Moh Zaki Ubaidillah menyingkirkan juara dunia Alex Lanier dan menjadi finalis Super 750 termuda. Inilah perjalanan Ubed dari Sampang ke Paris.

Ketika bola terakhir Alex Lanier tersangkut di net Arena Grand Paris, Sabtu malam waktu Indonesia, penonton tuan rumah terdiam. Juara dunia 2026 itu baru saja kalah 21-16, 16-21, 21-17 dari pemain yang delapan bulan lalu belum pernah memenangi satu pun turnamen level Super 300 ke atas: Moh Zaki Ubaidillah, 19 tahun, dari Sampang, Madura.
Kemenangan itu membawa Ubed, panggilannya, ke final French Open 2026 dan ke buku rekor. Menurut Okezone, ia kini finalis tunggal putra termuda dalam sejarah turnamen Super 750, pada usia 19 tahun 120 hari. Rekor sebelumnya dipegang Lanier sendiri, yang mencapai final Japan Open 2024 pada usia 19 tahun 210 hari. Ubed juga satu-satunya wakil Indonesia yang tersisa di Paris, setelah tiga pasangan Merah Putih lain tumbang di semifinal.
Ringkasnya: Moh Zaki Ubaidillah (Ubed), tunggal putra PB Djarum kelahiran 2007, menembus final French Open 2026 setelah menyingkirkan juara dunia Alex Lanier. Dalam sembilan bulan ia memenangi Thailand Masters, menjadi penentu emas beregu putra Asian Games 2026, dan kini menghadapi Christo Popov di final Super 750 pertamanya.
Lanier datang sebagai unggulan pertama dan pahlawan lokal. Pada Agustus lalu di New Delhi, ia menjadi pria Prancis pertama yang menjuarai tunggal putra Kejuaraan Dunia setelah mengalahkan Kodai Naraoka 21-11, 21-11, seperti dicatat New Straits Times dan Badminton Europe. Di Paris, Lanier beberapa kali membalikkan keadaan dan menyalakan harapan penonton di gim kedua, tulis CNN Indonesia. Ubed lalu mengambil alih kendali di gim penentuan.
Seusai laga, Ubed berbicara tentang pertandingan itu seperti ujian yang sudah lama ia tunggu. “Saya menunggu pertemuan dengan Alex dan kami berdua rasanya puas dengan apa yang ditampilkan,” katanya, seperti dikutip Okezone. “Saya juga bisa mengukur sebagai patokan seberapa bisa saya melawan dia dan ternyata bisa menang.”

Jalan menuju semifinal juga tidak ringan. Di babak pertama ia menyingkirkan seniornya, Jonatan Christie, unggulan keempat, lewat rubber game 16-21, 21-17, 21-17. Ia kemudian menundukkan Koki Watanabe dari Jepang 21-17, 21-14, lalu Chi Yu Jen dari Taiwan 21-15, 21-13 di perempat final untuk mencapai semifinal Super 750 pertamanya, menurut Okezone. Kekalahan Jonatan di babak awal sempat kami ulas dalam laporan hari pertama French Open 2026.
Ubed lahir di Sampang pada 26 Juni 2007. Pelatih pertamanya adalah ayahnya sendiri, Bambang Suharyadi, penggemar bulu tangkis yang melatih putranya hampir seorang diri sebelum mendaftarkannya ke turnamen lokal. Kisah itu dirangkum Mojok dalam profil panjang yang terbit sepekan setelah Asian Games.
Bocah itu tidak selalu cinta pada raket. Menurut Mojok, Ubed kecil sempat ingin berhenti karena lebih suka bermain layangan, sebelum keluarganya membujuknya kembali berlatih. Sejak sekolah dasar ia meninggalkan Madura, berpindah dari PB Rahmat di Pati ke klub-klub di Gresik, Surabaya, dan Klaten. “Latihannya kan berat, jadi kangen ke orang tuanya, apalagi masih kecil,” kenang ibunya, Haryanti.
Pada akhir 2019, di usia 12 tahun, Ubed lolos seleksi jalur prestasi PB Djarum di Kudus. Keluarga itu membayar mahal untuk jalan tersebut: Mojok mencatat adik Ubed, Muhammad Jaya, meninggal dunia pada usia 10 tahun, tepat di hari pertama Audisi Umum PB Djarum. Bambang melihat klub itu membentuk lebih dari sekadar pukulan. Yang dilatih, katanya, “bukan hanya urusan teknik bermain bulu tangkis saja yang dilatih, tapi juga karakter dan mentalnya yang dibentuk.”
Lonjakan Ubed di level senior dimulai di Bangkok. Pada 1 Februari 2026 ia menjuarai Thailand Masters setelah mengalahkan tuan rumah Panitchaphon Teeraratsakul 21-19, 20-22, 21-19. Menurut laporan BWF, ia tertinggal di ketiga gim, termasuk 16-19 di gim pertama, sebelum menutup laga pada match point kedua. Itu gelar terbesar dalam kariernya, yang juga dikonfirmasi RRI.
Tujuh bulan kemudian, panggungnya jauh lebih besar. Pada 24 September di Ichinomiya, final beregu putra Asian Games Aichi-Nagoya antara Indonesia dan China berlanjut hingga partai kelima. Ubed mengalahkan Weng Hongyang 23-21, 21-13 dan memastikan kemenangan 3-2. Mojok mencatat itu emas beregu putra pertama Indonesia di Asian Games sejak 1998, sekaligus emas pertama kontingen Merah Putih di Aichi-Nagoya.

Sebelum turun ke lapangan malam itu, ia menelepon orang tuanya. “Minta doa dari mereka, karena saya merasa tegang,” katanya kepada Mojok. Kebiasaan kecil itu, menurut laporan Gebrak, menjadi bagian dari cerita yang membuat publik mengenal namanya dalam semalam.
Ubed bukan satu-satunya anak muda yang mengubah peta tunggal putra Indonesia. Rekan seangkatannya, Alwi Farhan, mengalahkannya di final SEA Games 2025 dan kini sudah menembus sepuluh besar dunia, seperti kami tulis dalam profil Alwi Farhan. Keduanya tumbuh di bawah bayang-bayang Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting, dan kini mulai merebut tempat mereka.
Perbedaannya, Ubed sampai di sini lewat jalan yang tidak dipetakan. Ia bukan unggulan di Paris, dan sepanjang pekan ia mengalahkan pemain unggulan keempat, juara dunia, sekaligus pemegang rekor yang kini menjadi miliknya. Prestasi itu juga terasa di tengah pekan yang sulit bagi kontingen Indonesia. Menurut CNN Indonesia, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, dan Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin semuanya terhenti di semifinal.
Lawannya di final adalah tuan rumah Christo Popov. Sesi final dimulai pukul 11.00 waktu Paris atau 17.00 WIB, dan tunggal putra dijadwalkan sebagai partai keempat, menurut CNN Indonesia. Hasil final belum diketahui saat artikel ini ditulis.
Apa pun hasilnya malam ini, Ubed sudah menulis ulang ekspektasi terhadap dirinya. Bocah yang dulu lebih memilih layangan itu kini pergi ke Paris dengan satu target sederhana yang ia ucapkan setelah mengalahkan Lanier: mengukur seberapa jauh ia bisa melawan yang terbaik. Sejauh ini, jawabannya terus bertambah jauh.
Moh Zaki Ubaidillah atau Ubed adalah tunggal putra Indonesia kelahiran Sampang, Madura, 26 Juni 2007, binaan PB Djarum. Ia juara Thailand Masters 2026 dan penentu emas beregu putra Asian Games 2026.
Menurut Okezone, Ubed menjadi finalis tunggal putra termuda dalam sejarah turnamen Super 750, pada usia 19 tahun 120 hari, memecahkan rekor Alex Lanier (19 tahun 210 hari) dari Japan Open 2024.
Menurut CNN Indonesia, Ubed menghadapi tuan rumah Christo Popov pada Minggu, 25 Oktober 2026, sebagai partai keempat sesi final yang dimulai pukul 11.00 waktu Paris atau 17.00 WIB.
Kartu siap posting dibuat otomatis dari artikel ini.
Di HP, tombol Share to Instagram membuka menu share dan Anda tinggal pilih Instagram Stories atau Feed. Di desktop, gambar disimpan dulu lalu diunggah dari Instagram.
20FIT Media
Choose what this story was worth to you.
You’ll finish paying right here — this page stays open.
QRIS, bank transfer, e-wallet or card.
Trouble with an e-wallet? Open the payment page in a new tab.
Finished? — thank you for supporting 20FIT.
Opening secure checkout…