BMW Berlin Marathon 2026: Kenenisa Bekele dan Marcel Hug Jadi Sorotan Jelang Hari Lomba
Tiga hari menjelang BMW Berlin Marathon 2026, sorotan bergeser ke dua kisah comeback lintas usia: Kenenisa Bekele (44) kembali ke Berlin usai nyaris setahun absen dari garis finis, dan Marcel Hug (40) mengincar kemenangan kursi roda beruntun ketujuhnya, di tengah persaingan nomor putra yang berubah total usai Sabastian Sawe mundur cedera dan Tigst Assefa memburu rekor dunia putri.
Tiga hari menjelang BMW Berlin Marathon 2026, sorotan justru bergeser dari perebutan gelar ke dua kisah comeback lintas generasi. Kenenisa Bekele, legenda asal Ethiopia berusia 44 tahun, kembali ke kota yang dua kali memberinya gelar juara setelah nyaris setahun absen dari garis finis mana pun. Di saat bersamaan, pelari kursi roda Swiss Marcel Hug, 40 tahun, mengincar kemenangan beruntun ketujuhnya di lintasan yang sama — rekor yang akan menegaskan dominasinya sebagai salah satu atlet paling sukses sepanjang sejarah Abbott World Marathon Majors.
Baca Cepat
- BMW Berlin Marathon 2026 digelar Minggu, 27 September 2026 pukul 08.30 waktu setempat (13.30 WIB), bagian dari Abbott World Marathon Majors.
- Kenenisa Bekele (44) tampil di Berlin untuk kali pertama sejak gagal finis di New York City Marathon November lalu; ini jadi lomba pertamanya musim 2026.
- Marcel Hug (40) tak terkalahkan di Berlin sejak 2019 dan mengincar kemenangan ke-11 sekaligus gelar Abbott Majors ke-45 dalam kariernya.
- Persaingan putra berubah drastis usai juara bertahan Sabastian Sawe mundur karena cedera; Guye Adola, Getaneh Molla, Gabriel Geay, dan Shura Kitata kini jadi favorit.
- Tigst Assefa memburu rekor dunia putri milik Ruth Chepngetich (2:09:56), sementara juara Eropa Alisa Vainio memperkuat persaingan.
BMW Berlin Marathon 2026: Panggung yang Tak Pernah Sepi Kejutan
BMW Berlin Marathon 2026 akan digelar Minggu, 27 September 2026, dan menjadi salah satu dari delapan seri Abbott World Marathon Majors — kelompok lomba maraton paling prestisius di dunia. Menurut panitia, edisi tahun ini diikuti lebih dari 56.000 atlet dari lebih 160 negara di seluruh nomor lomba, mulai dari maraton, inline skating, handbike, hingga kursi roda, dengan garis finis di depan Gerbang Brandenburg yang ikonik.
Peta persaingan sebenarnya sudah berubah sejak akhir Agustus, ketika juara bertahan Sabastian Sawe mengumumkan mundur karena cedera. Namun begitu pekan lomba tiba, dua kisah lain sepenuhnya mengambil alih sorotan: kembalinya seorang ikon atletik lintasan yang sempat diragukan bisa tampil lagi di level elite, dan seorang pelari kursi roda yang diam-diam sedang membangun salah satu rentetan kemenangan terbaik dalam sejarah olahraga ini.
| Detail | Informasi |
|---|---|
| Tanggal | Minggu, 27 September 2026 |
| Waktu mulai | 08.30 waktu setempat (13.30 WIB) |
| Lokasi | Berlin, Jerman — finis di Gerbang Brandenburg |
| Status | Bagian dari 8 Abbott World Marathon Majors |
| Estimasi atlet | 56.000+ dari lebih 160 negara (seluruh nomor lomba) |
Kenenisa Bekele: Kembali ke Kota yang Nyaris Memberinya Rekor Dunia
Tidak banyak pelari yang punya sejarah seistimewa Kenenisa Bekele di Berlin. Pada 2016 ia menang dengan catatan 2:03:03, lalu pada 2019 kembali menjuarai lomba ini dengan waktu 2:01:41 — hanya dua detik dari rekor dunia 2:01:39 yang saat itu dipegang Eliud Kipchoge. Catatan itu ia hasilkan lewat skema split yang nyaris sempurna: 61:05 di paruh pertama dan 60:36 di paruh kedua. Dua tahun berselang, ia kembali naik podium Berlin di posisi ketiga dengan 2:06:47.
Performanya belakangan naik-turun tajam. Di London Marathon 2024, Bekele finis kedua dengan 2:04:15 — catatan yang hingga kini masih tercatat sebagai maraton tercepat yang pernah dilari siapa pun di atas usia 40 tahun. Namun empat bulan kemudian ia hanya finis ke-39 di Olimpiade Paris 2024, dan sejak itu belum pernah lagi menuntaskan sebuah maraton: ia mundur dari New York City Marathon pada November lalu dan absen di London Marathon 2025 karena cedera. Bekele baru dimasukkan ke daftar start Berlin kurang dari sepekan menjelang hari lomba, menjadikan akhir pekan ini sebagai comeback penuh sekaligus lomba pertamanya sepanjang 2026.
Marcel Hug Incar Kemenangan Beruntun Ketujuh di Kursi Roda
Jika kisah Bekele adalah tentang kebangkitan, kisah Marcel Hug adalah tentang konsistensi yang nyaris tidak masuk akal. Pelari kursi roda asal Swiss ini tak terkalahkan di Berlin sejak 2019 dan telah mengoleksi 10 gelar juara di kota ini hingga edisi 2025. Kemenangan pada Minggu mendatang akan menjadi trofi Berlin ke-11 baginya, sekaligus kemenangan beruntun ketujuh sejak 2019, dan gelar Abbott World Marathon Majors ke-45 sepanjang kariernya — menempatkannya sebagai salah satu atlet paling dominan lintas disiplin dalam sejarah seri ini. Bagi Hug yang kini berusia 40 tahun, Berlin sudah lama terasa seperti kandang sendiri.
Di nomor kursi roda putri, perhatian tertuju pada Manuela Schär asal Swiss, enam kali juara Berlin yang bulan lalu di Sydney tercatat sebagai atlet pertama sepanjang sejarah — putra maupun putri — yang menjuarai kedelapan lintasan Abbott World Marathon Majors. Ia kembali tampil sebagai favorit utama, kali ini menghadapi tantangan dari veteran Amerika Serikat, Tatyana McFadden, salah satu pelopor olahraga kursi roda dunia.
Sawe Absen, Persaingan Putra Berubah Total
Skenario nomor putra sempat terlihat jelas sebelum Sabastian Sawe mengumumkan mundur karena cedera pada 27 Agustus lalu. Padahal pelari Kenya ini datang dengan status juara bertahan Berlin 2025 (2:02:16) sekaligus manusia pertama yang menembus dua jam di lomba maraton resmi, lewat catatan 1:59:30 di London Marathon April 2026. Tanpa Sawe, panitia dan media lari sepakat: nomor putra kini benar-benar terbuka tanpa favorit tunggal yang menonjol.
Sorotan kini beralih ke empat nama. Guye Adola asal Ethiopia (2:03:46) menjadi satu-satunya mantan juara Major di antara para kontender setelah pernah menjuarai Berlin 2021. Getaneh Molla, juga dari Ethiopia (2:03:34), datang usai finis kedua di Seoul, sementara Gabriel Geay dari Tanzania membawa catatan personal 2:03:00 dari Valencia. Shura Kitata, peraih gelar di Seville dengan PB 2:03:59, melengkapi kuartet favorit baru ini. Kedalaman lapangan tetap mengesankan: tujuh dari 54 pelari elite putra yang terdaftar memiliki catatan pribadi di bawah 2:05:00, dan sekitar 30 orang pernah menembus 2:08:00.
Assefa Buru Rekor Dunia, Vainio Perkuat Persaingan Putri
Di nomor putri, Tigst Assefa datang dengan misi besar. Pemegang rekor lintasan Berlin dengan catatan 2:11:53 sejak 2023 ini membidik rekor dunia milik Ruth Chepngetich, 2:09:56, yang dibuat di Chicago Marathon 2024 — artinya Assefa perlu memangkas 1 menit 57 detik dari catatan terbaiknya sendiri. Pelari Ethiopia ini juga terus memperbaiki rekor “women-only” atau lomba tanpa pacer pria, yang terakhir ia catatkan di London.
Juara bertahan Rosemary Wanjiru dari Kenya, yang menang tahun lalu dengan 2:21:05 dan memiliki PB 2:16:14, kembali tampil, kini juga menghadapi tantangan dari juara Cape Town Marathon, Dera Dida, serta Bedatu Hirpa asal Ethiopia yang mengoleksi gelar juara di Dubai dan Paris dengan PB 2:18:27. Persaingan makin panas dengan bergabungnya Alisa Vainio, juara Eropa asal Finlandia yang mencatat PB 2:20:39 di Seville pada Februari lalu, memegang rekor kejuaraan Eropa Birmingham dengan 2:22:26, tercatat sebagai pelari maraton tercepat sepanjang sejarah Skandinavia setelah melewati rekor lama Ingrid Kristiansen (2:21:06), dan finis kelima di Kejuaraan Dunia Tokyo 2025. Total delapan pelari putri di lapangan start memiliki PB di bawah 2:20:00, dengan delapan lainnya di bawah 2:23:00, dari 52 pelari elite putri yang terdaftar.
Usia Cuma Angka di Jalanan Berlin
Bekele (44) dan Hug (40) bukan satu-satunya bukti bahwa usia tak menghalangi performa di Berlin. Di barisan peserta non-elite, Wilfried Köhnke, pelari Jerman berusia 78 tahun, akan mencatatkan starnya yang ke-50 sepanjang 52 edisi lomba ini pernah digelar — nyaris tak pernah absen sejak lomba ini pertama kali berlangsung. Sabine Fimmel juga akan tampil untuk kali ke-38 sejak debutnya pada 1984. Kisah-kisah ini menegaskan satu hal: Berlin Marathon bukan cuma soal perburuan rekor dunia atau gelar elite, tapi juga panggung pembuktian bahwa jarak 42,2 km bisa terus ditaklukkan pada usia berapa pun, selama ada kemauan untuk terus melangkah.
Semangat itu jugalah yang coba dihadirkan lebih dekat untuk pelari Tanah Air. Tak perlu menunggu usia tertentu atau jarak penuh maraton untuk mulai merasakan sensasi garis start — cukup langkah pertama di lomba 5K yang tepat.
Artikel ini dirangkum dari:
- BMW Berlin Marathon — “Strong Fields of Skaters, Handbikers, and Wheelchair Competitors at the BMW Berlin Marathon” bmw-berlin-marathon.com
- Marathon Handbook — “Berlin Marathon 2026 Elite Field Preview And Storylines” marathonhandbook.com
- FloTrack — “2026 BMW Berlin Marathon Elite Entries” flotrack.org
- World Marathon Majors — “Berlin Marathon 2026” Content Hub worldmarathonmajors.com
- Road Race Management — “Kenenisa Bekele Returns to Berlin, Alisa Vainio Added to Elite Field” rrm.com