Kembali
HEALTH 4 min read 17 April 2026

Rahasia Badan Prima di Usia Senja: Juan López García

Juan López García mulai serius berlari sejak usia 66 tahun. Di usia 82 tahun,  dia memecahkan rekor dunia kelompok usia 80+ yang sudah bertahan selama lebih dari satu dekade. Pencapaian itu mengundang rasa penasaran ilmuwan untuk mengungkap rahasianya agar bisa direplikasi, hasil…

Rahasia Badan Prima di Usia Senja: Juan López García

Juan López García mulai serius berlari sejak usia 66 tahun. Di usia 82 tahun,  dia memecahkan rekor dunia kelompok usia 80+ yang sudah bertahan selama lebih dari satu dekade. Pencapaian itu mengundang rasa penasaran ilmuwan untuk mengungkap rahasianya agar bisa direplikasi, hasilnya telah diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Physiology.

Dari penelitian terhadap badan García, terungkap bahwa “spesifikasi” dari badannya memang di atas rata rata. VO2 Max-nya tercatat 52,8 ml/kg/menit atau lebih dari dua kali lipat rata-rata pria yang tidak berlatih seusianya yakni (18-25 ml/kg/menit), angka tersebut juga menempatkan Garcia pada klaster 30% teratas pria sehat usia 20-30 tahun. Pengukuran itu menunjukkan García sebagai pemilik VO2 Max tertinggi yang pernah tercatat pada manusia berusia di atas 80 tahun.

VO2 Max sering dipakai sebagai cara untuk mengukur kemampuan aerobik seseorang melalui seberapa efisien badan mengedarkan dan menggunakan oksigen saat berolahraga. Indikator ini sering dipakai untuk memperkirakan daya tahan dan kebugaran seseorang.

Indikator lain yang digunakan adalah lactate treshold  yang menunjukkan menunjukkan pace dan heart rate maksimal yang bisa dipertahankan tanpa cepat kelelahan. Lagi-lagi, tim ilmuwan dibuat terperangah oleh pemeriksaan dari García yang menunjukkan angka 91% yang berarti dia mampu mempertahankan kecepatan tinggi dengan jauh lebih lama dari kebanyakan orang.

Metabolismenya pun bahkan melampaui atlet muda, terlihat dari pengukuran kemampuan pembakaran lemak yang masih efisien hingga 77% dari upaya maksimal. Kesimpulan yang diambil: output jantung García memang bagus, tapi bukan sesuatu yang luar biasa, hasil tersebut malah lebih rendah dari atlet master muda. Pertanyaan yang muncul kemudian: “Di mana keajaiban sesungguhnya terjadi?”

Sel otot

Yang menakjubkan dari penampilan García ternyata berlangsung di tingkat sel otot. Mitokondria yang bertugas untuk membangkitkan energi di dalam ototnya tampak sangat terpelihara, mampu menyerap dan menggunakan oksigen pada tingkat yang melampaui orang seusianya, bahkan generasi yang jauh lebih muda.

“Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan berlari secara konsisten yang ditekuni selama bertahun-tahun dapat menjaga atau bahkan meningkatkan kesehatan dan fungsi metabolisme jaringan otot melampaui dampak dari penuaan. Mitokondria tampaknya merespons ransangan latihan pada usia berapapun,” ujar Simone Porcelli, MD, PhD, profesor madya fisiologi manusia di Universitas Pavia, dan penulis utama studi tersebut, melalui wawancara elektronik bersama Runner’s World.

García tidak melakoni latihan yang brutal untuk mencapai hal tersebut. Dalam wawancara dengan tim peneliti, pria tersebut bercerita bahwa dia pernah berlari secara biasa pada usia 20 tahunan dan kebiasaan itu terhenti sampai beberapa dekade kemudian, hingga kembali memulai pada usia 66 tahun dan mengikuti kompetisi pertama pada usia 70 tahun.

Saat ini, porsi latihan yang dilakukan terstruktur tanpa harus menjadi terlalu keras. Setiap minggu dia berlari antara 65-120 kilometer yang terus meningkat jelang perlombaan, setiap tahun mencapai 3.500 kilometer. Menu latihannya dilakukan dengan tempo yang nyaman, diselingi dengan latihan interval mulai dengan pengulangan dari jarak paling pendek 200 meter hingga paling panjang 8 kilometer.

Pesan dari para peneliti untuk pelari rekreasional sangatlah jelas: bangun basis aerobik yang besar pada intensitas sedang, patuh pada penjadwalan latihan yang terstruktur, dan biasakan hingga adaptasi terjadi.

Kasus tunggal

Laporan dari penelitian García memang berdasarkan kasus tunggal dengan kemungkinan genetika yang berperan. Meski demikian, pesannya tetap tegas: tidak pernah terlambat untuk memulai berlatih.

Temuan atas García memperkuat sebuah bangunan penelitian yang semakin kokoh tentang plastisitas fisiologi manusia di usia lanjut. Studi yang diterbitkan dalam Journal of Physiology (2019) oleh Pollock dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa atlet master yang terus berlatih secara terstruktur mampu mempertahankan VO2 Max hingga 45% lebih tinggi dibandingkan rekan seusia yang tidak aktif. Hal tersebut mengonfirmasi bahwa penurunan kapasitas aerobik bukanlah takdir biologis, melainkan dipengaruhi oleh gaya hidup.

Dalam hal mitokondria yang berperan penting dalam kasus García, penelitian yang diterbitkan di Cell Metabolism (2017) oleh Halling dan Pilegaard menemukan bahwa latihan ketahanan pada subjek lanjut usia secara signifikan meningkatkan densitas dan fungsi mitokondria otot rangka, bahkan pada individu yang baru memulai program latihan di atas usia 65 tahun.

Penelitian tersebut sejalan dengan temuan bahwa kapasitas oksidatif otot García melampaui atlet muda, bukti bahwa “usia biologis otot” dapat diputar mundur oleh latihan yang konsisten.

Mayo Clinic Proceedings (2018) menerbitkan data dari lebih dari 122.000 pasien yang menunjukkan bahwa VO2 Max adalah prediktor mortalitas yang lebih kuat dibandingkan merokok, diabetes, atau hipertensi. Setiap peningkatan satu unit VO2 Max dikaitkan dengan penurunan risiko kematian dini sebesar 9-13%. Angka 52,8 ml/kg/menit yang dicapai oleh García dalam konteks ini bukan hanya rekor atletik tetapi mencerminkan kesehatan kardiovaskular yang luar biasa.

Begitu pula riset dari British Journal of Sports Medicine (2022) juga memperkuat konsep “aerobic base” yang dijalani García: latihan intensitas sedang berkelanjutan (zona 2) terbukti menjadi stimulus paling efisien untuk adaptasi mitokondria jangka panjang, jauh lebih superior ketimbang latihan intensitas tinggi yang terus menerus tanpa periodisasi yang tepat.

Melalui terobosan yang didapatkan dengan meneliti García, penelitian ini telah menegaskan bahwa tidak ada yang terlalu tua untuk mulai berolahraga. Dan seharusnya tidak perlu beralasan soal usia untuk menutupi kemalasan.

Sumber:

  • Runner’s World
  • Frontiers in Physiology
  • Journal of Physiology (2019)
  • Cell Metabolism (2017)
  • Mayo Clinic Proceedings (2018)
EXPLORE 20FIT

More ways to move.