Qatar menyatukan padel profesional lewat Premier Padel dan mengubahnya jadi tur global. Namun pengelolanya mengaku semua pihak merugi sejak 2022, dan sebagian besar pemain hidup di bawah upah minimum.

Di sebuah ruang rapat di Foro Italico, Roma, pada pagi 5 Juni 2026, di sela-sela Italy Major, dua angka diletakkan bersebelahan di atas meja. Yang pertama datang dari Maria Teixidor, direktur eksekutif International Padel Players Association (IPPA): menurut survei yang ia paparkan, 78 persen responden pemain berpenghasilan bersih dari olahraga ini, setelah dipotong biaya, di bawah upah minimum Spanyol. Angka kedua datang dari David Sugden, CEO Premier Padel. “Setiap pemangku kepentingan di meja ini telah menanggung kerugian yang signifikan dan berulang sejak proyek ini dimulai pada 2022,” katanya, menurut notulen resmi rapat Steering Committee Premier Padel.
Dua kalimat itu merangkum paradoks padel profesional hari ini. Di permukaan, olahraga ini sedang menikmati masa terbaiknya: satu tur global milik Qatar Sports Investments (QSI), final di Stadion Roland-Garros, sponsor jam tangan mewah, dan miliaran tayangan di media sosial. Pekan ini sirkuit itu tiba di Kuwait untuk sebuah Major yang naik kelas secara darurat. Namun di bawah gemerlap itu, pertanyaan besarnya belum terjawab: siapa sebenarnya yang membayar ledakan padel profesional, dan bisakah tur ini suatu hari berdiri di atas kakinya sendiri?
Ringkasnya: Sejak 2024, padel profesional dunia hanya punya satu sirkuit utama, Premier Padel, yang didirikan QSI bersama Federasi Padel Internasional (FIP) setelah QSI membeli rivalnya, World Padel Tour, pada 2023. Tur ini tumbuh pesat dalam penonton, sponsor, dan jangkauan siaran, tetapi menurut pengelolanya sendiri semua pihak masih merugi sejak 2022, dan survei asosiasi pemain putri menunjukkan mayoritas pemain berpenghasilan di bawah upah minimum Spanyol. Masa depan tur ini bergantung pada apakah pertumbuhan komersial bisa menyusul besarnya modal dari Teluk.
Untuk memahami ekonomi padel hari ini, kita harus mundur ke perang yang mendahuluinya. Selama satu dekade, panggung tertinggi padel adalah World Padel Tour (WPT), sirkuit yang lahir pada 2013 dan dimiliki Setpoint Events, anak usaha produsen bir asal Barcelona, Damm. Menurut rilis resmi QSI, WPT pada masanya menggelar lebih dari 26 turnamen putra dan putri di 14 negara. Ia adalah tur Spanyol untuk olahraga yang jantungnya memang berdetak di Spanyol dan Argentina.
Lalu Qatar datang. Doha menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Padel 2021, dan pada 2022 QSI, perusahaan investasi yang juga memiliki Paris Saint-Germain, meluncurkan Premier Padel bersama FIP dan Professional Padel Association (PPA), serikat pemain putra. Turnamen pertamanya digelar di Doha. Para bintang yang terikat kontrak dengan WPT ikut bertanding di sana.
Balasan WPT datang lewat pengadilan. Pada akhir Mei 2022, seperti dilaporkan kantor berita Europa Press dan dimuat Qué!, WPT menggugat FIP, QSI, PPA, dan jajaran pengurusnya ke Pengadilan Niaga Nomor 15 Madrid atas tuduhan “persaingan tidak sehat”. Daftar tuduhannya panjang: membujuk pemain WPT melanggar kontrak, “memboikot” sirkuit dengan memanfaatkan posisi dominan FIP, “menjarah” investasi WPT, hingga menjual Premier Padel di bawah biaya alias dumping. WPT juga menuding FIP meninggalkan perannya sebagai regulator nirlaba untuk “mengeksploitasi secara komersial” sebuah kompetisi.
Gugatan itu, menurut laporan yang sama, terpisah dari klaim arbitrase yang sudah lebih dulu diajukan WPT terhadap para pemain yang tampil di turnamen Doha. Di sisi lain, FIP dan para pemain mengadu ke Komisi Eropa bahwa WPT menyalahgunakan “posisi pasar dominan”, sebagaimana dicatat Wikipedia. Media Spanyol kemudian melaporkan WPT kalah dalam dua sidang awal, dan pada Oktober 2022, menurut Vozpópuli, manajemen baru WPT di bawah Àlex Corretja berjanji mencabut gugatan terhadap pemain yang bersedia kembali ke sirkuitnya. Padel, olahraga yang terkenal karena suasana santainya, menghabiskan dua tahun di ruang sidang.

Perang itu berakhir bukan dengan putusan hakim, melainkan dengan cek. Pada 24 Agustus 2023, QSI mengumumkan kesepakatan untuk mengakuisisi aset bisnis WPT dari Damm. Kesepakatan itu sekaligus menyelesaikan sengketa yang masih berjalan antara QSI, FIP, dan para pemain. Nilai transaksinya tidak diumumkan.
“Ini momen bersejarah bagi olahraga padel,” kata Nasser Al-Khelaïfi, ketua QSI dan Premier Padel, dalam rilis tersebut. Presiden Eksekutif Damm, Demetrio Carceller Arce, menyebut WPT “kini memulai babak baru yang dipimpin QSI”. Presiden FIP Luigi Carraro mengaku senang melihat “dua tur hebat bersatu menjadi satu sirkuit global yang fantastis”.
Kedua tur menyelesaikan musim 2023 secara terpisah. Mulai 2024, hanya ada Premier Padel, dioperasikan QSI dan diatur FIP. WPT tutup buku setelah sebelas edisi. Struktur barunya membuat padel menjadi kasus langka di olahraga profesional: badan pengatur internasional dan pemilik sirkuit komersial terbesar duduk di bawah satu atap, dengan satu investor negara sebagai penyandang dana utama.
Bagi pendukungnya, penyatuan itu menyelamatkan padel dari fragmentasi yang pernah menghantui tinju atau catur. Bagi pengkritiknya, ini adalah konsentrasi kekuasaan yang membuat pemain, promotor, dan sponsor bergantung pada satu sumber uang. Keduanya bisa sama-sama benar.
Apa yang dibeli Qatar? Jawabannya bukan sekadar tur, melainkan akses ke salah satu olahraga yang tumbuh paling cepat di dunia. Analis Sportcal, Tom Subak-Sharpe, dalam kajian lanskap komersial padel pada Mei 2025, mencatat jumlah lapangan padel di Inggris melonjak dari 50 pada 2019 menjadi 710 pada akhir 2024. Di Spanyol, padel adalah olahraga partisipasi terpopuler kedua. Pertumbuhan kuat juga terjadi di Italia, Timur Tengah, dan Amerika Latin.
Tantangannya, kata Subak-Sharpe, adalah mengubah jutaan pemain rekreasi itu menjadi penonton tur profesional. Di situlah sponsor masuk. Menurut estimasi GlobalData yang dikutip Sportcal, berikut sebagian kesepakatan yang menopang ekosistem padel elite:
| Sponsor | Properti | Estimasi nilai |
|---|---|---|
| Visit Qatar | Golden sponsor Kejuaraan Dunia Padel 2024 | sekitar 2 juta dolar AS |
| Qatar Airways | Sponsor utama Premier Padel Tour dan Finals (kontrak dua tahun) | sekitar 1 juta dolar AS per tahun |
| Cupra | Sponsor utama FIP | sekitar 300.000 dolar AS per tahun |
| Alpine | Sponsor utama Paris Major (kontrak tiga tahun) | 200.000 dolar AS per tahun |
Perhatikan pola tabel itu. Dua sponsor terbesar berasal dari Qatar sendiri. Sportcal mencatat sektor perjalanan dan pariwisata adalah penyumbang sponsor padel terbesar setiap tahun. Kesepakatan Alpine, yang disebut sebagai sponsorship padel paling menguntungkan yang diteken sepanjang awal 2025, bernilai 200.000 dolar per tahun, angka yang di tenis atau sepak bola bahkan tidak cukup untuk menyewa papan iklan di pinggir lapangan sebuah turnamen besar.
Meski begitu, kurva pertumbuhannya nyata. Dalam rapat Roma, manajemen Premier Padel memaparkan sejumlah capaian 2026:
Kalendernya pun membengkak. Saat diumumkan pada Desember 2025, kalender 2026 memuat empat Major, sepuluh P1, sebelas P2, dan Finals di Barcelona pada 7–13 Desember, tersebar di belasan negara. Pada 2022, menurut Wikipedia, musim pertama Premier Padel hanya berisi segelintir turnamen.
Tur yang tumbuh membutuhkan bintang, dan Premier Padel punya dua yang tak tertandingi. Arturo Coello, pemain Spanyol, dan Agustín Tapia, maestro asal Argentina, menjuarai tur ini pada 2023, 2024, dan 2025, menurut catatan Wikipedia. Pada 13 September 2026 di lapangan Philippe-Chatrier, Roland-Garros, mereka mengalahkan Fede Chingotto dan Alejandro Galán 6-3, 4-6, 7-6 (7-1) di final Paris Major.
Menurut laporan FIP, itu adalah gelar keempat beruntun mereka di Roland-Garros dan gelar Premier Padel ke-40 sebagai pasangan. Laporan Red Bull menyebut Coello/Tapia sempat tertinggal 2-5 di set penentu sebelum membalikkan keadaan. Sekitar 81.000 penonton datang sepanjang pekan, angka yang mustahil dibayangkan ketika padel masih dianggap olahraga klub pinggiran kota.

Dominasi semacam ini adalah pedang bermata dua secara komersial. Rivalitas “Coello/Tapia lawan Chingalán”, julukan untuk Chingotto dan Galán, memberi tur sebuah narasi yang mudah dijual. Namun jarak di antara mereka lebih tipis daripada yang terlihat. Dalam rangkuman musim Red Bull per pertengahan September, Galán/Chingotto justru memiliki rekor menang-kalah lebih baik, 64-10, dibanding Coello/Tapia, 62-7 dalam jumlah pertandingan, tetapi kalah di laga-laga final Major yang bernilai 2.000 poin.
Di sektor putri, ceritanya lebih cair. Ariana Sánchez dan Andrea Ustero, pasangan baru musim ini, mengalahkan pasangan nomor satu dunia Delfina Brea/Gemma Triay di final Riyadh pada Februari. “Kami tidak menyangka bisa mengalahkan pasangan nomor satu dunia, tetapi kami bekerja sangat keras bersama tim,” kata Ustero kepada FIP saat itu. Tujuh bulan kemudian, mereka menang 6-2, 6-0 di final Paris. “Saya tidak bisa memilih cara yang lebih baik untuk memenangi Major pertama saya,” ujar Ustero.
Final di Roland-Garros adalah etalase. Realitas sebagian besar pemain profesional berada jauh di bawahnya, di babak kualifikasi turnamen P2, di hotel yang dibayar sendiri, dan di penerbangan antarbenua yang jadwalnya ditentukan kalender global.
Survei yang dipaparkan Maria Teixidor dari IPPA di Roma memberi gambaran paling gamblang. Selain 78 persen responden yang penghasilan bersihnya di bawah upah minimum Spanyol, 54 persen berpenghasilan di bawah 10.000 euro per tahun, dan 81 persen mengaku tidak mampu menabung secara berarti. Notulen rapat tidak merinci jumlah responden maupun metodologinya, jadi angka itu harus dibaca sebagai potret kondisi anggota asosiasi pemain, bukan statistik seluruh tur.
Sugden tidak membantah angka itu, tetapi memberi konteks dari sisi penyelenggara. Menurut notulen, ia menyatakan Premier Padel telah menyalurkan hampir 1,7 juta euro kepada pemain putri di atas kewajiban kontraktual. Ia menekankan bahwa “omzet bukanlah profitabilitas”, bahwa semua pemangku kepentingan menanggung kerugian sejak 2022, dan bahwa kenaikan hadiah bergantung pada para promotor turnamen lokal. Ia juga memperingatkan bahaya ekshibisi yang tidak diatur.
Kalimat terakhir itu penting, karena ia menunjukkan siapa yang sesungguhnya memikul risiko. Dalam model Premier Padel, banyak turnamen digelar oleh promotor lokal yang membayar untuk menjadi tuan rumah dan menanggung hadiah. Ketika poin ranking dan hadiah dinaikkan, merekalah yang paling dulu merasakan beban. Di Roma, perwakilan promotor P1, Joan Cuscó, menentang keputusan memangkas jumlah turnamen yang dihitung untuk ranking dari 22 menjadi 21, dan menyebutnya sebuah kemunduran. Perwakilan P2, Vincent Laureyssens, mengaku tidak senang karena turnamen P2 akan paling terdampak, tetapi menerimanya “demi kebaikan bersama”.
Dari sisi pemain, Maxi Sánchez Agüero mendukung kuat pengurangan itu, sambil mengingatkan agar waktu luang pemain tidak diganti dengan pertandingan ekshibisi. Ironinya terang: pemain butuh jadwal yang lebih ringan demi kesehatan, tetapi waktu kosong itulah yang bisa mereka uangkan lewat ekshibisi, karena tur resmi belum membayar cukup.
Ekshibisi bukan ancaman hipotetis. Hexagon Cup, kompetisi beregu yang diperkuat 18 dari 20 pemain terbaik dunia dan dipimpin para pesohor seperti Robert Lewandowski, Sergio “Kun” Agüero, Pierre Gasly, Andy Murray, dan Eva Longoria, sebelumnya berjalan sebagai ajang ekshibisi tanpa status resmi. Pada 2025, Premier Padel, FIP, dan Hexagon Cup meneken aliansi strategis. Edisi Januari 2026 di Caja Mágica, Madrid, untuk pertama kalinya digelar di bawah regulasi FIP, meski tetap tanpa poin ranking.
Rapat Roma melangkah lebih jauh: Hexagon World Series akan diintegrasikan penuh ke ekosistem Premier Padel dan FIP, dengan empat seri direncanakan pada 2027. Enrique Buenaventura, wakil Hexagon, menyebut tujuannya adalah mengatur pasar ekshibisi dan meminimalkan perjalanan pemain. Dengan kata lain, ketimbang melawan ekshibisi, tur memilih merangkulnya, sesuatu yang mirip dengan cara tenis menyerap Laver Cup ke dalam kalender ATP.
Di luar itu ada A1 Padel, sirkuit lain yang terus beroperasi di luar payung Premier Padel. Situs khusus padel Spanyol Padel Addict mencatat bahwa Premier Padel datang dengan janji kenaikan hadiah yang eksponensial, tetapi tidak semua pemain menemukan model itu sesuai harapan, sementara A1 mendapat sorotan setelah menaikkan total hadiahnya. Bagi pemain di luar 30 besar, keberadaan sirkuit alternatif adalah daya tawar. Bagi QSI, ia adalah pengingat bahwa monopoli tidak pernah benar-benar mutlak.

Dua pekan setelah rapat Roma, persoalan uang itu naik ke panggung yang jauh lebih besar. Pada 18 Juni 2026, QSI menggelar acara di sela Sidang ke-62 Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa bertajuk “Empowering Women and Girls in and through Sport”. Menurut laporan FIP, hadiah setara antara putra dan putri kini berlaku di sekitar 90 persen turnamen Premier Padel, CUPRA FIP Tour, dan Piala Dunia FIP, kemajuan yang dicapai dalam kurun sekitar empat tahun.
Al-Khelaïfi memuji pertumbuhan olahraga putri di level amatir maupun profesional, tetapi juga mengakui bahwa “keberlanjutan ekonomi dan kemandirian bagi olahraga putri” masih jauh dari tercapai. Pengakuan itu, dari pemilik tur sendiri, adalah inti persoalannya. Kesetaraan hadiah adalah keputusan kebijakan; kemandirian ekonomi adalah soal apakah pasar mau membayar. Padel putri sudah mendapatkan yang pertama, belum yang kedua.
Teixidor, yang di Roma membawa data penghasilan suram, di Jenewa berterima kasih kepada Premier Padel dan FIP karena menyediakan “panggung global tempat atlet putra dan putri berbagi panggung internasional yang sama”. Dua sikap itu tidak bertentangan. Para pemain putri tahu posisi mereka jauh lebih baik dibanding era WPT, ketika IPPA lahir justru karena merasa tersisih dari meja perundingan. Mereka juga tahu bahwa panggung yang sama belum berarti dompet yang sama tebalnya.
Ketergantungan pada Teluk punya sisi lain yang tak tercantum di neraca: risiko kawasan. Pada Maret 2026, Ooredoo Qatar Major, yang dijadwalkan berlangsung pada 6–11 April di Doha, ditunda karena situasi regional. Pada 7 Mei, Premier Padel dan FIP mengumumkan penyesuaian kalender akibat penundaan itu dan gangguan operasional terkait perang di Iran. Pretoria dinaikkan dari P2 menjadi P1, dan Kuwait dari P1 menjadi Major, keduanya hanya untuk musim 2026.
“Pembaruan turnamen ini dilakukan terutama dengan memikirkan para pemain kami,” kata Sugden dalam rilis berbahasa Spanyol FIP. Carraro menyebutnya cerminan “komitmen berkelanjutan untuk melindungi kepentingan para pemain”. Tujuan resminya adalah menyeimbangkan kembali distribusi hadiah dan poin ranking yang hilang akibat Major yang batal digelar sesuai jadwal.
Kuwait Major itulah yang dimulai pekan ini. Kalender resmi FIP mencantumkan turnamen ini pada 26–31 Oktober, sementara situs Padel Speak mencatat babak kualifikasi dimulai 23 Oktober, dengan total hadiah 1.044.849 euro dan 2.000 poin bagi juara putra maupun putri. Bagi pemain, Major tambahan berarti peluang poin dan uang. Bagi tur, ini bukti bahwa kalender bisa diselamatkan, tetapi juga bahwa sebagian besar pilihan penyelamatnya tetap berada di kawasan yang sama.
Notulen Roma mencatat perang Iran dan perang Gaza dibahas sebagai tantangan besar, dan tur berhasil mempertahankan keempat Major serta Piala Dunia FIP. Ke depan, kalender 2027 akan mirip 2026, sedangkan kalender 2028 sedang disusun dengan fokus ekspansi ke Asia. Untuk pertama kalinya, Premier Padel dan FIP merencanakan dua musim ke depan sekaligus.
Jika ada satu peristiwa yang bisa mengubah hitungan ekonomi padel secara permanen, itu adalah status Olimpiade. Menurut notulen Roma, padel kini sudah dipertandingkan di semua pesta olahraga multicabang tingkat benua utama, FIP menilai olahraga ini memenuhi kriteria kunci Olimpiade, dan pembicaraan dengan Komite Olimpiade Internasional berada “pada tahap kritis”. Status Olimpiade biasanya membuka aliran dana pemerintah ke federasi nasional, program pembinaan, dan liputan media arus utama, sumber uang yang tidak bergantung pada satu investor.
Asia adalah taruhan kedua. Indonesia memberi gambaran mengapa. Padel memulai debutnya di Asian Games 2026 di Nagoya, dan pasangan putri Indonesia pulang dengan medali perak dan perunggu. Di Jakarta saja, jumlah lapangan sudah mencapai ratusan, meski hampir separuhnya belum berizin. Seperti yang pernah diurai dalam laporan 20FIT tentang ekonomi di balik dinding kaca, ledakan padel di kota-kota Indonesia digerakkan oleh pemain rekreasi, investor lapangan, dan komunitas, bukan oleh tur profesional.
Pertanyaannya adalah apakah tur profesional bisa memanen basis pemain itu. Model Premier Padel bertumpu pada asumsi bahwa jutaan pemain amatir di Asia, Eropa, dan Amerika akan menjadi penonton, pelanggan siaran, dan pembeli produk sponsor. Itu asumsi yang sama yang membuat Qatar mau membiayai kerugian sejak 2022. Data Red Bull soal pertumbuhan penonton memberi alasan untuk optimistis. Data IPPA soal penghasilan pemain mengingatkan bahwa uangnya belum mengalir sampai ke bawah.
Dari semua data itu, setidaknya ada dua jalan yang terbuka. Dalam skenario optimistis, kombinasi hak siar internal mulai 2027, sponsor global baru, ekspansi Asia, dan mungkin status Olimpiade akan mendorong pendapatan cukup tinggi sehingga promotor bisa menaikkan hadiah, pemain di luar 50 besar bisa hidup layak, dan QSI tidak lagi menjadi penopang tunggal. Padel akan mengikuti jejak tenis yang dulu juga butuh puluhan tahun untuk mapan.
Dalam skenario pesimistis, pertumbuhan partisipasi tidak berubah menjadi pendapatan tur, kerugian terus menumpuk, dan masa depan padel elite bergantung pada prioritas strategis satu negara Teluk. Pertandingan ekshibisi dan sirkuit alternatif akan terus menarik pemain dari kalender resmi, sementara gejolak kawasan bisa sewaktu-waktu menghapus turnamen dari jadwal, seperti yang terjadi pada Doha tahun ini.
Di antara keduanya, yang paling jelas adalah bahwa padel profesional saat ini berdiri di atas modal yang sabar. Sugden sendiri menyebut omzet bukanlah keuntungan. Pertanyaannya, sampai kapan kesabaran itu bertahan, dan apa yang terjadi pada olahraga ini jika suatu hari habis.
Ketika para pemain turun ke lapangan di Kuwait pekan ini, mereka akan memperebutkan lebih dari satu juta euro dalam sebuah Major yang tadinya hanya P1. Di Roma, Luigi Carraro menutup perdebatan soal reformasi ranking dengan kalimat yang kini terdengar seperti tantangan bagi seluruh industri: “Tujuan dari setiap reformasi haruslah memperkuat perkembangan padel jangka panjang.”
Premier Padel didirikan pada 2022 oleh Qatar Sports Investments (QSI) bersama Federasi Padel Internasional (FIP) dan Professional Padel Association. Tur ini dioperasikan QSI dan diatur oleh FIP. Ketuanya adalah Nasser Al-Khelaïfi, yang juga memimpin Paris Saint-Germain.
World Padel Tour, sirkuit milik Damm yang berdiri sejak 2013, dibeli QSI melalui kesepakatan yang diumumkan 24 Agustus 2023. Setelah musim 2023, WPT berhenti beroperasi dan digabung ke dalam Premier Padel mulai 2024.
Hanya segelintir di puncak. Survei International Padel Players Association yang dipaparkan pada Juni 2026 menyebut 78 persen responden berpenghasilan bersih di bawah upah minimum Spanyol dan 54 persen di bawah 10.000 euro per tahun.
Kuwait dinaikkan dari P1 menjadi Major pada Mei 2026 untuk menggantikan hadiah dan poin yang hilang setelah Qatar Major ditunda akibat situasi regional dan perang di Iran. Juara Major mendapat 2.000 poin ranking, dua kali lipat turnamen P1.
Kartu siap posting dibuat otomatis dari artikel ini.
Di HP, tombol Share to Instagram membuka menu share dan Anda tinggal pilih Instagram Stories atau Feed. Di desktop, gambar disimpan dulu lalu diunggah dari Instagram.
20FIT Media
Any amount helps. You choose.
You’ll finish paying right here — this page stays open.
QRIS, bank transfer, e-wallet or card.
Trouble with an e-wallet? Open the payment page in a new tab.
Finished? — thank you for supporting 20FIT.
Opening secure checkout…