Jakarta punya sekitar 397 lapangan padel, 185 di antaranya belum memiliki persetujuan bangunan. Aturan baru membatasi lokasi dan jam operasional, dan bisnisnya kini diuji.

Di Pulomas, Jakarta Timur, spanduk merah membentang di jalan permukiman: “Kami menolak keras lapangan padel.” Warga yang memasangnya berkata, menurut The Jakarta Post, lebih dari seratus mobil keluar-masuk lingkungan mereka setiap hari menuju dua lapangan padel yang berdiri sejak akhir 2024 di dekat rumah mereka.
Pertengkaran kecil di satu RT itu kini jadi gejala besar. Padel, olahraga raket yang dibawa ekspatriat ke Bali saat pandemi, menjelma bisnis dengan hitungan ratusan lapangan di Jakarta, lalu menabrak aturan tata ruang. Pertanyaannya bukan lagi apakah padel populer, melainkan apakah modelnya masih menguntungkan ketika izin, jam operasional, dan jarak dari rumah warga mulai dibatasi.
Ringkasnya: Jakarta memiliki sekitar 397 lapangan padel, dan 185 di antaranya belum punya persetujuan bangunan, menurut laporan The Jakarta Post dan Tempo. Sejak Februari 2026 Gubernur Pramono Anung menghentikan izin baru di kawasan permukiman, membatasi jam operasional hingga pukul 20.00, dan menutup lapangan tak berizin.
Angkanya meloncat. IDN Research Institute, mengutip laporan industri Core & Court & Growell, mencatat jumlah lapangan di Indonesia naik 295 persen menjadi 947 pada 2025 dari 240 setahun sebelumnya, dan memproyeksikan tambahan 1.580 lapangan sepanjang 2026. Jakarta menjadi kota dengan lapangan terbanyak.
Hitungan bisnisnya menggoda. Menurut The Star, yang mengutip laporan Jakarta Post, membangun satu lapangan menelan Rp600 juta hingga Rp1,6 miliar. Sewa rata-rata Rp400.000–600.000 per jam, dengan pemakaian 8–12 jam sehari dan pendapatan kotor Rp60–90 juta per lapangan per bulan. Dengan angka-angka itu, perhitungan kasar redaksi menunjukkan modal bisa kembali dalam sekitar tujuh hingga 27 bulan — itu pendapatan kotor, belum dipotong sewa lahan, gaji, listrik, dan pajak.

Pada 24 Februari 2026, Pramono Anung memerintahkan penutupan semua lapangan tak berizin dan menyetop penerbitan izin baru di zona permukiman. Lapangan berizin yang sudah ada di kawasan hunian hanya boleh beroperasi sampai pukul 20.00 dan setelah mencapai kesepakatan dengan warga. “Semua fasilitas baru harus berada di kawasan komersial,” kata Pramono, seperti dikutip The Star.
Dasar teknisnya menyusul sehari kemudian. Menurut kantor hukum SSEK yang diulas Conventus Law, Keputusan Nomor 16 Tahun 2026 yang diteken 25 Februari mensyaratkan lapangan padel berada di luar zona permukiman dan ruang terbuka hijau, berjarak minimal 160 meter dari zona permukiman, menghadap jalan selebar minimal 15 meter, terjangkau transportasi umum, dan menyertakan analisis tingkat kebisingan. Pelanggar dapat dikenai peringatan, penghentian sementara, hingga penutupan permanen.
Tanda-tanda tekanan mulai terlihat. Tempo pada Desember 2025 mengutip pelaku industri yang menilai lapangan di Jakarta sudah cukup memenuhi permintaan, sementara pemilik baru belum punya basis pelanggan setia. IDN Research mencatat klub baru menawarkan uji coba gratis, okupansi sebagian tempat turun, dan satu lapangan terjual Rp199 juta pada Mei 2026.

Namun IDN Research juga menolak menyebutnya gelembung begitu saja: belum ada pengukuran independen jumlah pemain padel di Indonesia, sehingga klaim 20.000 pemain dan okupansi 76 persen dinilai tak sejalan dengan 947 lapangan. Sebagai pembanding, Swedia melonjak dari beberapa ratus menjadi lebih dari 4.200 lapangan dalam 36 bulan, lalu pada akhir 2024 lebih dari 100 fasilitas tutup dan 90 perusahaan padel bangkrut. Di sisi lain, data Playtomic dan PwC yang dikutip laporan itu menunjukkan retensi pemain 92 persen di pasar yang tumbuh paling cepat, termasuk Indonesia.
Untuk pembaca yang mengikuti padel dari sisi kompetisi, tren ini berjalan paralel dengan panggung elite: lihat Premier Padel Milan P1 2026 dan juara Coello/Tapia di Dusseldorf. Di Jakarta, panggungnya lebih sunyi: apakah lapangan baru bisa mengisi jam sepi tanpa melanggar jam malam dari kawasan hunian.
Ketua Pengurus Besar Persatuan Padel Indonesia, Galih Dimuntur Kartasasmita, mendesak operator mematuhi aturan zonasi yang ia sebut tak bisa ditawar dan melibatkan warga sebelum membangun. Bagi operator yang bertahan, nasihat itu kini bukan sekadar etika, melainkan syarat izin.
Sekitar 397 lapangan per Februari 2026, dan 185 di antaranya belum memiliki persetujuan bangunan gedung, menurut laporan The Jakarta Post, The Star, dan Tempo.
Menurut Keputusan 16/2026, lapangan padel harus di luar zona permukiman dan minimal 160 meter dari zona permukiman, dengan jalan lebar minimal 15 meter dan analisis kebisingan.
Pembangunan Rp600 juta–1,6 miliar per lapangan, dengan pendapatan kotor Rp60–90 juta per bulan pada okupansi 8–12 jam sehari, menurut The Star. Angka itu belum dipotong biaya operasional.
Kartu siap posting dibuat otomatis dari artikel ini.
Di HP, tombol Share to Instagram membuka menu share dan Anda tinggal pilih Instagram Stories atau Feed. Di desktop, gambar disimpan dulu lalu diunggah dari Instagram.
20FIT Media
Pick an amount and pay in seconds.
You’ll finish paying right here — this page stays open.
QRIS, bank transfer, e-wallet or card.
Trouble with an e-wallet? Open the payment page in a new tab.
Finished? — thank you for supporting 20FIT.
Opening secure checkout…