Kembali
LIFESTYLE 4 min read 22 August 2026

Fun Fact GBK: 7 Hal yang Belum Kamu Tahu Sebelum Lari di Sana

Mau lari di GBK? Ini 7 fun fact Gelora Bung Karno, dari sejarah 1962, atap temu gelang, sampai panjang jogging track yang bikin lari kamu makin berkesan.

Fun Fact GBK: 7 Hal yang Belum Kamu Tahu Sebelum Lari di Sana

Buat warga Jakarta, Gelora Bung Karno (GBK) jauh lebih dari sekadar stadion. Kompleks ini adalah “rumah” bagi ribuan pelari setiap pagi dan sore. Namun di balik ring road yang biasa kamu putari, tersimpan sejarah panjang dan angka-angka menarik yang mungkin belum pernah kamu ketahui. Sebelum lari di sana lagi akhir pekan ini (Sabtu–Minggu, 22–23 Agustus), simak dulu tujuh fun fact berikut yang akan membuat larimu terasa lebih bermakna.

Baca Cepat

  • GBK diresmikan pada 21 Juli 1962 untuk menyambut Asian Games IV.
  • Jogging track-nya punya dua jalur: lintasan dalam sekitar 920 meter dan lintasan luar sekitar 1.100 meter.
  • Atap Stadion Utama dibangun tanpa pilar tengah, memakai konsep “temu gelang” yang legendaris.
  • Area lari paling ramai pada pagi hari mulai pukul 05.00 dan sore hari dari pukul 16.00 hingga malam.

GBK bukan cuma tempat mengumpulkan keringat, melainkan juga monumen hidup sejarah olahraga Indonesia. Berikut tujuh fakta yang membuat sesi larimu di sana terasa lebih istimewa.

1. Lahir untuk Asian Games 1962

Perjalanan GBK bermula ketika Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah Asian Games IV pada 1958. Pembangunan pun dimulai, dan Stadion Utama akhirnya diresmikan pada 21 Juli 1962 sebagai simbol kebanggaan bangsa yang baru merdeka. Artinya, setiap kali kamu berlari di kompleks ini, kamu sesungguhnya menapaki tanah yang usianya sudah lebih dari enam dekade dan menjadi saksi ratusan momen bersejarah olahraga Tanah Air.

2. Dirancang Arsitek Legendaris, Dibantu Uni Soviet

Stadion Utama merupakan karya arsitek besar Frederich Silaban, sosok yang juga merancang Masjid Istiqlal. Dalam pembangunannya, Indonesia mendapat dukungan teknis dari Uni Soviet, sebuah kerja sama yang mencerminkan hubungan politik era tersebut. Biaya pembangunannya kala itu mencapai sekitar USD 12,5 juta, angka yang terbilang fantastis untuk ukuran era 1960-an dan menunjukkan betapa seriusnya proyek ini digarap.

3. Atap “Temu Gelang” Tanpa Pilar Tengah

Ciri paling khas Stadion Utama adalah atap melingkar yang membentang tanpa satu pun pilar penyangga di bagian tengah. Konsep “cincin pertemuan” atau temu gelang ini konon terinspirasi dari kunjungan Presiden Soekarno ke Meksiko. Pada masanya, desain semacam ini merupakan inovasi arsitektur yang langka dan ambisius, sekaligus menjadikan GBK salah satu stadion paling ikonik di kawasan Asia.

4. Jogging Track-nya Punya Dua Jarak Resmi

Bagi pelari, inilah fakta yang paling berguna. Kompleks GBK memiliki lintasan dalam sepanjang sekitar 920 meter dan lintasan luar sekitar 1.100 meter. Dengan patokan ini, kamu bisa menghitung total jarak larimu secara presisi tanpa harus menebak-nebak. Sebagai contoh, lima putaran lintasan luar setara dengan kurang lebih 5,5 kilometer—cukup membantu ketika kamu sedang mengejar target latihan tertentu.

5. Kapasitasnya Sengaja “Dikurangi”

Stadion Utama kini menampung sekitar 78.000 kursi tunggal berjenis flip-up. Menariknya, kapasitas ini justru dikurangi dari jumlah sebelumnya saat renovasi besar-besaran menjelang Asian Games 2018. Alasannya bukan karena keterbatasan, melainkan untuk memenuhi standar keselamatan, kemudahan evakuasi, dan kenyamanan penonton modern. Ini menunjukkan bahwa “lebih sedikit” kadang justru berarti “lebih baik”.

6. Bukan Cuma Ring Road

Banyak orang mengira GBK hanya soal berlari mengelilingi stadion. Padahal kompleks ini menyediakan beragam fasilitas olahraga lain, mulai dari lintasan atletik berstandar (yang bahkan pernah dibuka untuk umum), kolam renang, lapangan panahan, tenis, hoki, hingga bulu tangkis. Dengan kata lain, GBK adalah satu kawasan dengan banyak pilihan aktivitas, sehingga kamu bisa mengganti variasi latihan tanpa harus berpindah tempat.

7. Punya “Jam Sibuk” Sendiri

Sama seperti jalan raya, GBK punya ritme keramaiannya sendiri. Area lari mulai hidup sejak pukul 05.00 pagi, sementara pada sore hari kepadatannya membludak dari pukul 16.00 hingga sekitar pukul 22.00. Kalau kamu menginginkan suasana yang lebih lengang, datanglah lebih pagi. Dan jangan lupa, setiap Minggu ada Car Free Day pada pukul 06.00–11.00 di kawasan Sudirman–Thamrin, persis di sebelah kompleks, yang bisa memperluas pilihan rute larimu.

Tips Praktis Kalau Mau Lari di GBK

Agar pengalaman larimu di GBK menyenangkan, ada beberapa hal yang bisa kamu siapkan. Datang lebih pagi jika ingin menghindari keramaian dan panas. Manfaatkan patokan lintasan dalam dan luar untuk mengukur jarak sesuai target latihanmu. Bawa air minum karena area yang luas membuatmu mudah lupa waktu dan kehilangan cairan lebih cepat. Terakhir, lakukan pemanasan sebelum mulai, mengingat ring road yang panjang bisa terasa berat bila tubuh belum siap.

Lari di GBK, Sekaligus Menyentuh Sejarah

Kini, berlari di GBK bukan lagi sekadar soal keringat, tetapi juga sedikit napak tilas sejarah olahraga bangsa. Coba hitung jarakmu memakai patokan lintasan dalam dan luar tadi, lalu rasakan bedanya. Punya fun fact GBK versimu sendiri? Bagikan artikel ini kepada teman-teman larimu.

Artikel ini dirangkum dari:

  • VOI: Kapasitas Stadion Gelora Bung Karno dan Sejarahnya tautan
  • Wikipedia: Gelanggang Olahraga Bung Karno tautan
  • Kumparan: 1 Putaran GBK Berapa KM? tautan
  • Detik Sport: GBK Buka Lintasan Atletik untuk Umum tautan

Gambar diambil dari artikel Detik Sport, “GBK Buka Lintasan Atletik untuk Umum” (sport.detik.com).

EXPLORE 20FIT

More ways to move.