Kembali
INSIGHT 4 min read 21 April 2026

Kartini di Lintasan HYROX, Perempuan dalam Sains Olahraga

Sudah menjadi pemandangan lazim di arena yang menggelar sesi HYROX, perempuan berkiprah di sana dengan berlari dilanjut menuju station untuk menghadapi tantangan fisik, untuk kemudian lanjut berlari. Di sisi lain, teriakan mereka bergema di dalam ruangan saat tangannya mendorong …

Kartini di Lintasan HYROX, Perempuan dalam Sains Olahraga

Sudah menjadi pemandangan lazim di arena yang menggelar sesi HYROX, perempuan berkiprah di sana dengan berlari dilanjut menuju station untuk menghadapi tantangan fisik, untuk kemudian lanjut berlari. Di sisi lain, teriakan mereka bergema di dalam ruangan saat tangannya mendorong sled, sementara sisi lainnya ada yang sedang melempar bola ke sasaran dari posisi jongkok.

HYROX adalah lomba yang menggabungkan lari sejauh 8 kilometer dan 8 latihan fungsional di station yang berbeda telah menjelma menjadi fenomena global yang baru. Pertama kali diperkenalkan di Jerman pada tahun 2017, tercatat ada 650 peserta dalam lomba yang digelar setahun kemudian, dan kini menjadi 650.000 orang pada tahun 2024 setelah dilombakan di berbagai kota di dunia, termasuk di Indonesia.

Atlet perempuan juga menunjukkan kontribusinya yakni 38% secara global pada tahun 2024, angka tersebut naik dari 24% pada tahun 2020. Di sejumlah kota, angkanya bahkan lebih dramatis, misalnya di Johannesburg, Afrika Selatan pada tahun 2025 tercatat partisipasi atlet perempuan mencapai 54%, contoh berikutnya adalah Abu Dhabi pada tahun 2025 dengan proporsi atlet perempuan mencapai 41%. Tren ini tidak hanya menunjukkan pertumbuhan minat, melainkan juga fenomena sosiologis.

Di tengah kabar gembira tersebut, terselip sebuah ironi. Semakin banyak atlet perempuan yang berkeringat di lintasan HYROX, tetapi jurang antara partisipasi dengan pengetahuan ilmiah tidak kunjung mengecil.

Perempuan sebagai subyek

Puluhan tahun berlalu, ternyata hingga kini ternyata kehadiran perempuan masih sangat minimal dalam subyek penelitian olahraga. Analisis publikasi ilmiah antara 2014 dan 2020 menunjukkan bahwa 66 persen subyek penelitian adalah laki-laki dan 34 persen adalah perempuan. Lebih jauh lagi, hanya 6 persen studi olahraga dan latihan fisik secara eksklusif berfokus pada perempuan.

Alasannya terdengar klise: terlalu kompleks. Hal ini mengacu pada fluktuasi hormonal yang dianggap sebagai faktor yang membuat penelitian makin rumit.

Akibatnya, perempuan selama bertahun-tahun berlatih menggunakan panduan yang dirancang untuk tubuh laki-laki. Program latihan kekuatan, rekomendasi nutrisi, hingga protokol pemulihan, yang semuanya disusun berdasarkan data yang didapatkan dari subyek laki-laki lantas disesuaikan untuk perempuan.

Momentum yang optimistis didapatkan saat laporan dari Hyrox Sports Science Report 2025 dirilis. Laporan perdana dari Dewan Sains Olahraga HYROX secara eksplisit menempatkan riset khusus perempuan sebagai prioritas utama, dan mengidentifikasikan empat kesenjangan penelitian yang mendesak. Empat hal tersebut adalah pengaruh hormonal terhadap performa, perbedaan adaptasi antara jenis kelamin, termoregulasi pada perempuan, dan pelatihan berbasis tahap kehidupan (dari perimenoupause hingga pascamelahirkan).

Tahu dan tidak digunakan

Yang menarik bukan hanya hal yang diketahui, tetapi yang sudah diketahui tetapi belum diterapkan. Riset tentang siklus menstruasi dan performa olahraga, misalnya. 

Jurnal Sports (2024) menyebutkan bahwa efek moderat dari fase folikuler akhir dalam siklus menstruasi terhadap kekuatan isometrik maksimal. Jurnal ini secara tidak langsung mengakui bahwa ada variasi performa yang bermakna sepanjang siklus. 

Di sisi lain, penelitian Frontiers in Sports and Active Living (2023) justru menyimpulkan bahwa fase siklus menstruasi tidak secara signifikan memengaruhi adaptasi kekuatan dari latihan ketahanan. Pendapat tersebut melawan arus terhadap narasi populer bahwa perempuan harus “merancang ulang program latihan setiap minggu” sesuai siklus hormon.

Padahal, realitanya tidak sesederhana itu. Fluktuasi hormon itu ada dan relevan, tetapi tidak perlu menjadi sumber kecemasan dan justifikasi untuk mengurangi intensitas latihan secara dramatis. Perempuan dapat dan harus berlatih keras, tentunya dengan mempertimbangkan konteks hormonal dan fase kehidupan sebagai faktor informasi, bukanlah hambatan.

Ada pula penuaan yang perlu dipertimbangkan sebagai faktor. Estrogen, hormon yang memiliki efek protektif pada sistem rangka, kardiovaskular dan neuromuskular, turun secara signifikan saat masuk fase menopause. Dampaknya nyata terlihat pada kekuatan, komposisi tubuh, dan kapasitas kardiovaskuler atlet perempuan berusia 40 tahun keatas, sementara segmen ini justru tumbuh subur di HYROX. Dengan data bahwa dua pertiga peserta HYROX berusia di atas 30 tahun, membuka pertanyaan baru tentang latihan berbasis fase kehidupan yang menjadi kebutuhan dari mayoritas peserta.

Kartini dan pengetahuan yang belum merata

Fenomena ini juga bergema di Indonesia. Data dari Sport Development Index oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga RI mencatat bahwa hanya 31 persen perempuan Indonesia berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, angka yang jauh di bawah standar regional.

Hambatannya ternyata bukan hanya pada infrastruktur atau waktu, melainkan persepsi yang terlanjur terbentuk bahwa olahraga yang intens itu bukan untuk perempuan. Alasannya, tubuh perempuan lebih lemah dan mudah cedera, dan program kebugaran yang ada tidak dirancang bagi mereka.

Masalah ini hanyalah versi kontemporer yang dulu dihadapi oleh Kartini yang hidup pada akhir abad ke-19. Bukan semata-mata akses fisik, melainkan akses epistemik atau hak untuk diakui sebagai subyek pengetahuan, bukan sekadar obyek yang dikenakan standar orang lain.

Menurut studi ASICS 2024 yang melibatkan hampir 25.000 responden dari 40 negara, lebih dari separuh perempuan di seluruh dunia telah berhenti berolahraga atau tidak pernah memulainya sama sekali. Oleh karena itu, ketika HYROX memilih untuk memprioritaskan riset perempuan, keputusan ini menjadi pernyataan untuk memilih siapa yang layak dipahami.

Menjadi awal baru

Laporan dari HYROX Sports Science Report 2025 bukanlah jawaban, masih sebatas pengakuan atas pertanyaan yang sudah tertunda lama. Penelitian belum dilakukan, data masih harus dikumpulkan, protokol penelitian belum disusun.

Tapi, perubahan telah bergulir, ketika sebuah institusi olahraga memutuskan untuk mengalokasikan sumber daya di belakang pertanyaan-pertanyaan mengenai tubuh perempuan. Bukan lagi sebagai catatan kaki, kini menjadi agenda utama.

Melalui sains, kegelapan akan habis dan terang datang.

Sumber: 

HYROX Sports Science Report 2025; Rox Lyfe (2026); Cowley et al. (2021) via Frontiers in Sports and Active Living; Daly et al., Physiological Reports (2024); Niering et al., Sports (2024); Colenso-Semple et al., Frontiers in Sports and Active Living (2023); ASICS Global Sport Report (2024); Sport Development Index Kemenpora (2023); Infront Sport (2025)

EXPLORE 20FIT

More ways to move.