Kembali
LIFESTYLE 4 min read 7 July 2026

‘Gym Majapahit’ Masih Bertahan di Tengah Menjamurnya Gym Premium di Makassar

Di tengah menjamurnya gym premium dengan fasilitas modern di Makassar, gym bergaya old-school yang populer dijuluki "Gym Majapahit" masih memiliki tempat di hati para pegiat kebugaran. Sebutan yang dikenal di kalangan komunitas fitness ini merujuk pada gym sederhana dengan perala…

‘Gym Majapahit’ Masih Bertahan di Tengah Menjamurnya Gym Premium di Makassar

Di tengah menjamurnya gym premium dengan fasilitas modern di Makassar, gym bergaya old-school yang populer dijuluki “Gym Majapahit” masih memiliki tempat di hati para pegiat kebugaran. Sebutan yang dikenal di kalangan komunitas fitness ini merujuk pada gym sederhana dengan peralatan yang lebih fungsional, biaya keanggotaan terjangkau, serta budaya latihan yang mengedepankan kebersamaan dibanding kemewahan fasilitas.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pilihan masyarakat terhadap tempat berolahraga tidak selalu ditentukan oleh kemegahan bangunan atau kelengkapan fasilitas. Bagi sebagian warga Makassar, suasana kekeluargaan, kemudahan belajar, dan konsistensi berlatih justru menjadi faktor utama dalam memilih gym.

Gaya hidup sehat yang terus berkembang di Kota Makassar turut mendorong meningkatnya jumlah pusat kebugaran, mulai dari jaringan gym premium hingga gym mandiri. Meski demikian, kehadiran gym sederhana tetap mampu bersaing karena menawarkan pengalaman latihan yang berbeda dan lebih dekat dengan komunitas.

Noya (34), seorang karyawan swasta di Makassar, menjadi salah satu yang memilih tetap berlatih di gym sederhana selama hampir dua tahun terakhir meski memiliki banyak pilihan pusat kebugaran modern.

Menurutnya, biaya keanggotaan yang terjangkau memang menjadi nilai tambah, tetapi bukan alasan utama dirinya bertahan.

“Tidak hanya murah. Untuk belajar juga bagus sekali karena banyak abang-abang di sini yang tidak pelit ilmu. Suasananya friendly sehingga memudahkan kami yang masih belajar latihan,” ujarnya.

Ia mengatakan budaya saling membantu membuat anggota baru lebih percaya diri saat memulai latihan. Tidak ada rasa canggung untuk bertanya mengenai teknik menggunakan alat maupun menyusun program latihan karena sesama member terbiasa saling berbagi pengalaman.

Bagi Noya, rutin berlatih di gym juga merupakan investasi kesehatan. Memasuki usia 30 tahun, ia mulai menyadari pentingnya menjaga massa otot dan kekuatan tulang agar tetap bugar di tengah aktivitas pekerjaan.

“Usia di atas 30 tahun otot mulai menurun. Nge-gym membantu menguatkan kembali otot dan tulang, bonusnya badan jadi lebih atletis,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Bintang (22), seorang mahasiswa yang juga memilih tetap berlatih di gym sederhana. Menurutnya, lingkungan latihan yang santai membuat pemula lebih mudah beradaptasi tanpa merasa minder.

“Di sini suasananya lebih santai dan tidak membuat orang baru merasa minder. Kalau ada yang belum paham cara latihan, biasanya langsung diajari sama teman-teman yang lebih berpengalaman,” ujarnya.

Ia menilai budaya saling membantu menjadi salah satu ciri yang masih kuat di banyak Gym Majapahit di Makassar.

“Yang penting itu konsisten latihan, bukan harus di tempat yang mahal. Alat di sini juga sudah cukup untuk membangun otot dan menjaga kebugaran,” katanya.

Kedekatan Komunitas Jadi Kekuatan

Fenomena bertahannya gym sederhana juga dirasakan para pengelola.

Salah satunya adalah Yayat Gym di Jalan Maccini Tengah Nomor 30A, Makassar.

Pemilik Yayat Gym, Muhammad Raid DG Lili, mengatakan tempat latihan tersebut mulai beroperasi pada 2024. Dalam perjalanannya, gym itu sempat memiliki sekitar 120 member aktif sebelum menghentikan operasional selama dua bulan. Kini jumlah anggota aktif sekitar 25 orang dan perlahan kembali bertambah.

Menurut Raid, salah satu alasan gym sederhana tetap diminati adalah hubungan yang terjalin erat antara pengelola dan para member.

“Harga kami terjangkau. Yang paling penting di sini persaudaraan kuat, silaturahmi antar-member juga bagus,” ujarnya.

Ia menilai keberhasilan seseorang membangun kebugaran tidak ditentukan oleh mahal atau lengkapnya fasilitas.

“Hasil itu tergantung orangnya dan cara latihannya. Kalau cara latihannya salah, hasilnya juga tidak maksimal,” katanya.

Raid mengatakan anggota yang datang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, mahasiswa, pedagang, karyawan swasta, hingga anggota TNI dan Polri.

“Semua kalangan ada. Pelajar, pedagang, anggota TNI-Polri, mahasiswa, karyawan, semuanya latihan di sini,” tuturnya.

Di tengah persaingan industri kebugaran yang semakin ketat, ia memilih mempertahankan pendekatan yang lebih personal.

“Intinya kita harus membangun silaturahmi yang baik dengan member dan memberikan pelayanan yang baik,” katanya.

Selain menjaga hubungan dengan anggota, Yayat Gym juga berencana menambah sejumlah peralatan latihan agar kebutuhan member semakin terpenuhi.

“Ada rencana tambah alat. Makin banyak alat, makin banyak juga peminatnya,” ujarnya.

Menurut Raid, tren masyarakat Makassar yang gemar berolahraga terus meningkat dari tahun ke tahun. Bertambahnya jumlah gym justru menunjukkan semakin tingginya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebugaran.

“Semakin meningkat. Banyak yang buka gym, jadi semakin banyak juga masyarakat yang tertarik untuk nge-gym,” katanya.

Meski gym premium terus bermunculan dengan berbagai fasilitas modern, fenomena Gym Majapahit menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih menempatkan kenyamanan, kebersamaan, dan konsistensi latihan sebagai pertimbangan utama dalam memilih tempat berolahraga. Bagi mereka, hasil latihan lebih ditentukan oleh disiplin dan komitmen, bukan semata oleh kemewahan fasilitas. (*)

Laporan kontributor Makassar, Ina Maharani

EXPLORE 20FIT

More ways to move.