kontrakannya.

Lampu-lampu sorot mulai dimatikan satu per satu. Dinding kaca yang tadi memantulkan bola kuning kini gelap, hanya memantulkan bayangan kota.

Besok malam, adegan yang sama akan berulang — di sini, dan di hampir seribu lapangan lain. Sebagian dari lapangan itu akan terus terisi bertahun-tahun, menjadi jangkar komunitas yang nyata. Sebagian lain akan meredup dalam setahun, dijual rugi, dikonversi menjadi gudang atau kafe, meninggalkan investor yang salah membaca kurva. Kita belum tahu yang mana yang mana. Itulah yang membuat momen ini begitu menarik untuk direkam.

Yang kita tahu: padel telah melakukan sesuatu yang lebih besar dari sekadar mengisi kalender akhir pekan kelas menengah. Ia memindahkan miliaran rupiah, menciptakan ribuan pekerjaan — sebagian layak, sebagian tidak — mengaktifkan lahan yang menganggur, menarik pajak, mengundang turis, dan sekaligus menggambar ulang garis kelas di kota-kota kita dengan sangat jelas. Dalam empat tahun, sebuah kotak berdinding kaca berukuran dua puluh kali sepuluh meter telah menjadi lensa untuk melihat hampir semua hal tentang ekonomi Indonesia hari ini: gairahnya, ketimpangannya, kecenderungannya bergerak dalam gelombang, dan kesenjangan abadi antara mereka yang bermain dan mereka yang melayani.

Bola kecil itu masih memantul. Pertanyaannya bukan lagi seberapa tinggi ia bisa melambung — melainkan siapa yang masih akan berdiri di lapangan ketika ia akhirnya turun.

Catatan Angka & Metode Riset

Artikel ini disusun dari riset lintas puluhan sumber Indonesia dan internasional, dengan prioritas pada media kredibel, laporan industri, dan narasumber bernama. Beberapa catatan penting soal angka:

  • Jumlah lapangan berbeda antar-penyedia data. FIP (federasi internasional) hanya menghitung lapangan permanen terdaftar dan mencatat angka jauh lebih kecil daripada firma data komersial seperti Core & Court atau Growell, yang menghitung seluruh lapangan komersial. Kami menyebut penyedia data setiap kali mengutip angka, dan tidak menggabungkan angka lintas-sumber tanpa konteks.
  • Proyeksi bukan realisasi. Angka 2026–2028 (2.527 hingga 5.573 lapangan) adalah model proyeksi Growell, bukan jumlah yang sudah terwujud.
  • Angka ROI dan okupansi bersifat kasus, bukan rata-rata industri. Studi kasus balik modal ~1 tahun berasal dari venue tertentu pada okupansi tinggi; kami menyandingkannya dengan skenario konservatif. Sebagian estimasi biaya berasal dari konsultan/kontraktor, bukan audit independen — diperlakukan sebagai indikatif.
  • Nilai pasar global memakai metodologi berbeda antar-lembaga (Playtomic/Strategy& menyebut €6 miliar untuk 2026; Deloitte menyebut kisaran US$4 miliar). Keduanya tidak identik dan tidak dicampur.
  • Beberapa hal belum terkonfirmasi penuh dan ditandai demikian di dalam teks: asal-usul impor komponen lapangan, jumlah pelatih bersertifikat, dan sebagian angka perang harga. Kutipan pejabat yang aslinya berbahasa asing atau melalui terjemahan sebaiknya diverifikasi ke sumber primer sebelum dikutip ulang secara verbatim.
  • Angka upah pekerja venue berasal dari satu laporan jurnalistik mendalam (Konde.co) dengan narasumber bernama samaran; kami menyajikannya sebagai kasus yang menggambarkan pola, bukan statistik nasional.

Semangat artikel ini adalah memotret sebuah fenomena yang bergerak sangat cepat sejujur mungkin — termasuk mengakui di mana datanya belum pasti.

Daftar Sumber

1. [ID] Databoks Katadata — Jumlah klub & lapangan padel Indonesia 2021–2025 (data Core & Court, “Indonesia Padel Report 2025”), 26 Feb 2026 — https://databoks.katadata.co.id/olahraga/statistik/699fd44e1c1db/jumlah-klub-dan-lapangan-padel-di-indonesia-tumbuh-pesat-sampai-2025

2. [ID] GoodStats Data — “Indonesia Kedatangan 38 Lapangan Padel Baru per Hari” (data Growell), 4 Mar 2026 — https://data.goodstats.id/statistic/indonesia-kedatangan-38-lapangan-padel-baru-per-hari-WdInr

3. [ID] Campaign Indonesia — “Padel Bakal Bernasib Seperti Zumba? Data Bicara Lain”, 2 Des 2025 — https://www.campaignindonesia.id/article/padel-bakal-bernasib-seperti-zumba-data-bicara-lain/1941682

4. [ID] Kompas.id — “Menakar Prospek Bisnis Padel di Tengah Tekanan Ekonomi”, 28 Apr 2026 — https://www.kompas.id/artikel/menakar-prospek-bisnis-padel-di-tengah-tekanan-ekonomi

5. [ID] Kumparan — “Ada 384 Lokasi Padel di Jakarta, Naik Hampir 4 Kali Lipat dalam 7 Bulan”, 20 Feb 2026 — https://kumparan.com/kumparannews/ada-384-lokasi-padel-di-jakarta-naik-hampir-4-kali-lipat-dalam-7-bulan-terakhir-26rj3StYvKZ

6. [ID] Detik Properti — “Modal Setengah Miliar per Lapangan: Segini Lahan & Biaya Bikin Klub Padel”, 25 Feb 2026 — https://www.detik.com/properti/arsitektur/d-8372153/modal-setengah-miliar-per-lapangan-segini-lahan-biaya-bikin-klub-padel

7. [ID] Majoo — “Hitung-hitung Untung dari Bisnis Lapangan Padel”, 18 Ags 2025 — https://majoo.id/solusi/detail/hitung-hitung-untung-dari-bisnis-lapangan-padel

8. [ID] Kumparan Bisnis — “Cuan Bisnis Padel: Omzet Rp1 Miliar per Bulan, Balik Modal 1 Tahun”, 3 Ags 2025 — https://kumparan.com/kumparanbisnis/cuan-bisnis-padel-omzet-rp-1-miliar-per-bulan-bisa-balik-modal-dalam-1-tahun-25Yjw4Gat0i

9. [ID] Fortune Indonesia — “Lapangan Padel di Jakarta dan Tarif Sewanya”, 31 Ags 2025 — https://www.fortuneidn.com/luxury/lapangan-padel-di-jakarta-dan-tarif-sewanya-d7w03-00-26sy1-0rnsxj

10. [INTL] The Jakarta Post — “Padel Courts Rise in Jakarta to Meet Surging Demand”, 22 Ags 2025 — https://www.thejakartapost.com/business/2025/08/22/padel-courts-rise-in-jakarta-to-meet-surging-demand.html

11. [ID] Babelinsight — “Fenomena Padel & Strategi Properti Jakarta”, 2 Mei 2026 — https://www.babelinsight.id/fenomena-padel-strategi-properti-jakarta

12. [ID] Bank Sinarmas — “Estimasi Biaya Main Padel (raket, sepatu, bola, sewa, coaching)”, 19 Jan 2026 — https://www.banksinarmas.com/id/artikel/biaya-main-padel

13. [ID] Liputan6 — “Kisaran Harga Raket Padel per Brand” — https://www.liputan6.com/bisnis/read/6036763/

14. [INTL] Global Growth Insights — “Padel Equipment Market” — https://www.globalgrowthinsights.com/market-reports/padel-equipment-market-120810

15. [ID] Detik — “Desta Pelatih Padel Bersertifikat L1 dari Spanyol”, 9 Mar 2026 — https://hot.detik.com/celeb/d-8391243/

16. [ID] ANTARA — “PBPI Sertifikasi Pelatih Padel”, 27 Nov 2024 — https://www.antaranews.com/berita/4496025/

17. [ID] Konde.co — “Padel Elite Dibangun di Tengah Rakyat Sulit: Suara Bising, Upah Miring, hingga Penggusuran”, 29 Apr 2026 — https://www.konde.co/2026/04/padel-elite-dibangun-di-tengah-rakyat-sulit-suara-bising-upah-miring-hingga-penggusuran/

18. [ID] Grid.id — “Mengapa Olahraga Padel Hanya untuk Orang Kaya?”, 18 Ags 2025 — https://www.grid.id/read/044286271/mengapa-olahraga-padel-hanya-untuk-orang-kaya-berikut-alasannya

19. [ID] Kompas Lifestyle — “Demam Padel: Antara FOMO dan Kebiasaan Sehat”, 10 Ags 2025 — https://lifestyle.kompas.com/read/2025/08/10/075443420/demam-padel-antara-fomo-dan-kebiasaan-sehat-yang-sedang-hits

20. [ID] Kompas Megapolitan — “Pengguna Sepeda Mahal Berpaling ke Padel karena FOMO”, 13 Ags 2025 — https://megapolitan.kompas.com/read/2025/08/13/20180461/pengguna-sepeda-mahal-berpaling-ke-padel-karena-fomo

21. [ID] Mojok — “Di Balik Tren Olahraga Kalcer-Mahal”, 29 Mei 2026 — https://mojok.co/liputan/urban/di-balik-tren-olahraga-kalcer/

22. [ID] Kompas Hype — “Deretan Artis yang Ikut Tren Olahraga Padel”, 26 Mei 2025 — https://www.kompas.com/hype/read/2025/05/26/090600666/deretan-artis-yang-ikut-tren-olahraga-padel

23. [ID] IDN Times — “Potret Lapangan Padel Milik Artis Indonesia”, 22 Jul 2025 — https://www.idntimes.com/hype/entertainment/lapangan-padel-milik-selebritis-tanah-air-c1c2-01-nzrkj-06hdph

24. [ID] OK Jakarta — “IWAPI Gelar Padel Gathering & Creative Fest di East Kemang”, 18 Mei 2026 — https://okjakarta.com/2026/05/iwapi-gelar-padel-gathering-creative-fest-di-east-kemang/

25. [ID] Teropong Jakarta — “Luz Femme Padel Club Malang”, 25 Apr 2026 — https://teropongjakarta.com/luz-femme-padel-club-menciptakan-ruang-inklusif-untuk-perempuan-melalui-olahraga-padel-di-malang/

26. [ID] The Conversation — Dienni R. Sholihah (UPN Veteran Jakarta), “Masa Depan Padel: Antara Gengsi atau Turun Kelas”, 5 Mar 2026 — https://theconversation.com/masa-depan-padel-antara-gengsi-atau-turun-kelas-agar-tren-ini-langgeng-276977

27. [ID] Associe — “Tren Mulai Mereda, Benarkah Minat Bisnis Padel Menurun?”, 2026 — https://associe.co.id/bisnis/bisnis-padel-menurun/

28. [ID] yoursay.suara.com — “Lapangan Padel Dijual Rp199 Juta, Tanda Bisnis Gaya Hidup Urban Mulai Kolaps”, 12 Mei 2026 — https://yoursay.suara.com/news/2026/05/12/163401/

29. [ID] CNA.id — “Jakarta Terapkan Pajak Olahraga 10%: 21 Jenis Kena, Termasuk Padel & Gym”, 2025 — https://www.cna.id/indonesia/jakarta-terapkan-pajak-olahraga-10-21-jenis-kena-termasuk-padel-dan-gym-35001

30. [ID] Kompas.com — “Olahraga Padel Kena Pajak, Menpora: Ini Insentif”, 13 Jul 2025 — https://nasional.kompas.com/read/2025/07/13/15165091/

31. [ID] Detik Sport — “Liga Padel Indonesia 2026 Berlangsung Mulai Agustus”, 1 Jul 2026 — https://sport.detik.com/raket/d-8555353/liga-padel-indonesia-2026-berlangsung-mulai-agustus

32. [ID] ANTARA — “Marciano: Turnamen Padel Internasional Bali Pacu Wisata Olahraga”, 15 Ags 2026 — https://www.antaranews.com/berita/5696467/

33. [ID] Ayo Palembang — “18 Tahun Menemani, Boom Futsal Palembang Resmi Tutup”, 2025 — https://www.ayopalembang.com/sumsel-raya/3615459900/

34. [ID] CNBC Indonesia — “Sempat Terbang Lalu Terjun Bebas, Ini Harga Brompton Terbaru”, 11 Jul 2022 — https://www.cnbcindonesia.com/news/20220711090222-4-354503/

35. [INTL] European Business Magazine — “Sweden Burned €500 Million on Padel”, 9 Mei 2026 — https://europeanbusinessmagazine.com/sweden-padel-mania-bankruptcies/

36. [INTL] Sportico — “Qatar Sports Investments Buys World Padel Tour” (angka pasar Deloitte), 2023 — https://www.sportico.com/leagues/other-sports/2023/qatar-sports-investments-buys-world-padel-tour-1234735097/

37. [INTL] Playtomic × Strategy& (PwC) — Global Padel Report 2024/2025 — https://thebandeja.com/playtomic-global-padel-report-2025/

38. [INTL] CNBC — “Pro Padel League Raises $15 Million”, 24 Mar 2026 — https://www.cnbc.com/2026/03/24/pro-padel-league-raises-15-million-us-growth.html

39. [INTL] Coconuts Bali — “How Bali Became the Spiritual Birthplace for Padel in Indonesia”, 4 Okt 2023 — https://coconuts.co/bali/features/from-novelty-to-popularity-how-bali-became-the-spiritual-birthplace-for-padel-in-indonesia/

40. [INTL] FIP — History of Padel — https://www.padelfip.com/history/

EXPLORE 20FIT

More ways to move.