Padel Melesat, Pickleball Melambat: Apa Artinya buat Ekosistem Olahraga Indonesia?
Padel tumbuh 14,5% saat pickleball melambat di AS. Apa artinya bagi Indonesia, pasar padel paling agresif di Asia Tenggara? Ini analisisnya.
Selama lima tahun berturut-turut, pickleball adalah olahraga dengan pertumbuhan tercepat di Amerika Serikat. Lalu pada laporan tengah tahun 2026, lajunya nyaris berhenti: hanya tumbuh 1,3 persen. Di periode yang sama, satu olahraga raket lain melonjak 14,5 persen dan menjadi aktivitas paling cepat berkembang dari 126 aktivitas yang dilacak Sports & Fitness Industry Association (SFIA). Olahraga itu adalah padel.
Pergeseran ini viral setelah disorot buletin industri kebugaran Fitt Insider, tetapi cerita yang lebih menarik justru bukan di Amerika. Di Indonesia, padel sudah lebih dulu meledak sampai negeri ini disebut pasar padel paling agresif di Asia Tenggara. Pertanyaannya: kalau di banyak negara maju tren raket ini sudah mulai matang — bahkan mulai ambruk di beberapa tempat — apa artinya buat ekosistem olahraga Indonesia yang justru sedang berada di puncak euforianya?
Angka yang Menandai Pergeseran Global
Data SFIA yang dirilis Agustus 2026 menempatkan padel sebagai aktivitas dengan pertumbuhan tercepat, naik 14,5 persen di tahun kedua olahraga ini masuk daftar pantauan mereka. Pickleball, yang lima tahun beruntun menyandang gelar olahraga tercepat AS, untuk pertama kalinya melambat drastis menjadi 1,3 persen (SFIA).
Tapi ada nuansa penting agar tidak salah baca. Persentase besar padel lahir dari basis yang masih kecil: sekitar 1,07 juta peserta di AS, dibandingkan pickleball yang sudah menembus 24,3 juta pemain — kira-kira 23 kali lebih banyak (The Dink). Bahkan dari sisi infrastruktur, AS punya sekitar 82.600 lapangan pickleball, berbanding baru sekitar seribu lapangan padel (SFIA). Artinya, ini soal momentum dan arah, bukan soal padel mengalahkan pickleball. Padel sedang menaiki kurva yang dulu ditapaki pickleball; pickleball memasuki fase dewasa.
| Metrik (Amerika Serikat) | Padel | Pickleball |
|---|---|---|
| Pertumbuhan (SFIA, tengah 2026) | +14,5% (tercepat) | +1,3% (melambat) |
| Perkiraan pemain | ~1,07 juta | ~24,3 juta |
| Perkiraan lapangan | ~1.000 | ~82.600 |
| Biaya bangun 1 lapangan | US$25.000+ | nyaris nol (konversi) |

Dari Pekarangan di Meksiko ke Seluruh Dunia
Untuk memahami kenapa padel bisa meledak, ada baiknya menengok asal-usulnya. Olahraga ini lahir pada 1969 di Acapulco, Meksiko, ketika Enrique Corcuera memodifikasi lahan sempit di rumahnya menjadi lapangan berdinding, karena tak cukup ruang untuk lapangan tenis penuh (FIP).
Dari Meksiko, padel menyebar ke dua arah yang menentukan. Pangeran Alfonso de Hohenlohe membawanya ke Marbella, Spanyol, pada 1974 dan menjadikannya olahraga kalangan jet-set; hampir bersamaan, padel masuk ke Argentina dan tumbuh liar hingga negara itu membangun lebih dari 10.000 lapangan pada akhir 1980-an. Spanyol dan Argentina inilah yang mengubah padel dari kegemaran pribadi menjadi budaya olahraga nasional (Tempo). Federasi internasional (FIP) berdiri pada 1991, dan penyeragaman lapangan kaca-baja yang bisa dibongkar-pasang membuat padel mudah direplikasi di mana saja — fondasi bagi ekspansi globalnya hari ini.

Bukan Sekadar Tren Amerika: Padel Jadi Fenomena Global
Kalau hanya melihat AS, gambarnya tidak lengkap. Secara global, padel sudah menjadi industri tersendiri — meski soal seberapa besar, dua sumber utama berbeda tajam. Playtomic mencatat sekitar 58.334 lapangan dan 19,4 juta pemain di dunia, sementara federasi internasional FIP menyebut angka yang jauh lebih tinggi, sekitar 85.000 lapangan dan 38 juta pemain (Playtomic; FIP). Yang tidak diperdebatkan: arah panahnya menanjak, sekitar 16 persen per tahun, dengan proyeksi menembus 91.000 lapangan pada 2028.
Peta kekuatannya masih didominasi Eropa. Spanyol memimpin dengan belasan ribu lapangan, disusul Italia yang menembus 10.000, lalu Prancis sebagai pasar besar dengan pertumbuhan tercepat pada 2025 (Actu Padel). Di luar Eropa, Timur Tengah dan Asia-Pasifik menjadi motor baru — dan di sinilah Indonesia mulai masuk radar dunia.
| Negara | Perkiraan lapangan padel (2025-26) |
|---|---|
| Spanyol | ~17.300–18.500 |
| Italia | ~10.200 |
| Argentina | ~7.000 |
| Prancis | ~4.000 |
| Jerman | ~2.300 |
| Inggris | ~1.825 |
| Arab Saudi | ~1.100 |
| Amerika Serikat | ~1.000 |
| Indonesia | 947–1.600 |

Uang Besar di Balik Padel
Ledakan padel bukan cuma soal olahraga, tapi soal modal. Tur profesionalnya, Premier Padel, lahir pada 2022 dari kongsi FIP dengan Qatar Sports Investments (QSI) — pemilik klub sepak bola Paris Saint-Germain — lalu menyerap rival lamanya, World Padel Tour, pada 2023. Musim 2026 menggelar 26 turnamen di 18 negara, dengan hadiah setiap Major mencapai 525.000 euro dan sistem bayaran setara untuk pemain putra dan putri (Padel Earnings).
Daftar investornya membaca seperti daftar bintang. Rafael Nadal memegang saham platform Playtomic; Andy Murray masuk lewat Game4Padel; Cristiano Ronaldo, Novak Djokovic, dan Zinedine Zidane sama-sama membangun kompleks padel bernilai jutaan euro (The Hollywood Reporter). Di AS, model bisnisnya bergeser dari sekadar lapangan menjadi “social club” gaya hidup: Padel Haus mengumpulkan pendanaan hingga 18 juta dolar untuk melipatgandakan jaringannya, sementara Ultra Club di Miami membangun fasilitas berisi 28 lapangan (Athletech News; Fitt Insider). Persaingannya bahkan menyentuh geopolitik: setelah Qatar lewat QSI, kini modal terkait Arab Saudi masuk lewat seri baru Hexagon — pertanda padel sudah jadi arena perebutan pengaruh, bukan sekadar hobi.

Kenapa Padel Meledak Sementara Pickleball Melandai
Daya tarik padel terletak pada perpaduan rekreasi, komunitas, dan kompetisi. Dimainkan ganda di lapangan tertutup kaca, bolanya tetap hidup memantul dari dinding sehingga reli lebih panjang dan pemula cepat merasa “bisa”. Kurva belajarnya lebih landai dibanding tenis, tetapi tetap menantang untuk ditekuni. Dari sisi kesehatan, satu jam padel membakar sekitar 400–600 kalori dengan denyut jantung bertahan di 70–80 persen maksimal — cukup untuk mengklaim manfaat kardio, sekaligus mengemasnya sebagai kegiatan sosial.
Faktor sosial itulah yang membedakannya. Format ganda membuat padel inheren komunal, dan lapangannya yang fotogenik cocok untuk media sosial. Inilah yang dilihat industri kebugaran: dalam ekonomi wellness bernilai lebih dari satu triliun dolar, padel menawarkan retensi anggota dan pendapatan tambahan yang tidak dimiliki gym biasa (Fitt Insider). Menariknya, banyak analis melihat pickleball dan padel bukan sebagai pesaing yang saling meniadakan; pickleball yang murah dan mudah justru menjadi “olahraga gerbang” yang mengenalkan jutaan orang pada olahraga raket, sebelum sebagian dari mereka naik kelas ke padel.

Indonesia: Pasar Padel Paling Agresif di Asia Tenggara
Indonesia bukan penonton dalam tren ini — ia salah satu pusatnya di Asia. Berbagai laporan industri yang dikutip Databoks dan Tempo mencatat lonjakan dari hanya belasan lapangan pada 2021 menjadi ratusan pada 2025, dengan proyeksi menembus ribuan lapangan tahun ini (Databoks). Angka nasional memang bervariasi tajam antar-sumber — dari sekitar 947 lapangan versi laporan industri hingga hitungan federasi yang jauh lebih konservatif — tetapi semua sepakat pada arahnya: naik curam. Dibanding tetangga, Indonesia unggul jauh; satu pemetaan kawasan menempatkan Indonesia di sekitar 198 lapangan, di atas Thailand (74) dan jauh di atas Vietnam serta Malaysia (Tempo).
Angka yang paling bisa dipegang datang dari Jakarta. Audit Pemprov DKI pada Februari 2026 menghitung 397 lapangan padel di ibu kota, dengan Jakarta Selatan sebagai pusatnya (CNN Indonesia). Menariknya, padel di Indonesia justru bermula di Bali dari kalangan ekspatriat yang tertahan di pulau itu selama pandemi, sebelum meledak ke kota-kota besar. Sinyal keseriusan pasar terlihat dari brand global: ASICS Indonesia meluncurkan sepatu padel pertamanya pada Februari 2025, dan kini padel menjadi kategori dengan pertumbuhan tercepat mereka (Fortune Indonesia).
| Kota / wilayah | Perkiraan lapangan padel |
|---|---|
| Jakarta | 397 (audit Pemprov DKI, Feb 2026) |
| Bali | ~40–92 (bervariasi antar-sumber) |
| Surabaya | ~56 (proyeksi 150 pada 2026) |

Ekonomi Lapangan: Biaya, Sewa, dan Balik Modal
Di balik demam ini ada hitung-hitungan yang keras. Membangun satu lapangan padel di Indonesia butuh sekitar Rp400 juta hingga Rp1,5 miliar, tergantung apakah memakai struktur lokal, China, atau Spanyol. Tarif sewanya pun premium: di Jakarta berkisar Rp250.000 hingga Rp700.000 per jam, dengan Rp400.000–450.000 sebagai angka lazim (Tempo). Sebagian besar bisnis berjalan lewat penyewaan per jam, bukan keanggotaan bulanan seperti di AS.
Ketika tingkat keterisian tinggi — beberapa venue melaporkan okupansi 80–99 persen — balik modal bisa dicapai dalam waktu di bawah tiga tahun, bahkan ada klaim delapan bulan. Justru angka inilah yang memicu banjir investasi, dari operator jaringan seperti La Padel yang menargetkan puluhan lapangan, hingga klub milik selebritas seperti The Regal Court (Atta Halilintar) dan Mind on Padel (Tasya Farasya dan Fadil Jaidi). Tetapi persamaan itu hanya bekerja selama lapangan tetap penuh.
| Aspek (Indonesia) | Padel | Pickleball |
|---|---|---|
| Biaya bangun 1 lapangan | Rp400 juta–1,5 miliar | Rp100–195 juta |
| Sewa per jam (kisaran) | Rp250–700 ribu | jauh lebih rendah |
| Model bisnis dominan | sewa per jam, premium | komunitas, terjangkau |

Sinyal Peringatan: Ketika Lapangan Menjamur Lebih Cepat dari Pemain
Justru di puncak euforia inilah pelajaran dari pasar global menjadi relevan. Playtomic menyebut industri padel dunia kini memasuki fase matang: tantangannya bukan lagi membangun lapangan, melainkan mengisinya secara berkelanjutan (Actu Padel). Contoh paling keras adalah Swedia: negara yang sempat melonjak dari ratusan menjadi 3.500-an lapangan itu mencatat lebih dari 100 kebangkrutan fasilitas pada 2022–2024, dengan okupansi anjlok di bawah 25 persen di sejumlah tempat (European Business Magazine). Bahkan Spanyol, kiblat padel, melambat dari 6,2 persen menjadi 1,9 persen pada 2025.
Indonesia menampakkan gejala awal yang sama. Menjamurnya lapangan mulai menekan okupansi, dan ekonom serta akademisi sudah mengingatkan risiko gelembung ala Swedia (Tempo). Tanda-tanda lain muncul: kabar “lapangan padel dijual” mulai viral pada pertengahan 2026, dan di Jakarta muncul persoalan tata kelola — audit menemukan hampir separuh lapangan tak berizin, memicu sanksi terhadap ratusan lapangan (CNA Indonesia). Ada pula ketegangan identitas: haruskah padel mempertahankan citra gengsinya, atau “turun kelas” agar lebih terjangkau supaya trennya langgeng? (The Conversation Indonesia).

Pickleball: Penantang yang Jauh Lebih Murah
Di sinilah pickleball masuk ke dalam cerita Indonesia. Kalau di AS pickleball menjadi olahraga massal sementara padel tumbuh sebagai segmen premium, Indonesia berpotensi mengikuti pola serupa. Alasannya ekonomi: membangun lapangan pickleball hanya butuh sekitar Rp100–195 juta, enam sampai sepuluh kali lebih murah daripada padel — sehingga jauh lebih mudah menyebar ke kota-kota kecil dan sekolah.
Meski masuk lebih belakangan (diperkenalkan sekitar 2019), komunitas pickleball tumbuh cepat, menembus 8.000-an pemain di lebih dari 20 provinsi dalam beberapa tahun, dari Jakarta hingga Denpasar — yang bahkan menjadi tuan rumah kejuaraan dunia pickleball pada 2026. Padel menonjolkan gaya hidup mewah; pickleball menawarkan paket berbeda: rekreasi murah, mudah, dan cepat membentuk komunitas. Untuk pasar yang sensitif harga seperti Indonesia, aksesibilitas bisa menjadi keunggulan jangka panjang yang tak dimiliki padel.

Padel Mulai Masuk Jalur Prestasi
Yang membedakan gelombang kali ini dari sekadar tren gaya hidup adalah masuknya padel ke jalur kompetitif. Padel resmi dipertandingkan untuk pertama kalinya sebagai cabang bermedali di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya, digelar 28 September–3 Oktober, mempertandingkan nomor ganda putra dan putri yang diikuti belasan negara.
Indonesia, lewat induk organisasi PBPI yang diakui KONI dan bergabung dengan FIP sejak awal 2025, mengirim delapan atlet (empat putra, empat putri) yang menjalani pemusatan latihan selama lebih dari sebulan di Spanyol. Pendanaannya sebagian besar mandiri, dan pengurus sengaja tidak membebani target medali mengingat program padel prestasi Indonesia baru berumur dua-tiga tahun, dibanding rival yang sudah tujuh-delapan tahun. Namun kehadiran di panggung Asian Games adalah pernyataan penting: padel di Indonesia tak berhenti sebagai hiburan akhir pekan, melainkan mulai dibangun sebagai olahraga prestasi.

Apa Artinya buat Ekosistem Olahraga Indonesia
Bagi operator dan investor, sinyalnya jelas: era “asal bangun lapangan pasti penuh” sedang berakhir. Yang menentukan ke depan adalah lokasi, model operasi, kualitas komunitas, perizinan yang beres, dan strategi jangka panjang — bukan sekadar menambah jumlah lapangan. Pelajaran dari Swedia dan Spanyol adalah bahwa fase matang menghukum ekspansi yang tergesa-gesa.
Bagi industri kebugaran, padel dan pickleball membuka lini pendapatan baru: dari penyewaan lapangan, kelas, hingga perlengkapan dan apparel — sebagaimana ditunjukkan lonjakan bisnis padel ASICS. Bagi jalur prestasi, debut di Asian Games memberi arah pembinaan atlet yang sebelumnya tak ada. Dan bagi konsumen, kompetisi antaroperator serta kehadiran alternatif yang lebih murah seperti pickleball berarti lebih banyak pilihan dengan harga lebih masuk akal. Ekosistem olahraga raket Indonesia, singkatnya, sedang melebar — bukan hanya di puncak yang premium, tetapi juga di basis yang terjangkau.

Satu Pelajaran yang Bisa Dibawa Pulang
Kisah padel-versus-pickleball di Amerika sebenarnya adalah cermin masa depan yang dipercepat. Setiap tren olahraga raket punya kurva yang sama: ledakan, puncak, lalu pematangan. AS dan Eropa sedang menunjukkan seperti apa fase pematangan itu — lengkap dengan kebangkrutan di Swedia sebagai peringatannya. Indonesia masih berada di fase ledakan, dan justru karena itu punya kesempatan untuk belajar sebelum terlambat.
Pelajaran yang bisa dibawa pulang bukan “berhenti membangun padel”, melainkan “tumbuh dengan cerdas”. Hindari jebakan overcapacity, benahi perizinan, seimbangkan gengsi dengan keterjangkauan, dan bangun komunitas yang membuat orang kembali bermain — bukan hanya mampir sekali untuk berfoto. Dengan cara itu, padel di Indonesia punya peluang menjadi infrastruktur olahraga yang bertahan, bukan tren sesaat yang layu setelah lapangannya terlalu banyak. Untuk konteks bisnisnya, lihat ulasan kami soal ekonomi padel Indonesia, sementara sisi prestasinya kami bahas dalam debut padel Indonesia di Asian Games 2026.

Pertanyaan yang Sering Muncul
Apa bedanya padel dan pickleball?
Padel dimainkan ganda di lapangan tertutup kaca berukuran 20×10 meter dengan bola yang boleh memantul dari dinding; raketnya padat tanpa senar. Pickleball dimainkan di lapangan lebih kecil mirip badminton, memakai paddle dan bola plastik berlubang, serta bisa tunggal maupun ganda.
Kenapa padel tumbuh cepat sementara pickleball melambat di AS?
Menurut data SFIA tengah 2026, padel tumbuh 14,5 persen (dari basis kecil, ~1 juta pemain) sedangkan pickleball hanya 1,3 persen setelah lima tahun jadi yang tercepat — pertanda pasar pickleball AS mulai jenuh, bukan menyusut.
Berapa jumlah lapangan padel di Indonesia saat ini?
Angka nasional bervariasi tajam antar-sumber (dari sekitar 947 versi laporan industri hingga hitungan federasi yang lebih rendah). Yang paling terverifikasi adalah Jakarta: 397 lapangan per audit Pemprov DKI, Februari 2026.
Kenapa membangun lapangan padel jauh lebih mahal daripada pickleball?
Satu lapangan padel butuh sekitar Rp400 juta hingga Rp1,5 miliar karena struktur baja, dinding kaca tempered, dan permukaan khusus, sementara satu lapangan pickleball berkisar Rp100–195 juta.
Apakah tren padel akan bertahan atau hanya sesaat?
Fundamental globalnya kuat, tetapi pasar mulai matang dengan risiko overcapacity — Swedia bahkan mencatat lebih dari 100 kebangkrutan fasilitas. Keberlanjutannya bergantung pada okupansi, perizinan, komunitas, dan keseimbangan antara eksklusivitas dan keterjangkauan.
Kapan padel pertama kali dipertandingkan di Asian Games?
Pada Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang — edisi pertama padel masuk sebagai cabang resmi bermedali, dan Indonesia mengirim delapan atlet.