Atletik Indonesia Asian Games 2026: Nol Medali, Dua Rekor Nasional, dan Evaluasi Total PB PASI
PB PASI akan mengevaluasi total hasil atletik Indonesia di Asian Games 2026. Dua rekor nasional jalan cepat dan tiga finis kelima menjadi catatan positif, tetapi selisih ke podium masih lebar.
Ketua Umum PB PASI Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan akan mengevaluasi total hasil atletik Indonesia di Asian Games 2026, Rabu (30/9), setelah 12 atlet Merah Putih menutup program atletik di Nagoya tanpa satu pun medali. Rapor di lintasan tidak sepenuhnya kelam: Hendro Yap dan Violine Intan Puspita memecahkan rekor nasional jalan cepat half marathon, sementara Maria Natalia Londa, Diva Renatta Jayadi, dan Dina Aulia sama-sama finis kelima. Luhut menegaskan persiapan dua bulan tidak mungkin cukup, dan PASI kini menyiapkan pembinaan dua hingga empat tahun untuk menghadapi Asian Games berikutnya.
Baca Cepat
- PB PASI akan mengevaluasi total hasil atletik Indonesia di Asian Games 2026; Luhut menyebut persiapan dua bulan tidak mungkin cukup, dan pengurus menemukan persoalan dalam persiapan atlet, termasuk aspek disiplin.
- Dua rekor nasional jalan cepat half marathon lahir di Nagoya, Rabu (23/9): Hendro Yap 1:36:49 (ketujuh) dan Violine Intan Puspita 1:51:00 (kedelapan).
- Tiga atlet finis kelima — Maria Natalia Londa (lompat jangkit 13,50 m), Diva Renatta Jayadi (lompat galah 4,00 m), dan Dina Aulia (100 m gawang 13,25 detik) — sementara Robi Syianturi keenam di maraton dengan 2:13:12.
- Thailand membawa pulang tiga emas atletik, Singapura dan Filipina masing-masing satu emas, Vietnam satu perunggu; Indonesia tanpa medali, padahal kontingen secara keseluruhan sudah memenuhi target empat emas lewat cabang lain.
PB PASI Evaluasi Total Atletik Indonesia, Luhut: Persiapan Dua Bulan Tidak Mungkin
Pernyataan itu disampaikan Luhut Binsar Pandjaitan, Rabu (30/9), seperti dilaporkan Antara. Menurut Luhut, atlet tidak mungkin berprestasi di level Asia hanya dengan persiapan dua bulan, sehingga PB PASI menyiapkan pembinaan intensif selama dua hingga empat tahun ke depan sebagai fondasi menghadapi Asian Games berikutnya. Target prestasi, tambahnya, tidak hanya berorientasi pada SEA Games.
Evaluasi akan menyoroti kesiapan atlet, pola latihan, serta pemanfaatan dan pengembangan sarana latihan. Pengurus mengakui menemukan persoalan dalam persiapan atlet, termasuk aspek disiplin. PASI kini memiliki pusat latihan di Pangalengan, Kabupaten Bandung, dan kawasan Danau Toba, Sumatera Utara, yang berada di ketinggian sekitar 1.400 meter, serta di Timika, Papua, yang diarahkan untuk nomor lempar.
Federasi juga tengah meregenerasi sejumlah atlet nomor lari, termasuk menyiapkan penerus sprinter Lalu Muhammad Zohri. Zohri sendiri tidak termasuk dalam 12 atlet yang tampil di Nagoya; Luhut menyebut kondisi fisiknya menjadi perhatian karena ia baru menjalani operasi, dan PASI akan memantau perkembangannya delapan bulan hingga satu tahun ke depan.
Dua Rekor Nasional Jalan Cepat Jadi Sorotan Terang di Nagoya
Sorotan paling cerah datang dari nomor jalan cepat half marathon pada hari pertama atletik, Rabu (23/9). Hendro Yap finis ketujuh putra dengan 1:36:49, memangkas 58 detik rekor nasional sebelumnya (1:37:47) yang dicetak di All Japan Takahata Walking Race 2025. Violine Intan Puspita finis kedelapan putri dengan 1:51:00, lebih cepat 1 menit 16 detik dari rekor lamanya (1:52:16) di ajang yang sama.
Jarak ke podium masih lebar. Shi Shengji dari China menang di nomor putra dengan 1:23:32 dan Yang Liujing, juga dari China, di nomor putri dengan 1:33:40, sehingga Hendro tertinggal 13 menit 17 detik dan Violine 17 menit 20 detik. Violine menyebut tantangan terbesar justru datang dari dirinya sendiri, yaitu menepis keraguan dan menjaga tenaga hingga garis finis.
Tiga Finis Kelima: Londa, Diva, dan Dina Tertinggal Tipis dari Podium
Maria Natalia Londa finis kelima di lompat jangkit putri, Kamis (24/9), dengan 13,50 meter, catatan terbaiknya musim ini. Dari enam percobaan, hanya dua lompatan yang sah (13,50 dan 13,15 meter). Perunggu milik Li Yi dari China dengan 13,83 meter, terpaut 33 sentimeter, sedangkan emas direbut Sharifa Davronova dari Uzbekistan dengan 14,35 meter. Londa sebelumnya menyebut Nagoya sebagai Asian Games terakhirnya.
Di lompat galah putri, Jumat (25/9), Diva Renatta Jayadi finis kelima dengan 4,00 meter, hanya 15 sentimeter di bawah ketinggian perunggu (4,15 meter) yang dibagi dua atlet. Emas diraih Misaki Morota dari Jepang dengan 4,55 meter, perak Niu Chunge dari China dengan 4,50 meter. Kompas menulis bahwa rasa gugup mematahkan harapan medali Diva, yang pada Maret menjuarai dua turnamen lompat galah di Taiwan dengan lompatan 4,20 meter.
Dina Aulia finis kelima di final 100 meter gawang putri, Minggu (27/9), dengan 13,25 detik, lebih cepat dari catatan musim ini yang ia buat di penyisihan sehari sebelumnya (13,39 detik). Ia hanya terpaut 0,13 detik dari perunggu Wu Yanni dari China (13,12 detik); emas direbut Mako Fukube dari Jepang dengan 12,74 detik.
Maraton, Heptathlon, dan Lembing: Hasil Campuran dengan Selisih yang Masih Lebar
Di maraton, Sabtu (26/9), Robi Syianturi finis keenam dengan 2:13:12, 52 detik lebih lambat dari rekor pribadi sekaligus rekor nasionalnya, 2:12:20, dari Copenhagen Marathon awal tahun ini. Ichitaka Yamashita dari Jepang menang dengan 2:10:49. Di nomor putri, Odekta Elvina Naibaho finis kesembilan dengan 2:35:24, sementara emas diraih Shitaye Habte dari Bahrain dengan 2:27:31.
Emilia Nova menuntaskan tujuh nomor heptathlon dengan 5.279 poin di posisi ketujuh, Jumat (25/9), terpaut 289 poin dari perunggu Alina Chistyakova asal Kazakhstan (5.568 poin); ia mengaku beberapa nomor mencatat personal best. Di 3.000 meter halang rintang, Senin (28/9), Pandu Sukarya finis ketujuh dengan catatan terbaik musim ini, sekitar 9 menit 18 detik, kira-kira satu menit di belakang Ryuji Miura dari Jepang (8:17,36).
Di lempar lembing, Senin (28/9), Abdul Hafiz finis ke-12 dengan 70,67 meter, di bawah 72,82 meter yang mengantarnya meraih emas SEA Games 2025. Ia mengaku persiapannya kurang matang karena keram di pinggang setelah tiba di Jepang serta cuaca dingin berhujan. Silfanus Ndiken gagal mencatat lemparan sah, dan Wahyudi Putra terhenti di babak penyisihan 1.500 meter.
Tetangga ASEAN Panen Medali, Indonesia Kejar Level Asia Lewat Pembinaan Panjang
Gambaran regional memperlihatkan jarak yang harus dikejar. Di Nagoya, Thailand membawa pulang tiga emas atletik lewat Puripol Boonson di 100 dan 200 meter serta Joshua Atkinson di 400 meter. Singapura meraih satu emas lewat Shanti Pereira di 200 meter, Filipina satu emas lewat EJ Obiena di lompat galah putra plus dua perunggu, dan Vietnam satu perunggu di estafet 4×400 meter campuran. Indonesia tidak muncul di klasemen medali atletik.
Sebelum berangkat, manajer timnas atletik Mustara Musa mengatakan PASI tidak mematok medali tertentu dan lebih menekankan pemecahan rekor pribadi atlet, seraya mengingatkan bahwa persaingan Asia berbeda dari Asia Tenggara. Seluruh atlet yang dipilih saat itu memang pernah meraih medali SEA Games 2025. Dengan tolok ukur tersebut, dua rekor nasional dan beberapa catatan terbaik musim ini menjadi poin positif, tetapi selisih ke podium di banyak nomor masih lebar — dan atletik tidak ikut menyumbang saat kontingen Indonesia memenuhi target empat emas lewat bulu tangkis, angkat besi, dan panjat tebing.
Pada hari yang sama, saat konferensi pers myBCA Jakarta Running Festival 2026 di Balai Kota DKI Jakarta, Luhut menyebut penyelenggaraan lomba lari di Indonesia semakin berkualitas. Ajang yang berpusat di GBK pada 22–25 Oktober itu melibatkan total 37 ribu pelari, termasuk lebih dari 1.000 pelari dari 48 negara, dan tercatat sebagai ajang pertama di Indonesia yang meraih World Athletics Gold Label untuk kategori half marathon. Tantangan berikutnya bagi PASI adalah menyalurkan antusiasme lari massal itu ke jalur prestasi.
Artikel ini dirangkum dari:
- Antara – PB PASI Evaluasi Total Hasil Atletik Indonesia di Asian Games 2026
- BeritaKaltim.co – PB PASI Evaluasi Total Hasil Atletik Indonesia di Asian Games 2026
- Antara – Ketum PB PASI Sebut Lomba Lari di Indonesia Makin Berkualitas
- Antara – PASI Realistis Hadapi Kekuatan Atletik Asia
- Antara – Atletik Indonesia Siapkan 13 Atlet Menuju Asian Games 2026
- Medcom – Hendro Yap dan Violine Intan Pecahkan Rekor Nasional di Asian Games 2026
- Antara – Maria Natalia Londa Finis Peringkat Kelima pada Lompat Jangkit
- Media Indonesia – Maria Natalia Londa Umumkan Last Dance di Asian Games 2026
- Kompas.id – Rasa Gugup Mematahkan Harapan Medali Diva Renatta Jayadi
- Kompas.com – Hasil Atletik Asia 2026: Indonesia Berjaya di Lompat Galah dan Jalan Cepat
- Antara – Emilia Nova Tuntaskan Saptalomba Asian Games dengan Finis Ketujuh
- RRI – Robi Syianturi, Odekta Naibaho Break into Top 10 at Asian Games Marathon
- Antara – Abdul Hafiz Akui Persiapan Lempar Lembing Kurang Matang
- Jawa Pos – Indonesia Capai Target Emas Asian Games 2026, Erick Thohir: Perjuangan Belum Berakhir
- Wikipedia – Athletics at the 2026 Asian Games
- Wikipedia – Indonesia at the 2026 Asian Games
- Wikipedia – Athletics at the 2026 Asian Games: Women’s Pole Vault
- Wikipedia – Athletics at the 2026 Asian Games: Women’s 100 Metres Hurdles