Kembali
LARI 7 min read 27 August 2026

Jakob Ingebrigtsen Comeback, Duplantis Kejar Rekor Lagi: Zurich Jadi Panggung Terakhir Sebelum Final Diamond League

Weltklasse Zurich menjadi pemberhentian terakhir sebelum Final Diamond League di Brussels, dengan comeback Jakob Ingebrigtsen, kejaran rekor dunia Mondo Duplantis, dan duel panas Audrey Werro vs Femke Broeders-Bol di nomor 800m jadi sorotan utama.

Jakob Ingebrigtsen Comeback, Duplantis Kejar Rekor Lagi: Zurich Jadi Panggung Terakhir Sebelum Final Diamond League
Foto: Marta Gorczynska / Wanda Diamond League.

Letzigrund Stadium, Zürich, jadi panggung penutup musim reguler Wanda Diamond League 2026 pada 26-27 Agustus, dan drama yang tersaji jauh dari kata membosankan — mulai dari comeback emosional Jakob Ingebrigtsen yang absen hampir dua tahun, kejaran rekor dunia ke-16 milik Mondo Duplantis di lompat galah, sampai duel sengit nomor 800m putri yang sudah memanas sejak Lausanne pekan sebelumnya. Weltklasse Zürich bukan sekadar meeting biasa. Ini adalah kesempatan terakhir para atlet untuk mengunci tiket ke Final Diamond League di Brussels, 4-5 September 2026, sekaligus tiket otomatis ke World Athletics Ultimate Championship di Budapest.

Buat penggemar atletik di Indonesia yang mengikuti musim lari lintasan dunia, Zurich selalu jadi salah satu meeting paling emosional dalam kalender Diamond League. Bukan cuma karena hadiah dan gengsi Diamond Trophy, tapi juga karena venue Letzigrund yang terkenal “cepat” dan penonton yang sangat riuh mendukung atlet tuan rumah Swiss macam Audrey Werro dan Simon Ehammer.

Comeback Jakob Ingebrigtsen yang Ditunggu-tunggu

Nama yang paling banyak dibicarakan menjelang Zurich adalah Jakob Ingebrigtsen. Juara dunia dan Olimpiade asal Norwegia ini sempat vakum dari sirkuit Diamond League selama hampir dua tahun akibat cedera tendon achilles yang cukup parah. Comeback-nya dimulai lebih dulu di Silesia pada 23 Agustus, sebelum ia lanjut tampil di Zurich pada 27 Agustus untuk nomor 1500m — salah satu race paling dinanti musim ini.

Di Silesia, hasil comeback Ingebrigtsen memang belum sesuai ekspektasi tertinggi. Ia finis di posisi keempat dengan catatan waktu 3:31.19, kalah tipis 0,42 detik dari pemenang mengejutkan asal Amerika Serikat, Ethan Strand, yang mencatatkan waktu musim terbaiknya 3:30.77. Berikut ini rangkuman hasil lengkap 1500m putra di Silesia:

PosisiAtletNegaraWaktu
1Ethan StrandAmerika Serikat3:30.77
2Phanuel Kipkosgei KoechKenya3:31.14
3Cole HockerAmerika Serikat3:31.16
4Jakob IngebrigtsenNorwegia3:31.19
5Samuel PihlströmSwedia3:31.41
9Isaac NaderPortugal3:32.00

Yang menarik, meski belum menang, jarak Ingebrigtsen dengan barisan depan sangat tipis — cuma kurang dari setengah detik dari podium. Ini jadi modal penting jelang laganya di Zurich melawan lawan-lawan berat yang sama: juara Olimpiade Cole Hocker asal Amerika Serikat dan juara dunia asal Portugal, Isaac Nader.

Salah satu Co-Meeting Director Weltklasse Zürich menyambut antusias kembalinya bintang Norwegia ini ke Letzigrund.

“Kami sangat senang bisa menyambut kembali Jakob di Weltklasse Zürich dan menyaksikannya berlaga di race yang dijanjikan seru sampai meter-meter terakhir.”

Co-Meeting Director Weltklasse Zürich, sebagaimana dilaporkan oleh olympics.com

Bagi Ingebrigtsen, Zurich adalah race Diamond League pertamanya dalam hampir dua tahun di ajang ini — sebuah pertaruhan besar buat atlet yang sebelumnya mengoleksi 21 kemenangan Diamond League sepanjang karier dan pernah memegang rekor dunia di berbagai nomor middle distance.

Asics Novablast 6
Cocok Buat Kamu
Asics Novablast 6
Comeback Ingebrigtsen ke lintasan itu dimulai dari sepasang sepatu yang pas. Buat kamu yang juga suka lari jarak menengah, Novablast 6 ringan dan responsif buat ngejar PR sendiri.
Lihat Produk →

Duel 800m Putri: Werro vs Broeders-Bol Berlanjut

Kalau nomor 1500m putra menyita perhatian karena comeback Ingebrigtsen, nomor 800m putri menyita perhatian karena rivalitas yang makin memanas antara pelari tuan rumah Audrey Werro dan pelari Belanda Femke Broeders-Bol.

Rivalitas ini baru saja mencapai titik didih di Lausanne pada 21 Agustus lalu, ketika Werro nyaris kalah dari kejaran Broeders-Bol di lurusan terakhir. Werro akhirnya menang dengan rekor meeting 1:55.33, sementara Broeders-Bol — yang baru musim ini pindah dari nomor gawang ke 800m — finis kedua dengan 1:55.41, memecahkan rekor nasional Belanda milik legenda Ellen van Langen.

Sebelum race di Lausanne, Werro sempat berbicara soal target dan tekanan yang ia rasakan menjelang laganya di kandang sendiri.

“Saya tidak mau menaruh beban pada diri sendiri soal rekor dunia ini. Yang utama, saya ingin bersenang-senang. Tapi meeting Lausanne ini spesial buat saya. Seluruh keluarga dan teman-teman saya akan hadir.”

Audrey Werro, pelari 800m Swiss, sebagaimana dilaporkan oleh Lausanne Diamond League

Dan setelah race berakhir dengan kemenangan tipisnya, Werro kembali buka suara soal betapa beratnya kondisi fisiknya saat itu.

“Saya benar-benar menikmati race ini, apalagi dengan semua fans yang datang mendukung saya. Jeda setelah kejuaraan Eropa sangat singkat, jadi saya harus pulih dengan cepat, dan saya merasa lebih lelah dari biasanya hari itu. Meski begitu, saya berhasil menang, jadi saya sangat senang.”

Audrey Werro, sebagaimana dilaporkan oleh LetsRun.com

Di Zurich, duel ini berlanjut dengan tambahan nama besar lain: Georgia Hunter Bell asal Inggris, yang datang dengan modal gelar juara 800m Commonwealth dan juara 1500m Eropa, plus catatan waktu terbaik pribadi 1:54.90 yang dicetak di Kejuaraan Dunia Tokyo 2025. Ironisnya, dua nama besar lain — juara Olimpiade Keely Hodgkinson dan juara dunia Lilian Odira — justru mengundurkan diri dari line-up Zurich pada menit-menit terakhir, sehingga trio Werro-Broeders Bol-Hunter Bell otomatis jadi favorit utama perebutan podium.

Mondo Duplantis: Kejar Rekor Dunia ke-16

Selain drama middle distance, sorotan lain yang tidak kalah besar datang dari nomor lompat galah putra. Armand “Mondo” Duplantis, atlet asal Swedia yang sudah dianggap sebagai salah satu atlet lintasan-lapangan terbaik sepanjang masa, kembali tampil di Zurich untuk keenam kalinya secara beruntun.

Musim 2026 sejauh ini sudah jadi musim luar biasa buat Duplantis. Ia sempat memecahkan rekor dunia lompat galah di Mondo Classic bulan Maret dengan lompatan 6,31 meter — rekor dunia ke-15 dalam kariernya. Setelah itu, ia melanjutkan dominasi dengan kemenangan di Lausanne (6,21m) dan Silesia (6,20m), dua-duanya disertai percobaan memecahkan rekor dunia yang belum berhasil.

Di Zurich, pertanyaan besarnya: bisakah Duplantis akhirnya menembus 6,32 meter di Letzigrund? Ia juga berpotensi meraih Diamond Trophy keenam sepanjang kariernya di nomor ini, sekaligus melanjutkan rivalitas menariknya dengan pelompat galah Yunani, Emmanouil Karalis, yang terus menempel ketat di setiap kompetisi musim ini.

Kenapa Zurich Begitu Krusial

Status Weltklasse Zürich sebagai meeting reguler terakhir sebelum Final Brussels membuat setiap race di sini punya bobot ekstra. Para atlet yang belum mengunci poin cukup untuk lolos ke final harus tampil maksimal di Letzigrund — tidak ada ruang untuk race “pemanasan”.

Selain nomor-nomor yang sudah disebutkan, publik juga menantikan duel 100m putri yang mempertemukan Melissa Jefferson-Wooden, Julien Alfred, dan Sha’Carri Richardson, serta duel klasik 400m gawang putra antara Alison dos Santos asal Brasil dan Karsten Warholm asal Norwegia — dua nama yang sudah lama jadi rival abadi di nomor ini sejak era Tokyo dan Paris.

Format Zurich tahun ini juga unik karena menghadirkan city event lompat galah putri di Zürich Main Station pada 26 Agustus, sebelum kompetisi utama berlanjut di Letzigrund keesokan harinya. Ini jadi salah satu cara Diamond League menarik perhatian publik yang lebih luas, di luar penonton stadion.

Reaksi dan Ekspektasi Menjelang Brussels

Dengan Zurich menjadi penutup musim reguler, semua mata kini tertuju ke Brussels untuk Final Diamond League pada 4-5 September 2026 di King Baudouin Stadium. Format final dua hari ini akan mempertemukan atlet-atlet dengan peringkat poin tertinggi dari sepanjang musim, dan hasil-hasil di Zurich berpotensi mengubah signifikan siapa saja yang lolos otomatis.

Bagi Ingebrigtsen, performa di Zurich jadi penentu penting apakah comeback-nya bisa berbuah tiket ke Brussels. Bagi Werro dan Broeders-Bol, rivalitas mereka di 800m kemungkinan besar akan berlanjut sampai final musim, mengingat betapa tipisnya selisih waktu keduanya sepanjang musim ini. Sementara itu, Duplantis — yang sudah nyaris pasti melaju ke Brussels — lebih fokus mengejar rekor dunia lagi ketimbang sekadar soal kualifikasi.

Menariknya, dinamika musim middle distance putra tahun ini juga menunjukkan betapa dalamnya kualitas kompetisi saat ini. Kemunculan nama-nama baru seperti Ethan Strand yang mengejutkan para juara dunia dan Olimpiade di Silesia membuktikan bahwa dominasi nama-nama besar seperti Ingebrigtsen dan Hocker tidak lagi otomatis di setiap race.

Musim Diamond League 2026 memang masih menyisakan satu babak lagi di Brussels, tapi apa yang terjadi di Zurich sudah cukup memberi gambaran besar: middle distance putra sedang mengalami pergeseran generasi, nomor 800m putri sedang punya rivalitas paling seru dalam beberapa tahun terakhir, dan lompat galah putra masih menjadi milik satu nama — Mondo Duplantis — yang sepertinya belum berniat berhenti memecahkan rekor dunia dalam waktu dekat.

Artikel ini dirangkum dari:

EXPLORE 20FIT

More ways to move.