Gue Riset Padel lebih dari 5 Negara. Ini yang bisa dipelajari untuk Indonesia.
Gue mau mulai dengan satu angka: 35 juta. Itu jumlah pemain padel di seluruh dunia per akhir 2025, menurut FIP World Padel Report. Naik dari 12 juta di 2014. Naik dari 25 juta di 2023. Dan kalau lo masih mikir ini cuma “olahraga hype buat konten Instagram,” let me walk you throug…
Gue mau mulai dengan satu angka: 35 juta. Itu jumlah pemain padel di seluruh dunia per akhir 2025, menurut FIP World Padel Report. Naik dari 12 juta di 2014. Naik dari 25 juta di 2023. Dan kalau lo masih mikir ini cuma “olahraga hype buat konten Instagram,” let me walk you through the data, dari Madrid sampai Jakarta, dari spreadsheet investor sampai lapangan basah habis hujan di Kemang.
Nama gue Zidni. Gue running Padel Rebel, premium padel racket rental brand di Jakarta. Background gue di growth marketing dan technology, bukan di olahraga. Tapi justru itu yang bikin gue obsesif sama padel: ini bukan cuma soal backhand atau bandeja. Ini soal market dynamics, community building, dan infrastructure play yang belum pernah gue lihat di industri lain di Indonesia.
Artikel ini gue tulis buat siapa aja yang mau ngerti padel bukan dari perspektif pemain doang, tapi dari perspektif builder. Orang yang mau bangun court, brand, komunitas, atau ecosystem. Semua data di sini gue kumpulin dari FIP, Playtomic/PwC Global Padel Report 2025, Deloitte, Misitrano Consulting, Bloomberg, dan berbagai sumber industri yang kredibel. Let’s get into it.
77,300 Courts, $2 Billion Market, dan Satu Sport yang Nolak Melambat

Padel hari ini bukan lagi “niche sport dari Spanyol.” Per Desember 2025, FIP mencatat 77,300 courts di 24,600+ clubs tersebar di 150 negara dan 20 wilayah dependensi. Setahun sebelumnya, Playtomic/PwC mencatat 50,436 courts, artinya dalam 12 bulan, dunia nambah lebih dari 14,000 court baru. Itu satu court baru setiap 2.5 jam.
Market size-nya? Deloitte dan CNBC sama-sama cite angka $2 billion untuk total industri padel (courts, equipment, media, bookings). Padel racket market sendiri bernilai sekitar $146 juta di 2025, dengan CAGR 12-13% menuju 2032-2034. Lebih dari 6 juta racket terjual globally di 2023 alone.
Yang bikin gue paling struck bukan growth rate-nya. Tapi retention rate-nya: 92%. Menurut Playtomic/PwC 2025, 92 dari 100 orang yang pertama kali coba padel, balik lagi. Coba bandingin sama gym membership yang churn rate-nya bisa 50%+ dalam 6 bulan pertama. Padel itu addictive by design, easy to learn, always doubles (empat orang = social by default), dan kaca jadi bagian dari permainan yang bikin bahkan beginner merasa “gue bisa main nih.”

Secara geografi, 60% pemain ada di Eropa, 23% di Amerika Selatan, 6.4% di Asia. FIP sekarang punya 100 federasi nasional, naik tiga kali lipat sejak 2019. Padel juga sudah confirmed masuk Asian Games 2026 di Nagoya sebagai cabang olahraga resmi, dan Brisbane 2032 jadi target realistis pertama untuk debut Olimpiade.
Tapi angka global itu cuma cerita setengah. Yang seru itu di details, gimana tiap negara grow padel dengan cara yang beda-beda, dan apa yang bisa kita pelajari.
Spanyol: 30 Tahun Membangun, dan Padel Sekarang Lebih Besar dari Tenis
Kalau padel itu agama, Spanyol adalah Vatikan-nya. 6 juta pemain, 12.7% dari total populasi. 17,000 courts di 4,500+ venue. 109,040 pemain terdaftar di federasi pada 2024, rekor tertinggi sepanjang masa, dan, ini yang penting, jumlah itu sudah melampaui tenis. Padel bukan sekadar populer di Spanyol. Padel sudah jadi olahraga partisipasi nomor dua setelah sepakbola.
Gimana ini bisa terjadi? Organic growth selama tiga dekade. Padel masuk Spanyol dari Meksiko di tahun 1970-an, dan pelan-pelan menyebar lewat club culture. Banyak tennis club yang struggling di 2000-an survive justru dengan konversi lahan kosong jadi padel courts, revenue per square meter padel 4x lebih tinggi dari tenis. Harga sewa court di Spanyol relatif murah: €10-25 per jam di off-peak, split empat orang jadi sekitar €3-6 per orang. Demokratis banget.

Model bisnis yang menang di Spanyol itu hospitality model, bukan sekadar sewain court, tapi bikin pengalaman. Deloitte nemuin bahwa 57% pemain amatir padel di Spanyol minum sesuatu setelah main. Artinya F&B bukan tambahan, itu core revenue. Padel di Spanyol sekarang diposisikan sebagai “golf-nya networking”, tempat orang closing deal sambil keringetan.

Lesson untuk Indonesia: Organic, community-driven growth beats speculative investment setiap saat. Dan padel itu bisnis hospitality, bukan bisnis properti.
Swedia: Booming 388%, Lalu Kolaps, dan Kenapa Ini Harus Jadi Alarm
Kalau Spanyol itu success story, Swedia itu cautionary tale yang wajib lo hafal luar kepala. Dan gue nggak lebay.
Dari 2019 ke 2022, jumlah court padel di Swedia naik dari 560 jadi 4,200, growth 388% dalam tiga tahun. Uppsala, kota kecil, loncat dari 14 ke hampir 100 court dalam 12 bulan. Swedia sempat punya court density tertinggi di dunia: 385 courts per juta penduduk, lebih tinggi dari Spanyol.
Terus apa yang terjadi? Kolaps.

Bloomberg melaporkan bahwa pada 2023, ~90 perusahaan padel di Swedia mengajukan kebangkrutan. Lebih dari 600 court dibongkar dan dijual ke negara lain. We Are Padel, operator terbesar dengan ~80 venue (backed oleh PE firm Triton melalui dana €5.2 miliar), rugi €1.4 juta per bulan dan akhirnya masuk restrukturisasi korporat, dari 80 venue, tersisa 13. Estimasi total kerugian investor di padel Swedia: €500 juta+.
Kenapa? Tiga alasan utama:
Pertama, supply melampaui demand secara masif. Operator membangun berdasarkan asumsi growth eksponensial akan terus berlanjut tanpa demand analysis yang proper. Kedua, krisis energi. Harga listrik di Swedia selatan naik 5x lipat dari level pra-2020. Untuk venue indoor yang butuh pemanas dan penerangan, ini beban operasional yang membunuh. Ketiga, dan ini yang paling fundamental: growth-nya didorong venture capital, bukan komunitas. Seorang pakar industri di Swedia mengutarakan dengan tepat: pertumbuhan padel di sana didorong oleh uang investor, bukan oleh komunitas, dan itu bukan cara yang benar untuk menumbuhkan sebuah olahraga.
Court yang survive di Swedia? Yang punya coaching program, liga amatir, youth development, dan social events. Bukan yang cuma punya kaca dan net. FIP World Padel Report 2025 nyebut Swedia “belum menunjukkan tanda-tanda recovery.”
Lesson untuk Indonesia: Jangan pernah confuse investor enthusiasm dengan market demand. Build communities first, courts second. Dan selalu, selalu, model bisnis lo harus lebih dari sekadar “sewain court per jam.”
UK, Italia, dan Model Pertumbuhan yang Lebih Sehat
United Kingdom: Structured Growth di Bawah LTA
UK adalah contoh paling menarik dari “belajar dari kesalahan Swedia.” Dari 68 courts di 2019, UK sekarang punya 1,553 courts di 559 venue (akhir 2025), dengan 860,000 pemain. Awareness naik dari 23% di 2024 ke 57% di akhir 2025. Playtomic mencatat monthly active users di UK loncat dari 35,000 ke 156,000 dalam setahun.
Yang bikin beda: Lawn Tennis Association (LTA) jadi governing body padel sejak 2020 dan invest lebih dari £7.5 juta langsung, yang memicu tambahan £10.5 juta investasi dari sektor swasta, total £18 juta. LTA punya strategi 2024-2029 yang jelas: grow awareness, build coaching workforce, sudah ada 1,676 CPD coaching dan 427 Padel Instructor certifications.
Model operator di UK juga beragam. David Lloyd (166 courts, membership-based, premium lifestyle), Game4Padel (55 courts, pay-and-play, celebrity backers termasuk Andy Murray dan Virgil van Dijk, valuasi £25 juta), dan Powerleague (invest £14 juta, integrasi padel ke infrastruktur futsal yang sudah ada). Tantangan UK? Planning permission, kebisingan court padel sering kena objection dari warga sekitar.
Italia: Ketika Sepakbola Jadi Gateway
Italia adalah rocket ship. Dari ~50 courts di 2014 ke 10,000+ courts di 2025. 1.5 juta pemain, menjadikannya negara padel terbesar kedua di dunia. Growth driver utamanya? Budaya sepakbola. Pemain bola retired dan aktif adopt padel dan bikin sport ini viral di kalangan fans mereka. Federasi Italia (FITP) bikin keputusan cerdas: integrasikan padel ke dalam infrastruktur tenis yang sudah ada, bukan bikin badan terpisah. Ini provide legitimasi dan akses ke fasilitas yang sudah mapan.
Lesson untuk Indonesia: Celebrity/influencer culture bisa jadi turbocharger yang legitimate, tapi hanya kalau ada institutional backbone (federasi kuat) di belakangnya. Dan integrasi ke infrastruktur olahraga yang sudah ada (badminton clubs, fitness centers) bisa akselerasi growth tanpa harus build everything from scratch.
Argentina dan Meksiko: Akar Budaya Padel yang Sebenarnya
Fun fact yang banyak orang nggak tau: padel nggak lahir di Spanyol. Padel diciptakan di Acapulco, Meksiko, tahun 1969 oleh Enrique Corcuera. Dari Meksiko, sport ini dibawa ke Argentina oleh miliarder Julio Menditeguy pada 1975, dan di sanalah padel benar-benar jadi fenomena sosial.
Argentina sekarang punya 7,000 courts dan 1.4 juta+ pemain aktif. Tapi lebih penting dari angka: Argentina adalah eksportir talenta padel nomor satu di dunia. Fernando Belasteguín, the GOAT, pegang ranking #1 dunia selama 16 tahun berturut-turut (2002-2018) dan menang 155 gelar. Agustín Tapia, world #1 saat ini, punya win rate 91.7%. Yang paling gue admire dari model Argentina: padel itu fully embedded di social fabric. Main padel, terus asado (BBQ), terus ngobrol sampai malam. Ini bukan olahraga, ini ritual.
Dubai dan Timur Tengah: Padel Sebagai Luxury Asset dan Power Play
UAE punya 320+ clubs dengan 950+ courts. Tapi yang bikin Timur Tengah truly transformative buat padel bukan jumlah court-nya, melainkan satu entity: Qatar Sports Investments (QSI).
QSI, yang juga punya Paris Saint-Germain, pada Agustus 2023 mengakuisisi World Padel Tour dan menyatukannya dengan Premier Padel. Ini momen the most consequential investment in padel history. Sekarang ada satu tur terpadu: Qatar Airways Premier Padel, dengan 24 turnamen di 16 negara, disiarkan ke 180+ negara menjangkau 150 juta+ rumah tangga. Broadcasting deals dengan Red Bull (multi-year), ESPN (50 negara), Sky Sports, Canal+ (60+ wilayah), dan beIN Sports (39 wilayah). Paris Major 2025 di Roland Garros menarik 62,128 penonton.
Lesson untuk Indonesia: Don’t underestimate the power of one anchor investor or institution to transform an entire sport. QSI didn’t just invest money, mereka unified a fragmented ecosystem. Indonesia butuh versi kecilnya: satu atau dua institutional champion yang bisa consolidate dan legitimize.
Amerika Serikat: Early Stage, Massive Upside
US padel masih bayi, 688 courts di 180 fasilitas di 31 negara bagian per Q2 2025, dengan estimasi 112,872 pemain aktif. Tapi itu naik dari 38 courts di 2020. Growth 1,005% dalam 4 tahun. Pro Padel League baru aja raise $25 juta total (termasuk $15 juta Series A di Maret 2026). Andre Agassi invest $20 juta. Franchise valuations naik dari $200K entry fee di 2023 ke $10 juta+ sekarang.
Yang menarik di US: 30% venue pickleball sekarang juga nawarin padel courts. Padel dan pickleball co-exist, dan banyak tennis player yang discover padel sebagai “the more athletic alternative.” Proyeksi konservatif: 6,800 courts dan 900,000 pemain by 2030.
Siapa yang Sebenarnya Menggerakkan Padel? Peta Ekosistem Stakeholder

Padel itu bukan satu industri. Ini ecosystem dengan minimal 7 stakeholder yang saling terhubung, dan masing-masing punya leverage berbeda terhadap growth.
Federasi nasional adalah backbone. FIP punya 100 anggota, tapi efektivitas federasi lokal sangat bervariasi. Model terbaik? FITP Italia yang mengintegrasikan padel ke tenis. Model terburuk? Swedia, di mana federasi gagal meregulasi supply-side. LTA Inggris ada di tengah, aktif invest (£7.5 juta), tapi tetap cautious. Indonesia punya PBPI (Perkumpulan Besar Padel Indonesia), yang sudah jadi anggota resmi FIP di 2025 dan diakui KONI.
Pemain profesional punya influence yang sering di-underestimate. Bela, Tapia, dan generasi champion Argentina/Spanyol bukan cuma atlet, mereka cultural ambassadors.
Club owners dan court operators adalah ujung tombak. Data menunjukkan EBITDA margin 30-35% achievable untuk club yang dikelola baik, dengan break-even operasional di 14-30 bulan (outdoor) atau 4-7 tahun (indoor). Tapi ini cuma berlaku kalau revenue di-diversifikasi: court rental + coaching (bisa contribute 27% revenue) + F&B + equipment retail + events + corporate bookings.
Equipment brands, Bullpadel (diakuisisi Wilson Januari 2024), Head, Nox (diakuisisi Oakley Capital), Babolat, Adidas, bukan cuma jualan. Mereka fund demo days, sponsor tournaments, dan support grassroots lewat program try-padel.
Media dan broadcasting sudah transformed. Premier Padel disiarkan di 180+ negara. FIP social media followers naik 400% dalam 2 tahun (dari 210,000 ke 850,000). Red Bull deal itu game-changer, produksi konten profesional dari quarter-final stage.
Investor dan PE, double-edged sword. QSI’s unification itu transformative. Tapi Triton’s We Are Padel itu cautionary tale mahal. Di US, dedicated padel funds seperti Sunrise Padel Capital (targeting $50 juta Fund II) menunjukkan bahwa smart, padel-specific capital bisa work, asalkan demand-driven.
Indonesia: Market Padel yang Paling Exciting di Dunia Saat Ini

Okay, sekarang kita bicara rumah. Dan gue nggak hyperbole: Indonesia adalah padel market paling exciting di dunia saat ini.
Dari 15 courts di 2021 (hampir semua di Bali, untuk expat), Indonesia sekarang punya estimasi 947 courts di 300+ clubs, dengan 1,580 court baru lagi dalam konstruksi, rata-rata 3.8 court baru per hari. Growth club naik 295% di 2025. Google Trends search untuk “padel” di Indonesia naik 1,283% di 2024-2025.
Yang bikin investor global melongo: Indonesia mencatat highest global GMV growth for padel at 173% menurut Playtomic, dari €2,300/court/bulan (2023) ke €6,300/court/bulan (2024). Sebagai perbandingan, Spanyol cuma tumbuh 16%.
Occupancy rates di venue premium Jakarta: 87-99%. Prime time: 98.3%. Di dunia padel global, angka-angka ini almost unheard of untuk market yang baru berumur 3-4 tahun.
Demographics-nya perfect. Rata-rata usia pemain padel Indonesia: 28 tahun (bandingkan Swedia: 41). Data menunjukkan 42% booking court di Jakarta datang dari komunitas, bukan individu. Lebih dari 70% booking datang dari grup/social games. Padel di Indonesia grow sebagai social infrastructure, bukan individual fitness activity.
Court rental IDR 250,000-450,000/jam, split 4 orang = IDR 62,000-112,000 per orang per session (~$4-7). Ini 39-67% lebih murah dari Singapura, Qatar, atau UAE.
Court-to-population ratio Indonesia saat ini: 1:2.1 juta penduduk. Swedia sebelum bubble burst? 1:3,000. Spanyol yang mature? 1:2,800. Indonesia literally punya headroom ratusan kali lipat.
PBPI sudah anggota resmi FIP, diakui KONI, punya 439 pemain profesional terdaftar dan 20,000+ pemain. Tim putri Indonesia mengalahkan Australia di FIP Asia Cup 2025. Bank BCA jadi sponsor PBPI Indonesia Open Padel Circuit 2025.
Model Negara Mana yang Paling Applicable Buat Indonesia?

Gue sudah study semua model. Dan jawaban gue: bukan satu negara, tapi hybrid dari tiga.
Fondasi: model Argentina, karena DNA kultural kita mirip. Indonesia itu negara komunal. Kita main olahraga bareng-bareng, makan bareng sesudahnya, dan jadiin aktivitas fisik sebagai social bonding. Padel Argentina tumbuh lewat club culture dan social rituals. Di Jakarta, kita sudah lihat ini terjadi: komunitas padel yang booking bareng, main bareng, lalu nongkrong di café court-nya.
Struktur institusional: model UK/LTA, karena kita butuh governance yang aktif tapi terukur. LTA invest £7.5 juta di padel UK sambil tetap cautious soal oversupply. PBPI harus aspire ke level ini: bukan cuma jadi badan administrasi, tapi jadi active growth catalyst yang set standards, certify coaches, dan regulate quality.
Catalytic spark: model Italia, karena di Indonesia, sama seperti di Italia, celebrity dan influencer culture bisa jadi turbocharger. Tapi Italia berhasil karena punya FITP sebagai institutional backbone. Celebrity hype tanpa institutional support = bubble. Celebrity hype dengan institutional support = sustainable acceleration.
Yang harus kita hindari: model Swedia. Indonesia punya beberapa red flags yang mirip: investor non-padel yang masuk purely for financial returns, build tanpa demand analysis, fokus ke “jumlah court” bukan “kualitas pengalaman.” Kita belum di level bahaya, court-to-population ratio masih astronomically low, tapi mindset “build first, community later” itu racun.
Roadmap: Apa yang Harus Terjadi dalam 1-3 Tahun dan 3-5 Tahun ke Depan
Ini bagian yang paling opinionated, karena ini bukan data, ini interpretasi gue sebagai operator yang tiap hari ada di lapangan.
Tahun 1-3 (2026-2028): Build the Foundation Right

Federasi harus jadi growth engine, bukan sekadar administrasi. PBPI sudah di jalur yang benar. Next level-nya: bikin coaching certification program yang standardized (benchmark: LTA punya 1,676 coaching CPDs), bangun player grading system, dan bikin court quality standards. Rapid buildout tanpa quality control itu resep buat tarnish the sport’s image.
Court development harus demand-driven, bukan FOMO-driven. Data Indonesia Padel Report 2025 menunjukkan banyak court baru dibangun oleh orang tanpa padel knowledge yang cukup, purely karena melihat occupancy rates tinggi di venue lain. Ini exactly pola Swedia. Court-to-population ratio kita masih 1:2.1 juta, there’s massive room, tapi setiap investor/operator harus punya demand analysis lokal yang proper.
Konversi infrastruktur existing lebih smart daripada greenfield builds. Banyak futsal court di Jakarta yang revenue-nya IDR 50,000-150,000/jam, padel court di lokasi yang sama bisa generate IDR 250,000-450,000/jam. Fitness center, hotel, dan residential compound juga punya lahan yang bisa di-leverage.
Grassroots harus jadi prioritas. Program try-padel gratis, coaching untuk pemula, liga amatir antar-komunitas, after-school programs untuk usia 10-18 tahun. Corporate team-building itu untapped gold mine, padel cocok banget buat aktivitas corporate: doubles format cerminkan teamwork, gampang dipelajari, dan lebih aktif daripada golf.
Equipment accessibility harus diperluas. Racket berkualitas profesional itu mahal, IDR 2-5 juta ke atas. Rental model, demo days, dan try-before-you-buy programs menurunkan barrier drastis. Ini yang Padel Rebel lakukan setiap hari.
Tournament calendar harus terstruktur dan bertingkat. PBPI sudah punya Indonesia Open Padel Circuit dan Sirnas. Next step: kalender tahunan dari level komunitas sampai internasional, dengan spread geografis lebih luas (Surabaya, Bandung, Medan).
Tahun 3-5 (2028-2031): Scale with Quality

Target 3,000-5,000 courts by 2030. Dengan trajectory saat ini, angka ini achievable, tapi hanya kalau quality dijaga. Lebih baik punya 3,000 courts berkualitas tinggi dengan occupancy 70%+ daripada 8,000 courts dengan separuhnya kosong.
Media dan content strategy harus mature. Indonesia punya advantage: salah satu negara dengan social media penetration tertinggi di dunia. Konten padel harus diproduksi secara konsisten dan profesional.
Coaching pipeline harus diprofesionalisasi. RPP (Registry of Padel Professionals) punya 10,500+ certified coaches di 95 negara. Indonesia perlu versi lokal: program sertifikasi coach bertingkat dengan kurikulum standardized.
Ekspansi geografis di luar Jabodetabek dan Bali. Surabaya, Bandung, Semarang, Makassar, Medan, approach-nya harus berbeda dari Jakarta: pricing lebih accessible, court lebih compact, dan community-first approach.
Business model harus multi-revenue dari hari pertama. Court rental (target 60-65% revenue), coaching dan akademi (15-20%), F&B (10-15%), equipment rental dan retail (5-8%), events dan corporate (5-10%). Break-even target: 18-24 bulan untuk venue 4-court outdoor di Jakarta. Target EBITDA margin: 25-35%.
The Bottom Line: Padel Bukan Trend, Ini Infrastructure Shift

Gue sudah spend ratusan jam researching, ngobrol sama operator dan court owner dan yang paling penting, hampir setiap hari ada di court. Dan conviction gue makin kuat: padel bukan trend seasonal yang akan fade kayak Zumba atau Brompton. Ini infrastructure shift dalam bagaimana urban population olahraga.
Kenapa? Karena padel solve tiga problem sekaligus. Satu, accessibility, gampang dipelajari. Dua, social by design, always doubles, always communal. Tiga, space-efficient, tiga padel court muat di space satu tennis court, dengan revenue per m² yang jauh lebih tinggi.
Dunia padel global sedang di inflection point. 35 juta pemain, 77,300 courts, $2 miliar market, 100 federasi nasional, siaran di 180+ negara, dan Asian Games 2026 di depan mata. Indonesia, dengan 947 courts, 300+ clubs, rata-rata pemain berusia 28 tahun, retention rate 92%, dan rasio court-to-population yang masih astronomically low, kita baru di chapter satu.
Tapi chapter satu itu krusial. Pilihan yang kita buat sekarang, apakah kita prioritaskan komunitas atau cuma bangun court, apakah kita invest di coaching atau cuma di kaca dan turf, apakah federasi jadi growth engine atau sekadar stempel, akan determine apakah chapter dua-nya kayak Spanyol (30 tahun organic growth, sport kedua terbesar di negara) atau kayak Swedia (boom 388%, lalu 600 court dibongkar).
Data globalnya jelas. Playbook-nya ada. Community-nya sudah ready. Sekarang tinggal: siapa yang mau bangun ini dengan benar?
Sumber & Referensi
Seluruh data dan insight dalam artikel ini dikumpulkan dari sumber-sumber berikut:
Data & Laporan Global
FIP World Padel Report 2025, International Padel Federation (padelfip.com)
Playtomic / PwC Global Padel Report 2025 (playtomic.io / thebandeja.com)
Padel Business Magazine, Global Court Data & Club Revenue Reports (padelbusinessmagazine.com)
PalaHack, Global Padel Statistics 2025 (pala-hack.com)
Padel Gameplan, Padel Statistics & Trends (padelgameplan.com)
Padel.fyi, Padel Growth Statistics & Market Data (padel.fyi)
Padel Telegraph, Padel Statistics 2025 (padeltelegraph.com)
Padel Court Quotes, Court Statistics Report 2024 (padelcourtquotes.com)
Tennis Creative, Padel Statistics 2026 (tenniscreative.com)
Statista, Padel Statistics & Facts (statista.com)
Market Growth Reports / Maximize Market Research, Padel Sports & Rackets Market Size (marketgrowthreports.com / maximizemarketresearch.com)
ISPO, Padel: A Young Sport with High Contagion Potential (ispo.com)
Globalpadelhub, Padel vs Tennis: Global Growth Explained (globalpadelhub.com)
Padelgest, The Rising Global Trend of Padel (padelgest.com)
Studi Kasus per Negara
Spanyol: Padel FIP / Cluster Padel, Growth in Courts & Player Licenses 2024; Padel Business Magazine, Spain Court Data
Swedia: Bloomberg (Sept 2023), Sweden Holds Warning for $4 Billion Padel Craze; Padel Tonic / Tennis Tonic, Sweden’s Padel Collapse; NXPADEL, The Sweden Case; Padel Magazine, When Padel Is No Longer Popular; Padel Alto, We Are Padel Bankruptcy; The Padel Paper, UK Lessons from Sweden
UK: The Padel Paper, LTA Padel Participation 2025; LTA Padel, New Padel Strategy (ltapadel.org.uk); Health Club Management, David Lloyd as UK’s Largest Padel Operator; The Bandeja, Playtomic UK Data; Racket Business, UK Padel Growth Analysis
Italia: Italia Team Padel, Growth Statistics & Forecasts (italiateampadel.com); SGI Europe, FIP Report on Italian Growth
Argentina & Meksiko: LTA Padel / Amstelpark / Wikipedia, History of Padel; Padel1969, Agustín Tapia Profile; Padel Alto, Tapia & Coello Dominance
Dubai & Timur Tengah: Padel FIP, Focus on Arab Emirates; Arab News, Rise of Padel in the Middle East; ZAWYA, QSI Acquires World Padel Tour
AS: CNBC (Maret 2026), Pro Padel League Raises $15 Million; SGB Media, Padel Ready to Take Off in U.S.; Sports Destination Management, Padel Making Inroads US Market; The Padel State / The Padel Paper, State of Padel in the U.S. Report; Front Office Sports, Padel Gold Rush
Data Indonesia
Databoks / Katadata, Number of Padel Clubs & Courts in Indonesia Through 2025 (katadata.co.id)
Campaign Indonesia, Will Padel Suffer the Same Fate as Zumba? The Data Tells a Different Story (campaignindonesia.id)
Padelbiz, Indonesia Emerges as Southeast Asia’s Next Major Market (padelbiz.it)
The Jakarta Post / Weekender, Cashing In on Padel: Jakarta’s Courtside Economy
Medium / Kafa, The Jakarta Padel Economy
Kompas.id, Asian Games Pun Akan Terpadel Padel
The Southeast Asia Desk, Racket Sports Reshaping Indonesia’s Urban Culture
Format Kreasi Agency, The Padel Phenomenon in Indonesia
Scribd, Indonesia Padel Report 2025 (Core & Court)
PBPI, Perkumpulan Besar Padel Indonesia (pbpi.or.id)
BCA, Press Release: PBPI Indonesia Open Padel Circuit 2025
Asia Pacific Padel Tour, APPT Calendar & Jakarta Grand Slam (asiapacificpadeltour.com)
Tur Profesional, Bisnis & Investasi
QSI, Agreement to Acquire World Padel Tour (qsi.com.qa); The Padel Paper, Premier Padel & WPT Unification; Flashscore, QSI Buys WPT
Sportcal, Premier Padel Red Bull Partnership; Commercial Landscape Analysis
beIN Sports, 2026 Premier Padel & FIP World Cup Broadcast Rights
Broadcast / Sky Sports, Premier Padel Rights Deals
Minter Dial, Paris Major 2025 Data & Attendance Records
PitchBook, PE Targets Niche Sports Including Padel
GlobeNewswire, Sunrise Padel Capital Fund Closure
Ainvest, The Padel Gold Rush: Billion-Dollar Opportunities
Padelbiz, FIP Hits 100 Federations, Launches FIP Beyond
Padelcreations / Sheets.Market, Padel Club Business Plan & Revenue Models
Conquer Padel Club, Investment Model & ROI Data
RPP / Registry of Padel Professionals, Coach Certification Data (rppadel.org)
Padel Shift / South China Morning Post / Losberger De Boer, Padel Olympic Prospects & Brisbane 2032
Corporate Games UK, Padel for Corporate Team Building
Padel1969, From Boom to Bust: How to Invest in Padel; Global Market Analysis 2025
SGB Media, Nox Secures Equity Investment